Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.66


__ADS_3

"Kamu sudah keterlaluan.Dari tadi mami coba untuk bersabar tapi kamu malah semakin menjadi jadi, Widya..."bu Vitha berkata dengan suara bergetar saking emosinya.


"Nggak apa-apa mi.Kalau mami mau tampar lagi,tampar aja.Mami emang nggak pernah sayang sama Widya.Mami lebih percaya om Andre daripada aku..."Widya berkata dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Bukan karena mami nggak percaya sama kamu.Tapi cara kamu yang salah.Nggak sopan.Kamu bicara dan orang tua, nggak begitu caranya..."jelas bu Vitha.


"Enggak mi, mami emang lebih percaya orang lain daripada anak mami sendiri.Dari dulu mami selalu saja begitu.Bahkan lebih percaya sama Bening dibanding aku.Apa itu yang namanya sayang?"urai Widya.


Pak Andre juga sudah meninggalkan mereka tanpa menyelesaikan persoalan.Sedangkan Bening yang mendengar namanya kembali disebut menjadi serba salah.Ia ingin menenangkan Widya tapi ragu mengingat kondisi Widya yang masih diselimuti amarah.Jika mundur untuk pulang berarti ia sama seperti om Andre dan rasanya tidak mungkin untuk melakukannya.


"Kamu sendiri yang sudah membuat mami tidak percaya sama kamu.Kamu bilang sama mami kamu nggak pacaran tapi nyatanya kamu pacaran kan sama anak bule itu?Kamu berubah menjadi tukang bohong dan tidak sopan.Jangan kira mami nggak tahu apa yang sudah kamu lakuin.Mami kenal kamu, sangat kenal.Mami tahu jika ada sesuatu yang kamu tutupi.Bening sudah banyak membantu kamu bahkan berkorban untuk memenuhi permintaan kamu meskipun tak sesuai dengan nuraninya.Jadi wajar kalau mami percaya sama dia tapi bukan berarti lebih percaya dari kamu.."bu Vitha memandangi Bening dengan rasa bersalah.


"Kamu kabur bersama pacar kamu itu, kamu berbohong dengan menjadikan penyakit kamu sebagai alasan,kamu memaksa Bening untuk meminta izin dan ikut berbohong seperti kamu"Bu Vitha menggeleng gelengkan kepalanya.


Widya langsung berpikir kalau Bening pasti sudah mengadu kepada ibunya tentang semua yang mereka lakukan selama ini.Jika bukan demikian bagaimana ibunya mengetahui semuanya.


"Kamu ngadu Ben,sama mami?Iya?"Widya mendekati Bening.


"Enggak Wid,aku nggak pernah cerita sama tante.."Bening meyakinkan Widya.


"Nggak mungkin,Ben.Aku nggak percaya.Gimana mami sampai tahu semuanya?Aku nggak nyangka kamu setega itu sama aku.Penjilat tahu nggak."tuduh Widya.


"Astaga Wid, aku nggak pernah bilang apa-apa ke mami kamu.."ujar Bening.


"Bening nggak pernah cerita sama mami.Jadi kamu jangan sembarang nuduh.Kamu nggak malu sudah berbicara asal sama orang yang sudah banyak membantu kamu? Lagian kamu nggak perlu tahu darimana mami tahu.Zaman semakin canggih, dengan teknologi yang ada sangat gampang untuk mengetahui semuanya?"


jelas bu Vitha.


"Oh gitu? Terus kenapa mami nggak tahu kelakuan pacar kesayangan mami itu? Kenapa nggak mencari tahu juga?Apa karena mami nggak sanggup menerima kenyataan kalau tahu yang sesungguhnya karena mami sudah ngebet pengen nikah kan?"tantang Widya dengan kata katanya yang tetap tidak sopan.


"Karena mami percaya sama dia"ungkap sang bunda.Bening tertawa sinis mendengar penuturan ibunya.


"Ternyata emang benar.Mami memang nggak pernah sayang sama aku.Atau jangan jangan aku ini bukan anak mami?"Wajah Widya tampak memerah menahan marah.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara kamu...Kamu nggak takut dosa?"kata bu Vitha.


"Nggak usah ngomong tentang dosa mi.Jika bukan karena takut dosa aku pasti pacarannya kelewat batas.Nggak kayak mami, cium ciuman..."


Plakk.Belum sempat Widya melanjutkan perkataannya, pipinya kembali ditampar bahkan lebih keras dari sebelumnya.


Widya memegang pipinya menahan sakit.Air matanya mulai jatuh.Bening hendak memeluknya tetapi Widya mundur berapa langkah.


"Jangan pura pura baik kamu.Aku benci sama kamu,Ben.Kamu sengaja melakukannya karena kamu nggak terima Daniel lebih memilih aku,kan?Kamu sebenarnya cinta kan sama, Daniel? Berpura-pura jadi adik yang baik.Kamu ngadu ke mami biar mami ngelarang aku pacaran dan mutusin Daniel,kan?"Bening berkaca-kaca mendengar semua tuduhan Widya.


Hatinya sakit dan sedih,Widya yang sudah dianggapnya sahabat,tega berbicara seperti itu.Sekeras apa pun ia berusaha menjelaskan tapi tetap saja Widya tidak mempercayainya.


