Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.36


__ADS_3

Jelaslah sudah apa arti dirinya buat Daniel.Hanya seorang adik.Walau katanya,dia adalah adik kesayangannya tetapi artinya tetap sama,yaitu seorang adik.Dia adalah seorang yang penting bagi pemuda itu karena dia sudah dianggap seperti adiknya sendiri.


Bening harus bisa menerimanya.Tak ada yang salah dengan ungkapan Daniel dan juga perasaannya kepada Justru yang salah adalah jika ia memaksakan perasaannya.


Perjalanan hidup masih panjang, akan ada banyak hal yang akan terjadi ke depannya.Yang menjadi prioritas harus tetap diutamakan dan dijalani.Tidak akan ada yang bisa pastikan apa yang terjadi di hari esok.Dan apapun yang dijalani hari ini tidak menjamin semuanya tetap sama di masa depan.


Sebuah kisah cinta mempunyai perjalanannya sendiri dan cinta itu sendiri yang akan menemukan jalannya.


Satu hal yang pasti bahwa, terkadang bahkan seringkali cinta saja tidak cukup.Tetapi harus saling jatuh cinta, untuk membuat sebuah hubungan menjadi seimbang.So,be balanced..


Kata kata sang ayah akan ia jadikan sebagai bekal untuk perjalanan hidupnya ke depan.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


Daniel terlihat sibuk membantu Bening di toko.Keduanya begitu antusias melayani setiap pembeli yang datang.


Bu Melia menelepon untuk menanyakan keberadaan anaknya pada gadis itu.


"Halo tan...."sapanya setelah mengangkat telepon.


"Hallo nak... lagi ngapain?"Bu Melia berbasa basi.


"Lagi duduk aja tan di toko...."Bening melihat Daniel berbicara dengan karyawan ibunya.Ia ingin memberi tahu bahwa yang menelepon adalah bu Melia.


"Tanta ganggu nggak?"tanya bu Melia.


"Enggak kok tan... ini lagi santai..."jawab Bening.


"Daniel lagi sama kamu nggak,nak?"tanyanya lagi.


"Iya,tan...dia di sini...tante mau bicara sama kak Daniel?"terka Widya.


"Iya, soalnya tante telepon ke handphonenya tapi nggak dijawab.Ternyata dia lupa bawa.Handphonenya ketinggalan di sini nak..."cerita Bu Melia.


"Oh... gitu tan... pantesan dari tadi aku nggak lihat dia pegang hp..Jadi gimana,tan?Mau ngomong sama kak Daniel?"tawar gadis itu.


"Bentar nak... tante mau tanya.Daniel sama Widya itu, pacaran ya?"Bening sedikit kaget mendengar bu Melia bertanya tentang hal itu kepadanya.Dia mengira Daniel sudah memberitahu tentang hubungannya dengan Widya.


Daniel menatap dengan wajah penasarannya pada adiknya yang sedang berbicara di telepon.Menyadari hal itu, Bening memilih menghindar dari situ,agar pemuda itu tidak mendengar pembicaraannya.Ia tidak mau ceroboh lagi, tak ingin Daniel memarahinya lagi.

__ADS_1


"Hallo,nak..."Bening kembali fokus dari lamunannya.


"Iya...iya tan.. maaf tadi aku takut mau jawab tan.Aku takut kak Daniel akan marah kalau aku bilang ke tante, soalnya waktu itu aku di..."Bening tak meneruskan perkataannya karena ia berpikir tak perlu juga menceritakan kepada Bu Melia bagaimana Daniel sudah menuduhnya menceritakan prihal hubungannya dengan Widya dengan ibunya.


"Soalnya kenapa,nak? Kamu diapain?"Bu Melia terdengar seperti penasaran.


"Enggak kok tan... maksud aku, mungkin saja kak Daniel emang sengaja nggak cerita ke tante, soalnya itu privasinya..."Bening kewalahan bagaimana ia harus menjawab.


"Privasi? Kenapa?Nak... kalian itu masih remaja, masih butuh pengawasan, orang tua nggak ngelarang kok kalian kalau mau pacaran, silahkan.Kami juga pernah muda, pernah melalui masa masa kalian.Tapi orang tua itu perlu tahu"bu Melia berbicara seolah olah ia adalah Daniel.


"Iya tan... terima kasih..."Bening sungguh terbawa suasana sehingga ia mengucapkan terima kasih atas nasihat yang diberikan bu Melia.


"Sorry nak...jadinya ibu malah nasihatin kamu.. maaf ya,Ben..."akhirnya bu Melia menyadarinya.


"Enggak kok tan, nggak apa-apa..toh berguna juga buat aku..."Bening menjawab santun.


