
Widya mendekati ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga.Memiliki ibu yang terlalu protektif adalah tantangan besar baginya.
Jangankan bepergian keluar kota untuk berlibur, menginap di rumah temannya pun sangat sulit baginya bahkan untuk mengunjungi ayahnya saja tak diperbolehkan ibunya.
Tetapi meskipun kerap kali ditentang,ia tetap meminta izin pada ibunya sebagai bentuk penghormatannya kepada ibu yang selama ini selalu mendampinginya.
Senyum Bu Vitha tak terhenti saat membaca dan membalas pesan yang masuk di handphonenya.
Terkadang Widya selalu berpikir, waktunya yang selalu salah, meminta izin di saat yang tidak tepat.Mungkin karena sang bunda sedang menghadapi banyak tekanan atau stress dengan pekerjaannya sehingga dirinya menjadi pelampiasan kekesalannya.
Kali ini, ia sangat berharap, suasana hati ibunya benar benar sedang baik sehingga cocok baginya untuk meminta izin.
Bahkan,ia telah menuruti keinginan ibunya untuk mengambil les tambahan di hari liburnya,saat anak anak sekolah yang lainnya tengah menikmati indahnya liburan mereka, tetapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Widya.
Widya meraup oksigen sebanyak banyaknya.Dengan nada yang dibuat selembut mungkin ia mencoba untuk berbicara.
"Mi....Aku ganggu nggak?"ujarnya tak tahu lagi kalimat apa yang harus ia keluarkan di awal.
Sejenak ibunya menoleh tetapi tak berkata sepatah kata pun.
"Mi...aku mau minta izin sama mami..." ujarnya Widya mulai memberanikan diri.
"Minta izin untuk apa?"tanya bu Vitha tanpa menoleh ke arahnya.
"Aku diundang teman untuk pergi ke acara keluarganya..." terang Widya.
"Acara apa?"tanya sang bunda dengan raut wajah yang mulai berubah.
"Pembukaan restaurant baru keluarganya mi..."Ucap Widya berharap sekali ibunya langsung menyetujui dan membolehkannya pergi.
"Kalau kamu nggak pergi, acaranya tetap berlangsung kan?"tanya Bu Vitha.
"Iy...a....tetap berlangsung" jawab Widya yang sudah mulai memahami maksud pertanyaan ibunya.
"Nah, itu tau...." Bu Vitha berkata dengan ketusnya.
"Tapi kenapa mi,kan libur...masa iya aku harus di rumah terus?Aku sudah bela belain untuk ikut les privat seperti yang mami mau...aku tidak pergi berlibur seperti teman-teman yang lain... kapan aku bisa punya waktu untuk diri aku mi?." Widya tersulut emosi dan mulai mengeluarkan unek-uneknya.
Bu Vitha mendadak naik pitam mendengar penuturannya.
"Oh ....jadi kamu pikir semua yang mami lakuin itu konyol?Kamu masih mau nggak untuk kuliah di luar negeri?Nilai kamu yang sekarang itu mana cukup?Kamu harusnya bersyukur karena mami mampu biayain kamu les tambahan dan beri kamu fasilitas yang terbaik... Mikir nggak kamu? Mami tau kamu kamu sedang libur.Tetapi bukan berarti karena libur jadi kamu seenaknya keluyuran di luar....."Dengan nada yang tinggi Bu Vitha menjelaskan versi terbaiknya menurut dirinya sendiri.
"Jika kamu akan mendapatkan nilai akademis dari acara tersebut maka pergilah...." sambungnya lalu kembali berkonsentrasi dengan handphonenya.
Widya terdiam.Ia tak tau lagi harus berkata apa.Di benak sang bunda nilai akademik menjadi hal yang penting dan utama.Ia tak memikirkan dan mempedulikan yang lainnya.Matanya mulai berkaca-kaca.Ia sangat sedih ibunya selalu berkata semua yang dilakukannya adalah yang terbaik menurut dirinya sendiri tanpa memberinya ruang untuk mendiskusikan keinginannya.
