
"Enggak... nggak mungkin om...mommy nggak seperti yang om ceritain... Nggak mungkin..!"tegas Daniel.
"Yah..kamu nggak salah kalau kamu nggak percaya.Tapi yang perlu kamu tahu, setiap orang tua pasti selalu menginginkan anaknya bahagia.Karena itu ia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan anak-anaknya dan berusaha agar anaknya tidak tahu masalahnya.Mommy kamu sangat mencintai kamu.Mungkin itu pertimbangannya sehingga tak memberi tahu kamu tentang perceraiannya.Tapi om pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya..."Daniel menatap pak Andre dengan tatapan penuh kebencian.
Daniel hendak melangkah meninggalkan pak Andre.Ia tak tahan lagi untuk terus bertahan di situ mendengar pak Andre terus saja berkisah tentang kedua orangtuanya.Walau ia terus mencari jawabannya selama tiga tahun tapi itu bukanlah jawaban yang ingin ia dengar.
Ternyata rasanya lebih sakit dari yang selama ini ia bayangkan.Sukacita yang ia dapatkan dari penghujung tahun hingga awal tahun yang baru serasa lenyap begitu saja.
"Tunggu dulu boy..."cegah pak Andre.
"Stop.. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.Kamu nggak pantas ..!"kecam Daniel dengan wajah garang.
"Eits...calm down,boy... Tarik napas dalam dalam.Saya juga sudah selesai kok.Tapi sebelum kamu pulang,om hanya mau bilang kalau hidup ini keras,boy.Jadi ngehadapinnya juga harus tangguh dan berjiwa besar.Kamu seorang laki laki.Dan kalau kamu pulang dengan membawa amarah untuk mommy kamu, pikirkan satu hal bahwa dia adalah ibu kamu,ibu yang telah melahirkan kamu dan sangat mencintai kamu.Bersikaplah baik kepadanya, meskipun kamu tahu kenyataannya.."pak Andre memandangi punggung Daniel sampai anak itu menghilang di balik pintu.
"Maafkan saya Mel...Jika saja kamu mengindahkan permintaan saya, saya tidak mungkin berbuat seperti ini.Anak kesayangan kamu ternyata mudah untuk dibohongi.Mantan suami penyakitanmu itu memaksa saya untuk melakukannya karena telah menyuruh anak buahnya menggagalkan rencana saya...Kita impas.."gumamnya sembari menyunggingkan senyum.
Meski setelah itu ada rasa penyesalan menghampiri kala mengingat lagi bagaimana reaksi Daniel tadi.
__ADS_1
Daniel berdiri di tepi sebuah pantai yang tampak sepi.Beberapa kali ia berteriak melampiaskan amarahnya.Ia kini merasa tertipu.Merasa tertipu dengan semua cinta dan keromantisan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya selama pernikahan mereka baik baik saja bahkan sebelum sang ayah berangkat ke luar negeri.
Benarkah semuanya hanyalah sandiwara?Tetapi kenapa dan mau sampai kapan? Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya tentang perceraian orang tuanya dan penyebab perceraian itu sendiri.
Daniel menjambak rambutnya sendiri saat foto pelukan ibunya bersama pria selingkuhannya kembali terbayang.Mungkinkah ibunya benar selingkuh?Ia merasa kepalanya seperti terputar putar.
Daniel ingat ayahnya.Sungguh ayah yang sangat baik.Pria yang bertanggung jawab atas pernikahannya.Ia ingat bagaimana ayahnya dengan berbagai cara meminta maaf kepada ibunya seolah-olah dia telah melakukan kesalahan besar dan ingin tetap mempertahankan rumah tangganya.Pantas saja saat ayahnya mencoba untuk membujuk ibunya,sang ibu selalu berbicara dengan nada yang tinggi sampai berteriak.
Daniel merasa iba pada ayahnya yang tetap memperlakukan ibunya selayak ratu meskipun sudah bercerai.Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.Setelah cukup lama meluapkan amarahnya ia membawa mobilnya menuju villa yang selama ini ditempati ayahnya.
Pemuda itu membuka semua laci yang ada,juga lemarinya.Ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai bukti yang memperkuat perkataan pak Andre.
Setelah beberapa lama mencari pemuda itu menemukan sebuah map yang pernah dipegang ayahnya tetapi buru buru disimpan sang ayah saat melihat kedatangannya.
Sekujur tubuhnya terasa lemas saat membaca tulisan di dalam map tersebut, tentang keputusan perceraian dari pengadilan.Daniel yang hatinya terus menyangkal akan kebenaran dari cerita pak Andre kini perlahan percaya apalagi membaca kalau ibunya adalah penggugat.Ia terdiam memandangi kertas tersebut.
Daniel menangis tersedu.Hingga hampir sore hari ia akhirnya membuat sebuah keputusan.Ia akan segera menyusul ayahnya secepat mungkin.Karena itu ia langsung menelepon pak Richard agar segera mengurus keberangkatannya.
__ADS_1
Sementara itu di kamar tempat Bening dirawat,bu Melia terus menghubungi putranya tetapi tak aktif.Pesan pesan yang ia kirim pun belum terbaca.Bu Melia khawatir terjadi sesuatu pada putranya hingga belum kembali.Nomor handphonenya juga dinonaktifkan.Janjinya, perginya hanya sebentar, namun ternyata lama.
"Tante kenapa?" tanya Bening melihat kecemasan di wajah bu Melia.
"Ini,Ben...Tante lagi nelpon kakak kamu cuma dari tadi nggak aktif.Tante jadi takut.."Cerita bu Melia.
"Mungkin urusannya belum selesai kali tan..."timpal Bening.
"Masa seharian penuh belum kelar, dari tadi pagi loh nak.."kata bu Melia.
"Dicoba lagi aja tan..."dengan mengikuti saran Bening, wanita itu lalu kembali mencobanya.
Daniel yang baru saja mengaktifkan nomor handphonenya melihat sebuah nama terpampang pada layar handphonenya.
Ia ingin mengangkatnya dan akan mengatai sang bunda.Lalu kembali ia ingat permintaan pak Andre.Daniel menutup matanya.Perkataan pak Andre ada benarnya.Percuma juga ia marah, toh semua telah terjadi.Yang terpenting sekarang adalah ia ingin segera menyusul ayahnya.
Pemuda itu lalu mengirim pesan bahwa ia baik baik saja dan akan segera pulang.
__ADS_1