
Daniel menyiapkan es batu dan sebuah handuk kecil dengan dibantu oleh pegawai toko.Ia ingin mengompres dahi Bening karena teknik tersebut bisa digunakan untuk mengurangi nyeri, menurunkan bengkak dan peradangan akibat benturan.
Perasaan bersalah terpampang nyata di raut wajah pemuda itu sekarang.Jika ia tak berkeras hati tak menjawab saat gadis itu memanggilnya, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
Gadis itu tak menghiraukan benturan yang ia alami. Ia lebih memikirkan ucapan Bu Melia yang mengatakan kalau Widya menelepon berkali kali di handphone Daniel yang tertinggal di rumahnya.
Benar dugaan Bening, Widya pasti akan menghubunginya untuk menanyakan keberadaan pacarnya saat melihat namanya di layar handphone Bening.
"Kak... Widya menelepon..."kata Bening pada Daniel yang siap mengompres dahinya.
"Aku angkat nggak?"tanyanya lagi saat Daniel seperti mengacuhkan pertanyaannya.
Pemuda itu malah meletakkan handuk yang berisi es batu pada dahinya dengan sangat lembut.
"Hallo Wid..."sapa Bening.Belum sempat mendapat jawaban dari sebelah, Daniel mengambil paksa handphone itu dari tangannya dan mematikannya.
"Kenapa dimatiin,kak?"protes Bening.
"Obatin dulu dahi kamu, nanti setelah selesai baru boleh terima telpon..."Daniel tak merasa bersalah sedikitpun.
"Tapi kak... Widya nelpon.Dia pasti mau nanyain kakak...."kesal gadis itu.
"Ngapain dia harus nelpon kamu kalau cuma buat nanyain aku.Dia bisa telpon ke aku langsung..."jelas Daniel.
"Emang kakak bawa hp?Enggak kan?"Daniel kaget mendengarnya.Ia segera meraba saku celananya.Karena tak menemukannya,ia mengambil tas selempang yang ia bawa, barangkali hpnya ada di dalam sana.
"Nggak ada kan? handphone kakak itu tertinggal di rumah.Tadi tante Melia nelpon, nanyain kakak di mana karena kakak nggak bawa hp ke sini..."jelas Bening.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih,dek?"Daniel mulai kepikiran.
"Gimana mau bilang? kakak keburu ngambek.."ujar Bening.
"Siapa yang ngambek?Aku nggak ngambek.."Daniel menyangkal tuduhan gadis itu.
"Terus tadi?Apa namanya kalau bukan ngambek?Kenapa pergi gitu aja waktu aku terima telponnya kak Bastian?"Bening meminta penjelasan, karena ia sangat ingin tahu jawabannya.
"Aku nggak setuju kamu pacaran?"jawabnya datar.
__ADS_1
"Kenapa nggak suka?"Bening mulai kesal.
"Bukan nggak suka.Tapi nggak setuju.Kakak nggak setuju kamu pacaran sama anak itu.."Daniel memberi jawaban yang mengundang rasa penasaran Bening.
"Kak Bastian?Kenapa?Kak Bastian baik kok...Kak Daniel aja yang nggak bisa lihat sisi baiknya.."tanya Bening yang bingung kakaknya itu tidak menyukai Bastian padahal menurut Bening pemuda itu sangat baik bahkan selalu membantu Daniel saat dia dihukum.
"Pokoknya aku nggak setuju.Kamu nggak boleh pacaran.."Daniel tetap tak memberi penjelasan yang memuaskan hati.
"Nggak adil kak..Aku bingung kenapa kakak nggak suka sama kak Bastian.Padahal dia baik banget loh sama kakak.."Bening memberi pembelaan untuk Bastian.
"Dia baik itu cuma sama kamu.Itu karena ada maunya.."jawab Daniel.
Bening sangat kecewa mendengar ucapan Daniel.Ia bingung kenapa kakaknya itu tak pernah melihat sisi baik Bastian.
"Tapi kalau aku pacaran sama orang lain, boleh?"Bening sekali lagi ingin memastikan jawaban Daniel.
"Tetap nggak boleh.Adek nggak boleh pacaran.Udah ya... jangan bertanya lagi,aku harus konsentrasi ngompresin dahi kamu.Tuh udah mulai bengkak."Daniel hendak mengompres tetapi Bening malah mengambilnya dari tangannya.
"Aku bisa sendiri,kak... Lebih baik sekarang kakak pulang.Widya nelpon terus.Dia pasti nyari kakak.Aku nggak mau disalahin lagi.Jadi lebih baik kakak pulang."Bening menunjukkan pada kakaknya itu handphonenya.Widya terus saja meneleponnya.Ia pun mengompres sendiri dahinya.
