
Daniel mengernyitkan dahinya kala membaca pesan dari Widya.Bagaimana tidak, isi pesan tersebut adalah gadis itu ingin mengajak jalan jalan bersamanya padahal semalam ia bercerita hingga larut tentang ibunya yang belum mengajaknya berbicara sehingga hal itu semakin membuatnya sedih.Baru juga bangun tidur.
Membaca keinginannya yang sekarang tentu membuat sang pacar bingung.Padahal semalam ia berjanji akan lebih sabar menghadapi ibunya, mencoba menuruti apa maunya dan tidak membatah lagi keinginannya mengingat Bu Vitha sedang sakit dan pantangan utamanya adalah menghindari stress.
Widya bertekad tidak akan menambah beban sang bunda walau ia sendiri merasa tertekan.
Karena tak kunjung dibalas sang pacar ia pun mencoba menghubunginya.
Daniel yang masih memikirkan kata yang tepat untuk membalas pesannya menjadi semakin bingung ketika melihat nama Widya memanggil di layar handphonenya.
"Hallo... selamat pagi Wid..."sapanya setelah mengangkat telepon.
"Hallo... selamat pagi kak... jadi gimana..kita jalan jalan yuk...mau nggak?"tanya Widya langsung ke inti pembicaraannya.
"Bukan soal mau apa enggak Wid...aku sih pasti mau mau aja.Tapi kamu gimana? maksud aku minta izinnya itu gimana ke mama kamu.. nggak mungkin kamu kabur lagi kan..."Daniel mengingatkannya.
"Ya...mau gimana lagi... mungkin itu satu satunya cara.lagian mami ke kantor..jadi nggak bakalan ketahuan...yang penting kita pulang sebelum mami pulang.Gimana?"ujar Widya begitu lancarnya memberi ide tanpa takut sedikitpun.
"Hah ...kamu yakin Wid? bukannya semalam kamu bilang..."
"Iya...tapi aku bosan kak....aku udah usaha..mama sampai saat ini belum mau ngomong sama aku.. padahal aku udah minta maaf,boro boro diterima,noleh aja enggak...kebayang nggak sih jadi aku kak?."potong Widya.Ia tahu apa yang dimaksud laki-laki itu.Dari suaranya terdengar ia mulai menangis.
Daniel kelabakan tak tahu harus berkata apa.Satu sisi ia takut jika Widya benar benar akan dihukum jika pergi tak mengantongi izin lagi seperti yang dibilang ibunya tetapi di sisi lain mendengar keluhan dan tangisan Widya membuat hatinya sedih.
"Ya, mungkin mama kamu masih pengen lihat kesungguhan kamu...apa kamu benar-benar menyesal dan mau berubah seperti keinginannya.. mungkin itu yang mama kamu mau dari kamu Wid?"ujar Daniel berharap Widya berubah pikiran.
"Jadi menurut kamu aku bertahan aja dulu, terkurung dan terpenjara di sini sampai mama maafin aku, gitu?"kata Widya membuat Suasana menjadi lebih runyam.
"Nih anak,kok jadi gini sih, semalam dia bilangnya lain.Belum juga beberapa jam sudah berubah lagi"gumam Daniel.
"So, intinya sekarang kamu mau keluar dari rumah dan pergi jalan-jalan, meskipun nantinya akan ketahuan mama kamu lagi..gitu?"tawar laki laki itu sesekali mengingatkan Widya barangkali dia akan berubah pikiran.
"Iya...aku mau ke Ubud bersama kamu.Aku ingin jalan jalan...menghirup udara segar..."kata Widya tetap pada pendirian dan keinginannya.
Daniel tak menjawab lagi.Ia sudah kehabisan kata-kata.
"Jadi gimana, kamu yang jemput aku ke sini atau aku yang ke rumah kamu.."tanya Widya memberikan pilihan.
__ADS_1
Rasanya tak gentle sekali jika ia membiarkan pacarnya itu yang ke rumahnya.
"Jangan... jangan... biar aku saja yang ke sana untuk jemput kamu.Atau gimana kalau aku ke kantornya Tante vitha dulu buat minta izin... setelah diizinin baru aku jemput kamu..." tiba tiba saja ide itu terlintas di benak Daniel.
"Nggak... nggak... Jangan...mami lagi sibuk banget kayaknya dan nggak bisa diganggu.Dan kalau nggak diizinin gimana?"tolak Widya.
"Ya... dicoba dulu..." seru Daniel.
Jujur saja,ia yang takut sekarang.Takut akan respon Bu Vitha kalau ia dan Widya pergi tanpa persetujuannya untuk kedua kalinya.Ia tak bisa membayangkan hukuman apa yang akan dia berikan untuk putrinya.
"Jangan cari gara gara deh... udah ah, aku siap siap dulu terus langsung ke rumah kamu..."ujar Widya kemudian mematikan Handphonenya dan meletakkannya di atas meja.Gadis itu benar-benar sulit dibantah saat ada maunya.
Ia segera bergegas.Ketika mandi,sebuah ide terlintas di kepalanya.Bening.Ya,gadis itu pasti bisa membantunya.Secara,maminya sangat menyukai gadis itu.Dengan cepat ia menyelesaikan ritual mandinya.
Masih menggunakan bath robes nya ia meraih handphone dan kembali menghubungi kekasihnya.
"Iya... hallo Wid...aku baru saja mau mandi.."ujar Daniel memberi tahu yang sebenarnya setelah mengangkat telepon.
