Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.21


__ADS_3

Dengan perasaan takut Bening memandang nomor handphone Bu Vitha yang ada di hpnya..Berapa kali ia hendak menekan tombol hijau tetapi kemudian diurungkannya karena masih bingung harus berkata apa.


Ia menarik nafas dalam-dalam dan setelah itu keberanian pun muncul.Ia tidak akan bisa tenang jika tak memberi kabar kepada Bu Vitha.


"Hallo tante... maaf tadi tidak sempat angkat...kami masih di jalan dan ini lagi berhenti sebentar, karena Widya laper tante..Jadi dia makan dulu.Kebetulan katanya sudah lebih mendingan.Mungkin karena tadi diinhaler dan minum obat juga..."Bening menjelaskan sedetail mungkin tanpa membiarkan Bu Vitha lebih dahulu bertanya.


"Oh...gitu... syukurlah kalau begitu nak..."ungkap Bu Vitha.


"Iya tante...tapi sebentar aku akan tetap bawa Widya buat kontrol ke rumah sakit Tan...aku sudah kabari papa..."kata Bening meyakinkan ibunya Widya.


"Makasih banyak ya nak.Kayaknya dia stress nak, karena tante udah banyak beri dia tekanan.Selama liburan ini dia ikut les tambahan.Dia itu pengen banget kuliah ke luar negeri, jadi Tante pikir nilainya harus lebih baik.Terus sampai tadi pagi tante diemin dia.Mungkin itu makanya asmanya kambuh lagi...semua gara gara tante....tante,nitip Widya ya...nanti kalau selesai meeting Tante akan kabari kamu.Tante akan nyusul kalian ke rumah sakit...Oh iya,tadi tante udah transfer uang ke rekeningnya Widya,kalo misalkan sebentar tante agak lama,tolong bawa dia ke mall atau makan biar dia have fun yah..."ujarnya dengan suara parau.Sepertinya ia sangat sedih dan berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar Bening.


"Sama-sama tante...Nanti aku pasti ngabarin tante kok...Tante juga harus jaga kesehatan ya... Kalau begitu, aku matiin telponnya dulu ya, tan.."pinta Bening sopan.


Daniel dan Widya keluar dari dalam restoran dengan tergesa-gesa.Mereka menghampiri Bening.


"Gimana Ben..mami bilang apa?aman nggak?"tanyanya Widya khawatir.


"Iya,aman...Tante Vitha khawatir banget loh Wid,sama kamu..tadi dia nanya kita udah sampai dimana... jadi tadi aku bilang kalau kamu sudah mendingan,aku juga bilang kita berhenti di sini karena kamu lapar dan...."Bening menghentikan sejenak ceritanya.


Widya menunggunya dengan wajah penasaran.


"Dan apa?"tanya gadis itu sudah tak sabar.


"Dan kamu harus tetap kontrol ke rumah sakit.Kamu nggak boleh nolak.Ini hukumnya wajib.Kalau enggak,aku akan bilang semuanya ke Tante Vitha.."Bening akhirnya mengancam juga dan tak memberinya pilihan.


"Iya...iya Bu dokter...aku nurut..."Ucap Widya pasrah.


"Oke kalau begitu kita pergi sekarang.."ajak Daniel lalu mereka menuju mobil.


Baru saja beberapa langkah, seseorang memanggil mereka.


"Tunggu dulu..."ujarnya.


Ketiganya menoleh.Tampak pria yang tadi bertabrakan dengan bening mendekatinya kini.Gadis itu menjadi takut.Ia refleks berlindung di belakang punggung kakaknya.Daniel yang melihat tingkah Bening yang aneh mengernyitkan dahinya.


"Boleh saya minta nomor handphonenya,dek?"tanya pria asing tersebut.


"Maaf... dia nggak punya nomor hp. Kalau pun ada nggak akan dikasih sembarangan apalagi ke orang asing..."jawab Daniel dengan sangat tegas.


