
Tak berbeda dengan Bening, Daniel juga tersentak dengan ucapan kekasihnya.Ia merasa penasaran dengan reaksi Bening.Marahkah ia? Tapi ia kembali mengingat ucapan gadis itu di depan ayahnya yang mengatakan bahwa dia sedang jatuh cinta kepada seseorang.Jadi tak mungkin Bening terpengaruh dengan candaan Widya.
"Kamu itu aneh,Wid.... Kalau aku cemburu, ngapain aku harus bela belain bantu kamu, harus berbohong ke tante Vitha?masa cemburu sama kakak sendiri?"Bening berusaha sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya.
Lain halnya dengan Widya, entah kenapa ia ingin sekali Bening merasa cemburu dengannya.Paling tidak ada hal lain yang tak semuanya bisa dimiliki Bening.Jawaban sahabatnya itu merupakan suatu tamparan untuknya.
"So... where are we going?Ke Ubud terlalu jauh... Kita nggak punya waktu banyak..Sebelum mami kamu pulang,kamu harus sudah ada di rumah.."Daniel yang lebih banyak diam kini angkat bicara.
"Emmm... gimana kalau makan dulu?aku laper...belum makan..."Widya memegangi perutnya.
"Kalau gitu,aku turun di depan aja kak..Aku mau ke toko..."pinta Bening ketika Daniel sibuk mencari tempat untuk makan.
"Nanti kakak antar dek,tapi setelah kita makan ya..."Daniel memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran.
"Nggak.. nggak... nggak apa-apa kak..aku naik taxi aja.. lagian udah kenyang juga.Aku udah sarapan tadi.."tolak Bening
"Temani aku makan dulu dong,Ben.."Widya meraih lengan sahabatnya dan dengan sedemikian manjanya merayu Bening untuk tak langsung meninggalkan mereka.
Bagaimanapun,ia tetap takut jika ibunya tiba tiba menghubunginya,hanya ia gengsi untuk mengandalkan Bening menghadapi ibunya nanti di depan sang pacar.
"Yah...yah...please..." rengek Widya.
Setelah menghela nafas panjang ia pun menuruti kemauan Widya.
Ketiganya duduk di satu meja.Meskipun awalnya Bening berinisiatif untuk duduk di meja yang lain tetapi Daniel tak menyetujuinya.
"Masa duduk di tempat lain dek.. kesannya kayak kamu tuh satpamnya kami..."Daniel menarik tangannya hingga Bening sedikit terseret.
"Iya, daripada jadi nyamuk... mendingan jadi satpam.."protes Bening tetapi tetap saja menuruti permintaan kakaknya.Bening mengibas ngibas tangannya setelah Daniel melepasnya.
"Maaf... maaf.. sakit ya dek..."Daniel refleks mengusap dan meniup tangan adiknya itu.
"Ehem....ehem.."Widya pura pura batuk melihat keduanya.Bening langsung menarik tangannya.Ia tahu Widya pasti tak suka melihat Daniel memberi perhatian padanya.
"Tuh kan Wid...ternyata kamu yang cemburu sama aku.. maaf ya,ini karena kebiasaan jadi lupa deh kalau lagi di depan kamu... sorry.."Bening berkata seadanya.Ia resah melihat Widya yang mulai menunjukkan wajah tak sukanya.
"Iya,kan dia udah jadi pacar aku,Ben... wajarlah kalau aku cemburu..."Ungkap Widya.
Daniel menatap Bening dengan penuh isyarat agar adiknya tersebut mengalah saja.
Meskipun sempat terpancing dengan kata kata dan sikap Widya padanya tetapi saat memandang Daniel gadis itu pun memilih diam saja dan tersenyum kepada Widya.
"Iya...maaf deh..."ucap Bening lalu duduk.
__ADS_1
Widya Segera melihat menu yang ada dan memesan menu kesukaannya chicken steak saus Enoki.
"Kamu mau pesan apa yang?"tanya Widya yang mulai memanggil pacarnya dengan sebutan yang baru.
Daniel sepertinya lumayan kikuk dengan panggilan seperti itu, entah karena ini yang pertama kalinya atau mungkin karena sedang berada di depan Bening.
"Cieh...yang udah punya panggilan kesayangan..."goda Bening lebih kepada kakaknya.Rupanya ia berusaha sekuat tenaga untuk menjahili mereka agar menutup perasaan aneh yang bergemuruh.
"Iya dong...masa aku kalah sama kamu Ben... belum jadian aja udah dipanggil baby sama gebetan kamu.. apalagi kalau sudah jadian... atau sudah jadian belum sih..?."jelas Widya dengan entengnya.
Rupanya malah Bening sekarang yang terjebak oleh candaannya tadi.
"Kamu kayak nggak kenal kak Bastian aja, Wid..."jawab Bening ngambang.
"Emang nggak kenal..aku hanya kenal sama kak Daniel saja.."Widya berkata dengan penuh penekanan.
"Maksudnya karakternya..."tambahnya membuat Bening melongo.
"Bahas apaan sih? Nggak penting banget. Kamu beneran nggak mau pesan makanan,dek?"Daniel mengalihkan ketegangan di antara keduanya.
Bening menggeleng gelengkan kepalanya.
"Mau minum kopi, mau? atau mau pizza?Ngopi yuk... udah lama nggak ngopi bareng...ada kopi Vietnam di sini..."kata Daniel tanpa ia sadari ia sudah dipelototi Widya.
