Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.76


__ADS_3

Daniel menyampaikan niatnya kepada bu Livia bahwa ia ingin berpamitan kepada Bening juga kepadanya.Mendengar hal itu, wanita itu pun memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara apalagi Daniel tak bisa menjawab akan berapa lama ia berada di negara asal ayahnya.


Padahal bu Livia hendak menagih janji pemuda itu yang mengatakan akan ke Jakarta bersama putrinya tapi toh kakeknya Bening juga sudah meninggal dan sungguh mulia niat Daniel untuk berada di sisi ayahnya selama menjalani pengobatan.


"Gimana kabar kamu dek?"tanyanya setelah duduk di samping tempat tidur Bening.


"Baik..."jawab Bening dengan senyum khasnya.


"Beneran?"Bening mengangguk berkali kali.Daniel memandangnya dengan tatapan iba.


"Kenapa?Kok kayak nggak yakin gitu kalau aku baik-baik aja?"Bening mulai cemberut.


"Yakin...aku sih, percaya dek...tapi kan selama ini banyak boongnya?"gadis itu mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Daniel.


"Maksudnya?Kapan aku boong sama kakak?"Bening seperti tak terima dinilai seperti itu.


"Kamu itu setiap kali aku tanya kondisi kamu, pasti jawabannya selalu baik baik saja, padahal kamu nyembunyiin yang sesungguhnya.Bahkan sampai kemarin saat kamu kecelakaan pun,aku tanya keadaan kamu gimana, kamu jawabnya aman, nggak ada apa-apa.."Daniel memaparkan apa yang ia maksud.


"Ya, emang nggak ada apa-apa..."sanggah Bening.


"Hmmm...tuh kan?Tapi buktinya? Kamu sampai harus dioperasi? Darurat lagi, nggak bisa dtunda tunda.Apa itu yang namanya baik baik saja?"cerca Daniel.


Bening mengambil nafas karena terlalu banyak bicara ia merasa capek.


"Kenapa dek?"Daniel berdiri hendak membantu Bening untuk mengambil posisi yang nyaman.


"Nggak apa-apa kak,cuma ngerasa capek aja..."jawab gadis itu.


"Tuh kan baru aja tadi ngomong..."ujar Daniel.


"Emang benar nggak apa-apa,I am just tired.."Bening berurai air mata.Entah mengapa kali ini ia merasa sangat sensitif dan tidak bisa menyembunyikannya di depan kakaknya itu.


"Lagian seandainya kemarin aku bilang ke kakak kalau aku meresa nyeri yang sangat hebat di tulang belakang aku sampai bernapas aja susah,apa kakak akan peduli? Enggak kan?"gadis itu mengomel dengan berurai air mata.


Daniel pun diam dengan wajah sedih.Ia akui, kemarin memang hanya fokus terhadap Widya apalagi setelah Bening memberi tahu bahwa kondisinya baik baik saja.Padahal dirinya sempat tak yakin dengan jawaban gadis itu.Daniel juga menyadari beberapa bulan terakhir semenjak berpacaran dengan Widya banyak hal yang berubah di antara mereka.Mulai dari perhatian hingga waktu yang berkurang untuk mereka bersama sama walau hanya sekedar untuk minum kopi seperti yang kerap kali mereka lakukan.


Bahkan jika mereka bertemu akan ada saja perdebatan yang sering melukai perasaan terutama untuk Bening dan yang paling sering adalah tentang Widya.Bagaimana gadis itu yang selalu disalahkan jika Widya mulai merajuk atau salah paham.


Bening tak membenci Widya maupun kakaknya tersebut jika ia sering disalahkan, hanya yang membuatnya sedih adalah lebih kepada bagaimana Daniel bisa mengajaknya, membujuknya berkali-kali untuk berbohong dengan berbagai ide agar Widya bisa keluar dari rumah meskipun ia menolaknya.

__ADS_1


"Dek.... jangan nangis dong... please.."Daniel mengelus elus tangan adiknya.Ia kebingungan untuk meminta maaf yang benar dan baru kali ini ia melihat gadis itu menangis sesegukkan dan tampak berbeda.Hal itu membuat hatinya merasa sangat sedih.


"Aku minta maaf ya... maaf banget.. jangan nangis lagi please..nanti bekas operasinya keganggu.."Daniel memohon dengan wajah memelas.Ada rasa khawatir dan bersalah terpancar dari wajahnya.


"Aku janji nggak akan akan ngelukai perasaan kamu lagi untuk hal apapun termasuk Widya.. Kalau kamu nggak yakin,mari kita membuat kesepakatan.Jika aku melanggar kamu bisa memberi hukuman dan hukumnya sesuai dengan kesepakatan kita.Gimana?"pemuda itu memberi ide.


Bening menyeka air matanya dengan tissue yang diberikan oleh Daniel.Ia kemudian tersenyum.


"Udah ya..."Daniel mengusap usap pipinya.


"Kamu jelek kalau nangis.."goda Daniel.


"Emang kapan aku dibilang cantik?"sewot Bening.


"Pernah.Kayaknya sering deh,aku bilang kamu cantik.."bantah Daniel.


"Hmm...mana ada?yang sering kakak bilang ke aku tuh,bawel, cerewet,jelek, apalagi ya?"Bening mengingat ingat.


