
"Ternyata kamu di sini.Aku naif banget ya,berpikir tentang keadaan kamu.Aku kira kamu sudah diapa apai oleh pria tua itu.Telepon nggak kamu angkat, semua pesan pesan yang aku kirim juga nggak kamu balas.Aku bahkan memaksa suster untuk melepas infusnya karena mau nyusul kamu.Aku juga sebenarnya udah capek berdebat sama mama karena nggak nandatanganin surat biar aku bisa pulang paksa dari rumah sakit ini.Tapi ternyata aku salah.Kamu baik baik saja dan sangat bahagia."ujar Widya dengan berurai air mata membuat Daniel kelabakan.
"Kamu tenang dulu ya..ayo kita ke kamar kamu.. kita bicara di sana.."bujuk Daniel hendak menuntun sang pacar ke kamar dengan memegangi bahunya.
"Nggak... nggak usah.Aku udah capek diginiin terus sama kamu.Emang benar kan feeling aku selama ini.Kamu suka kan,sama Ben? Kesepakatan apa yang mau kalian buat?"Daniel tak percaya jika gadis itu ternyata mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu salah paham,Wid..."Daniel mengelak.
"Salah paham, gimana?Aku udah dengar semua apa yang kalian bicarakan.Heh...aku benar benar tertipu sama kalian..."ujar Widya. Bu
"Wid...ayo kita ke kamar kamu ya, kamu nggak bisa terus berdiri di sini.Kamu belum pulih.Nanti jatuh."sekali lagi Daniel membujuknya dengan suara yang ekstra lembut.
"Biarin.Mungkin kalau saya mati juga lebih baik.Nggak ada yang peduli sama aku..."rupanya Widya benar benar ngambek.
"Kamu ngomong apa sih,Wid...kita bicara di kamar kamu ya.. Nanti aku akan cerita semuanya.Aku bantu ya.."Daniel perlahan mengambil botol infus yang sejak tadi dipegang oleh gadis itu.
"Tuh kan, jadi berdarah..Gara gara kamu nih, pegangannya yang benar dong..."omel Widya pada pacarnya padahal semenjak tadi Daniel sudah melihat darah pada selang infusnya hanya ia sengaja tak memberi tahunya karena ketakutannya pada darah.
"Sorry... sorry Wid.."kata Daniel seperti mengakui saja kalau ialah penyebabnya.
Setibanya di kamar bu Vitha yang melihat kedatangan mereka segera berdiri dari tempat duduknya dan menyambut Widya.
"Selamat sore tante..."sapa Daniel canggung.
"Iya,sore Dan.."jawab bu Vitha sembari bibirnya menyunggingkan sedikit senyuman.
"Pelan pelan,nak.. Aduh, itu selang infusnya berdarah.."Bu Vitha panik.Daniel pun berinisiatif memberi tahu perawat untuk memperbaikinya.
"Jangan ke mana mana.."Widya menarik tangannya.
Daniel memandang malu pada bu Vitha yang sekilas juga meliriknya.
__ADS_1
Saat seorang perawat memperbaiki infusannya pun Widya tetap memegang erat tangan Daniel seolah-olah takut pemuda itu akan kabur.
"Kak,tolong kamu cerita ke mama tentang pertemuan kamu sama pak Andre.Tolong jelasin bagaimana hubungan pak Andre sama ibu kamu biar mama tahu siapa pak Andre sebenarnya dan apa yang aku bilang itu benar adanya, bukan halusinasi.."bukan hanya Daniel yang kaget mendengar penuturan Widya, tetapi ibunya juga.
Wanita itu tak menyangka sang putri kembali mengungkit masalah tersebut.Padahal harapannya ia dan putrinya tidak akan lagi berdebat tentang hal yang hanya akan membuat luka di antara keduanya.
Daniel bisa membaca kalau bu Vitha merasa tak nyaman dan enggan untuk menanggapi.Berarti itu bukanlah saat yang tepat untuk ia bercerita.
"Ayo kak... ayo cerita..."Widya kembali memintanya bercerita.
"E....e... maaf tante...bukan bermaksud untuk mencari tahu dan lancang tapi saya hanya mau cerita kalau memang benar bahwa om Andre dan mommy saling kenal.Saya juga baru tahu saat om Andre waktu itu ke rumah.Ternyata setelah saya ngobrol sama om Andre dia berkisah kalau mommy adalah temannya dulu di Jakarta.Hanya itu yang saya tahu tan,Wid..."tutur Daniel.Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya yang pak Andre ceritakan padanya.
