Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.107


__ADS_3

"Dok.... dicariin dokter Meva..."ujar seorang suster saat Bening masih berada di ruang poli anak.


"Oh... suruh masuk aja,sus..."jawab Bening.


"Oke dok..."suster itupun keluar dan mempersilahkan Meva masuk.


"Hey... udah selesai Ben?"tanya Meva dan langsung duduk di hadapannya.


"Iyah... udah makan belum...?"tanya Bening sembari merapikan map yang berisi data data pasien anak yang berobat hari itu di poli.


"Belum.. nunggu kamu.."sahut Meva.


"Ya, udah yuk.."Bening berdiri dan keduanya keluar dari ruangan poli untuk bersiap makan siang.


"Ben, Kamu dah ketemu kak Daniel belum? Soalnya,kemarin sore mr.emulsion itu ke rumah, nyariin kamu..."cerita Meva.


"Oh,ya?Kok bisa?"Bening mengernyitkan dahinya.Dia tahu Daniel mencari tahu keberadaannya kemarin tapi gadis itu tidak tahu ia sampai mencarinya di rumah Meva,rumah nenek juga dan bahkan tadi pagi seorang perawat yang bertugas di ruang rawat anak mengatakan kalau ada pemuda yang mencarinya dan bernama Daniel.


"Karena kamu nggak ada di apartemen.Telpon sama WhatsAppnya juga nggak kamu gubris.Awalnya,dia nanyain abang aku.Mungkin dia mikirnya kamu lagi sama abang kali ya,padahal mereka sebelum itu pergi berdua,waktu dia nganterin aku tuh,pas nyampe rumah dia langsung ngajak abangku pergi.Yang jadi persoalannya adalah wajahnya bonyok kayak baru habis berantem gitu.Nah, malemnya abang aku pulang.Dia juga tampangnya sama kayak kak Daniel.Sama sama bonyok.Aku tanyain katanya iseng ngikut pertarungan tinju..Aku, nggak percaya dong.. Jangan jangan mereka berantem ya?"tebak Meva.


"Masa sih? Nggak mungkinlah.... mereka kan sahabatan..."tepis Bening.


"Tapi bisa aja.. Menurut kamu,biasanya sahabatan cowok itu bisa berantem karena masalah apa?"tanya Meva.


"Pekerjaan atau bisnis mungkin..."jawab Bening.


"Bisa aja sih...tapi kalau feeling saya mereka bertengkar sampai adu fisik seperti itu karena masalah cewek.Pasti ada kaitannya sama kamu,Ben?"Meva merasa yakin dengan dugaannya.


"Apaan sih?Enggaklah.. Apa hubungannya sama aku?"Bening membantah.


"Ya, adalah.. Karena abangku mau serius sama kamu.. Mungkin Daniel tahu itu, makanya mereka berantem.."Meva berasumsi.


"Ini kita cuma berasumsi aja kan?Belum tentu seperti itu ceritanya dan belum tentu juga abang kamu itu berantemnya sama kakak aku .. Udah ya, nggak usah bahas mereka.."ucap Bening.


"Cieh...yang sekarang mengakunya kakak... Kalau udah seperti kakak adik, berarti nggak bisa saling cinta dong..kamu nggak mungkin ngidap brother complex kan,Ben?"goda Meva.


"Apaan sih? Udah ya... habisin makanannya...aku mau pergi..."kata Bening.

__ADS_1


"Mau ke mana?"tanya Meva.


"Nanti ya,aku cerita.."Bening sengaja tidak memberitahunya karena tak ingin ia akan memberitahu Daniel jika pemuda itu mencarinya lagi.


Semalam setelah bercerita dengan sang nenek ia mulai mempertimbangkannya.Mempertimbangkan cerita Widya.Meskipun ia ragu dengan kisah mantan sahabatnya itu,tapi ia juga merasa bahwa dirinya pasti bisa bahagia tanpa kehadiran mereka.Apa yang ia jalani selama ini sudah cukup untuk membuatnya bahagia.Ia tetap memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, teman yang sangat baik,juga pekerjaan yang menjadi cita-citanya.


Berbicara tentang jodoh,ia selalu mendoakannya.Mungkinkah jodoh itu sebenarnya sudah ada hanya ia tidak menyadarinya.Ia mempunyai seorang teman pria yang ia sendiri tahu bahwa pria itu menyukainya bahkan sejak lama.Selama ini pemuda itu tak lagi menggombalinya dengan kata kata tetapi sesungguhnya sikap dan perhatiannya sudah mewakili isi hatinya.


Bening berdiri di depan pintu rumah Bastian dengan dua kantong belanjaannya yang berisi bahan bahan makanan yang sudah ia beli di pasar.Ia mau memasak makanan kesukaan pemuda itu selagi ia memiliki waktu kosong.Ia berpikir harus mulai melakukan sesuatu walau ia tahu, Bastian sedang tidak berada di rumah.


Pemuda itu bahkan telah membangun rumahnya sendiri dari hasil kerja kerasnya sebagai seorang penyanyi dan juga artis.Hal itu menandakan bahwa dirinya adalah pria yang bertanggung jawab dan berpikir untuk masa depan.


"Selamat siang dokter Bening..."sapa sang asisten rumah tangga setelah membuka pintu.


