
Dengan langkah cepat, Daniel keluar dari ruangannya menuju sebuah bar.Kata kata Widya terus terngiang di telinganya.Dan itu membuatnya tubuhnya seperti terbakar.Dilemparkannya jasnya ke sembarang arah di dalam mobil, demikian pun dasinya.
Buru buru pemuda itu turun dari mobilnya untuk segera mendapatkan apa yang ia mau.Sesampainya ia di situ seorang yang mengenalnya menghampirinya.Dia adalah pemilik bar tersebut yang juga sepupunya.
"Hai Dan... tumben ke sini?"sapanya.
"Aku mau minta Winenya satu... atau apalah yang kadar alkoholnya paling tinggi..."pinta Daniel dengan wajahnya yang kusut.
"Ada apa denganmu,Dan?"tanya Mark sepupunya.
"Nggak ada apa-apa,aku hanya ingin mencobanya.."jawab Daniel.Ia pun meminta pada bartendernya karena Mark tak kunjung memberinya pesanannya tersebut.
Mark memberi kode pada pegawainya tersebut agar tak menuruti kemauannya.
"Gadis itu lagi?"tanya Mark yang mudah menebak hal apa yang bisa membuat sepupunya seberantakan itu.
"Bukan.Aku cuma pengen mimum...bukan karena siapa siapa atau masalah apa"Daniel hendak menuang sendiri minuman beralkohol dari botol yang ada di depannya.
"Kalau dokter itu tahu dan lihat kamu seperti ini,dia pasti sangat kecewa.Kamu juga sudah berjanji untuk tidak akan menyentuh minuman seperti ini lagi kan?"Mark mengingatkannya.
Sejenak Daniel terdiam dan merenungi kata kata sepupunya.Ia yang sangat dahaga untuk meminum alkohol yang sudah ada di depan matanya kini tangannya seperti kaku.Kedua tangannya memegang kepalanya dan menunduk.Bayang bayang adiknya Sebening menari di kepalanya.
Walau orang kepercayaannya selalu mengirimnya foto serta video tentang segala aktivitasnya, tetapi rasa rindunya kian membara dan sangat menyiksanya.
"Kenapa?Kamu merindukannya kan?"tanya Mark.
Daniel hanya mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
"Pulang...! Kenapa kamu terus menyiksa dirimu sendiri?"saran Mark yang kesal dengan perlakuannya yang dianggap bodoh
"Tapi, janji itu?"Daniel kembali meminta saran.
"Bu Vitha?"tanya Mark yang tak paham maksudnya.Daniel langsung mengangguk.
__ADS_1
"Toh dia juga meninggal bukan karena kamu?Kamu selalu menyarankan saya untuk berdoa.Itu artinya kamu adalah orang yang percaya kepada Tuhan kan? Seharusnya kamu percaya bahwa kematian itu atas kehendakNya.Kenapa kamu terus hidup dalam rasa bersalah?Mau sampai kapan? Lebih baik kamu pulang dan selesaikan semuanya?"kata Mark geram melihatnya seperti itu.
Daniel kembali membayangkan bagaimana kejadian tragis itu kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.Di malam sebelum keberangkatannya ke New York setelah ia mendapat ancaman dari Widya ia mendapat pesan dari bu Vitha yang mengatakan bahwa wanita itu ingin menemuinya.Daniel pun setuju dan menyepakati tempatnya.
Flashback on
Bu Vitha datang dengan wajah yang terlihat capek.
"Selamat malam tante.."Daniel membungkuk untuk memberinya salam.
"Malam Dan?"jawabnya lalu duduk berhadapan dengan Daniel.Di menit pertama keduanya sempat diam tak tahu harus bagaimana memulai percakapan.
Berhubung besoknya ia akan pulang Daniel pun berpikir harus berani untuk menyampaikan isi hatinya kepada ibu dari pacarnya tersebut.
"Boleh saya berbicara tante?"tanya Daniel dengan sangat berhati-hati.
"Oke.Boleh, memang kita harus berbicara, karena itu tujuan saya datang untuk bertemu kamu"bu Vitha berkata sambil tersenyum meski tidak terlalu lepas.
"Sebelumnya saya minta maaf tante,karena sudah lancang berpacaran dengan anak tante padahal jelas-jelas tante tidak menyukai saya.Saya tahu tante akhir akhir ini sering berdebat dengan Widya karena perubahan sikap dan tutur kata Widya yang mungkin menurut tante sayalah penyebabnya, karena berpacaran dengan saya.Karena itu saya meminta maaf.Tetapi tante harus tahu bahwa saya tidak pernah bersikap kurang ajar sama anak tante.Saya memulainya dengan baik baik dan mau mengakhirinya pun dengan baik baik.Besok saya akan pulang ke New York dan saya mau menyelesaikan semuanya sebelum saya pulang"Daniel tak menyia-nyiakan kesempatan.
"Karena saya merasa bahwa saya bukanlah pacar yang baik buat anak tante, meskipun saya berusaha melakukannya"jawab Daniel.
"Tapi kamu sungguh menyukai anak saya? Kamu menyayanginya? Sorry,Saya tidak bertanya soal cinta ya, karena kalian masih SMA, pandangan tentang cinta itu belum kompleks dan masih sulit untuk memaknainya.."jelas bu Vitha kali dengan nada yang lembut sehingga membuat Daniel tidak merasa seperti sedang diintimidasi.
"Saya menyukainya Tan.Sangat menyukainya.Karena itu saya menembaknya untuk dijadikan pacar.Saya juga menyayanginya mungkin karena kisah hidupnya sama seperti saya.Orang tua kami sama sama bercerai, hanya mungkin kisahnya agak berbeda dari apa yang tante alami tapi secara garis besar kami sama sama menderita, stress mengetahui orang tua kami memilih bercerai.Perasaan ingin melindungi itu pun muncul.Sorry tan,saya harus mengatakannya."bu Vitha tampak serius mendengar curahan hati pemuda tersebut.