"Jadi, gimana mi...apa aku tetap nggak boleh pergi?"Widya mau mencoba sekali lagi.Besarnya keinginannya untuk mengikuti acara itu bersama Daniel pacarnya, membuatnya tetap berusaha untuk memperoleh izin.
"Kamu nggak lihat apa, di luar gerimis dan pasti sebentar lagi hujan.Pak Daud nggak bisa nyetirin kamu..dia sudah mami suruh untuk istirahat..."jelas ibunya.Ia berharap kali ini putrinya menurut karena Widya adalah seorang anak yang mempunyai riwayat asma dan selalu menghindari cuaca dingin.
"Aku pergi dan pulangnya sama kak Daniel mi... Nggak apa apa pak Daud biar istirahat saja.. Nanti aku pakai jacket yang tebal dan obat juga aku bawa"ujar Widya begitu antusias.
"Daniel lagi... Daniel lagi...Bule itu benar benar sudah membawa pengaruh yang buruk buat kamu... Karena dia kamu sudah berani ngebantah mama.. Kabur ke rumah Bening.. nginap di sana... yang antar jemput kamu dia kan?kamu malu maluin mama tau nggak.. Lagian kamu tuh ya... ngotot banget ke sana.. kamu pacaran?"Cerca Bu Vitha mulai mencurigai putrinya.
"Nggak mi.. Widya Nggak pacaran ..Tapi Widya pengen banget ikut... please mi...kasih Widya izin... Bening juga ikut mi..."Widya memohon mohon kepada ibunya dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Wajar saja kalau orang tua Bening membolehkannya pergi.Dia pintar, berprestasi.Nggak ngecewain orang tuanya.Nah kamu?Coba kamu bandingkan nilai kamu sama dia.Juara berapa kamu semester ini? Lebih baik kamu manfaatin waktu untuk belajar,mumpung libur.Kalau semester depan nilai kamu masih seperti ini, mami akan batalin kamu untuk kuliah di luar negeri."tegas Bu Vitha,malah membanding bandingkan dirinya dengan Bening.
Widya benar benar kecewa.Ibunya semakin membuatnya stress.
"Ya, udah mi.... kalau tetap nggak ngizinin aku untuk pergi,aku akan liburan ke tempatnya papi..." Widya berdiri meninggalkan ibunya.Rasanya percuma,mau dengan alasan apa pun ibunya tetap bersikeras tidak memberikan izin.
__ADS_1
"Pokoknya kamu nggak boleh pergi.." teriak Bu Vitha pada putrinya yang berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.Dibantingnya pintu kamarnya dengan sangat keras.
Air matanya tak bisa ia tahan lagi.Ia menangis kecewa.Ibunya tak pernah menghargai pengorbanannya.
Selang beberapa menit, handphonenya berbunyi.Sebuah pesan masuk dari kekasih hatinya yang menyuruhnya untuk bersiap siap karena ia akan segera menjemputnya.
Seketika senyum indah merekah di bibirnya.Tanpa berpikir lagi ia pun segera bersiap, tak peduli akan ibunya yang tak membolehkannya pergi.Hukuman apa pun nantinya akan ia jalani sebagai konsekuensinya.
πΎπΎππΎπΎ
Bening berdiri di depan cermin.Menatap pada pantulan wajahnya cukup lama.Beberapa kali ia memutar mutar badannya, untuk melihat semua sisi .Tetap saja ia merasa ada yang kurang.Gaya rambutnya pun untuk ke sekian kalinya diganti.Ia menghela nafas panjang.
Ini bukanlah kali pertama ia diajak pergi oleh kakak kelasnya itu.Awalnya ia ingin menolak, tetapi mendengar Daniel dan Widya juga diundang ke acara tersebut membuat semangatnya bergelora.
Sejujurnya ia ingin tampil lebih cantik bukan untuk ditunjukkan kepada pria yang telah mengundangnya tetapi kepada Daniel sang pujaan hati.
Alih-alih memilih menggunakan make up yang tebal untuk bisa menunjang percaya diri, riasan yang tipis saja kerap kali membuatnya malu.
