
Pulang dari sekolah Widya melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.Ia memasang wajah masam karena tahu siapa pemilik mobil tersebut.Pria tua berwajah mesum yang sangat dibencinya.
Ingin sekali ia berjalan mundur untuk menghindar tapi mengingat ibunya yang tadi pagi mengeluh tak enak badan, rasanya tak tega.Lagian pria tua itu tidak mungkin berbuat macam-macam dengan kondisi ibunya yang sakit.
Karena tak melihat mereka di ruang tamu dan ruang keluarga, Widya memilih ke kamarnya untuk berganti pakaian sebelum makan siang.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh yang berasal dari kamar ibunya.
Penasaran, Widya mendekatkan telinganya ke pintu kamar sang bunda.Bulu kuduknya merinding saat mendengar percakapan vulgar ibunya bersama kekasihnya.Gadis itu menutup telinganya saat percakapan itu berubah menjadi erangan dan ******* yang tak pantas untuk ia dengarkan.
Widya berlari ke kamarnya dan membanting pintu.
Ia membanting sebuah gelas kaca yang berada di atas meja karena amarahnya yang tak bisa lagi dikontrol.Widya berteriak sajadi jadinya membuat ibunya kaget.Mereka terpaksa menghentikan aktivitas keduanya dan segera berpakaian.
Widya menangis sejadi jadinya tak menyangka sosok yang sangat ia cintai dan kagumi berprilaku seperti itu berhubungan intim tanpa adanya status pernikahan.Ibunya melarang dirinya untuk berpacaran tetapi lihat apa yang dilakukan olehnya.
Widya ingat ayahnya.Ia ingin ayahnya ada di sisinya sekarang dan membawanya pergi dari rumah itu.
Ia menutup telinganya dengan bantal saat ibunya mengetuk pintu dan memanggil manggil namanya.
"Wid....buka pintunya nak...."bu Vitha terus mengetuk pintu.
"Gimana ini mas...?"ia meminta saran pacarnya.
"Memangnya dia kenapa?Kan kita belum tahu masalahnya apa?"kata pak Andre.
"Astaga mas?Masa nggak tahu dia masalahnya apa?Dia pasti syok dengar suara kita tadi...?"ujar bu Vitha kesal karena kekasihnya itu tidak peka.
"Dia kan sudah dewasa sayang...dia pasti ngerti.. pasti juga sudah dijamah sama anak bule itu.Mungkin masalahnya bukan itu kali..Siapa tahu dia lagi stress karena putus cinta..kan kamu suruh mereka untuk putus.Jadi sekarang dia lagi patah hati makanya ngamuk..."pak Andre berkata menurut tafsirannya sendiri.
Bu Vitha sampai menganga mendengarnya.
"Kamu kok bisa-bisanya berbicara seperti itu,mas?"Bu Vitha menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ya kan anak remaja.. saat ada masalah pasti reaksinya macam macam.Mending kamu istirahat lagi gih sana...kamu kan lagi sakit..."pria itu tetap mempertahankan pendapatnya.
"Wid....buka pintunya nak...mami mau masuk...Wid..."Bu Vitha tak menghiraukan ucapan kekasihnya dan terus meminta anaknya membuka pintu.Bagaimanalun, naluri seorang ibu pasti tahu apa yang sedang dialami anaknya sendiri.
"Udahlah sayang... nanti juga kalau dia merasa lebih baik,dia pasti akan bicara sama kamu..."pak Andre memegang bahunya dan mengajak bu Vitha untuk kembali ke kamar.
"Mas nggak akan pernah paham gimana jadi seorang single parent seperti saya yang punya anak seusia dia.."ujar Bu Vitha kesal.
"Karena saya nggak punya anak.Begitu maksud kamu?Ya udah saya memang nggak paham.Lebih baik saya pulang ke hotel.."pria itu mengambil handphone dan kunci mobilnya lalu pergi.
"Mas...mas Andre bukan begitu maksud saya..."ujarnya.Ia ingin mengejar pria itu tetapi kepalanya terasa pusing.
Ia kembali berdiri di depan kamar putrinya dan terus memanggilnya sampai pada akhirnya Widya membukakan pintu.
__ADS_1
"Wid..."bu Vitha langsung memeluk putrinya meski Widya meronta.
"Aku nggak mau ngomong sama mami...aku mau ke tempat papi..."Widya lanjut mengemas barang barangnya.
"Nak.... please..dengerin mami dulu..."mohon bu Vitha.
"Mami yang harus sesekali dengerin Widya mi.. mami kalau mau begituan sama orang itu jangan di rumah ini...mami ngebayangin nggak sih, gimana perasaan Widya?Aku kecewa sama mami..aku benci mami..."Widya mengeraskan suaranya.
"Maafin mami Wid..."untuk pertama kalinya bu Vitha meminta maaf kepada putrinya.Ia mengakui dirinya bersalah.
"Untuk apa minta maaf mi?Toh mami tetap akan menikah dengannya kan?"bu Vitha tak menjawab.
Bayang bayang masa mudanya tiba tiba saja muncul.Rasanya apa yang dialami Widya sekarang persis seperti yang ia rasakan dulu saat dirinya memohon mohon pada ayahnya untuk tidak menikah lagi.
"Dia bukan orang yang baik buat mami.Mami bilang ke aku kalau Daniel itu sudah membawa pengaruh buruk buat aku.Tapi nyatanya? Justru mami yang udah banyak berubah setelah berpacaran dengan orang itu.Mami bermesraan di tempat umum,mami tidur dengannya sebelum menikah?Di rumah inie lagi.Kenapa mi? kenapa harus seperti itu?Ini bukan mami..mami yang aku kenal tidak seperti ini?Dia tidak mungkin melakukan semua hal hal rendah itu.."Widya menangis.
