
"Nih,mama telpon.Bentar ya,papa bicara sama mama dulu..."ungkap pak Cahyo lalu berdiri keluar ruangan.Bening hanya mengangguk.
"Hallo ma..."sapa pak Cahyo.Terdengar suara tangisan dari seberang.
"Ma, gimana keadaannya papa?"tanya pak Cahyo dengan rasa curiga.Tangisan yang terdengar tampak ramai dan semakin kencang terdengar.
"Papa nggak tertolong..papa udah nggak ada,papa meninggal..."ungkap bu Livia di sela tangisannya.
Pria itu terdiam sejenak,tak tahu harus berkomentar apa.Dipejamkannya matanya lalu menghidu nafas sebanyak mungkin.
"Ben,mana?Tolong sampein ke dia pelan pelan ya,pa?Kalian berangkat jam berapa? Langsung sore ini ya,biar Ben masih bisa ngeliat jasad kakeknya sebelum dikebumikan besok.."ujar istrinya karena berpikir mereka sudah memesan tiket keberangkatan mereka.
"Ini, saya masih di rumah sakit,ma.Nanti akan saya sampein ke Ben.Tapi sepertinya kami nggak bisa berangkat sore ini,ma.Nggak dapat tiket.Bentar saya coba cek lagi ya.Kalau berangkatnya besok pagi aja, gimana?"Pak Cahyo berusaha bernegosiasi tapi dengan tak membuat istrinya bertanya lebih banyak lagi.
Satu sisi ia seharusnya hadir di saat saat terakhir ayah mertuanya dan untuk memberi penghiburan serta penguatan kepada istrinya dan keluarga yang berduka.Tetapi di sisi lain ia juga tak mungkin meninggalkan putri semata wayangnya yang mengalami kecelakaan dan harus segera dioperasi untuk menghindari resiko kelumpuhan.
Tak disangka dua peristiwa sedih itu terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan tetapi meskipun marah, sedih dan kecewa pada apa yang dialami sang putri, tetapi ia masih merasa bersyukur, putrinya masih selamat dari kejadian naas tersebut.Karena itu sebagai seorang ayah dan juga seorang dokter ia harus bisa mengambil tindakan yang terbaik untuk menyelamatkan putrinya sebagaimana ia lakukan selama ini untuk para pasiennya.
"Kalau bisa sore ini,biar sore ini aja pa...aku udah minta tolong Melia buat cariin tiketnya, pasti dapat.Yang penting papa sekarang pulang dan siap siap.."saran bu Livia.
"Tapi saya ada jadwal operasi ma,lima belas menit lagi.Tolong bilang ke ibu,ya.Tapi sebentar akan saya kabari lagi ma..."meskipun sedikit kecewa dengan jawaban dan alasan yang diutarakan suaminya,tapi Livia tak ingin berdebat.
Padahal dalam situasi seperti itu ia sangat membutuhkan kehadiran suami serta anaknya di sisinya untuk menghiburnya.Apalagi di saat saat terakhirnya,sang ayah sangat ingin bertemu dengan cucunya tercinta, Sebening.
"Terserah papa aja, gimana baiknya.Ben,kok handphonenya gak aktif? Udah dari tadi saya coba hubungi?"tanya istrinya.
__ADS_1
"Oh... mungkin saja lagi dicas,ma..."jawab pak Cahyo gugup.
"Masa dicas sampai berjam jam pa..?Tumben banget..."ada keraguan mulai menyelinap di pikiran bu Livia tentang jawaban suaminya dari tadi.Mungkinkah ia menyembunyikan sesuatu darinya?
"Sebentar saya cek ke rumah ya..."padahal pak Cahyo sengaja menyuruh putrinya untuk menonaktifkan hpnya karena ia tahu pasti istrinya akan menelpon dan ia tak mau Bening keceplosan bercerita tentang apa yang sudah terjadi.Pak Cahyo juga tidak mau siapapun itu menghubungi putrinya.
Pak Cahyo menarik napas dalam dalam saat panggilan tersebut berakhir.Ia kembali masuk ke dalam ruang rawat sang putri.Tugasnya sekarang adalah bagaimana memberi tahu putrinya tentang kematian kakeknya.Bening pasti akan sangat bersedih dan menyesal jika mengetahuinya.Hal itu dapat menggangu pikirannya.
"Mama bilang apa,pa?Mama pasti marah sama Bening.Coba aja waktu itu aku nggak batalin liburannya, mungkin kecelakaan itu nggak akan terjadi"sesal Bening.