Tetapi, membayangkan Widya yang selalu berdandan ke mana pun ia pergi, membuat Bening berpikir untuk berani mencoba hal yang baru.Toh tak ada salahnya.
Setelah mendapat ide ia langsung memutar badannya keluar dari kamar menuju kamar orang tuanya.
"Ma....." panggilannya setelah mengetuk pintu.
"Iya...nak.... masuk aja... pintunya nggak dikunci..."terdengar suara Bu Livia dari dalam.Bening segera pintu dan mendekati kedua orang tuanya.
"Mama kenapa...? sakit?"tanya Bening.Ia melihat ayahnya sedang memijat bahu Bu Livia.
"Nggak nak... kecapean aja...pegal..." ujar ibunya ketika dilihatnya Wajah sang putri yang tampak khawatir.
"Kok belum siap? berangkat jam berapa?"tanya ibunya kemudian.
"Aku bingung ma...mau pake baju yang mana?terus rambut aku juga mau di bikin kayak gimana bagusnya...?"Bening meminta pendapat sang bunda.Ibunya hanya tersenyum lucu melihat tingkahnya.
"Tapi yang tipis tipis aja ma..." pinta Bening.
"Don't worry... I'll make you look like a princess..." jawab bu Livia meyakinkan putrinya.
"Mau ke acara apaan sih nak?"tanya pak Cahyo yang sejak tadi hanya diam mendengarkan obrolan istri dan anaknya.
"Itu pa...grand opening restoran yang aku bilang tadi pagi..." Bu Livia menyegarkan ingatan suaminya.
"Oh...... perginya sama siapa?"tanyanya lagi.
"Sama kak Bastian pa... nanti pulangnya sama dia juga..."jelas Bening.
"Mau diantar sama papa?"tawar pak Cahyo.Bening menatap ibunya.
"Kak Bastiannya sudah di jalan menuju ke sini pa..." jawab Bening merasa tak enak.Ia memahami kekhawatiran ayahnya.
"Ya udah... jangan sampai larut ya..."pesan pak Cahyo.
πΎπΎππΎπΎ
"Ayo beb...." ajak Bastian ketika mereka telah tiba di depan restoran..Bening kagum melihat desain interior dan eksteriornya yang menerapkan konsep mewah berkelas untuk pengunjungnya yang ditandai dengan dekorasi indah, suasana yang nyaman serta menu yang berharga cukup fantastis.
Karena acara ini akan berfungsi sebagai kesempatan pertama untuk mengundang pelanggan, Bening meyakini bahwa tamu undangan yang akan hadir pasti lumayan banyak.
Teman, keluarga, pemilik bisnis lokal,influencer pasti akan hadir juga mengingat Bastian juga berasal dari keluarga berada yang miliki berbagai usaha bisnis.
"Kak...aku nunggu di luar ya...." pinta Bening.
__ADS_1
"Di dalam aja...ayo..." ujar Bastian.
"Nggak apa apa kak kan nanti openingnya di depan atau?"tanya Bening yang ingin terus berada di luar untuk menunggu kedatangan Daniel dan Widya.
"Iya...tapi lebih baik nunggu di dalam aja... ketemu mama sama papa yuk..atau minum dulu...."ajak Bastian.
"Hai.... Bas..."sapa seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Bastian.
"Hai kak...."Bastian membalas sapaannya dengan saling mencium pipi masing masing.Laki laki yang berdiri di samping wanita itu pun ikut bersalaman.Sepertinya itu adalah suaminya.
"Oh iya,kak....kenalin...ini teman aku... namanya Bening..beb...ini kakak aku dan suaminya.Kak Laras dan Mas Darko..."Bastian memperkenalkan mereka.Bening pun dengan santun mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya.
"Wajahnya sebening namanya.Ayu banget....by the way kamu Bening anaknya dr.Cahyo Gautama kan?"terka Laras.
"Iya,kak...betul...kok tau?"tanya Bening penasaran.
