Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.108


__ADS_3

Hingga senja berlalu, Bening tetap berada di rumah Bastian, menunggu pemuda itu pulang.Untuk pertama kalinya ia melakukannya dan ternyata tak semudah pemikirannya.Ia merasa sedih karena Bastian tak kunjung datang.Makanan yang ia masak pun, sudah dingin padahal niatnya pemuda baik hati itu langsung mencicipinya setelah ia memasaknya.


Bening terus melirik jam di tangannya dan mengamati handphonenya, barangkali saja, Bastian akan menghubunginya.Lagi lagi ia harus menelan rasa kecewanya.


Ia pun mulai merenungi apa yang sudah dilakukannya.Tak ada penyesalan karena tak mendapat apresiasi.Meskipun malu karena memikirkan alasan apa yang akan diberinya jika nantinya Bastian bertanya kenapa ia tiba tiba berlaku demikian.Tapi ia memberi ruang pada hatinya untuk menerima tantangan dan berani melakukan sesuatu yang tak salah untuk dilakukan.


Selama ini Bastian selalu baik padanya, menemaninya dalam berbagai aktivitasnya dan tak pernah mengeluh saat menunggu.Oleh karena itu,apa yang kini dilakukannya tak urung membuatnya menyerah.


"Mas Bastian pasti padat jadwalnya hari ini,dok... Tadi pagi saya sempat dengar dia punya project baru.. mungkin main film..."Bening hanya tersenyum saat bu Mila mencoba menenangkannya.


"Tapi kalau mas Bastian tahu,dokter sudah bela belain memasak untuknya dia pasti akan senang banget, nggak mungkin dia biarin dokter menunggu seperti ini..."kata bu Mila lagi.


"Nggak apa-apa bi... bukan salah dia juga... akunya aja yang nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini... niatnya mau bikin surprise sih...tapi nggak apa-apa..."Bening balik menenangkan orang yang bekerja siang dan malam di rumah Bastian tersebut.


"Dokter nggak kapok kan, untuk masak lagi nanti?"tanya bu Mila khawatir.


"Enggaklah bi...Aku pulang dulu ya,bi... nanti kalau kak Bastian pulang, bilangin... sorry nggak sempat masakin dia buat makan malam..."ujar Bening.


"Iya non...ini juga udah cukup banget.Tinggal dipanasin nantu... sekali lagi, maaf ya dok..."kata bu Mila setelah berada di depan pintu untuk mengantar Bening.


"It,s okay... nggak apa-apa bi..."Bening pun masuk ke dalam mobilnya dan membawanya pulang ke apartemen.


Ia ingin segera beristirahat jika telah sampai di apartemen.Ternyata kepulangannya telah ditunggu oleh Daniel di lobi.Pemuda itu sebenarnya tahu Bening pulang dari mana, karena ia mengikuti mobil gadis itu saat keluar dari rumah sakit.Saat tahu, ternyata Bening ke rumah Bastian ia pun memilih pulang kemudian sore harinya ia kembali ke apartemennya.Daniel berpikir Bening akan bertemu Malvin.


Meskipun iri saat gadis itu mengunjungi Bastian tapi Bastian tetap bernapas lega.


"Selamat sore, dek..."sapa Daniel.

__ADS_1


"Sore kak...,mau ketemu siapa?"Bening tak mau percaya diri jika pemuda itu menemuinya karena jika demikian ia biasanya menunggu di depan pintu apartemennya.


Daniel yang mendengar Bening memanggilnya kakak, merasa tersanjung.


"Kalau boleh,aku mau ngajak adek keluar buat makan malam..."katanya merendahkan suaranya.


"Boleh... tapi aku mau mandi dulu, nggak apa-apa?"Daniel mengangguk berkali kali mendengarnya.


"Boleh..aku akan tunggu..."jawab Daniel.


"Ya, udah yuk... nunggu di atas aja, biar aku buatkan kopi..."Mata Daniel bersinar ceria mendengar tawaran adiknya.


"Makasih dek..."seperti ditiup angin segar, pemuda itu mengikuti langkah Bening.Ia terus tersenyum dan bersyukur dalam hatinya karena Bening telah luluh.Ia ingin melompat setinggi mungkin untuk mengekspresikan rasa bahagianya.


"Selamat sore mbak..."sapa Bening saat mbak Yuyu menyambut kedatangannya.


