
Dengan mengenakan jas dokternya, Bening melangkah dengan ayunya ke depan lobi rumah sakit.Sudah hampir jam satu seperti yang ia janjikan pada Daniel.Dari jauh ia melihat kakaknya masih mengenakan baju yang sama sedang duduk di sebuah kursi sambil memandanginya.
Bening menyadari hal itu.Oleh karena itu,ia berpura-pura saja tidak melihatnya.Ia sibuk menata keberaniannya.Tak bisa dipungkiri gadis itu sangat gugup apalagi saat Daniel berdiri untuk menyambutnya.Rasanya ia ingin lenyap dari situ.Jantungnya berdetak lebih kencang tak mampu ia kendalikan.
"Selamat siang dokter.."sapa Daniel dengan lembutnya.
"Siang..."jawab Bening tanpa mengucapkan permohonan maaf karena pria itu sudah menunggunya.
Daniel terus memandangnya membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Kita bicara di kantin saja..."ucapnya.
"Oh, gitu?Boleh... padahal tadinya saya mau ajak dokter keluar.Biar sekalian makan di luar.."ucap Daniel.
"Tapi saya nggak bisa.Saya masih menunggu teman saya.Dia lagi operasi..."tolak Bening.
"Dokter Rio?"tebak Daniel.
"Iya..."jawab Bening padahal yang ia tunggu adalah Meva.Tapi karena Daniel malah menyebut Rio dia pun mengangguk saja.Tak ada yang salah,dokter Rio pun adalah seorang dokter Bedah dan sedang melakukan sebuah operasi.
"Tapi kalau kamu mau keluar, nggak apa-apa biar tunda saja sebentar jam tiga.Widya tadi menelepon, katanya mau menemui saya jam tiga, biar sekalian saja nanti.Kamu makan siang aja dulu.Saya akan kabari Widya biar nggak salah paham juga..."kata Bening seperti merasa trauma.
"Enggak dok, saya walau belum makan tapi sudah merasa kenyang kok karena melihat dokter..."ucap Daniel.Wajah Bening bersemu merah.
"Mari ikut saya..."Bening langsung mengambil langkah menuju kantin.Di jalan banyak sekali yang menyapanya apalagi saat melihat sosok yang berjalan di belakang gadis itu.
Selama ini mereka tak mendengar bahwa dokter cantik tersebut memiliki pacar tapi hampir semua pegawai rumah sakit tahu siapa yang mengincar dokter tersebut dan berusaha menjadi pacarnya.
Daniel tersenyum sendiri saat melihat Bening menjadi nervous.Untung saja rambutnya ia biarkan terurai sehingga menutup telinganya dan pipinya yang memerah.
__ADS_1
"Siang dok..."sapa pegawai kantin saat melihat kedatangannya.Gadis itu tak lupa membalas sapaannya.
"Kamu mau minum apa?"tanya Bening ketika mereka sudah duduk berhadapan.
"Kopi...ada nggak di sini?"tanya Daniel.
Bening mengangguk lalu berdiri dan berjalan mendekati pegawai kantin tersebut.Setiap pergerakannya selalu tak luput dari pantauan Daniel.Ia tak bosan bosannya memandangi adiknya tersebut.
Bening mengumpulkan keberaniannya.Ia tak boleh terhipnotis dengan tatapan pemuda itu meski dalam hatinya ia mengakui Daniel tampak lebih berkharisma dan ganteng.Ia tak boleh jatuh hati lagi.
"Dokter sangat cantik.Dokter betah bekerja di sini?"tanya Daniel saat Bening kembali duduk di hadapannya.Ia mengalihkan penyataan pertamanya agar Bening tak merasa kesal tapi bibirnya tak bisa menahan untuk tidak mengatakannya.
"Iya,betah.."jawab Bening singkat
"Pantas aja nggak mau pulang ke Bali..."cerca Daniel.
"Ini minumannya dok..."ucap sang pegawai kantin sambil melirik ke arah Daniel.
"Dokter nggak minum kopi?"tanya Daniel saat melihat segelas air mineral yang ada di depan adiknya.
"Enggak.Belum makan soalnya.Saya sudah minum tadi pagi.."jelas Bening.
"Kalau gitu di sini ada makanan nggak?Biar kita sekalian makan aja.."Daniel memberi ide.
