Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.82


__ADS_3

Bening membasuh wajahnya di toilet.Ia juga kesal pada dirinya sendiri karena kembali menangis.Salahkah ia jika menunggu untuk bisa membuktikan apakah dirinya sudah benar benar menerima kenyataan?


Untukmu jiwa yang selama ini menanti.Jangan lelah. Tunggulah beberapa saat lagi.Bila tiba waktunya, putuskanlah dengan bijak.Kutitip harga diri ini,padamu jiwaku.


Kata kata itu dikumandangkan gadis itu dalam hatinya untuk menyemangati dirinya sendiri.Setelah semua tugasnya di rumah sakit selesai Bening pulang dengan mengendarai mobil hasil kerjanya selama ini.Ia ingin segera pulang ke apartemennya untuk beristirahat.


Tetapi ia selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi neneknya yang tinggal bersama paman dan bibinya.Neneknya selalu membujuknya untuk tinggal bersamanya tetapi karena jarak rumah yang jauh dari tempatnya bekerja membuat Bening memilih untuk tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah sakit.


"Ben, sorry..maafin aku ya..."Meva mengirimnya sebuah pesan.


Bening tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.Awalnya ia berniat mengerjai sahabatnya itu dengan mendiamkan saja Wa darinya tapi mengingat dia yang sedang ada operasi membuat niat tersebut hangus.Bening takut Meva akan terus kepikiran yang membuatnya tidak fokus.


"Iya,aku juga minta maaf ya.. Jangan lupa makan malam untukku.."balas Bening.


Setibanya di apartemen, gadis itu segera membersihkan diri sebelum beristirahat.Ia pun mandi dan mencuci rambutnya agar lebih segar.


"Nggak makan dulu non?"tanya mbak Yuyu yang selalu menemaninya semenjak ia memutuskan untuk kuliah di Jakarta.Wanita itu pun turut serta.


"Udah kok, mbak.Tadi makan siang di rumah sakit"jawab Bening.


"Oh,gitu?"sahut mbak Yuyu.


"Mbak masak ya?"wanita itu mengangguk.


"Ya, udah mbak istirahat gih sana, saya makan lagi aja, nggak apa-apa"begitulah Bening yang selalu membuat wanita itu merasa kagum dan betah karena gadis itu selalu menghargainya.


Sebuah bunyi bel mengagetkan Bening saat gadis itu hendak mencicipi sedikit makan yang dimasak oleh mbaknya.


Ia berdiri untuk membukanya.Tampak seorang pemuda yang gagah dan wangi dengan kantong plastik berisi buah buahan di tangannya.


"Hai baby....Wah,seger amat..."Bening hanya memandangnya membuat pemuda itu memperhatikan lagi penampilannya.Kepala gadis itu juga celingak-celinguk untuk memastikan apa ada yang mengikutinya atau tidak.


"Kok, ngelihatinnya gitu by...Ada apa?"ungkap Bastian merasa tidak percaya diri.Bening mengambil buah buahan yang dibawanya.


"Nggak, cuma mau mastiin aja ada yang ngikutin kamu atau enggak,kak"ujar Bening lalu menutup kembali pintunya.

__ADS_1


"Siapa? Hantu?"sahut Bastian.


"Mungkin, mereka kan seperti hantu,dikira nggak ada, nggak ngikutin, eh besoknya tiba tiba beritanya keluar.Kan kesal.Bagus kalau beritanya sesuai fakta"jelas Bening


Gadis itu pernah diburu wartawan saat tinggal di apartemen lamanya karena mengira dirinya adalah kekasih dari seorang Bastian, penyanyi yang banyak digemari karena suara dan ketampanannya yang memikat.Apalagi ia tak pernah mengungkapkan kisah asmaranya yang membuat banyak orang penasaran.


"Oh.... wartawan?Nggak usah dipikirin by.Itu kan pekerjaan mereka.."Bastian mencoba menenangkannya.


"Nggak aku pikirin juga kak.Aku malah takutnya kakak lagi yang nyaman..."kata Bening.


"Nyaman kok .. sejauh ini masih nyaman..."jawab Bastian.Ia mengikuti langkah gadis itu dari belakang.


"Ayo,duduk kak.Makan yuk, udah makan belum?"Bening mengambil piringnya.


"Kamu belum makan siang,by?Udah jam berapa ini?"tanya Bastian.