"Kamu tuh ya... baik banget.. Kalau bisa, jangan pacaran dulu ya,tante nggak mau dan nggak rela anak sebaik kamu, anak cantiknya tante disakiti..."Bening tertegun mendengarnya.


Andai bu Melia tahu,ia memang tak memiliki pacar, tetapi putranya telah membuatnya menangis dan patah hati.


"Terima kasih tan..."ucap Bening.


Bening menengok ke sana kemari,ia takut Daniel mungkin sudah berada di dekatnya dan akan mendengar apa yang ia jawab.


"Tan...aku nggak bisa jawab itu, yang tahu pastinya cuma kak Daniel dan Widya..."Bening mencoba untuk sebijak mungkin menjawab.Ia yakin bu Melia tak mungkin memaksanya.


"Oh... gitu..ya udah kalau begitu.. nanti kamu bilang aja ke kakak kamu itu.. handphonenya ketinggalan.Takutnya nanti dia kira hilang terus bilang juga ada yang meneleponnya berkali kali..."mendengar bu Melia berkata begitu membuat Bening langsung kepikiran Widya.


"Oke tan... akan aku sampaikan ke kak Daniel..by tan..."gadis itu mengakhiri pembicaraannya setelah Bu Melia juga tidak bertanya apa apa lagi.


Pasti yang meneleponnya adalah Widya.Ia pasti marah sekarang karena Daniel tak mengangkat teleponnya.Dikiranya Daniel sengaja tak mengangkatnya.


Saat hendak ke depan menemui Daniel, Bening terkejut pemuda itu menunggunya.Bening hanya mengelus dadanya mengekpresikan keterkejutannya.


"Kamu kenapa?Kok kaget gitu?"Daniel mulai menginvestigasi.


"Ya, iyalah kaget kak.. sejak kapan berdiri di situ?"jawab Bening.


"Kenapa kaget? Kamu takut ya,aku dengar semua omongan kamu sama pacar kamu? Tenang aja,aku nggak sekepo itu..."Daniel mulai lagi.Tapi Bening tetap tenang dan tak ingin terpancing.

__ADS_1


Ia memberikan senyum indahnya untuk pemuda tersebut.


"Kakak udah lapar belum? Entar lagi waktunya makan siang,kak.."Bening mengalihkan perkataannya.


"Jadi beneran yang nelpon Bastian?"Daniel tetap fokus pada rasa ingin tahunya.


Bastian memang selalu hadir di saat yang tepat.Tiba tiba saja handphone Bening kembali berbunyi dan yang meneleponnya adalah Bastian.


Bening memandangi wajah Daniel yang terlihat marah saat dilihatnya pada layar handphone Bening nama Bastian terpampang jelas di sana.Gadis itu ragu untuk mengangkatnya.


"Kenapa nggak diangkat?"ujarnya dengan wajah masam.


"Hallo kak..."Bening pun mengangkatnya dengan tujuan tak mau menciptakan kesalahpahaman.Dia mau berbicara di depan Daniel agar pemuda itu juga ikut mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Hi baby..."Bastian menyapa dengan kekhasannya.


"E...kak...maaf ya...aku lagi di toko... nanti aku telpon lagi,ya... maaf banget.."Bening terpaksa mengakhirinya karena dilihatnya Daniel meninggalkannya dengan langkah terburu buru.Sepertinya ia marah.Tapi kenapa marah? Apa lagi yang salah?


Rupanya saat Bastian menyebut kata baby, pemuda tersebut sangat tidak menyukai panggilan itu, meskipun ia seringkali mendengarnya.Tetapi makin hari ia semakin kesal dengan cara Bastian memanggilnya.


"Kak tunggu..."Bening mengejarnya.


"Ih....kenapa lagi sih?Kak...."Bening fokus untuk menghentikan langkahnya hingga tak memperhatikan etalase dan alhasil kepalanya menabrak benda tersebut.


"Aow ...."jerit Bening memegangi dahinya.


Daniel berbalik dan mendadak diserang panik.


"Astaga dek.... kenapa nggak hati hati sih?Gini kan jadinya? Kebiasaan banget..sakit nggak?"tanya Daniel.Melihat kejadian itu beberapa karyawan yang ada di situ mendekati Bening.


"Hati hati dek... langsung dikompres aja.Ayo mas, lebih cepat lebih baik..biar nggak benjol nanti.. "ujar salah satu dari mereka, mengingat bagaimana sang bos sangat menyayangi putrinya tersebut.


Mereka khawatir jika bu Livia tahu apa yang terjadi pada anaknya,ia pasti sedih.


"Sakit banget ya?"Daniel meniup pada daerah yang terbentur.


"Dikit..."jawab Bening dengan senyum.


"Boong..."Daniel membantu adiknya itu untuk duduk agar bisa memberikan tindakan pada dahinya yang terkena benturan.

__ADS_1


__ADS_2