Daniel hanya bisa diam memandangnya.Ia kini bingung apa yang harus dilakukan.Satu sisi ia ingin memastikan bahwa Bening akan baik baik saja. Dahinya tidak bengkak lagi juga nyeri akibat benturan tersebut hilang.Ia harus bertanggung jawab atas apa yang dialami adiknya itu.Tapi di sisi lain,ia juga mengkhawatirkan sang pacar, Widya.Mungkin sesuatu telah terjadi padanya.
Bening merasa aliran darahnya mengalir begitu cepat.Jantungnya berdegup kencang.Perasaannya tak karu karuan.Apa yang hendak Daniel lakukan padanya.
"Percaya deh...bentar lagi bengkaknya hilang...bahkan mungkin akan berpindah ke dahi aku.."Daniel tersenyum menggoda.Beruntung pemuda itu menghentikan aksinya.Ia berdiri dan mengacak rambut Bening.
"Huff...ada ada aja.Mana ada teknik seperti itu.."ujar Bening pada akhirnya membalas senyumannya untuk menutupi kecanggungannya.Ia akui apa yang baru saja dilakukan pemuda tersebut sudah membuat pikirannya berpikir negatif.
Tapi berpikir bahwa Daniel akan menciumnya bagai pungguk merindukan bulan.Adalah sesuatu yang sangat mustahil untuk terjadi.
"Aku pulang dulu ya.. jangan lupa dikompres dahinya.Tapi kamu harus percaya dengan teknik yang aku lakuin tadi...dah..."Daniel meninggalkan gadis itu yang hanya menatap langkahnya.
Setelah kakaknya menghilang di balik pintu Bening menyandarkan bahunya ke kursi.Ia menghirup nafas dalam-dalam, memejamkan matanya.Harum nafas Daniel masih ia rasakan .Bayang bayang manakala hembusan karbondioksida yang keluar dari hidung pemuda itu masih terasa menyapu wajahnya.
Tak ada lagi rasa sakit.Bening meraba dahinya.Benar kata pemuda itu.Tak ada lagi bengkak tapi ia tak mau melihat ke cermin untuk membuktikan bahwa benjolannya memang benar benar telah tiada.Ia ingin meyakini ucapan Daniel.
"Non...non Bening..."sapa seorang pegawai toko menyadarkan ia dari lamunannya.
__ADS_1
"Iya, kenapa mbak"Bening terhentak dan kembali duduk dalam posisi tegak.
"Ini obatnya non.."ujar Miya salah satu pegawai ibunya.Bening bingung saat melihat sebuah salep yang dipegang Miya.
"Dari mana mbak?"tanyanya penasaran.
''Dari mas Daniel..."
"Loh, bukannya udah pergi?"Bening berdiri melihat ke arah pintu.Tak ada sosok yang ia cari di sana.
"Iya, mbak...tadi balik lagi antar ini"Bening pun menerimanya dan membaca bungkusan luar salep tersebut.Ternyata kegunaannya untuk mengurangi bengkak akibat benturan.
Bening tersenyum sendiri melihatnya.Tak mau membuang waktu,ia pun membukanya agar segera memakainya.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel langsung ke kamarnya ketika tiba di rumah.Ia ingin melihat ponselnya yang ketinggalan.
"Nyari handphone,boy?"rupanya Bu Melia melihat kedatangannya dan menyusulnya ke kamar.
"Iya,mom...hp aku ketinggalan.."jawabnya sibuk mencari benda yang ia maksud.
"Nih... tadi mama telpon..tapi nggak kamu angkat.Waktu mama bawa pakaian kamu ke sini, mama lihat hp kamu bunyi."Bu Melia menyerahkan hp itu kepada putranya.
Daniel langsung mengecek siapa siapa yang sudah menghubunginya.Ia melihat salah satu panggilan yang sudah dijawab ibunya.Panggilan dari Widya, pacarnya.
"Tadi dia bilang apa,mom? Mommy nggak bilang aku ke rumah Bening,kan?"Daniel bertanya dengan wajah takut.
"Aku cuma bilang, kamu lagi keluar.Nggak bilang kamy ke mana.Dia juga nggak nanya, kamu ke mana.Tadi kalau dia nanya, pasti mama akan bilang kamu ke rumahnya Bening.Emang benar kan?Memangnya kenapa,boy? Bukannya Widya dan Bening berteman?"cerca sang bunda.
"Iya,mom..tapi Widya cemburu aku dekat sama si adek..."cerita Daniel dengan polosnya.
"Loh,kok bisa?kalian pacaran?"Bu Melia pada akhirnya punya celah untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
Daniel kelabakan menjawabnya.
"Bukan begitu maksudnya mom"ujar sang putra.
__ADS_1
"Terus? Kenapa dia cemburu?Sama Bening lagi.."Bu Melia terus saja mencari tahu.
Daniel duduk di tempat tidurnya.Dengan malu malu ia mengakuinya pada sang bunda.