"Siang bi..."jawabnya sopan.


"Saya senang dokter bisa ke sini lagi..."ujar perempuan paruh baya tersebut.


"Iya,maaf ya,bi... beberapa minggu ini saya sibuk..Tapi ke depannya saya akan sering sering ke sini kok... Bening mengungkapkan janjinya.


"Oh,ya...? Beneran dok?"tanyanya dengan senyumnya.


"Bibi udah masak buat makan siang atau udah makan ya,bi?"tanya Bening sambil melirik jam di tangannya.Masih pukul 13.30, waktu untuk makan siang masih bisa.


"Belum dok... soalnya mas Bastian nggak makan siang di rumah, jadi nggak masak.Tadi sebenarnya mau makan,eh...dokter datang..."kata bi Mila.


"Ya udah, kalau gitu saya masakin ya, nggak lama kok nanti sekalian buat kak Bastian.Saya WhatsApp-in dulu ya,kali aja nanti setelah dia tahu saya di sini dan masak untuknya dia akan pulang."jelas Bening.


"Makasih dok..."kata wanita itu lalu keduanya menuju dapur.


Bening berpikir positif saat pesannya masih centang satu.Mungkin Bastian sedang nyanyi atau live.Ia pun segera mengeluarkan aksinya, memasak dengan waktu yang seoptimal mungkin.Sehingga saat Bastian pulang semua sudah selesai.


Dengan dibantu bi Mila keduanya memasak.Kolaborasi yang sudah lama tidak terjadi.


Dengan semangat dan hati yang ceria ia melakukannya hingga beberapa menu sederhana telah selesai dibuat.Mereka pun menatanya di atas meja.


"Wow.... dari tampilannya aja udah menggugah selera apalagi dari aromanya... Udah nggak sabar pengen coba ..Mas Bas pasti senang sekali nanti apalagi yang masakin adalah orang yang spesial.."ujar bi Mila.

__ADS_1


"Makasih bi..."Bening sedikit malu mendengar pujian wanita itu.


Handphone Bening berbunyi.Dirinya berpikir pasti Bastian.Namun tebakannya ternyata salah.Daniel kembali menghubunginya dan mengirimnya beberapa pesan yang menanyakan keberadaannya.Bukan hanya pemuda itu, sahabatnya Malvin pun melakukan hal yang sama dengannya.


Bening bergidik ngeri mengingat keduanya.Ia belum melihat wajah Malvin yang lebam seperti yang diceritakan adiknya tapi mungkin tak jauh berbeda dengan tampang Daniel yang dilihatnya tadi pagi.Bila benar bahwa keduanya memang benar bertengkar, Bening sangat menyayangkan cara mereka dan hal itu membuatnya memiliki persepsi yang berbeda.


"Dari mas Bastian,dok?"suara bi Mila mengagetkannya.


"Enggak bi... dari teman saya..Aku coba telpon kak Bastian ya.."beberapa kali dicoba nomornya tidak aktif.Ia pun mengirim beberapa pesan dan memotret hasil makanannya lalu mengirimnya.


"Bibi makan duluan aja.. Biar untuk kak Bastian disimpan aja.."saran Bening.


Tak menyia-nyiakan waktu bi Mila pun menurutinya.


"Ayo, makan sama sama dok..."ajaknya.


"Aku udah tadi bi di rumah sakit.Belum lagi nanti kalau kak Bastian pulang saya pasti makan lagi buat nemenin..."kata Bening.


Gadis itu terus melihat ke layar handphonenya.Ia hanya fokus pada pesan pesan yang dikirimkannya untuk Bastian.Belum ada tanda-tanda pemuda itu membacanya.Ia tetap ingin menunggu, menunggu pemuda itu pulang.


"Maaf bibi lagi makan,tapi sayaajak ngobrol ya..Udah berapa lama kak Bastian nggak makan siang di rumah,bi?"tanyanya.


"Udah jarang sekali dok... terakhir kalinya waktu dokter ke sini... sebelum ke Bali itu..."jawab bi Mila.


"Oh,gitu...Kak Bastian biasanya pulang jam berapa?"tanyanya lagi.


"Sore, kadang malam..."kata bi Mila.


"Teman temannya sering main ke sini?"tanya Bening.


"Beberapa kali.. nggak sering kok.. itupun nggak sampai nginap.."Bening ingin mencari tahu semua aktivitasnya di rumah.Meskipun malu menanyakannya tapi ia tetap melakukannya.


"Teman cowok atau cewek?"ujar Bening.


"Ada beberapa cowok,ada yang cewek juga.Bahkan ada beberapa cewek yang sering cariin mas Bastian ke sini.Bawa bawa makanan atau apalah isinya.."cerita wanita itu membuat Bening penasaran.


"Oh, ya? cantik nggak bi..."cercanya.

__ADS_1


"Cantik..tapi cantikan dokter kok dan mas Bastian juga reaksinya biasa aja dibanding jika dokter yang datang.Itu wajahnya berseri terus..."Bening merasa malu.


Masih banyak lagi yang ditanyakannya, hingga tak terasa hari sudah sore.Bastian tak kunjung pulang.Ada rasa kecewa tergambar di wajah Bening dan untuk pertama kalinya ia merasakannya.


__ADS_2