"Aku benar kan?"Ulang Widya.


"Widya stop..."teriak bu Vitha.Kepalanya menjadi semakin pusing melihat kelakuan putrinya.


"Mami yang stop.Aku nggak mau lagi ngomong sama mami.Aku akan pergi ke rumahnya papi.Dan kamu,sini.Kita harus bertemu Daniel dan bicarain semuanya biar Daniel tahu apa yang sudah kamu lakuin..."Widya menarik tangan Bening dengan kasar dan membawanya ke mobil.Ia memaksa dan mendorong tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Wid,tolong tenang dulu.Kontrol emosi kamu"ujar Bening dengan air mata yang terus mengalir.


"Wid, please... tolong berhenti.. apa yang kamu lakuin ini berbahaya..."Bening memohon dengan mengatupkan tangannya.


"Enggak...Kamu lebih takut aku ceritain semuanya ke Daniel,kan?"Widya malah tersenyum sinis melihat ekspresi Bening.


"Kak Daniel hanya mencintai kamu,Wid..Dia hanya menganggap aku adiknya.Tolong percaya."jelas Bening terus mengocok kedua telapak tangannya.


"Heh...kamu pikir aku percaya?"Widya semakin meningkatkan kecepatan mobilnya.


"Wid... lihat di depan?"teriak Bening.


Widya yang mendengarnya menjadi kaget.Tiba tiba dirinya diserang panik dan merasa dadanya seperti ditindih beban berat.Ia kesulitan mengendarai mobil karena rasa sesak mulai menyerang.Kepalanya pusing dan pandangan kabur.


"Widya,awas.....!!!!!!!!!!!!!!"teriak Bening.Dengan cekat ia menggiring mobilnya ke samping untuk menghindari mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi di depan mereka.

__ADS_1


BRAKKKKK


Tabrakan itupun tak mampu dihindari.Meskipun mereka berhasil menghindari truk tapi mobil yang mereka bawa menabrak sebuah pohon besar yang ada beberapa centimeter dari bahu jalan.


Perlahan Bening membuka matanya saat beberapa orang mengetuk pintu mobil mereka.


Entah bagaimana ceritanya ia yang tadinya duduk kini malah telentang dengan tempat duduk tak lagi tegak.Sepertinya Bening terlempar ke belakang.Ia bangun untuk melihat keadaan Widya.


Auh.... Bening merasakan nyeri yang teramat sangat hebat di rusuk tulang belakangnya.Beberapa kali ia mencoba duduk tak bisa akibat nyeri dan juga posisinya yang tidak nyaman.


Digigitnya bibir bawahnya sambil menggeser badannya untuk meraih gagang pintu mobil.Setelah berapa kali mencoba ia pun berhasil membuka pintu.Keringat dingin mengalir membasahi wajahnya.


Para warga yang sudah menunggu dibukanya pintu langsung masuk untuk melihat keadaan mereka.


"Tolong bantuin teman saya pak.Dia pingsan..."Bening berurai air mata saat melihat sepintas Widya yang duduk dengan kepala meniduri stir mobil.


"Iya,dek...kita tunggu polisi dan ambulansnya datang.Nadinya masih berdenyut dan nafasnya juga masih ada"terang seorang pria yang langsung meraba nadi Widya.


"Kamu nggak apa-apa?Kami bantuin kamu keluar ya?"Ujar yang lainnya.


"Tolong bantu temen saya dulu pak..Dia nggak sadar.Tolong segera bawa dia ke rumah sakit.."mohon Widya.


"Iya mbak..itu mobil polisi dan ambulansnya sudah datang..Nanti mereka sendiri yang akan mengevakuasi kalian.Sabar ya.."Bening mendengar sirene ambulans mendekat ke arah mereka.


Gadis itu bernafas lega.


"Tetap kuat,Wid...kamu akan segera ke rumah sakit...Wid,kamu harus sadar ya..Kamu harus kuat.. Saya janji meskipun benar saya menyukai kakak, tapi saya tidak akan mengkhianati kamu Saya janji..."kata Bening dengan suara parau tapi ia tak bisa menyentuh Widya.Kakinya terasa keram.


"Pak tolong ambilkan handphone saya di tas..."pinta Bening.Setelah mendapat handphonenya ia segera menghubungi Daniel.


"Hallo kak...Saya dan Widya kecelakaan..."cerita Bening dengan suara bergetar.


"Apa? Dimana,dek?Kok bisa? Widya gimana?"Daniel ter,dengar panik.

__ADS_1


"Widya belum sadar kak tapi ini sudah ada ambulans.Widya akan segera ke rumah sakit?"Bening menberitahu rumah sakit yang akan mereka tuju setelah didengarnya dari satu petugas biar Daniel langsung ke sana saja.Bening merasa semakin nyeri saat berbicara karena itu ia memutuskan panggilannya.


Hatinya menjadi semakin sedih saat Daniel tidak menanyakan keadaannya sama sekali.Gadis itu kembali menangis.Ia ingat kedua orang tuanya dan sangat membutuhkan kehadiran mereka saat itu juga.Semakin ia menangis nyeri yang dirasakan menjadi kian hebat.


__ADS_2