Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.13


__ADS_3

Bening melihat jam di dinding kamarnya.Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.Beruntung saja masih libur sehingga ia tidak panik lantaran terlambat untuk ke sekolah.


Dibukanya jendela kamar.Tampak cuaca tak secerah hari kemarin.Matahari tak kunjung menampakkan sinarnya.Memang biasanya,berbeda dengan bulan yang lainnya,pada saat bulan Desember adalah awal dari musim hujan di pulau Bali.


Gadis itu kembali menatap pada foto yang terpampang indah di meja belajarnya.Foto siapa lagi kalau bukan dirinya dan Daniel.Hujan bulan Desember kali ini terasa berbeda.


Bening duduk termenung di jendela kamarnya sembari menatap keluar.Bayang bayang semalam mulai memenuhi kepalanya.


Air mata kembali mengaliri pipinya.Untuk pertama kalinya ia tahu rasanya sakit hati yang sulit untuk hilang begitu saja meski sudah berusaha menerima.Toh ia sempat memikirkannya.Ia pernah takut Daniel menyukai orang lain, yakni Widya.Sekarang semuanya telah terbukti.Meskipun hal tersebut pernah terpikirkan, tetapi rasa sedih,kecewa, sakit hati,tetap saja tak terhindar.Mungkingkah ini yang dinamakan patah hati?Cinta bertepuk sebelah tangan? Untuk anak seusianya yang masih duduk di kelas 2 SMA mugkinkah ini wajar?


Tak bisa dipungkiri, ketika mengetahui kenyataannya ia marah karena merasa ditolak walau ia tak mengatakan perasaannya pada Daniel tapi harusnya laki laki yang sering ia panggil kakak itu peka.Ia marah, kenapa bukan dirinya? Kenapa malah menyukai gadis lain?


Apakah cinta saja tidak cukup?Haruskah ia mengungkapkan perasaannya duluan?biar jika dia tahu,ia akan mempertimbangkan pilihannya untuk berpacaran dengan sahabatnya sendiri demi menjaga perasaan adiknya?


Bening menangis sesegukan.Beruntung saja titik titik hujan mulai terdengar sehingga ayah atau ibunya tidak mendengar ia menangis.Suara hujan turun seakan akan berempati terhadap kesedihannya.


Handphonenya berdering.Nama Bastian terpampang di layar panggilan.


Ia memilih untuk tidak mengangkatnya.Bahkan penyesalan kini tiba tiba hadir.Mungkin kalau ia tidak menghadiri acara keluarganya,ia tidak akan mendengar curhatan Widya sehingga ia ta perlu merasa sedih dan patah hati seperti sekarang.


Setelah dilihatnya tak ada panggilan lagi Bening meraih handphonenya dan mengirim pesan kepada ibunya.Ia ingin memberi tahu ibunya agar tak perlu menunggunya untuk sarapan.Ia akan menyusul nanti.


Suara ketukan pintu terdengar.


"Ben....ayo sarapan nak..."panggil ibunya walau ia sudah menerima pesan dari anak gadisnya itu.


Bening kelabakan.Ia menatap dirinya di depan cermin.Matanya merah dan sembab dengan kelopak mata yang sudah membengkak.Ia berusaha menekan nekan kantong matanya.


Karena tak terdengar suara dari dalam kamar, ibunya memilih untuk sekali lagi mengetuk pintu.


"Ben.... Ben...buka pintunya nak ..." pinta sang bunda.


Gadis itu menjadi panik.Ia malu bertemu ibunya.Ia malu jika ketahuan ibunya, kalau ia baru habis menangis.Menangis karena patah hati.


"Iya ma...aku mandi dulu ma... bentar ya ma..."jawabnya memilih tak membukakan pintu.