"Papa belum bilang apa-apa sama mama kamu..Nanti saja, setelah operasinya selesai.. Kamu udah siap, kan? Kita sekarang ke ruang operasi,ya..."Ujar pak Cahyo.
"Tapi, gimana kalau operasinya nggak berhasil,pa? Gimana kalau terjadi sesuatu?"Pertanyaan Bening membuat ayahnya merinding.
"Eh..,.,Nggak boleh berbicara seperti itu,ah..Kamu percaya sama papa kan? Papa janji akan melakukan yang terbaik.Tugas kamu adalah berdoa biar Tuhan merestui dan Tuhan sendiri yang mimpin operasinya..Oke? Semangat ya? Tunjukkin senyumnya dong..."Bening mengikuti permintaan sang ayah.Ia memberi senyum terbaiknya.Pak Cahyo langsung mengecup keningnya.
Semua prosedur sebelum operasi sudah dilalui Bening.
Sementara itu, Widya akhirnya sadarkan diri.Daniel yang berada di ruang tempat ia dirawat merasa sangat bahagia meskipun ia tidak berani untuk terlalu dekat dengannya karena merasa canggung dengan keberadaan bu Vitha di situ.
Wanita itu sejak tadi hanya diam dan terus memegangi tangan putrinya.Daniel terus memperhatikannya.Wajahnya terlihat sangat sedih dan khawatir bahkan menangis.
"Mi...."Ucap Widya.
"Iya, sayang... Syukurlah kamu udah sadar,nak...."bu Vitha berlutut dan menciumi tangan putrinya.
__ADS_1
"Mi...."Sahut Widya sekali lagi.Saat melihat sekitar,ia pun mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya.
"Jangan bicara dulu ya,nak..."pinta ibunya mengingat Widya masih menggunakan oksigen dan monitor.
Daniel keluar untuk mencari dokter,saat bu Vitha sekilas memandangnya.Ia seolah olah tahu apa maksudnya.Ia sebenarnya ingin juga berbicara dengan gadis itu untuk menyatakan rasa syukurnya karena sudah sadar, tapi tetap saja tidak berani.
Sebelum dipanggil, beberapa petugas kesehatan masuk untuk melihat keadaan Widya, sedangkan Daniel memilih untuk keluar saja.Di lorong ia melihat ibunya sedang menanyai petugas.Padahal dirinya tak memberi tahu apa apa.
"Mommy..."panggil Daniel.
"Boy.... kamu di sini juga?"ujar ibunya.
"Iyo, mom... Widya kecelakaan.., Mommy kok tahu?"tanya Daniel penasaran.
"Iya, mommy ditelpon sama om Cahyo, katanya si adek kecelakaan dan sekarang mau dioperasi"Daniel terbelalak mendengarnya.
"Apa?Dioperasi?Apanya yang dioperasi mom?Adek terlihat baik baik aja tadi..."Daniel merasa aneh dan heran karena tadi Bening tak bilang apa-apa, tidak mengeluh atau bercerita apa pun.
"Tapi mommy udah konfirmasi kok.. Adek sekarang sudah di ruang operasi.Kata mas Cahyo dia mengalami cedera pada tulang belakang, kalau tidak segera ditangani bisa lumpuh..."kata kata itu bagai petir di telinga Daniel.Ia merinding mendengarnya.Daniel menutup mulutnya tak percaya.
Gadis itu tidak mengeluh sedikitpun, bahkan ia selalu bilang agar kakaknya terus memantau keadaan Widya.Jadi Daniel pun berpikir bahwa dirinya baik baik saja.Leher pemuda itu rasanya seperti tercekik.
"Mommy ke ruang operasi dulu, ya.Mau nungguin adek."ujar bu Melia.
Tanpa berkata sepatah katapun, Daniel mengikuti langkah ibunya.
__ADS_1
"Kasihan banget si adek,mana mamanya masih di Jakarta lagi.Livia nggak bisa pulang, kakeknya Ben meninggal dan mas Cahyo nggak bilang tentang kondisinya si adek, padahal mereka seharusnya berangkat sore ini.Mommy udah beli tiketnya tapi tak disangka begini kejadiannya.."Daniel memegangi kepalanya frustasi.
Ia berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi.Pikirannya tidak tenang.Rasa penyesalan yang teramat sangat dalam melandanya.