Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.61


__ADS_3

Bersama ibunya dan pak Abdi sang sopir,Bening menjemput ayahnya di bandara.Suasana haru terjadi saat gadis itu berlari masuk ke dalam pelukan ayahnya.


"Haiiiiiii......."ayahnya pun menyambutnya dengan merentangkan tangan.Dipeluk dan diciumnya pucuk kepala sang anak dengan penuh kasih dan sayang.


Bening menangis karena rasa syukur sang ayah pulang dalam keadaan selamat dan sehat.


"Eh ...eh...eh... kok nangis?"Bening malah menyembunyikan kepalanya ke dada pak Darwin.


"Kangen papa..."ujarnya dengan memanyunkan bibirnya gemas.


"Papa juga kangen.."jawab pak Darwin.


"Selamat datang pa...."bu Livia memeluk suaminya erat.Pak Darwin mengelus elus lembut punggungnya.


"Kok,kurus ma?"tanya pria itu kepada istrinya.


Bu Livia melepaskan pelukannya lalu mengamati dirinya sendiri.


"Masa sih,pa?Perasaan aku porsi makannya tetap sama, pola tidur juga seperti biasanya, nggak berubah..."wanita itu menyebut semua kebiasaannya yang diketahui oleh suaminya.


"Berarti papa salah ya,ma?Soalnya rindu bilang mama sering susah tidur ingat pangerannya..."goda pak Cahyo dengan gombalannya yang tak ahli.


"Apaan sih pa? bilang sama tuh rindu saya susah tidur bukan karena ingat pangeran,tapi karena saya marah kenapa hati saya dia bawa serta.."balas sang istri untuk menyeimbangi gombalan suaminya.


Mereka pun tertawa bersamaan.Pak Abdi yang membantu membawa koper pak Darwin sangat kagum dengan potret keharmonisan dan kebahagiaan yang ditunjukkan keluarga kecil itu.


"Gimana kabarnya om Darwin,pa?"tanya Bening dalam perjalanan mereka pulang ke rumah.


"Puji Tuhan baik..semua berjalan lancar.Operasinya sukses..."cerita pak Darwin.


"Syukurlah kalo gitu pa.Dia keberatan nggak kamu tinggal?"bu Melia ikut nimbrung menanyakan keadaan sahabat suaminya tersebut.


"Enggak kok ma, malah dari minggu yang lalu dia nyaranin papa buat pulang aja, nggak usah nunggu dia dioperasi.Cuma papa aja yang ngerasa berat buat pulang.Pengen mastiin aja sampai operasinya kelar.."jawab pak Darwin.


Selain telah menjadi sahabatnya, pak Darwin juga sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri.Rasanya tak tega membiarkan ia berjuang sendirian di ruang operasi walaupun di sana ada keluarganya yang selalu menemaninya setiap waktu.


"Dia ada pesan khusus nggak pa,buat tante Melia?"Bening ingin tahu tentang hubungan mantan suami istri tersebut saat berjauhan.


Ia sengaja menanyakannya mengingat ucapan Daniel yang merasa bersyukur dan bahagia pernikahan orang tuanya telah dipulihkan, padahal pada kenyataannya sampai sekarang mereka masih berjuang untuk pernikahan mereka.Pak Darwin juga telah memberi tahunya tentang perjuangannya yang terakhir untuk menyelamatkan pernikahan mereka.

__ADS_1


Karena itu Bening ingin memastikan bahwa jika keduanya tetap menjalin komunikasi yang baik dan intens.Ia sama sekali tak paham hukum, tak paham tentang proses banding tapi dalam pikirannya, jika saat berjauhan mereka tetap peduli satu sama lain,maka kemungkinan besar masih ada harapan untuk bisa kembali bersama.Sesederhana itulah pemikiran gadis itu.


"Mereka komunikasinya hampir setiap jam,nak.. Kalau pun ada yang mau disampaikan pasti nggak pakai perantara lagi.Om Darwin akan pulang kok, karena dia sangat merindukan keluarganya di sini..."cerita pak Cahyo membuat putrinya bahagia mendengarnya.


Pak Darwin memang sangat merindukan keluarganya.Ia ingin sekali segera pulang sekalian mengurus semua urusan bandingnya.


"Sepertinya Melia juga akan ke sana pa, tapi setelah mengurus beberapa hal dulu.."bu Livia memberi kode kepada suaminya.


Bening tersenyum dalam hatinya, karena ia sesungguhnya bisa menangkap sedikit maksud ibunya.


"By the way ada hadiah dari om Darwin buat mama sama kamu nak... buat Mel sama Daniel juga..."kata pak Cahyo.


"Oh ya?Yeeey..."Bening makin bahagia saja.


Setibanya di rumah gadis itu langsung meminta ayahnya untuk memberikan hadiah yang dikirim pak Darwin.


"Nggak sabaran banget,nak?"ujar ibunya.