"Ayo, duduk dulu kak.... Bentar ya,aku buatin kopinya..."mbak Yuyu semakin heran majikannya bisa bersikap demikian.Sangat sangat berbeda dari sebelumnya.


Daniel yang tahu ada tanya pada ekspresi wajah orang kepercayaannya itu, memberinya kode agar tak bertanya apapun.


Dengan mengikuti saran Bening, Daniel pun duduk di sofa ruang tamu.Ia tak henti-hentinya mengucapkan syukur dalam hatinya untuk apa yang ia alami.Benar - benar mukjizat, pikirnya.Adiknya yang dulu telah kembali.


Daniel sampai menutup matanya saat aroma kopi mulai tercium.Kerinduannya untuk menikmati momen tersebut kini telah terwujud.Bagai terhipnotis oleh aroma tersebut pikirannya seperti membayangkan dirinya tengah berada di alam bebas dengan kebahagiaan dan ketenangan yang luar biasa.


"Silahkan diminum kak..."ucap Bening yang kini telah duduk di hadapannya dengan secangkir kopi telah ia letakkan di depan kakaknya.


"Terima kasih banyak,dek..."rasanya Daniel tak ingin tejaga dari imajinasinya sendiri tetapi ia tak ingin dianggap tak menghiraukan adiknya tersebut.Diambilnya cangkir tersebut dan dipegangnya dengan sangat hati-hati, bagai sedang menerima harta karun yang telah lama dicari.

__ADS_1


"Sama sama... silahkan diminum, takut keburu dingin..."ucapnya dengan senyumnya membuat Daniel tak merasa curiga sedikitpun.


"Terima kasih,dek...ini yang minum saya sendiri?"tanya Daniel sangat berhati-hati.Untuk ke sekian kalinya ia menghaturkan terima kasih.


"Iya, aku mau siap siap dulu,biar nggak terlalu lama nanti..."Bening tak kalah lembutnya.


Daniel membawa Bening ke hotelnya.Hotel yang tidak lama lagi akan diresmikan.Tetapi ia sengaja membawanya sebelum hari undangannya dengan maksud biar gadis itu tahu bahwa dialah wanita istimewa yang menjadi inspirasinya membangun hotel tersebut


Saat ia tahu adiknya tersebut memilih untuk bekerja di Jakarta ia ingin mendedikasikan hotel tersebut untuknya sebagai hadiah karena di kota tersebut adiknya itu telah meraih cita-citanya.Hal itu juga ia lakukan sebagai bentuk penebusan untuk waktu yang begitu lama menghilangkan kebersamaan mereka.


Daniel mengajaknya berkeliling untuk mengenalkan pada gadis itu sebagian besar ciri khas hotel tersebut.Senyum dan tawa menghiasi obrolan mereka.Tak bosan bosannya Daniel memandangi gadis itu hingga mereka pun sampai ke lantai paling atas di atapnya.Di sana terdapat kamar yang didesain khusus, rooftop cafe and restoran yang staycation dengan pemandangan langit kota Jakarta yang indah.


Bening memandang sekitarnya.Ia merasa takjub saat cahaya lampu dan hiasan yang indah telah tertata di sana.


"Happy nggak,dek...?"tanya Daniel.


"Happy banget..."Bening mengangguk.


"Makasih ya..."ucap Daniel.


"Kok malah kakak yang berterima kasih? Harusnya aku dong...?"ujar Bening.


"Nggak apa-apa.Aku berterima kasih karena udah mau diajak ke sini.I am so happy for this moment.."Daniel meraih tangan Bening dengan lembutnya.


Bening merasa aliran darahnya mengalir lebih terasa.Jantungnya berdegup kencang.Tak ingin kakaknya bisa merasakannya ia pun buru buru melepaskannya.Ia harus fokus pada tujuannya memenuhi ajakan kakaknya.Ia tak boleh terlena dengan semua yang disuguhkan dan sikap Daniel untuknya.


"Kak, boleh kita langsung makan aja?Aku harus segera pulang.Aku baru ingat aku ada janji..."ujar Bening saat handphonenya berbunyi.Bastian menghubunginya.

__ADS_1


"Oh,iya... boleh.."Daniel harus memenuhi permintaan gadis itu agar tidak membuatnya kecewa meskipun dirinya sendiri merasa sedih, Bening masih tak ingin menerima sentuhannya.


__ADS_2