"Udah kak,tadi di rumah sakit.Cuma pas pulang mbak Yu ternyata masak,jadi mau makan lagi dikit..."jelas Bening.


"Oh,ya udah aku temenin kamu makan.."Bening berdiri membuatkan teh jahe madu seperti yang biasa ia berikan untuk Bastian.Itu adalah bentuk perhatiannya untuk sang penyanyi dalam menjaga kualitas suaranya.


"Enak..Makasih ya,by..."kata Bastian.


"Makasih...Karena udah perhatian, udah nanya apa aku nyaman atau enggak?"gadis itu mengernyitkan dahinya mendengar ungkapan Bastian.


"Aku kira buat makanannya ..nih minumannya.."gadis itu memberikan teh madu jahe hangat favorit Bastian.


"Makasih by...."Bening mengernyitkan keningnya sembari tersenyum.


"Lagi?"ujarnya.


"Iya,lah...kan ini kamu yang bikin, bukan mbak Yuyu"Bastian tersenyum.Keduanya pun tertawa bersamaan.


"Gimana kerjaan kamu hari ini? Pasien banyak nggak?"tanya Bastian di sela makan mereka.


"Lancar...yah lumayan lah.."jawab Bening.

__ADS_1


"Oh, syukurlah..."Bastian tak kalah menunjukkan senyumnya.


"Kakak sendiri gimana? Gimana persiapan konsernya?"tanya Bening.


"Aman, udah maksimal kok persiapannya.Kamu jadi kan, nemenin? udah ijin kan,sama direkturnya?Atau aku temenin buat minta izin?"kata Bastian.


"Apaan sih kak? Kayak anak sekolah aja.Malu kali.Udah kok, udah minta izin.Lagian cuma sehari doang,kan...?"jelas Bening.


"Makasih ya...?"


"Hmmmm... lagi... lagi..."keduanya kembali tertawa.


"Semalam Widya nelpon aku by...dia minta nomor kamu.."kata Bastian membuat Bening seketika diam.


Ia sengaja mengganti nomornya, gadis itu juga sudah tidak menggunakan akun media sosial baik Facebook maupun Instagram.Ia merasa tak perlu menggunakan karena hampir setiap hari Widya menunjukkan aktivitasnya yang menandainya.


"Nggak usah kak... nggak usah dikasih.Biar nanti langsung ketemu aja.Aku malas ngobrol lewat hp..Aku nggak suka orang orang yang hobinya ghosting"kata Bening.Bukan karena ia tak bisa menerima kenyataan, dendam cemburu atau sakit hati tetapi ia tak nyaman untuk berkomunikasi secara intens dengan orang yang pernah menjadi sahabatnya tersebut.


"Ya udah.. Nggak aku kasih.Tapi katanya dia, mereka mau pulang dan mau ketemu kamu"ujar Bastian dengan sangat berhati-hati.


"Boleh...Nggak apa apa.Aku pasti mau kok ketemu mereka..."jawab Bening.


"Yakin? Udah siap"tanya Bastian.


"Astaga,kak.Yakinlah,udah mau sebelas tahun juga kali.Mau sampai kapan ngumpet?Bukan aku ya,yang ngumpet.Aku selalu siap kok ketemu mereka.Lagian ya, kalau aku nggak bisa menerima kenyataan,aku nggak mungkin ngasih perhatian ke anaknya, kalau aku pulang juga pasti selalu nyempetin diri buat main sama dia, sampai ada yang kesal karena dianggurin."jawab Bening dengan terus tersenyum.


Dari wajahnya ia tak tampak menyembunyikan sesuatu.Terlihat tak ada beban saat mengatakannya.Atau karena ia yang sudah dewasa jadi sudah pintar menata perasaannya?


Daniel tersenyum kala mengingat liburan mereka.Bastian kesal karena anak kecil itu selalu nempel pada Bening.


"Nanti kita sama sama ya ketemu mereka..Kata Widya sih sekalian mau bawa anaknya diperiksa sama kamu.Memangnya si Daniah kenapa,by?"tanya Bastian.


"Kata tante Melia sih,demam.."cerita Bening.


"Oh.... Emang di Bali nggak ada ya, spesialis anak? Harus ya diperiksa sama kamu,by?"celetuk pemuda itu.

__ADS_1


Bening mengangkat bahunya.


"Tau..tadi juga Widya ngomel hal yang sama.."jawab Bening.


__ADS_2