Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.15


__ADS_3

Widya masih mengurung diri di dalam kamarnya.


Air mata terus saja mengalir membasahi pipinya.Tempat tidurnya dipenuhi dengan kertas tissue yang ia pakai untuk melap air mata dan ingusnya yang ikut meleleh.


Ia ingat ayahnya.Ingin sekali ia meneleponnya dan menceritakan semua yang ia alami di rumah.Tetapi niat itu diurungnya lantaran takut ketahuan ibunya jika ia sudah mengadu pada sang ayah.


Dia pun mencari nomor handphone kakaknya yang sedang melanjutkan studinya di Kanada.Mengingat waktu Bali lebih cepat tiga belas jam dari Kanada ia pun berpikir pikir lagi untuk menghubungi kakaknya.


Pilihan terakhirnya jatuh kepada Daniel sang pacar.Ia pun segera menghubunginya.Tak butuh waktu lama untuk Daniel mengangkat teleponnya.


"Hi... Wid... selamat pagi ..."sapanya dari seberang.Bukan jawaban yang ia dengar tetapi tangis Widya yang langsung pecah saat mendengar suaranya.


"Hey.... kamu kenapa Wid?"tanya Daniel mulai panik.


Widya tetap tak menjawab.Ia terus saja terisak membuat hati sang pacar menjadi gundah.


"Wid... please...calm down okay....tarik napas dulu pelan....okay..." Daniel memberi instruksi agar Widya lebih tenang.


"Kak....mami...." ucap Widya terpotong karena tangisnya.


"Iya... kenapa mami? Kamu dimarahin?"tanya Daniel penasaran.


"Iya..." jawab Widya sesegukan.


"Oke,kalau begitu kamu tenang dulu ya...terus cerita sama aku..." pinta Daniel dengan nada yang sangat lembut.


Widya pun mengikuti apa yang dianjurkan pacarnya.


Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan.Setelah dirasa tenang ia pun menceritakan semua kejadian yang ia alami pagi ini.


Tak ada satupun yang terlewatkan.Daniel memasang telinganya dan menjadi pendengar yang baik.Ia membiarkan Widya lebih mendominasi percakapan mereka.Ia sendiri juga bingung bagaimana memberi solusi yang baik untuk kekasihnya itu.


Setelah bercerita panjang lebar Widya terdiam.


"Maafin aku ya,Wid...gara gara aku kamu harus mengalami semua itu...i,m really sorry..." Daniel benar benar merasa bersalah karena namanya juga disebut sebut oleh Bu Vitha sebagai penyebab masalah.


Walaupun ia membantah semua tuduhan itu.Ia tak merasa memberi pengaruh yang buruk untuk gadis itu.Keduanya juga baru satu Minggu jadian.Bukannya selama ini ibunya justru terbantu karena tak perlu repot-repot mengantarkan Widya ke sekolah, karena tugas itu sudah diambil alih olehnya.Lantas bagian mana dari semua tindakannya yang disebut membawa pengaruh buruk?


"Hallo kak...kak Daniel..?" panggil Widya dari seberang mengagetkan Daniel dari lamunannya.


"Iya...iya...maaf Wid..tadi aku ngelamun... sorry..."ucapnya memberi alasan.


"Melamun?ngelamunin aku ya?"goda Widya begitu percaya diri.

__ADS_1


Daniel jadi salah tingkah mendengarnya.


"Aku pengen banget loh kak, keluar ....terus jalan jalan sama kamu..aku bosan di rumah.."rengek Widya.


"Terus, gimana dong?Atau aku ke rumah kamu saja ya?"Daniel memberi ide.


Widya menyambut baik niat sang pacar, tetapi mengingat bagaimana ibunya sudah memperingatkannya tentang laki laki tersebut, Widya menjadi sedih.


"Mau banget....tapi aku takut ketahuan mami..." Bening berkata jujur.Keduanya pun terdiam.


"Kak...aku belum sarapan..."tambah Widya.


Daniel kaget dan melihat jam di dinding kamarnya.


"Jam segini kamu belum makan? kenapa?"tanyanya khawatir.


"Aku udah kenyang dengan kata katanya mami.selera makanku jadi hilang.Tapi aku mau minta tolong...boleh nggak?"Widya meminta izin.


"Boleh dong.... dengan senang hati..."jawab Daniel dengan siaga.


"Aku mau makan roti cokelat dari tokonya Bening, roti pizzanya juga..." pinta Widya yang disanggupi oleh Daniel.


Widya merasa lega, Setidaknya bebannya berkurang setelah ia bercerita cerita dengan sang pujaan hati,hingga rasa kantuk menyerang membawanya ke alam mimpi.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


Melihat kedatangannya,Bu Livia langsung menghampirinya.


"Hallo Dan... Mau nyari Bening?"sapa Bu Livia yang mencoba menebak maksud kedatangan Daniel.Apalagi biasanya juga demikian.


"Hallo Tan...nggak tan...aku mau beli roti..."jawab Daniel jujur karena memang benar bukan itu alasannya ke toko.


Bu Livia sedikit malu mendengarnya.Tebakannya salah.


"Oh.....mau yang seperti biasanya Dan?"tanyanya kemudian.