"Aku ini mantan pasiennya ayah kamu.Setiap aku ke tempat prakteknya dulu, kamu selalu ada... Waktu itu kamu masih SD kali... wah sekarang sudah secantik ini...pak dokter apa kabarnya,dek?"tanya Laras lembut.
"Baik... papa sehat kak..."jawab Bening.
"Well.... nanti sampein salam saya buat pak dokter ya...oh iya,terima kasih sudah datang..."ucap wanita sambil mengelus elus punggung Bening.
Suami Laras membisikkan sesuatu ke telinga Bastian."Pacar kamu..?" ujarnya walau ia sudah mengecilkan suaranya tetapi tetap saja Bening mendengar dengan jelas.
"Amin... bentar lagi..." jawab Bastian dengan sangat percaya diri.Kalau saja Laras dan suaminya sudah beranjak dari situ mungkin ia telah menjewer telinganya karena sudah bicara seenaknya.
"Kakak dukung..."ucap laki laki itu memberi kode kepada adik iparnya.
Tamu undangan pun berdatangan.Acara inti siap dimulai.Kedua orang tua Bastian telah berdiri bersama kedua anaknya di depan pita merah berbunga yang siap digunting.
"Ben...." sapa Widya sontak mengagetkan Bening yang tengah fokus memandang ke depan.
"Hey Wid.... cantik banget...." puji Bening yang terpukau melihat penampilan temannya itu yang menggunakan dress Stretch berwarna merah.
"Kamu juga cantik banget..." Widya tak kalah memujinya.Daniel hanya tersenyum menatap keduanya.
Dalam hatinya Bening berharap laki laki itu mengeluarkan kata pujian untuk penampilannya.Padahal Ia sudah berusaha tampil semenawan mungkin agar Daniel takjub dan jatuh hati kepadanya.
"Segala puji dan syukur bagi Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan nikmat dan juga kesehatan sehingga kita semua dapat berkumpul di sini malam ini.Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada yang terkasih semua keluarga,rekan rekan saya,dan kita semua yang sudah meluangkan waktunya di tengah kesibukan.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan juga minimnya lapangan kerja yang telah mendorong, memotivasi dan menginspirasi saya untuk membuka cafe dan resto "Dear Baby" di tengah tengah masyarakat pulau Dewata ini.
Kami juga menyadari bahwa kehadiran cafe and resto Dear Baby ini karena berkat Tuhan semata.Terima kasih untuk dukungan dari semua pihak.Semoga cafe dan resto Dear Baby ini bisa menjadi berkat dan berkembang dengan baik."
Riuh tepuk tangan saat pak Indra,ayah Bastian telah menyelesaikan sambutan singkatnya dan menggunting pita pertanda cafe and resto Dear Baby resmi dibuka.
Bastian terus memamerkan senyum terindahnya yang kerap ia tujukan kepada Bening yang berdiri lurus dengannya.
"Duh... yang namanya disebut terus... sweet banget...." ujar Widya mulai menggoda Bening.
"Nama siapa,Wid?" tanya Bening.
"Ya,nama kamu lah Ben....kan nama Cafe and resto Dear Baby itu terinspirasi dari sebutan buat kamu dari si kak Bastian...Masa nggak ngerasa?Eh, kalau nanti dia nembak, diterima ya... kasihan...baik banget soalnya... romantis lagi...ya... diterima ya...please...."tutur Widya sangat bersemangat,tak tahu betapa kesalnya bening ia berkata demikian.
"Apaan sih wid... mulai lagi deh..."kata Bening benar-benar tidak terima.
"Ya udah...kita langsung duduk aja ya....tuh sudah disuruh milih meja masing-masing..." ujar Daniel yang sudah bisa membaca kesedihan dari raut wajah Bening.
Bastian menghampiri tempat ketiganya duduk.
"Hai.... makasih ya, sudah datang... Udah pada pesan makanan belum?"tanyanya ketika sudah duduk di dekat Bening.
__ADS_1
"Baru mau pesan.." jawab Daniel kemudian mengambil list makanan dan minuman yang tersedia.