"Nggak apa-apa, saya senang kok kamu jujur.Lagian apa yang kamu katakan itu benar adanya.Tapi kamu harus tahu bahwa orang tua punya masalah sendiri yang belum bisa kalian pahami.Tapi suatu saat nanti, kamu pasti akan paham sendiri"kata bu Vitha.
"Tapi tan sebelum sampai ke tahap itu kami terlebih dahulu menjadi korban.Bagaimana jika kami menjadi depresi?Masa depan kami hancur karena stress dengan keadaan kemudian berlari ke hal hal yang negatif? Siapa yang akan bertanggung jawab?"ucap Daniel.
"Pada dasarnya kami orang tua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak anaknya.Kami sadar perceraian memang berdampak buruk bagi anak anak.Bukan berarti kami tidak pernah menggunakan alternatif.Sudah.Kami sudah mencobanya.Toh jika tidak bahagia menjalaninya, jika terus terusan bertengkar dan menjadi racun apa yang mau anak anak contohi? Mereka juga pasti menderita"Daniel langsung teringat ibunya.
Mungkinkah ibunya juga berpikiran yang sama seperti ibunya Widya.
__ADS_1
"Kembali ke persoalan kalian.Kenapa memilih putus? Padahal kamu menyayangi Widya dan tante juga tahu apa yang kamu lakukan selama ini untuk Widya.. Kamu bahkan memanfaatkan Bening dalam hubungan kalian? Mungkin Widya sudah menceritakannya ke kamu kalau saya mengetahui semua kebohongan kalian?Tante tidak suka kalian memanfaatkan anak itu, merencanakan kebohongan hanya karena tante mempercayainya.Salah jika saya menganggap kamu membawa pengaruh yang buruk?Itu karena kamu tidak bertanggung jawab.."Daniel menunduk mendengarnya.
"Maaf tante, karena hal tersebut maka saya memilih untuk putus saja tan.Tolong bilang ke Widya..."bu Vitha langsung tertawa sinis mendengarnya.
"Kamu ternyata pengecut juga.Kenapa tidak mengatakannya sendiri?"cerca wanita itu.
"Kondisi fisik dan mental Widya tidak memungkinkan saya untuk mengatakannya langsung,tan..?"
"Sok tahu kamu.Benar hanya karena itu?"kata bu Vitha membuat Daniel tak paham.
"Saya juga tidak suka Widya terlalu banyak menuntut dan mengancam tante.Dia selalu berpikir negatif bahkan pada sahabatnya sendiri, Bening."terang Daniel.
"Tapi kamu memang sebenarnya suka kan sama Bening? Kamu sangat peduli padanya?"pertanyaan itu membuat jantung Daniel berdetak lebih kencang.
"Iya,tante.Saya baru menyadarinya saat saya berpacaran dengan Widya.Saya jatuh cinta pada Bening.Saya sangat menyayanginya dan ingin melindunginya"Daniel akhirnya jujur.
"Tante sudah tahu.Tapi wajar kalau kamu menyukainya.Bening baik apalagi keluarga kalian juga dekat.Tapi bukan berarti anak tante tidak baik.Ia hanya belum dewasa.Padahal tadi tante ke sini sebenarnya mau meminta bantuan kamu,Dan.. Baiklah saya pikir sudah selesai jadi tante mau pulang.Semoga kamu tiba di tempat tujuan kamu dengan selamat..."ujar bu Vitha lalu berdiri.
"Terima kasih tante.Tapi tante mau minta bantuan apa tan?Apa yang harus saya lakukan..."bu Vitha tak menjawabnya karena handphonenya berdiri.Wanita itu tampak serius.
Ia menutup mulutnya saat membuka beberapa video tentang pak Andre yang menemui wanita lain, bagaimana ia merayu dan terus mengejar wanita tersebut.Sungguh sangat berbeda dengan apa yang pria itu ceritakan padanya.Yang lebih membuatnya syok adalah video yang terakhir.Terlihat pak Andre memeluk dan mencium wanita yang sama tersebut dengan ekspresi yang berbeda.Bu Vitha lemas, tubuhnya seperti tak bertulang.
"Tan...tante kenapa?"Daniel pun meminta bantuan orang orang yang ada untuk membawa bu Vitha ke taxi agar segera dilarikan ke rumah sakit.
"Tan...tante bertahan ya..."Daniel sungguh sangat merasa takut.
"Daniel... tolong jaga Widya.Hanya kamu yang bisa tante mintai tolong sekarang.Tolong jaga Widya.Janji sama tante..."ucap bu Vitha kemudian tak sadarkan diri.
"Tan.. tante...tante Vitha..bangun tan..."Daniel meraba nadinya dan masih ada denyutan.Ia pun meminta sang sopir taksi untuk lebih mempercepat lajunya.Daniel melihat handphone bu Vitha dan mengetahui penyebabnya karena ia sendiri sudah menyaksikan video video tersebut sebelumnya.
Di rumah sakit bu Vitha segera ditangani dan kemudian dirawat di ICU.Karena tak diperbolehkan masuk ia pun memilih untuk pulang setelah menunggu agak lama.Saat ke kamar Widya ia melihat gadis itu sudah tertidur dengan ditemani oleh bibi Santi.
Daniel hendak melangkah menuju kamar Bening tapi diurungkannya.Ia pun pulang ke rumahnya untuk segera berbicara dengan ibunya.
__ADS_1
Flashback off