
Pak Cahyo menyempatkan waktu dari kesibukannya di rumah sakit untuk pergi bersama istri dan putri tercinta.
"Hai pa..."sapa Bening saat melihat ayahnya sudah menunggu di parkiran.
"Siang nak...."jawab sang ayah dengan senyum sumringah masuk ke dalam mobil.
"Kamu nyetir? Yakin nih?"tanya sang ayah yang mengira putrinya datang dengan sopir.
"Kenapa?Papa takut..?Tenang aja pa,kan di sana aku bawa mobil..Di sini kan nggak semacet dan serame Jakarta?"Bening meyakinkan ayahnya.
"Bukan soal ramai dan macetnya,nak... papa takutnya kamu nggak hafal jalannya..."timpal pak Cahyo.
"Ya, enggaklah pa...masa lupa sama jalananya?Lupa sama tempat kelahiran sendiri?lorong lorongnya aja aku hafal..."bantah Bening.
"Ya,siapa tahu lupa.Buktinya nggak mau pulang..."ungkap sang ayah dengan lembutnya sambil tersenyum.
Bening kini tersenyum.Ia paham maksud ayahnya.
"Ini udah pulang pa ..."gadis itu mencoba menghibur sang ayah.
"Yah,tapi besok pulang lagi ke Jakarta.Kecuali kalau kamu pulang untuk tinggal.Sekarang juga, pulang karena ada konsernya Bastian kan?"ungkap ayahnya akhirnya menyampaikan harapannya.
"Sabar ya,pa.... tunggu sebentar lagi..Aku pasti akan pulang..."Bening memegangi tangan ayahnya sembari tersenyum.Yah, tangan itu sudah mulai menua meski masih mampu untuk bekerja.
"Okay... papa sama mama selalu nunggu.Sepi di rumah nak...Cuma papa sama mama doang.Bayangin semenjak kamu kuliah.."pak Cahyo mulai menceritakan suasana hatinya selama ini.
Bening menyimak ceritanya sambil fokus ke jalanan.Sejak kemarin ia tiba terlihat raut wajah kedua orang tuanya begitu bahagia.Rasanya mereka tidak membiarkan ia berlalu dari pandangan keduanya.Bahkan Bening diperlakukan seperti ratu dengan dimasakan makanan kesukaannya, mendengar ceritanya hingga tidur pun, gadis itu akhirnya terlelap di antara kedua orangtuanya.
Mereka teramat sangat menyayanginya dan Bening sangat sadar akan hal itu.
"Tapi papa nggak bosan sama mama kan...sama omelannya, aturannya.."canda Bening.
__ADS_1
"Kalau bosan,pasti tidaklah...tapi yang buat papa bosan adalah situasinya.Mungkin kalau kamu pulang, nggak begitu lagi ceritanya.."Lagi lagi ayahnya mengatakan hal yang sama.
"Papa doain aku ya,pa... mudah mudahan nanti kalau pulang dengan paket lengkap..."kata Bening membuat ayahnya mengernyitkan dahi.
"Emang sudah ada kandidatnya?"tanya ayahnya langsung klik dengan penuturan sang putri.
"Belum sih pa...berandai andai aja.Tapi yang mau deketin ada,pa..."Bening pun mulai bercerita.Rasanya ia perlu berbagi dengan ayahnya seperti yang biasa ia lakukan.Karena apapun yang menjadi curhatannya pasti ada jalan keluar atau solusi yang diberi.Demikian pun dengan ibunya.
"Oh,ya? Orangnya papa kenal nggak?"respon pak Cahyo.Gadis itu menggeleng.
"Pasti maksud papa kak Bastian ya?"cerca Bening.
Ayahnya hanya tersenyum, tak mengangguk juga tak menyangkal pertanyaan sang putri.
"Hubungan kamu sama Bastian baik baik saja kan?"tanya pak Cahyo.
"Iya, pa... buktinya aku di sini buat hadir di konsernya dia entar malam.Tapi kami berdua sampai sekarang cuma temenan kok pa.By the way,papa sama mama bakal datang juga kan?Kak Bastian ngundang loh pak, hanya dia nggak sempat ke rumah.Jadwalnya padat..."pak Cahyo manggut-manggut.
