
Pesta barbeque tengah diadakan.Para wanita sibuk dengan menu bakaran masing-masing sesuai selera.Sedangkan pak Cahyo dan pak Darwin hanya duduk ngobrol sambil memandangi para wanitanya beraksi.
"Liv...tadi aku ketemu bang Andre di lobi..."ujar bu Melia sambil membolak-balikkan sate cumi dan udang yang tengah dibakar.
"Andre?Andre siapa?"tanya sahabatnya.
"Itu...bang Andre Thimoty..itu lho Mel..."tak melanjutkan perkataannya bu Melia ingin agar sahabatnya itu mengingat siapa bang Andre baginya dulu.
"Oh...Andre mantan tunangan kamu, bukan?"tebak bu Livia.
"Iya,Liv..."bu Livia melihat ada yang berbeda saat sahabatnya itu menceritakan pertemuannya dengan mantan tunangannya.
"Kok bisa?Dia liburan ya sama keluarganya..by the way kok daddy Darwinmu itu ngelihatin terus dari tadi, kayak takut aja kamu bakal diculik atau kabur.? Kamu ngerasa nggak sih? Terus itu wajah kamu merona...cie...cie... "bu Livia menggodanya.
"Apaan sih,Liv... justru itu...dia itu lagi kesal kayaknya sama aku..."Bu Melia pun menceritakan bagaimana reaksi pak Darwin saat ia tadi bertemu dengan mantan tunangannya dulu.
"Nggak salah juga sih Mel, kalau daddy sampai bereaksi seperti itu..wajar kok....si Andrenya aja yang nggak tahu diri... nggak sopan juga caranya berbicara.Tapi..kalo nurut aku nih ya, daddy Darwin harusnya bersyukur sih, kalau dulu dia nggak mutusin hubungan kalian dan kamu nggak kabur ke sini mungkin kalian nggak berjodoh.."kata sahabatnya memberi penilaian berdasarkan cerita bu Melia.
"Iya sih.. tapi kan jodoh itu udah Tuhan yang ngatur,Liv..."sanggah Bu Melia.
"Iya, aku tahu.. maksud aku biar daddy Darwin nangkap sisi positifnya aja..."jelas bu Livia.
"Baik kalau dia berpikiran begitu.Dia pasti masih marah Liv,aku hafal dan tahu benar kalau dia cemburu pasti bawaannya bete..."
"Pasti kamu tahu tahu juga lah gimana caranya nyenengin dia biar bete-nya ilang..."ujar sahabatnya.
"Iya,aku tahu penawarannya..tapi kan kami nggak mungkin ngelakuin itu..."bu Melia menunjukkan wajah sedihnya.
"Emang apa?"bu Livia pura pura bertanya seperti tak bisa menebak apa apa.
"Making love..."bisik bu Melia malu.
"Wow... sampai berapa sesi?"naluri kejahilan bu Livia semakin menjadi jadi.
"Apaan sih, Liv... kamu mah enak...sama mas Cahyo nggak ada masalah..."sanggah sang sahabat.
"Siapa suruh?Eh....becanda kok"ujar Bu Livia padahal ia hanya bermaksud agar sahabatnya itu menikmati malam pergantian tahun dengan tanpa beban apalagi momen ini sudah lama dinanti nantikan.
Keduanya pun bercerita.Sebagai sahabat yang baik,bu Livia lebih banyak mendengarkan dan memberi masukan tanpa menghakiminya.
Tak berbeda dengan Widya, Daniel dan Bening.Mereka juga sibuk dengan menu bakaran mereka masing-masing.
"Yah... gosong..."ujar Widya menunjukkan jagung hasil bakarannya yang tampak menghitam.
__ADS_1
"Sama...nih punya aku juga..."tunjuk Daniel sambil tertawa.
"Kok bisa sih.Nih punya aku enggak.?"Bening menunjukkan hasilnya.
"Iya...ya...adek jago sih...beda dengan kami..."kata Daniel.
"Ye...kan nggak sampai butuh keahlian yang gimana juga kak... Tinggal dibolak balik aja..."kata Bening.
"Tapi gagal mulu dari tadi,Ben"Widya menunjukkan wajah sedihnya.
"Ya, udah ... lagian kamu juga nggak boleh berdiri terus Wid... nggak boleh capek..udah ya... kamu duduk sana...biar aku aja yang ngelanjutin..Ayo kak... nemenin Widyanya duduk biar dia ada teman ngobrolnya..."Kata Bening kepada keduanya.
Melihat Bening yang sibuk sendirian ayahnya berdiri menghampirinya disusul pak Darwin.
"Wow... harumnya... jadi nggak sabar pengen makan..."kata sang ayah.
"Emangnya,entar papa mau makan?"tanya Bening terus membolak-balikkan sate ayam dan sosis kesukaan Daniel dan Widya.
"Kayaknya...aku coba yang ini ya.."kata ayahnya.
"Oke pa...tapi ya ini buat kak Daniel sama Widya ya .."kata Bening lalu dengan langkah cepat membawa jagung yang sudah ia olesi bumbu ke tempat sepasang kekasih itu duduk.
"Thank you,dek..."sahut Daniel.
"Wah... makasih ya, Ben..."tambah Widya dengan wajah senang.
"Iya,nak...kamu juga duduk gih sana,sama Daniel dan Widya...biar kami yang lanjutin..."kata pak Darwin tak tega melihat Bening yang sudah ia anggap seperti putrinya, bekerja sendirian.
"Nggak apa-apa om...aku senang kok... siapa tahu nanti bisa nyambi profesi.. dokter dan Cheft..."jawabnya melucu padahal dalam hatinya ia sendiri merasa sedih melihat Daniel dan Widya berpacaran di depannya.
