
Liburan tengah semester pun telah usai.Ayah Daniel pun sudah pulang ke negara asalnya untuk berobat dengan diantar pak Cahyo sahabatnya.Sebelumnya ia telah mengajukan kasasi ke pengadilan tentang putusan perceraiannya.
Tetapi karena kondisinya yang harus mendapatkan pengobatan segera secara intensif maka semuanya untuk sementara diurus oleh pengacaranya.Bu Melia juga turut berperan aktif perihal masalah tersebut.
Setiap hari ia intens berkomunikasi dengan ayah dari putranya tersebut untuk memberinya dukungan dan perhatian.
"Aku berangkat dulu mom..."pamit Daniel pada ibunya.
"Iya .. berangkat bareng Widya?"tanyanya.
"Iya mom...."jawabnya sembari tersenyum.
"Kalau gitu hati hati yah... jangan ngebut bawa mobilnya..."seperti biasa bu Melia mengingatkan putranya.
Daniel membawa mobilnya ke luar gerbang saat dilihatnya seorang pria yang bila ditebak seumuran ayahnya berdiri di dekat gerbang.
Karena penasaran,ia mengklakson beberapa kali.Pria itu tersenyum padanya.
"Selamat pagi,om... mau nyari siapa?"ujar Daniel yang sudah turun dari mobil.
"Pagi... Kamu Daniel ya..."tanya pria itu sok akrab.
Daniel yang mendengar namanya disebut, mengernyitkan dahinya.
"Om siapa?"tanya Daniel kemudian.
"Kenalin...saya,Andre... saya ini temannya mama kamu dari Jakarta..."pria itu memperkenalkan dirinya.
"Temannya mommy?"Daniel mengulangi perkataannya sembari merlihat pria itu secara saksama.
"Iya... temannya.. mommy kamu ada kan di dalam..."tanyanya seperti tak sabar untuk segera bertemu dengan ibunya.
Tak menjawab, Daniel terus saja memandangnya.Ia mengingat sesuatu.
"Sepertinya aku pernah melihat orang ini...di mana ya..?Oh iya... bukannya orang ini adalah pria yang bersama tante Vitha waktu itu?Aku yakin dia, orangnya.Kalau dia benar pacarnya tante Vitha, Ngapain dia nyari mommy?Dan jika dia adalah keluarganya mommy dari Jakarta,masa aku nggak kenal"gumam Daniel dalam hatinya.
"Hey... kok malah diam boy?"Daniel menjadi kaget dia memanggil dengan sebutan boy.Itu adalah sapaan kesayangan orang tuanya.Kenapa bisa pria itu memanggil demikian? Apa hanya kebetulan?Tapi masa sih?
Pikiran Daniel jadi tak karuan.
"Mommy tadi pagi sekali udah keluar om.." Daniel sengaja menjawab demikian karena didorong oleh rasa tak simpatinya kepada orang asing itu.
__ADS_1
Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya melihat perawakan pria itu apalagi dirinya juga sudah mendengar cerita Widya tentang kelulakuannya saat di mall.
"Emm..mm...tapi kata mommy kamu dia ada"pria itu juga tak mau kalah, mungkin saja dirinya tahu kalau putra bu Melia membohonginya.
"Masa sih om?tapi mommy nggak ada di rumah.Di dalam ada daddy saja.Mau ketemu daddy?."sanggah Daniel.
"Enggak... enggak.. nggak usah..."katanya berkali kali membuat Daniel semakin merasa aneh.
"Kamu tahu nggak mommy kamu ke mana? soalnya saya harus bertemu dengannya.."katanya lagi.
"Nggak tahu.Nggak sempat ketemu tadi.. mommy keburu pergi"Daniel meneruskan kebohongannya.
"Oh,gitu... boleh minta nomor mommy kamu nggak?"
Daniel semakin curiga, tadi katanya ia berkomunikasi dengan ibunya, sekarang malah minta nomor handphonenya.
"Maaf om...tapi saya tidak bisa memberinya.Tapi kalau om mau, nanti minta sama daddy saya aja.Saya panggilin daddy ya..."Daniel melihat pria itu langsung ciut saat ia menyebutkan ayahnya.
"Nggak usah..biar nanti lain kali saja"katanya lalu masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di dekat pintu gerbang.
"Sialan...saya dikerjai...ayah dan anak sama saja..heh... Lihat saja apa yang bakal saya lakuin ke mommy kalian.."gumamnya dengan segala rencana jahatnya.
"Mami mau nikah lagi, Wid..."ujar bu Vitha ketika putrinya siap untuk berangkat ke sekolah.Ia memejamkan matanya menahan kekecewaannya.
Karena tak ingin berdebat dan ribut Widya pu memilih untuk tidak menanggapinya.Anggap saja ia seperti tidak mendengarnya.