"Oh, itu.. Kakaknya Meva pa.Dia sekarang tinggal di New York dan kerja di sana.Itu loh,pa...yang pernah ke sini tahun lalu nyariin aku.. ingat, nggak?"pak Cahyo mulai berpikir mengingat ingat kejadiannya.
"Itu pa, yang aku sembunyi di rumahnya om Darwin.. Karena nggak mau ketemu..?"Bening mengurai kejadiannya agar sang ayah ingat.
"Oh, iya...iya... papa ingat.Terus sekarang kalian gimana? Udah ada komunikasi? Udah ketemu atau gimana?"Bening tersenyum saat ayahnya memborong pertanyaannya.
"Belum ketemu pa, belum ada komunikasi langsung juga,tapi aku udah setuju buat ketemu sama dia mungkin minggu depan..."cerita sang putri.
"Oh...oke...oke...semoga berkesan ya, pertemuannya..."ujar ayahnya.
"Pa,kira kira perlu nggak aku cerita ke kak Bastian?"tanya Bening.
"Tujuannya?"
__ADS_1
"Ya, biar dia tahu aja pa, kalau ada yang mau deketin aku..."jawab Bening sekenanya.Ayahnya tersenyum.
"Kamu udah dewasa nak, kamu berhak atas setiap keputusan dalam hidupmu,baik untuk berteman dengan siapa, dekat dengan siapapun selagi masih pada jalur yang benar dan tidak menyakiti siapapun.Bahkan untuk memilih pasangan hidup"kata pak Cahyo.
Bening diam sejenak.Tanpak keraguan di matanya.Ekspresinya sulit diartikan tapi sang ayah tahu.
"Makasih,pa.Mudah mudahan saya bisa memilih yang terbaik dan diberi yang terbaik"
"Amin...amin.Yakin dong.Udah sering didoain kan?"tutur sang ayah.
"Makasih pa...oh, iya tadi om Darwin sama tante Melia nelpon pa, mereka pengen ketemu.Aku juga pengen ketemu Daniah pa,anak itu sangat menggemaskan.."ungkap Bening.
"Tapi kamu nggak membenci orang tuanya,kan?"pertanyaan itu membuat Bening kaget.
"Enggak kok pa.."kata Bening setelah sempat diam.
"Syukurlah..."sahut ayahnya.
"Tapi awal awal ia,pa .. bukan benci.Lebih ke kecewa pa sama kak Daniel.Papa tahu gimana perasaan aku ke dia.."ungkap Bening.
"Yah, perjalanan hidup setiap orang berbeda,nak.. demikian pun dengan kisah cintanya.Tapi yang namanya jodoh pasti akan menemukan jalannya.Tetap sabar dan berdoa.Nanti juga kamu pasti bisa tahu.Akan ada tanda-tandanya."pak Cahyo ingin bercerita tentang Daniel yang kerab kali menghubunginya, bahkan hampir setiap hari dan sudah menceritakan banyak hal tetapi ia merasa waktunya belum tepat.
Ia sendiri pun masih menunggu pemuda itu pulang untuk menemuinya dengan tujuan yang sangat penting.Seperti itu ungkapan Daniel saat terakhir kali mereka menelepon.
Untuk itu ia selalu mengharapkan putrinya mendapat pasangan hidup yang terbaik dari Tuhan dengan tak mematok orangnya siapa seperti standarnya.
Jika bukan karena urusan hotel yang rencananya akan diresmikan dalam waktu dekat, Daniel pasti sudah menyusul Bening ke Bali.Tetapi ia harus mengadakan rapat dengan pegawainya dan orang orang kepercayaannya untuk persiapan acara tersebut.Dengan terpaksa ia menunda keberangkatannya di esok hari walau dirinya sangat ingin untuk segera menemui hartanya.
Apalagi kata kata Ameva selalu terngiang ngiang di telinganya.Ia terus berpikir jika memang mereka berteman sudah sekian lamanya , mungkinkah Bening tak pernah bercerita tentang dirinya?Jika itu benar, berarti Bening sudah melupakannya.Daniel terus membantah pikiran negatifnya.
Juga tentang laki laki yang akan menemui Bening dalam waktu dekat.Daniel menjadi penasaran.Ia bertekad untuk tidak didahului oleh siapapun.
__ADS_1
Walau demikian ia merasa senang tadi bisa bertemu dengan sahabatnya yang dia percaya ikut menjaga hartanya.Gadis itu terlihat baik dan tulus.