"Aku mau bilang makasih ke om Darwin kalau hadiahnya udah sampai ma... sekalian mau posting..."jawab Bening.


"Nanti ada yang kesal loh kalau kamu post.. kesannya pamer..."Bening memikirkan kalimat ibunya.


Bening buru buru membuka kiriman tersebut.Sebuah hadiah yang membuatnya takjub.Bagaimana tidak,ia mendapat hadiah sebuah jam tangan Rolex yang berharga fantastis.


Bening sampai menitikkan air matanya saat membaca tulisan pak Darwin di kartu ucapan.


Teruntuk putriku yang selalu punya waktu untuk mendengar saya bercerita.Terima kasih karena waktu yang kamu beri sangat berharga.Big hug for you,my little girl...


Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung memotret hadiah tersebut dan mengunggahnya di aku media sosialnya.


Terima kasih untuk orang yang sangat baik yang membuat saya pantas menerima hadiah ini.. Semoga cepat sembuh... semua doa yang terbaik untukmu.May God bless you...


Seperti itulah tulisan Bening untuk melengkapi postingannya.


Sore itu bu Melia langsung ke rumah pak Cahyo untuk menyambut kepulangannya.Ia tak sempat menjemputnya di bandara.Mereka bercerita cukup lama.Pak Cahyo berkisah tentang bagaimana pak Darwin berjuang melawan sakitnya dan semua prosesnya membuat yang mendengar merasa terenyuh tak terkecuali bu Melia.


Kesedihan melanda hatinya.Apa yang diceritakan pak Darwin setiap harinya sangat berbeda dengan yang disampaikan sahabatnya.Mungkin ia sengaja hanya menunjukkan yang baiknya saja agar bu Melia tidak kepikiran.Hal itu kembali membuat rasa sesal dan bersalah kembali hadir.Ingin sekali wanita itu segera terbang ke sana untuk mendampinginya.


Daniel sebentar lagi akan mengikuti ujian.Ia harus mendampinginya terus mengingat putranya tersebut sempat berbuat ulah lagi sehingga ia harus menghadap ke sekolah dan mendapat teguran.

__ADS_1


Untuk itu bu Melia harus menahan kerinduannya untuk menjenguk pak Darwin.


Daniel dan Widya datang bersamaan ke sekolah dan bahkan lebih awal dari biasanya.Melihat keduanya, Bening melemparkan senyum ceria.


"Hai Ben...pasti kamu kaget ya,kami datang lebih cepat?"ujar Widya.


Bening yang langsung diserang dengan pertanyaan seperti itu, hanya menunjukkan senyumnya.


"Pagi kak..."Bening menyapa Daniel yang ada di samping gadis itu.


"Pagi dek..."Daniel berbalas senyum.


"Kok jam tangannya nggak dipakai?"Widya melirik kedua tangan Bening yang tak memakai apa apa.


"Oh...itu..nggak mungkin aku pakai ke sekolah Wid..."Bening kini paham maksud Widya.Gadis itu pasti sudah melihat postingannya.


"Kenapa?kan biar satu sekolah tahu kamu punya jam tangan branded? Bakal viral nanti.."Bening semakin tak percaya Widya sesinis itu.


"Astaga Wid...di sekolah ini pasti banyak yang punya jam tangan mahal, hanya nggak nunjukin.."gumam Bening dalam hatinya.la tak habis pikir dengan segala perubahan yang ditunjukkan oleh Widya belakangan ini.Kalau gadis itu cemburu, mungkin wajar.Tapi kenapa iri hati? Moodnya selalu berubah-ubah, berbicara seenaknya saja bahkan terdengar sinis dan menyindir?Ke mana Widya yang dulu sebelum berpacaran dengan Daniel? Widya yang ceria, lembut, Widya yang tak peduli dengan masalah orang lain.Kenapa sekarang sering mempersoalkan segala hal bahkan yang menjadi hak dan privasinya?


"Pagi beb... udah dari tadi ya nunggunya?"Bastian datang tepat waktu.


"Kami duluan ya..."ucap Widya lalu berlalu.


Bastian dan Bening berjalan di belakang mereka.


"Om Cahyo udah pulang,ya?"tanya Bastian.


"Iya... kemarin siang.."sahut Bening.


"Yes, berarti jadi dong..."kata Bastian.


"Maksudnya"Bening mengernyitkan dahinya.Rasanya ia dan Bastian tidak merencanakan apa apa.


"Masa lupa sih,beb.. ajakan papa.. dinner...kan kata kamu tunggu om Cahyo pulang? Berarti sebentar bisa dong aku ke rumah?"tanya Bastian bersemangat.


"Iya..."jawab Bening.


"Yes...."Bastian melompat kegirangan.Telinga Daniel menjadi panas mendengar obrolan mereka.Ia menjadi penasaran apa yang akan direncanakan bebuyutnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2