"Cepat ya,papa udah nunggu dari tadi..."kata Bu Melia.Ia mulai berpikir,tumben anaknya terlambat mandi.Di hari libur sekalipun ia selalu beraktivitas seperti layaknya sedang sekolah setiap paginya.Seringkali ia yang menunggu mereka di meja makan dengan sudah membersihkan diri tentunya.


"Iya,ma... tolong bilang ke papa nggak apa-apa duluan aja sarapannya,aku sarapannya nanti aja,aku datang bulan ma..."Bening mengatakan dengan alasan yang dibuat buat.


Tentu saja sang ibu bisa menangkap dari suaranya dan alasannya bahwa anak gadisnya itu sedang tidak baik baik saja.


Bu Livia ingat semalam saat ia pulang gadis itu tak banyak bicara, berbeda dengan sebelumnya.Ia akan bercerita tentang aktivitasnya selama ia bepergian keluar bahkan tanpa diminta Tetapi semalam ia memilih untuk langsung istirahat saja di kamarnya.Tak bertanya apa apa ibunya langsung mengiyakannya untuk tidur.Mungkin capek.Pikir Bu Livia.

__ADS_1


"Ya, Udah...tapi mama tetap nunggu kamu sarapannya ya... mama Udah bikin cream soup roti tawar kesukaan kamu loh nak..."pinta sang bunda membuat Bening terharu.


"Iya,ma... tapi aku agak lama ya, gimana ma? " tanyanya bernegosiasi.


"It's okay...mama tunggu..."Jawab Bu Livia.


Bening merasa menyesal telah membohongi ibunya dengan mengatakan sedang datang bulan segala.Benar benar bukan dirinya.Jika dipikir pikir apa salah ibunya?Ia tak ada kaitannya sama sekali dengan kesedihannya.Lalu kenapa mereka yang menjadi sasaran ia bagikan efeknya?


Padahal ibunya sudah sempat menyinggungnya untuk tetap siaga tentang patah hati.Harusnya ia berterima kasih sudah diingatkan.


Bening meraih kimono handuk nya yang tergantung di dekat kamar mandi.Ia bergegas untuk segera mandi.Bagaimana saja caranya ia harus bisa menyembunyikan kesedihannya.Ia harus belajar untuk hal itu.


Ia melihat aroma terapi lavender yang ada di kamar mandinya lalu dituangkannya ke dalam bathtub.Ia memilih mengambang di bath up untuk merelaksasi kan tubuhnya yang terasa pegal.Bukankah dari yang ia baca, perasaan sakit hati karena patah hati adalah masalah psikis, tetapi kenapa ia merasa bahwa fisiknya juga terasa sakit?


Karena itu ia memilih berendam sebentar berharap saat selasai mandi nanti ia akan mendapatkan kembali semangatnya.Semoga saja ia terlihat lebih segar.


Melihat istrinya yang datang sendiri ke meja makan pak Cahyo mulai menanyakan putrinya.


"Anak gadismu ma?" tanyanya.


"Masih mandi pa... lagi dapet katanya...papa sarapan duluan ya... biar mama yang nunggu Ben..." ujar Bu Livia.


"Oh...gitu...ya udah..." pak Cahyo lalu mengambil roti dan susunya.


"Iya boleh....wah kesukaan si Ben ini ma...." kata pak Cahyo yang mengetahui betul sarapan kesukaan sang putri.


"Pa....nanti kalau dia datang nggak usah ditanyai apa apa dulu ya?" ujar Bu Livia.


Pak Cahyo mengernyitkan dahinya tak paham dengan maksud ucapan istrinya itu.


"Ada apa?"tanyanya kemudian.


"Tidak apa-apa...cuma feeling aku aja pa... kayaknya dia lagi ada masalah... semalam pulangnya nggak banyak ngomong.Ini juga nggak ikut sarapan.Bukan dia banget kan?" ujar istrinya meminta pendapat suaminya prihal sikap putri mereka pagi ini.


"Jadi, tidak perlu kita tanya ke dia,ada apa?"tanya suaminya.