Padahal tak masalah baginya untuk minum kopi lagi apalagi dimintai Daniel untuk ngopi bareng.Sungguh ia tak enak hati menolaknya.Tetapi ia tak ingin Widya menjadi semakin kesal.
Daniel terlihat kecewa karena tidak biasanya Gadis itu menolak ajakannya.
Makanan yang dipesan pun sudah tersaji di atas meja.Penataan makanannya sungguh menarik dan menggugah selera.
Widya meletakkan makanannya persis di depan Daniel.
"Kenapa liatin makanannya kayak gitu,Ben? Kamu mau? Ayo pesan aja..." ujar Widya.
"Nggak... nggak kok...aku cuma Ingat kak Bastian waktu dia ngejelasin porsi makanan yang imut? Ingat nggak sih? porsi imut itu kan seperti makanan yang kamu pesan ini..."kata Bening padahal sesungguhnya ia tahu maksud Widya menggeser makanannya tepat di depan Daniel.Gadis itu pasti minta disuapi.
Tak ingin nantinya wajahnya tak bisa diajak kompromi karena rasa cemburunya, lebih baik ia terlebih dahulu membentengi diri agar tak lagi membuat Widya semakin niat menggodanya.Untung saja bayang bayang kata kata Bastian di malam itu terbersit begitu saja di pikirannya.Dengan demikian Widya dan Daniel akan semakin berpikir Kalau dirinya dan Bastian memang sedang dekat.
"Cieh...cieh..yang udah mulai kebayang bayang...."goda Widya yang disambut gelak tawa dari Bening.
"Aku mau makan kuingat kamu...aku mau tidur kuingat kamu..."Widya malah menyanyikan lagu Maia Estianty yang berjudul ingat kamu untuk menggoda Bening.
"Apaan sih... suara kamu jelek..."kata bening.
__ADS_1
"Mentang mentang punya pacar yang suaranya bagus..."Widya mencebikkan bibirnya.
"Udah-udah...kita nggak punya banyak waktu..ayo dimakan sarapannya..."Daniel mengingatkan mereka.
"Suapin dong..."rengek Widya dengan sangat manjanya kepada sang pacar.
Benar saja dugaan Bening,gadis itu berubah menjadi sangat manja.Mungkin seperti itulah seseorang kalau bersama pacar.Padahal kan,bisa makan sendiri.Daniel melihat sebentar pada Bening.Entah apa maksudnya.Tetapi gadis itu berpura-pura mengambil botol minumannya dan meneguknya.
"Makan sendiri aja ya...malu diliatin orang..."ungkap Daniel.
"Ngapain malu? Mereka pasti ngerti lah...kan kita pacaran...atau kamu malu pacaran sama aku?malu punya pacar kayak aku?"
"Ssstt.....kamu ngomong apaan sih...kok jadi ngelantur gini..."Daniel berkata kesal.Wajah Widya berubah sendu.
Daniel meminta maaf dan segera menyuapinya.Meski awalnya, pacarnya itu masih merajuk dan belum mau membuka mulutnya,tetapi melihat tatapan Daniel yang penuh dengan perasaan bersalah ia pun membuka mulutnya dan mengunyah makanannya.
Bening menggeleng gelengkan kepalanya.Ia merasa aneh dengan sikap Widya hari ini.Widya yang ia kenal selama ini sangat mandiri.Mungkinkah setiap orang bisa berubah saat mereka pacaran?
Sungguh Bening merasa bosan dengan situasi yang ada.
Handphonenya berdering.Ia melihat nama Tante Vitha terpampang nyata di layarnya.
"Wid...ini mama kamu nelpon... gimana nih...?"panik Bening.
"Aduh... gimana dong....? nggak usah diangkat kali ya... pasti mami akan mikir kita lagi di jalan.. atau gimana?"tanya Widya panik.Ia sendiri juga sangat takut bagaimana harus menghadapi ibunya.
"Lebih baik diangkat aja dek.. Daripada tante Vitha langsung ke rumah sakit..."ujar Daniel.
"Tapi kan Mami belum tahu kita mau ke rumah sakit mana..."timpal Widya.
Bening pun melangkah cepat keluar dari restoran.Ia ingin menerima telepon di dekat jalan raya agar Bu Vitha bisa percaya bahwa mereka benar benar sedang berada di jalan ketika mendengar suara mobil yang lewat. pak
"Bruk...."Widya menabrak seorang pemuda yang mungkin seorang pengunjung resto.
Ia meringis memegang jidatnya akibat menabrak dada bidang pemuda berotot tersebut.
"Kalau jalan lihat di depan dong dek...jangan lihat handphone mulu..."Ujarnya kesal.
"Maaf...maaf pak... saya nggak sengaja..maaf..."ucap Bening malu.Ia tak sanggup menatap wajah pria asing tersebut.
"Beruntung kamu cantik... mood saya jadi bagus ngelihat wajah kamu yang Bening..by the way nggak usah dipanggil bapak kali..."ungkapnya sambil tak henti memandangi Bening.
"Permisi..."ucap Bening lalu berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
Saat hendak mengangkat telepon, panggilan tersebut telah terputus.Gadis itu mondar mandir, bingung harus menelepon balik atau dibiarkan saja sampai Bu Vitha akan meneleponnya kembali.