"Masa sih?"Daniel mengacak-acak rambutnya gemas.


"By the way, makasih ya kak, udah khawatir sama kondisi aku,udah nungguin aku di depan ruang operasi, udah ngirimin aku bunga, buku.Makasih banget.Tapi benar nggak sih kakak waktu itu nungguin?"Bening mengkonfirmasi,kali saja ibunya Daniel berkata demikian hanya untuk menyenangkannya.


"Apaan sih kak,lebay amat.."Bening tersipu-sipu dan memalingkan wajahnya.


"Aku juga nggak kuat kali dek,ngeliat mata kamu yang Bening..."gumam Daniel dalam hatinya.


"Ngopi yuk..."usul Daniel.


"Maksudnya?"tanya Bening.


"Kita ngopi..tadi aku bawa kok, kopi hitam kintamani kesukaan kamu..."Daniel langsung membongkar paperbag yang tadi dibawanya.


"Makasih ya,kak..tapi aku nggak tahu apa aku dibolehin atau enggak minum kopi.Soalnya lagi minum obat..."cerita Bening.


"Kalau gitu aku tanya ke om Cahyo ya?"Daniel pun mengambil handphone-nya hendak menghubungi ayah Bening.Sesaat ia melihat beberapa panggilan dari Widya juga pesan yang dikirim gadis tersebut.Daniel membiarkannya saja dan tetap pada tujuannya.Setelah mendapat persetujuan dari pak Cahyo Daniel merasa sangat senang.


Ia juga sudah meminta maaf karena ayah dari gadis tersebut tentang kecelakaan yang menimpa Bening di malam setelah Bening dioperasi setelah mengantar ibunya pulang ke rumah, Daniel sebenarnya datang lagi untuk menemui pak Cahyo tanpa sepengetahuan Bening.


"Om Cahyo bolehin dek, yang terpenting jangan terlalu banyak.."kata Daniel.

__ADS_1


"Yes!"Bening terlihat senang mendengarnya.Keduanya pun menikmati kopi kesukaan keduanya.


"Dek...."panggil Daniel.


"Iya?"Bening memandangnya.


"Masih mau jadi dokter, nggak?"tanya Daniel.Bening mengangguk tanpa berpikir lagi.


"Iya,100 persen pengen jadi dokter.Doain ya,kak.."jawab Bening yakin.


"Iya, pasti.Tapi kamu yakin Tuhan bakal dengar doa aku?"ujar pemuda itu.


"Yakinlah.Tuhan pasti bakal dengar doa hamba-Nya yang serius meminta."jawab Bening.


"Mudah mudahan,amin.Nanti mau kuliah di mana?"tanya Daniel kemudian.


"Nggak tau.Belum pastiin tempatnya.Mungkin nanti saat kelas tiga aja baru nentuin mau kuliah di mana, kampus apa.Kenapa emangnya kak?"tanya Bening melihat Daniel yang serius mencari tahu.


"Kalau gitu jangan pacaran ya?"Bening mengernyitkan dahinya.


"Kayaknya kakak sering deh, bilang gitu.. udah tau juga jawabannya..."kata Bening.


"Tapi kali ini yang lebih serius.Jadi, benar ya, nggak boleh pacaran dulu sampai cita cita kamu tercapai.Biar nanti jadi fokus belajarnya nggak keganggu sama ketantruman pacaran.Biar lebih yakin memang sebaiknya kita buat kesepakatan aja.Bentar ya, kamu ada kertas nggak?"tanya Daniel.


"Nggak ada.. Harus banget ya, membuat kesepakatan? Bukannya pacaran itu vitamin kak?"jawab Bening.Daniel pun melihat isi tasnya kali saja ada kertas yang kosong.


"Vitamin apanya?Pacaran itu bakal banyak stresnya.Jadi mending jangan dicoba?Oh,iya jadi nulisnya gimana,nih?"Daniel mencari ide saat tak menemukan apa yang ia cari.


"Besok-besok aja kak, kayak mau ke mana aja..."usul Bening.


"Nggak ah, harus malam ini.Mumpung ingat, dari pada keburu kamu langgar.Nanti setelah bunga, nggak tahu si tenor itu bakal beri kamu apalagi.Kesempatan banget dia."Bening kembali mengernyitkan dahinya.Bagaimana Daniel tahu Bastian mengunjunginya,membawa bunga lagi.


"Terserah kakak aja deh..."Bening tak ingin berdebat dan merusak suasana indah yang tercipta.


"Bentar ya, aku tanya ke suster barangkali mereka punya kertas kosong sama meterainya"Daniel berdiri hendak keluar.


Bening hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah pemuda tersebut.Daniel ke luar menuju ruang petugas.


"Widya..."Daniel kaget melihat Widya di depan pintu kamar Bening dengan tangan yang masih terpasang infus.

__ADS_1


"Kamu kenapa berdiri di luar? Kenapa nggak masuk?"tanya Daniel.Sedangkan Widya hanya diam dengan wajah yang kesal.Rupanya ia mendengar semua percakapan Bening dan Daniel.Ia sempat membuka pintu tapi tak bersuara dan memilih menyimak saja diam diam.


__ADS_2