"Permisi bang..."sambung Daniel lalu ketiganya masuk ke dalam mobil.


"Mudah mudahan kita akan bertemu lagi dek..."ucapnya dengan suara lantang.

__ADS_1


Daniel langsung menutup semua kaca mobilnya lalu meninggalkan pria asing tersebut.


"Orang gila..."umpat Daniel.


Bening tersenyum sendiri.Ia begitu bahagia karena kakaknya tersebut dengan sangat siaga melindunginya.Ternyata dia tidak berubah.Pikir Widya, hingga tanpa sadar bibirnya terus menyunggingkan senyum.


"Kok kamu malah senyum-senyumsendiri dek?Kamu senang?Kamu kenal orang itu?"Daniel yang melihat dari kaca depan menyerangnya dengan beberapa pertanyaan.


"Tadi waktu aku keluar kami bertabrakan di pintu, karena tadi aku panik jadi nggak lihat ke depan.Aku sudah meminta maaf kok..."jelas Bening.


"Mungkin dia sengaja kali nabrakin kamu...biar bisa kenalan sama kamu Ben,itu namanya modus...."Timpal Widya.


"Masa sih?Ih...serem amat.Tapi memang aku yang salah kok.Aku yang terburu buru.."Bening bergidik ngeri mendengarnya.Tapi ia tetaplah berpikir bahwa memang dirinya yang bersalah.


"Lagian kamu juga dek, ngapain mesti lari segala...kayak dikejar setan aja..."Daniel sepertinya tak bisa menerima ada yang berusaha mengganggu atau mendekati adiknya.


"Kok,malah aku yang salah...."protesnya.


Bening merasa sangat kecewa.Ia ingin protes kepada kedua sejoli tersebut.Seharusnya ia tak berada di situasi seperti sekarang ini.Berbohong adalah salah satu hal yang paling ia takuti dan hindari.Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang tuanya tahu apa yang ia lakukan.Mereka pasti sangat kecewa.Harusnya dari awal ia menolak apapun itu alasannya, berbohong untuk mendapatkan sesuatu tetaplah tidak bisa dibenarkan.Mengingat itu semua,ia merasa menyesal dan itu yang membuatnya sangat sedih.


Gadis itu memfokuskan pandangannya ke jendela.


Meskipun ekor matanya bisa menangkap bahwa Daniel mencuri pandang kepadanya berkali-kali tetapi ia mengabaikannya.


Hingga mobil mereka pun sudah sampai di depan rumah sakit.


"Ya, udah kalau kamu nggak masuk"Daniel pun mengeluarkan beberapa uang ratusan ribu dari dompetnya dan memberinya kepada pacarnya itu.


"Titip Widya ya,dek"ucap pria tersebut tapi tak dijawab Bening.Bahkan senyum pun tidak.


Hari ini sudah berapa kali ia mendengar kalimat yang sama.Titip Widya.Antara sedih dan bangga ada orang yang mengandalkannya.


Setelah menerimanya kedua gadis tersebut pun masuk ke dalam rumah sakit di bagian poliklinik tempat waktu itu pernah mereka kunjungi saat asma Widya kambuh.Jadi mereka pun sudah tahu prosedur yang akan mereka lalui.


Meskipun rumah sakit yang mereka datangi adalah rumah sakit super besar dan bertaraf internasional tetapi Bening juga tak meminta bantuan bapaknya karena ini bukanlah kali pertamanya.Hanya ia tetap mengirim pesan kepada ayahnya bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.


"Foto yuk,Wid...sambil nunggu giliran kamu dipanggil... biar jadi bukti buat ditunjukin ke Tante Vitha..."Ide Bening kemudian keduanya pun melakukannya.


Semua hasil jepretan tersebut dikirim Bening kepada Bu Vitha.