Meski mereka tak melakukan apa-apa selain ngobrol tetapi tetap saja hatinya cemburu.Karena itu ia memilih untuk sibuk sendiri biar tak fokus pada sepasang kekasih itu.
"Kamu itu...ada ada aja.. Hebat sih cita citanya. Emang bisa dua duanya?"tanya pak Darwin terkekeh.
"Iya, dua profesi yang membutuhkan waktu yang banyak juga konsentrasi yang full,berat buat dijalani bersamaan.Yang ada nanti kamu bakal stress dan nggak menikmati jadinya..."tambah pak Cahyo.
"Ayo... semuanya... waktunya makan..."ujar bu Melia ketika semua menu sudah siap di atas sebuah meja panjang yang sudah tertata rapi dengan bantuan para pelayan.Mereka pun menikmati makan malam bersama.
Benar benar famiy time.Mereka bisa bercanda, tertawa hingga melakukan obrolan secara intens di antara kebersamaan mereka.
Tak lupa mereka saling memberikan saran untuk resolusi di tahun yang baru dengan harapan bisa mencapainya terutama kesembuhan pak Darwin.
Tibalah pada acara berikutnya,yaitu bermain truth or dare.Mereka melakukannya dengan ditemani kopi juga minuman yang lain untuk mengusir rasa kantuk sampai waktu pergantian tahun tiba.
__ADS_1
Permainan ini dilakukan dengan menggunakan botol yang diputar di atas meja.Botol tersebut akan menunjuk pada seseorang.Seseorang yang mendapat giliran atau ditunjuk oleh botol tersebut, harus menerima tantangan dari yang lain, dapat berupa ( Truth )/jujur atau ( dare )/tantangan.
Apabila mendapat truth harus menjawab jujur pertanyaan yang diberikan namun apabila mendapat dare harus menerima apapun tantangan yang diberikan.
Permainan pun dimulai.Sebuah botol sudah diletakkan di atas meja sedangkan mereka duduk melingkar mengelilingi meja tersebut.
Dengan dipimpin pak Richard,botol itu pun mulai diputar.Putaran pertama menunjuk tepat pada bu Melia.Sahabatnya,ibunda Bening pun berinisiatif memberikan pertanyaan.
"Truth or dare?"tanyanya.
"Truth..."jawab bu Melia yakin.
"Oke, baiklah... dengarkan baik baik pertanyaan saya..."ujar bu Livia membuat yang lainnya tersenyum.
"Apa yang kamu pikirkan ketika bertemu mantan?"itulah pertanyaannya yang membuat Bu Melia kaget.
"Berterima kasih kepada Tuhan.Karena dengan menjadi mantannya saya dipertemukan dengan jodoh saya.My son's father..I love you dad.."ujar bu Melia menahan rasa malunya.
Ia memilih berkata demikian karena semenjak tadi di lobi ia terus memikirkan cara terbaik agar membuat pak Darwin tidak kesal lagi, tidak cemburu lagi.Ia hanya tak ingin, pria itu stress yang berpengaruh terhadap kesehatannya.Karena itu ia berharap jika dengan mengucapkannya,pak Darwin akan merasa bahagia.
"I love you more ,mom.."benar saja pak Darwin membalasnya dengan senyuman bahagia juga dengan tangannya menyentuh bibirnya sendiri melakukan ciuman simbolik.
"Ehm..."pak Cahyo berpura-pura batuk, membuat mereka tertawa.
Widya mulai berpikir dalam hatinya, andai orang tuanya bisa seperti orang tua Daniel, bermasalah tetapi memilih untuk saling memaafkan.Ingin rasanya ia menangis apalagi jika mengingat sang mama.
Botol itu kembali diputar dan menunjuk pada Daniel.
Sama seperti ibunya ia memilih truth.Pertanyaan untuknya pun diberikan oleh Widya.
"Apakah kamu pernah jatuh cinta kepada sahabatmu?"tanya Widya membuat Daniel terbelalak.
Dengan harap harap cemas Bening menunggu jawaban Daniel.
"Tidak.Aku hanya jatuh cinta sama kamu.."Daniel begitu tegas mengatakannya membuat sang pacar tersenyum haru.
Tak terukur bagaimana sedihnya Bening mendengar jawaban itu.Daniel pernah berkata padanya bahwa ia menganggapnya seperti adik sendiri, sahabatnya.Jawaban itu untuknya.Ingin rasanya menangis tetapi ia dengan sekuat tenaga tersenyum tak ingin merusak suasana yang sudah tercipta.Kedua orang tuanya dengan cara mereka membalas senyumannya seakan akan mengisyaratkan sebuah kekuatan.
Kini tibalah giliran Bening saat botol itu menunjuk padanya.Dengan cepat Daniel memberi pertanyaan untuknya.
"Adakah rahasia yang kamu sembunyikan dariku?"tanyanya.
"Ya...aku punya rahasia besar.Aku jatuh cinta kepada seseorang tetapi kamu malah melarangku untuk berpacaran..."jawab Bening membuat Daniel langsung kecewa.Ia merasa terjebak dalam pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
Saat giliran pak Cahyo dan istrinya, mereka memilih dare dengan tantangan menyanyi bagi pak Cahyo yang suaranya tak karuan juga tantangan meniru adegan komedi bagi bu Livia, semua itu mereka pilih agar mereka semua bisa tertawa walau sebenarnya sepasang suami istri tersebut bertujuan menghibur hati sang putri tercinta.
Malam itu mereka lalui dengan bahagia.Hingga waktu menunjukkan pukul 00.00,bersama dengan acara terakhir yaitu pesta kembang api mereka masing-masing mengucapkan harapan untuk tahun yang baru, semoga menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.