"Aku mikirnya begitu,pa.... nanti pasti dia cerita sendiri..."jawab Bu Livia meyakinkan suaminya.


Tak berselang lama,sang putri yang ditunggu tunggu muncul dengan senyumnya.Senyum yang terlihat palsu seakan dibuat untuk menyembunyikan sesuatu.


"Wah...seger banget nak..."puji sang ayah.


Bening hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Papa kok belum berangkat?"tanyanya setelah duduk berhadapan dengan ayahnya.


"Iya.... baru mau berangkat..nunggnu hujannya berhenti dulu.Terus,tadi keasyikan menikmati soup roti tawar buatan mama... so yummy..pas banget dengan cuaca di luar.."ujar pak Cahyo padahal sesungguhnya ia sendiri ingin memastikan kondisi putrinya setelah mendengar keluhan istrinya.


"Oh,iya pa....tadi mungkin karena hujan juga, dingin...makanya aku kesiangan bangunnya..." cerita Bening sekali lagi mencoba membuat alasan yang lain.


Kedua orang tuanya tersenyum mendengar ceritanya.


"Ayo, sarapan nak....mau mama tuangin soupnya?"tanya sang bunda.


"Nggak usah ma...biar aku aja yang ambilin buat mama" tolaknya lalu berdiri mengambil beberapa sendok soup ke mangkuk ibunya.


"Cukup nak.." kata Bu Livia setelah dirasanya cukup.


Setelah mengambilkan soup untuk dirinya sendiri keduanya pun mulai sarapan.


Pak Cahyo menatap putrinya lekat.Memang ada raut kesedihan terpancar di sana.Tampak dari matanya yang sembab dan tatapan Bening yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Nak..... sebentar sore kalau cuacanya bagus,mau nggak nemenin papa jalan jalan?"tanya pak Cahyo.


Sejenak bening memandanginya lalu berpikir.


"Memangnya papa nggak praktek?"Bening mengingatkan jadwal sang ayah.


"Enggak...papa capek banget...papa butuh refreshing...Tapi kalau kamu sibuk nggak apa-apa.. biar papa pergi sendiri saja.. soalnya mama juga nggak bisa nemenin.."Ujar pak Cahyo memancing anaknya.


"Aku nggak sibuk kok pa...aku mau...aku juga capek banget rasanya... pengen jalan jalan... makasih ya pa..."ujarnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Makasih untuk apa?"tanya sang ayah.


"Makasih... Udah mau ajak bening jalan jalan..."Bening menyeka air matanya yang sudah terlanjur jatuh.


"Loh..loh...kok nangis nak? Harusnya papa yang berterima kasih sama kamu.. sudah mau diajak jalan-jalan... nggak enak kalau pergi sendiri...ada kamu kan seru...." jelas pak Cahyo.


Bening berusaha untuk tidak menangis lagi.Entah mengapa air matanya tak bisa diajak kompromi.Sungguh ia memang tak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika di depan orang tuanya.


"Ya udah... kalau gitu habisin sarapannya yuk..."Bu Livia memberi kode kepada suaminya dengan mengedipkan sebelah matanya tanda ia senang dengan ide sang suami.Ia sangat bersyukur suaminya sangat peka dan peduli terhadap putri mereka.


"Ma...aku nggak ikut ke toko ya... nggak apa apa kan?"tanyanya kemudian.


"Oh,gitu?ya udah nggak apa-apa... kamu istirahat ya di rumah.Nanti kalau bosan telpon aja biar mama jemput..."ujar Bu Livia tanpa membujuknya untuk ikut.


Mungkin anak gadisnya itu membutuhkan me time walau ia berharap Bening bisa menemaninya di toko.Dengan demikian ia pun bisa memantaunya,memberinya hiburan kala sedih.Tetapi ia tetap berpikir positif kalau anak semata wayangnya itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2