Gadis itu tersenyum saat sebuah pesan masuk di handphonenya.Ia yang awalnya sedih kini berubah menjadi berbunga-bunga kala Daniel mengirimnya pesan lengkap dengan segala emoticonnya.


Isinya adalah ia meminta maaf dan mau mengajak Bening ke suatu tempat setelah mengantar Widya pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Mami bilang apa, Ben...."tanya Widya membuatnya kaget.Mungkin ia berpikir kalau Bening sedang chatingan dengan ibunya.


"Aman kok...Tante hanya berharap semua hasil pemeriksaan nya baik-baik saja dan kamu cepat pulih..."Ungkap Bening sambil menggenggam tangan Widya untuk memberinya kekuatan.


Setelah lama menunggu,tiba giliran Widya untuk masuk menemui dokter ahli paru yang akan memeriksanya.


"Nona Widya Dharma Sucipto.. selamat siang.."ujar sang dokter ketika mereka sudah duduk berhadapan dengannya.


"Iya dok... selamat siang.."sapa Widya santun.


"Gimana?apa keluhannya sekarang? Terakhir kamu datang dua bulan yang lalu..."Dokter mulai bertanya setelah membaca riwayat sakit dan pengobatannya.


"Saya mau kontrol dok...obat saya sudah habis.." terang Widya.


"Kebetulan waktu jadwal kontrol dia nggak datang dok, baru bisa datang hari ini." tambah Bening.


"Oh...gitu, kenapa nggak datang?"tanyanya lagi.


"Karena nggak kambuh dok..."jawab Widya polos.


"Terus sekarang?"Dokter itu merespon jawabannya.


"Sekarang juga nggak kambuh dok, hanya mau kontrol saja karena obat saya habis." Widya tetap memberi jawaban yang sama.


"Oke...kalau begitu saya periksa sebentar ya..."katanya kemudian Widya pun berbaring di tempat pemeriksaan.


Beruntungnya setelah diperiksa, gadis tersebut dinyatakan baik baik saja mungkin karena memang sedang tak memiliki gejala juga.


"Dok...apa saya boleh nanya?"tanya Bening saat keduanya kembali duduk.Padahal ia bisa saja bertanya kepada ayahnya jika sudah sampai di rumah tetapi rasa penasaran yang tinggi telah membuatnya tidak sabar untuk bertanya.


"Boleh...mau nanya apa?"Dokter membolehkannya memberikan pertanyaan.


"Penyebab asma itu, apa dok?"tanya Bening mencari tahu.


"Sampai saat ini penyebab pasti asma, masih belum jelas.Tetapi terdapat beberapa faktor lingkungan dan genetika yang menjadi pemicu utama terjadinya asma.Sejumlah faktor pemicu asma antara lain:


polusi udara,cuaca atau perubahan suhu yang terjadi secara ekstrem, stress atau kecemasan yang berlebihan, atau karena terinfeksi virus seperti flu.Kalau mau supaya asmanya tidak kambuh maka harus menghindari faktor pemicu tersebut.Selain itu jangan lupa untuk menerapkan pola hidup sehat dengan tidak merokok...tidak merokok kan ya..."ucap dokternya sembari tersenyum.


"Oh... enggak dok..."jawab Widya tegas.


"Terus.. gunakan masker untuk melindungi diri dari debu dan asap.Serta mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang untuk menjaga kesehatan paru-paru.."Dokter menambahkan penjelasannya.


"Makasih dok.. penjelasannya..."ucap Bening.

__ADS_1


"Sama-sama...ya udah kalau begitu saya akan nulis resepnya, setelah ini kalian ke apotek untuk mendapatkan obatnya..."Tak lupa dokter pun menjelaska cara minum obat kepada Widya.


Setelah beres dengan semua administrasi keduanya pun melangkah dengan hati yang gembira keluar dari gedung rumah sakit.Ada perasaan lega menyelimuti Bening.Rasanya sebuah beban berat berhasil ia turunkan dari pundaknya.


__ADS_2