"Ada nasi goreng.Tapi saya,makan siangnya nanti.Nunggu teman saya.."tolak Bening.
"Dokter Rio?"Bening kembali mengangguk.
Tak bisa dipungkiri, Daniel merasa cemburu gadis itu lagi lagi menunjukkan rasa setianya padahal hanya untuk seorang teman.Ia ingin mengatakannya tetapi takut jika adiknya malah merasa tak nyaman padahal dirinya sudah menunggu berjam-jam lamanya hanya supaya tidak terlambat menemui adiknya tersebut.
__ADS_1
Bening mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Sebuah kotak segiempat yang pernah Daniel beri dulu di malam terakhir mereka bertemu.
"Ini apa?"tanya Daniel.
"Mungkin kamu lupa.Tapi ini adalah pemberian kamu di malam kamu mengunjungi saya di rumah sakit.Saya menemukannya di dalam tas yang kamu lupa.Maaf saya membuka tas tersebut.Walau kotak ini untuk saya karena kamu menulis nama saya di sini tapi sampai sekarang saya tidak pernah membukanya karena malam itu kamu tidak kembali dan mungkin saja ini bukan untuk saya.."Bening mulai pada tujuannya menemui pemuda tersebut.
Daniel membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan adiknya tersebut.Ia mengamati benda tersebut dan memegannya.
"Dek ..."panggilnya.
"Malam itu karena kamu tidak kembali saya pun berinisiatif untuk membuat kesepakatan seperti yang kamu katakan meskipun isinya mungkin tidak seperti yang kamu mau.Kertas ini saya dapatkan dari perawat yang bertugas di sana, karena malam itu kamu bilang kamu keluar untuk meminjamkan kertas dari mereka.."Bening memberikan sebuah amplop yang berisi tentang kesepakatan yang dibuatnya sendiri.
Dengan bergetar Daniel menerimanya lalu membukanya.Ia mulai membacanya.
"Dek...."ucap Daniel setelah beberapa menit membacanya.
"Saya Sebening Embun Gautama, membuat kesepakatan untuk kakak saya Daniel Warren Scott yang menyatakan bahwa saya berjanji untuk tidak pacaran sebelum saya berhasil meraih cita-cita saya menjadi seorang dokter.Saya juga tidak akan menggunakan media sosial apapun itu untuk memposting aktivitas saya.Saya berjanji tidak akan melanggar kesepakatan yang sudah saya buat.Saya bersedia menerima hukuman dari kakak saya Daniel Warren Scott jika saya terbukti melanggar"Bening mengucapkan kembali kesepakatan yang dibuatnya sepuluh tahun yang lalu dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga pada dirinya sendiri yang telah berhasil menjalankan kesepakatan tersebut.
"Dek...."Daniel hendak menyeka air mata yang keluar dari mata indah adiknya tetapi Bening lagi lagi menghindarinya.
"Maaf, saya menangis karena bangga saya sudah berhasil melakukannya.Terima kasih karena sudah pernah memberikan ide untuk membuat kesepakatan seperti ini.Akhirnya saya berhasil meraih cita-cita saya dan bisa memakai jas dokter seperti ini.Terima kasih karena pernah menjadi kakak yang baik untuk saya.Terima kasih untuk semua yang sudah kamu beri untuk saya.. Saya janji akan melayani lebih sungguh sebagai seorang dokter.Dan karena kesepakatan ini sudah selesai maka untuk ke depannya saya akan membuka hati untuk mereka yang mendekati saya selama ini, termasuk kak Bastian.Maaf saya harus kembali bekerja.Teman saya pasti sedang menunggu saya..."ungkap Bening saat melihat handphonenya berdering.
"Dek... tunggu... saya mau bicara.."Daniel memegangi tangan gadis itu.
"Tolong lepaskan tangan saya..."ucapnya.
"Maaf..tapi saya mau bicara...Ini penting.. please..."Daniel mengatupkan tangannya memohon mohon.
__ADS_1
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Tolong jangan pernah temui saya lagi sendirian.Saya sudah menjalani kesepakatan itu selama bertahun-tahun.Sekarang giliran kamu.Tolong hargai keputusan saya..."Bening bergegas meninggalkannya.