"Boong.... kamu boong kan? Bukan itu cerita yang sebenarnya kan?"Benar atau tidaknya apa yang pria itu katakan, Daniel belum mengkonfirmasinya kepada sang bunda karena hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Ia juga tak mungkin menceritakan aib ibunya sendiri terhadap siapapun.Apapun masalah dan kesalahannya dia tetaplah ibunya yang sangat berharga di matanya.
Daniel sudah menemui pak Richard yang adalah orang kepercayaan ayahnya dan menanyainya sebuah kebenaran tentang pernikahan kedua orang tuanya.Memang benar keputusan dari pengadilan sudah keluar tetapi pihak ayahnya sudah mengajukan banding dan bu Melia mau untuk bekerja sama menyelesaikan semua proses hukum yang sedang berjalan.
Tetapi tetap saja Daniel merasa tertipu.Ia marah dan sedih.Ia merasa apa yang ia lihat dan rasakan selama beberapa bulan tentang hubungan mereka hanyalah sandiwara.Tetapi meskipun demikian,ia memilih tak mempersalahkan ibunya atau memarahinya.Yang ingin ia lakukan sekarang adalah berada di samping ayahnya.
"Kok diam saja,kak?Ayo ceritain yang sebenarnya.Mami nggak akan marah.."kata Widya.
"Hanya itu yang aku tahu,Wid..."jawab Daniel.
"Nggak mungkin.Kamu pasti bohong.Mana videonya? Udah berhasil kamu buka,kan?"Widya hendak mengambil handphone milik Daniel.
"Kamu tenang dulu Wid... jangan banyak bergerak..Aku nggak bohong..."pemuda itu tetap pada pendiriannya tak mau bercerita.
"Sumpah..ayo bersumpah...kamu nggak berani,kan?"tantang Widya.
"Astaga Widya...kamu kok maksa banget?"timpal ibunya yang kembali geram melihat putrinya memaksakan keinginannya.
__ADS_1
"Mami jangan ikut campur mi...aku nggak mau berdebat sama mami...Mami cukup dengar aja,ya..."kata Widya tak bisa diredam.
"Widya...kamu kok gitu ngomong sama mami kamu sendiri? Nggak sopan Wid..."Daniel ikut geram melihat Widya yang sesukanya saja.
"Udah kak, jangan sok sok nasihatin aku.. tugas kakak di sini hanya untuk ceritain semuanya..."bantah Widya.
"Mau cerita apalagi?kan udah tadi?"Daniel menggeleng gelengkan kepalanya kecewa.
"Oke,fine.. kalau kamu tetap kekeh nggak mau cerita,sini....Mana handphone kamu?Aku mau nunjukin ke mami videonya.."Widya mengulurkan tangannya, meminta Daniel memberikan handphonenya.
"Video apa?"Daniel pura pura bertanya.
"Daniel please... berhenti berpura-pura.Aku udah capek bertengkar terus sama mami gara gara pria tua itu.. tolong bantu aku,Dan... please..."Widya memohon dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sedangkan ibunya hanya diam saja mendengar semua ucapannya meski dalam hatinya ia merasa dipermalukan oleh putrinya sendiri.
Karena tak kunjung dikasih, Widya pun mengambil paksa dari tangan Daniel dan Daniel tetap mempertahankannya bukan karena ia takut video itu dilihat oleh bu Vitha tapi ia tak tak mau Bening dibawa bawa dalam pertengkaran mereka jika Widya melihat semua isi di dalamnya.
BRAKKKKK...
Handphone tersebut pun terlempar ke dinding hingga jatuh kembali ke lantai.Alhasil benda pipih itupun terbela menjadi beberapa bagian.
Widya menutup mulutnya karena merasa bersalah.
Dengan kesal Daniel memungut kembali handphonenya yang hancur berantakan.
"Kak, sorry..."ucap Widya.
"Permisi tan, saya mau pamit..."Ujar Daniel pada bu Vitha tak peduli lagi dengan ucapan Widya.
"Kamu mau kembali lagi ke kamar kekasih gelap kamu itu kan?"sindir Widya.
__ADS_1
"Stop Wid.. Harusnya kamu merasa bersalah terhadap Ben, karena gara gara kecelakaan itu dia mengalami cedera tulang belakang yang hebat dan harus dioperasi.Jika tidak segera ditangani, gadis itu bisa lumpuh.Kenapa kamu selalu berpikir negatif tentang dia padahal ia selalu bersikap baik sama kamu.Kalau kamu tidak bisa menjenguknya paling tidak berdoalah untuk kesembuhannya dan berhenti berpikir negatif tentang dia..."Ungkap Daniel lalu keluar dari kamar tersebut.
Bu Vitha yang baru mengetahuinya, menutup matanya karena kaget.