"Kak..aku punya ide...aku yakin mami pasti bakal ngizinin aku keluar.Kamu ingat nggak dua bulan yang lalu, Bening nemenin aku buat periksa ke dokter.. Waktu asma aku kambuh.. Waktu itu mama sedang keluar kota dan nggak bisa nemenin aku. tapi dia percayain aku sama Bening.Dia sangat berterima kasih kepada Bening soal itu.. Widya sangat bersemangat menceritakan kejadian dua bulan yang lalu.
"Terus...."timpal Daniel.
"Astaga...Wid...Wid.. Kamu nggak takut.. entar kambuh beneran loh asmanya..." Daniel tak habis pikir dengan Widya.Tak ada takutnya sama sekali.
"Kamu doain asma aku kambuh?"tanya Widya kesal.
"Ya, enggak... bukan begitu maksud aku.Terserah kamulah.Kalau menurut kamu itu yang terbaik dan kamu nyaman ngelakuinnya, nggak apa-apa."Daniel berkata dengan putus asa.
"Ya udah... kalau gitu kakak ngomong ke Bening ya.Kalian datang ke rumah terus nanti biar Bening yang nelpon mami...Bening punya kok nomor handphonenya mami.." ucap Widya lalu menutup teleponnya.
Ia pun berpikir untuk bersandiwara dengan pura pura sakit biar ibunya yakin.Ia yakin idenya kali ini akan berhasil.Mengingat tadi pagi ibunya buru buru pergi karena ada meeting dengan klien penting.Itu yang sempat didengar Widya dari percakapan maminya dengan bi Santi.Jadi maminya akan sibuk dan tak akan punya waktu untuk menemaninya ke dokter.Diambilnya hairdryer lalu mengeringkan rambutnya agar sempurna melakoni sandiwaranya.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel berdiri di depan rumah Bening.Ia menunggu adiknya itu membukakan pintu untuknya.Ia tak memberi tahu sebelumnya kepada gadis itu apa tujuannya ke rumahnya pagi ini.
"Selamat pagi,mas Daniel..mau nyari non Bening?"tanya Mbak Yuyu yang membukakan pintu.
__ADS_1
"Selamat pagi mbak yuyu....Iya mbak...Adek ada?"tanyanya.
Bening yang mendengar suaranya langsung berjalan ke pintu depan rumahnya.
"Ada mas...tuh non Bening..."ujar mbak Yuyu ketika melihat Bening mendekati mereka.
"Good morning kak..."sapanya dengan senyum khasnya.
"Morning dek.. udah rapih..mau ke toko?"tanya Daniel.
Iya, pagi itu Bening memang ingin ke toko.Ia sudah berjanji kepada ibunya.Ia tak ingin lagi seperti hari kemarin.Mengurung diri di dalam kamar hanya untuk bersedih dan menangis.Walau rasa itu tak bisa sepenuhnya hilang, tetapi ia akan berusaha.Ia ingin bersikap seperti biasanya dan juga beraktivitas seperti biasanya.
Melihat laki laki yang berusaha ia lupakan perasaanya berada di depannya pagi ini membuatnya salah tingkah.Debaran itu masih terasa.
"hey...dek...kok melamun..."Daniel melambai lambaikan tangannya di depan mata gadis itu yang tampak bengong.
"Iya, kak...aku tadi kaget aja kakak muncul pagi pagi"ujarnya.
"Emang nggak boleh?"Tanya Daniel.
Ia pun menyuruh Daniel untuk duduk di ruang tamu.
"Mau minum apa kak?"tawar Bening.
"Oh ...enggak .. biar nggak usah...aku kesini ada perlu sama kamu..aku mau minta tolong soal Widya.."Daniel lalu menceritakan tujuan kedatangannya.Ia dengan jujur memberi tahu soal permintaan Widya.
Bening kaget mendengarnya.Ia tak ingin bersekongkol dengan ide Widya yang dianggapnya ngeri.Ia tak pernah seperti itu sebelumnya dan tak punya niat untuk membohongi siapapun.
"Maaf kak...aku nggak bisa..aku takut.Kakak tau kan kalau aku.."
"Nggak pernah bohong.Ia kakak tahu.Tapi kali ini please... please banget bantu Widya.Dia tersiksa banget dek.Dia pengen keluar sebentar dari rumah."Daniel melanjutkan perkataan bening dan memohon mohon hingga mengatupkan kedua tangannya.
Bening tercengang melihat keseriusan Daniel.Ia kenal laki laki itu.Baru kali ini ia melihat langsung bagaimana Daniel begitu khawatirnya terhadap Widya.Bahkan rela melakukan apa yang di luar dirinya.
Hati Bening menjadi sedih kembali.Ia menjadi tidak tega tetapi ia sangat menolak ide tersebut.
"Tapi kak...Aku takut.. kalau papa sama mama tahu mereka pasti sedih.."Bening berkata jujur.
__ADS_1
"Iya... ngapain harus cerita sama tante dan Om juga .. nggak semuanya harus kita ceritain dek .. sebenarnya aku juga masih kesal sama kamu tau nggak dek...kamu kok bisa cerita sama tante Livia kalau aku dan Widya pacaran.Kebiasaan kamu tau nggak...apa apa diceritain.. nggak ada privasi jadinya..."omel Daniel tanpa bertanya dulu kepada Bening.