Sang bunda memegang kepalanya yang bertambah pusing.
"Aku pamit mi..."ujar Widya lalu mengambil tasnya.
BRUKK....!!!Bu Vitha terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat hendak menghentikan langkah putrinya.
"Mami????"teriak Widya melihat ibunya tergeletak di lantai.
"Mami....mami.....mami...."teriak bu Vitha mengguncang guncang pundak ibunya.Tak ada respon sama sekali.
"Mi...tolong buka matanya mi... ngomong sama Widya mi..."gadis itu mulai menangis.
"Bi Santi...bi...."teriak Widya.Ia lalu mengambil nomor handphonenya menghubungi Daniel tetapi tak terjawab.Ia pun segera menelepon Bening.Dan beruntungnya sahabatnya itu langsung mengangkatnya.
"Ben...mami pingsan Ben... tolongin aku Ben..."kata Widya dengan suara gemetar sambil menangis.
"Kamu tenang ya,Wid...kamu di rumah kan?Aku segera ke sana ya..Kita harus cepat bawa tante ke rumah sakit..."ujar Bening menenangkannya toh ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.Ayahnya belum pulang dari NewYork.
Bersama sopir sang ayah,ia segera ke rumah Widya.
"Cepetan pak...."ujar Bening terburu-buru.
"Oke non.."jawab pak Abdi.
🌾🌾❤️🌾🌾
"Bibi...pak Daud... ayo kita bawa mami ke rumah sakit..."ujarnya saat bi santi terus menggosok gosok tangan dan kaki bu Vitha dengan minyak gosok.
"Non, aku sering ngeliat ibu nyimpen obat di bawah lidahnya kalau tekanan darahnya terlalu tinggi atau kalau ibu pusing..."
"Tapi kan sekarang mami pingsan bi...kita juga nggak tahu tekanan darahnya naik atau gimana...?mi bangun dong mi...mami..."Widya terus memeluk ibunya yang bersandar padanya.
__ADS_1
"Kita langsung bawa ibu ke rumah sakit,non...kita nggak bisa ngapa-ngapain..."usul pak Daud lalu mereka sama sama mengangkat tubuh Bu Vitha menuju mobil.
"Wid...tante kenapa?"tanya Bening saat turun dari mobil.
"Ceritanya panjang,Ben... tadi mami jatuh dan tak sadarkan diri... Aku takut Ben..."kata Widya dengan air mata yang terus mengalir.
"Kita antar tante ke rumah sakit sekarang ya,toh kita juga nggak tahu harus berbuat apa.Kamu harus kuat,Wid..."Bening memeluknya, menenangkannya lalu mereka sama sama ke rumah sakit.
Setibanya di UGD bu Vitha pun segera ditangani oleh perawat dan dokter.Widya menceritakan kejadian yang dialaminya saat ditanyai dokter.
"Mami kamu punya riwayat darah tinggi nggak?"tanya dokter.
"Iya,dok..mami juga punya obatnya dan selalu rutin ia minum"jelas Widya dengan terus didampingi sahabatnya, Bening.
Dokter pun segera memeriksanya lalu memberikan tindakan.
"Wid...aku pusing..."tangan Widya mulai berkeringat.
"Kalau gitu, kamu duduk aja di luar ya...biar aku yang nungguin tante di sini..."Bening memapah Widya ke luar ruangan.
"Bi... tolong beliin air mineral untuk Widya..."Bening mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan memberinya pada bi Santi.
"Kamu pucat banget,Wyd.. Kamu harus kuat..."air mata Wydia mengalir lagi.
"Mungkin karena kamu belum makan,non.."kata bi Santi.
"Oh, kamu belum makan siang?ya udah kalo gitu sekalian aja beliin makanan bi..."pinta Bening.
Bening kembali masuk ke dalam ruang UGD saat Daniel datang.
"Wid...maaf aku terlambat.."kata Daniel.Widya berdiri memeluknya.
"Kak, aku takut..."ujar gadis itu.
"Jangan takut ya...kita berpikir positif aja.Tante pasti akan baik baik saja..."keduanya lalu duduk.
"Tapi,tante kenapa?"tanya Daniel penasaran.Widya pun menceritakan kejadiannya tanpa ada yang disembunyikan.Daniel yang mendengarnya menjadi geram apalagi ia pernah bertemu dengan pria itu.
Meskipun hanya sekilas tapi ia juga bisa menilai bahwa pak Andre memang bukan orang yang baik.Daniel pun ikut was was mengingat pria itu juga mengenal ibunya walau ia belum menanyai sang bunda tentang hubungan mereka.Feeling buruk pun terlintas.Ia merasa harus melindungi ibunya dari pria itu.
Bening keluar menemui Widya untuk memberinya kabar baik.
"Wid...tante sudah sadar..."ujar Bening dengan senyum sumringah setelah membuka pintu.Matanya bertemu pandang dengan Daniel yang tengah menyuapi Widya makan.
Rasa bahagia itu berubah berganti sedih saat melihat kakaknya.
"Apa? Beneran Ben...terima kasih Tuhan..."ujar Widya senang lalu berlari ke dalam menemui ibunya.
__ADS_1
Tinggallah Daniel dan Bening saling memandang dengan wajah sendu.Dari sorot matanya, pemuda itu menunjukkan rasa bersalah yang amat mendalam.Baru beberapa hari tak saling bicara lantaran gadis itu selalu menghindarinya membuat kerinduan dalam hatinya kian memuncak.