"Oh... enggak tan...aku mau beli yang isian coklat dan roti pizzanya juga.. Bukan buat aku soalnya.Tapi buat Widya.." jelas Daniel membuat Bu Livia sejenak terdiam.


"Oh...gitu...bentar ya ...tante siapin..." pinta Bu Livia lalu mengemasi pesanan Daniel.


Setelah siap ia pun memberikannya kepada teman putrinya itu.


"Makasih tan.. "Daniel memberi beberapa lembar uang ratusan ribu.

__ADS_1


"Nggak usah,Dan... buat Widya kan?" tolak Bu Livia.


"Tapi tan..." Daniel merasa tidak enak Bu Livia menolak uang pemberiannya.


Bu Livia hanya tersenyum kepadanya.


"Kalau begitu aku pamit dulu Tan.. mari..."ujar Daniel beranjak dari sana.


"Sampein salam buat pacar kamu ya... bilang ke dia, kapan kapan ke sini..."pesannya.


Daniel menjadi salah tingkah ketika Bu Livia berkata demikian.Dalam perjalanan menuju rumah pacarnya,ia terus memikirkan apa yang diucapkan Bu Livia.


Mungkinkah Bening yang memberi tahunya? Tetapi kenapa ia memberitahunya? Padahal ia ingin menjalani hubungannya itu secara diam-diam.Baru juga seminggu.Rasanya ia tak perlu menceritakan segala hal tentang privasinya.Jika bukan karena Widya sudah telanjur menceritakannya kepada Bening mungkin ia tak perlu malu jika bertemu dengan Bu Livia bahkan mungkin pak Cahyo juga sudah mengetahuinya.


Sedangkan Bu Livia,setinggal Daniel ia jadi bertanya tanya, mungkinkah tingkah Bening yang terlihat aneh sejak pulang semalam ada kaitannya dengan Daniel dan Widya.Mungkinkah mereka yang membuat Ia menangis? Mungkin Bening tahu kalau ternyata mereka sudah jadian dan hal itu membuatnya patah hati? Bahkan tadi Daniel tak menanyainya sedikit pun.


Ternyata feeling-nya tepat.Bahkan dari awal ia tahu bahwa Daniel menyukai Widya terlihat dari caranya menatap gadis itu dan memperlakukannya.Yah,dia pernah muda dan sudah melewati semua masa masa itu.


Bu Livia menjadi sedih mengingat putrinya.Mungkin kalau Bening ada di situ ia sudah memeluknya erat.Tapi ia juga bersyukur anak gadisnya itu tak jadi ke toko bersamanya sehingga ia tidak perlu melihat Daniel membelikan roti buat Widya.


Diambilnya handphonenya untuk menghubungi sang putri memastikan keadaannya.


Sementara itu setelah menempuh beberapa menit perjalanan, Mobil Jeep Wrangler milik Daniel sudah sampai di depan rumah Widya.Tampak sepi.Daniel mengambil hp dan menelpon Widya.Sekali,dua kali sampai tiga kali ia mencoba meneleponnya, tetapi tak diangkat sama sekali.Daniel mengirimnya pesan kalau dirinya sudah sampai di depan rumah.Tetap saja tak ada tanda-tanda dibalas.


Daniel celingak-celinguk melihat ke dalam halaman rumah dari luar gerbang.Ia pun mengetuk ngetuk pintu gerbang hingga beberapa kali.


Tak lama seorang perempuan paruh baya keluar dan berjalan menemuinya.Siapa lagi kalau bukan bi Santi.


"Selamat siang bi...."sapanya.


"Iya,mas Daniel ya?" tanyanya memastikan karena penampilan anak itu yang mengenakan jaket bertopi menutup kepalanya.


"Iya,bi.... saya mau ketemu Widya..."ujarnya.


"Aduh... sebaiknya jangan mas, nanti kalau ketahuan Bu Vitha, dia pasti marah.." Jawab bi Santi berharap laki laki itu paham dan tidak bersikeras.


"Tapi bi, saya mau ketemu dia sebentar saja.Please....saya janji nggak lama..."Daniel memohon mohon.


"Jangan mas... kalau mas sayang sama non Widya sebaiknya jangan ngotot.. kasihan...nanti saya juga ikut ikutan dimarahi...jadi tolong mas pulang ya... kalau ada yang mau disampaikan titip lewat saya saja...biar saya yang sampaikan.." pinta bi Santi.


"Iya, tapi dia kok nggak ngangkat telepon saya bi, udah beberapa kali saya coba..Saya ke dalam saja ya.. saya takut ada apa apa.Lagian Bu Vitha di kantor kan sekarang?"ucap Daniel memohon sekali lagi.


"Aduh mas ini dibilangin malah ngeyel..Mungkin dia tidur kali mas, capek nangis.Nanti kalau ketahuan dari CCTV gimana? Udah ya...mas pulang saja..itu buat non Widya kan? sini biar saya yang ngasih...

__ADS_1


Nanti saya bilangin ke dia untuk menghubungi mas..."kata bi Santi yang pada akhirnya Daniel mengalah.


Daniel menunggu di dalam mobilnya.Menunggu Widya menghubunginya seperti yang dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu.


__ADS_2