"Sebentar malam,dia akan datang ke rumah.."tambahnya membuat telinga Widya menjadi panas.
"Kenapa mami mau nikah lagi?"tanyanya masih berusaha menahan amarah.
"Ya, karena mami merasa sudah waktunya mami harus menikah lagi..."jawab bu Vitha.
"Aku harus tahu dulu mi...apa alasan mami mau nikah.Mami ingat nggak,mami pernah bilang mami menyesal pernah menikah sama papi? Mami juga bilang berkali-kali kalau mami nggak akan memilih jalan hidup seperti itu lagi? Nggak akan menikah lagi?Mami ingat nggak?"Widya pun akhirnya menjawab.Ia hanya ingin mengingatkan ibunya tentang kata kata yang selalu ia dengar.
Ia mengenal ibunya seorang yang berprinsip.Ia hampir tak pernah merubah keputusan yang menurutnya benar versi dirinya.
"Iya, karena laki laki yang satu ini sangat berbeda jauh dari papi kamu dan saya mencintainya.."jelasnya.
"Mami yakin?Cinta apa nafsu mi?"Widya tak peduli lagi bagaimana reaksi ibunya mendengar penuturannya yang ia sendiri tahu, tidaklah sopan.
"Widya!!!!!!! Nggak sopan banget kamu ya,berani kamu bicara begitu sama mami?"teriak bu Vitha rasanya ingin menerkam putrinya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Widya segera pergi meninggalkan ibunya dalam kondisi yang marah.Di dalam mobil pacarnya ia menumpahkan kekesalannya.Ia menangis sejadi jadinya.Dengan lembut Daniel mencoba menenangkannya.
Hari itu keduanya tidak masuk ke sekolah.Daniel membawa Widya pergi untuk bersenang senang.Ia takut penyakit asma milik pacarnya itu akan kambuh lagi sehingga saat gadis itu mengatakan tak ingin pergi ke sekolah ia pun menurutinya.
Padahal ia sendiri sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir dan membutuhkan persiapan yang ekstra.
Melihat tempat duduk Widya yang tak kunjung didatangi,Bening menjadi khawatir.
"Mudah mudahan kamu baik baik saja,Wid..."ujarnya dalam hati.
Saat istirahat berlangsung,ia segera bergegas menuju kelas kakaknya seperti biasanya membawa sarapan pagi untuknya.
"Dia nggak ada,beb.. ."ujar Bastian saat gadis itu hendak masuk ke kelas.
Bening langsung berbalik dan berlari menuju toilet barangkali kakaknya itu berada di sana sedang menjalani hukumannya lantaran terlambat lagi.
"Kak...kak Daniel..."ujarnya memeriksa setiap toilet tapi tidak menemukan pemuda itu di sana.
"Dia nggak datang,beb...Hari ini Daniel nggak masuk sekolah...alpa..."kata Bastian yang menyusulnya ke toilet.
Bening hanya memandanginya.Tak percaya dengan ucapan Bastian.Ia lalu berlari menuju halaman belakang sekolah.Barangkali pemuda itu ada di sana.
"Nggak ada kan?"kata Bastian yang terus saja mengikutinya.Ia tak juga menemukan pemuda itu di sana.
"Tapi kenapa kak? kenapa dia nggak datang?tadi pagi dia bilang sudah on the way ke sekolah?"ujar Bening panik dengan sebuah kotak bekal masih dipegangnya.
"Astaga... jangan jangan..."Bening mulai berpikiran yang buruk.Ia takut sudah terjadi apa apa pada kakaknya itu.
"Kamu berpikir dia mengalami kecelakaan, gitu.."tebak Bastian.
"Astaga...Kak Bastian nggak boleh ngomong gitu...Ih...amit amit..."Bening menggosok gosok tangannya sendiri mencari ketenangan.
"Ya,maaf beb...Aku salah ngomong.."Bastian tak menyangka Bening sampai sebegitu paniknya padahal bukan pertama kalinya Daniel tidak datang tanpa pemberitahuan dan sering kali juga terlambat.
"Iya...tapi jangan bilang gitu lagi ya,kak...Oh iya entar saya pinjam catatannya ya.."ujar Bening seperti biasanya.Jika Daniel tak masuk maka ia akan mengantar ringkasan pelajaran yang didapat di hari itu ke rumahnya.
Pemuda menatapnya sedih.Andai saja gadis itu sepeduli itu padanya.
"Kakak mau,ini nggak?"tawar Bening mengulurkan kotak yang ia bawa.
"Mau...mau... makasih beb..."jawabnya girang.Walau ia tahu bekal itu tujuannya bukan untuknya tapi ia merasa bahagia bisa mendapatkannya dari gadis pujaannya tersebut.
__ADS_1