
"Kita mau ke mana,kak?"tanya Bening penasaran saat ia sudah duduk di dalam mobil Daniel.
"Ada deh...bawel banget sih dek..."kata Daniel dengan senyum menggoda.
Setelah menempuh setengah perjalanan, Daniel turun di depan sebuah toko bunga.Sedangkan Bening hanya menunggu di dalam sambil mendengarkan musik.
Selama ini, rasanya gadis itu tak pernah membuatnya kecewa dan Daniel selalu menerima kebaikannya.Mungkin karena merasa bahwa dirinya adalah salah satu orang yang penting bagi gadis tersebut sehingga sering kali ia berbuat sesuka hatinya tanpa mempedulikan perasaannya.
Seperti halnya hari ini, banyak sikap, tingkah laku dan tutur kata Daniel yang ia sadari telah melukai perasaannya.Daniel tahu, Bening pasti sedih dan marah padanya dan biasanya seorang wanita yang sedang marah itu pasti sudah tidak ingin lagi mendengar penjelasan apapun lagi jika sudah terlanjur sakit hati.Tetapi berbeda dengan Bening, rasanya sangat mudah baginya memaafkan orang lain termasuk dirinya.
Menyadari hal tersebut, Daniel pun berpikir tidaklah salah baginya untuk meminta maaf dengan penuh kesungguhan hati.Apalagi sekarang,ia telah diapiti oleh orang orang yang menyukainya dan hal itu membuat Daniel tidak terima serta merasa terancam posisinya.
Untuk itulah sekarang, Daniel berada di dalam sebuah toko bunga sebagai bentuk keseriusannya meminta maaf.Sebelumnya ia selalu mengajaknya untuk pergi ngopi bareng saat pikiran terasa penat atau sebagai bentuk terima kasih tetapi kali ini ia ingin melakukan hal yang berbeda.
Cara untuk meminta maaf dengan sebuah bucket bunga merupakan sebuah ide yang dianggap sangat tepat untuk meminta maaf seperti yang dilakukan kebanyakan pria.Bening tak suka coklat,jadi bunga bisa jadi pilihan.Biasanya wanita akan luluh hatinya saat diberi bunga dan merasa dirinya istimewa.
"Permisi mbak,saya mau beli bunga.Tetapi kalau bunga untuk permintaan maaf itu, cocoknya bunga apa?"tanya Daniel yang tak ingin salah dalam memilih bunga.
Karena itu sebelum membeli,ia ingin tahu arti dari sebuah bunga yang diberikan.Jangan sampai nanti bunga yang ia berikan mengandung arti yang lain apalagi Bening adalah gadis yang cerdas sehingga tak menimbulkan kesalahpahaman.
"Oh...mau minta maaf sama pacarnya ya?"tanya penjaga toko tersebut.Daniel bingung mau menjawab.Ia pun memilih untuk tersenyum saja dan mengangguk.Pikirnya biar tidak ada pertanyaan lagi tentang hal itu, toh Bening juga tak mendengar pembicaraan mereka.
"Kalau untuk permintaan maaf bisa dengan mawar putih,tulip putih atau anggrek putih.."jelas sang penjaga toko.Daniel pun memilih mawar putih dan membawanya ke mobil.
Seperti yang sudah banyak diketahui orang, bahwa bunga mawar termasuk ke dalam jenis bunga wajib yang diberikan kepada pasangan atau orang tercinta.Hal ini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan atau wujud permintaan maaf.
Siapa yang tak kenal atau menyukai bunga yang sudah populer di seluruh belahan dunia.Terlebih lagi untuk bunga mawar berwarna putih, memiliki bentuk kelopak yang sangat sejuk di mata, sehingga menjadi pilihan yang tepat untuk sebuah permintaan maaf.
Bening hanya tersenyum saat Daniel membuka pintu mobil dengan sebucket bunga di tangannya.
"Wah... bunganya bagus...sini aku bantu pegangin..."ujar Bening.Daniel bingung harus bilang apa saat gadis itu malah berucap demikian.Ia pun menuruti permintaan Bening dengan memberikan bunganya.
"Kamu suka nggak?"Daniel melihat Bening menghirup aroma dari bunga tersebut dengan wajah ceria.
"He em..suka banget.."Bening sampai menutup mata saat kembali menghidu aroma bunga tersebut.
"Syukurlah kalau kamu suka.."Daniel berucap.
"Memangnya kita mau ketemu siapa sih kak?kita ke rumah Widya lagi ya?"Bening menjadi semakin penasaran setelah melihat bunga tersebut.
Daniel memandangnya heran.
"Bukan..Masa nggak tau ini jalan ke mana?"jawab Daniel santai
"Ke rumah kakak.."Bening menjawab setelah menengok keluar.
"Itu tau .."sahut Daniel.
Padahal yang dimaksud Bening adalah bunga yang sekarang ada di pangkuannya hendak diberikan kepada siapa.Kalau tahu tujuan mereka pergi maka ia pun bisa menebak bunga itu untuk siapa.
"Kok nggak bilang terima kasih, bunganya?"tanya Daniel setelah mereka turun dari mobil.
Bening memandangnya sejenak kemudian tersenyum.
__ADS_1
"This is for me?"tanya Bening senang.
"Em...mm...maybe"Daniel tak menoleh padanya tapi terus melangkahkan kakinya.
"Thank you..."teriak Bening sembari mencium dan memeluk bunganya.Ia sangat bahagia.
"Tungguin dong...masa aku ditinggal?"teriaknya sedikit berlari mengejar langkah kakaknya.
Pria itu malah lebih mempercepat langkah kakinya.Ia bersembunyi di balik pintu.Sudah lama sekali ia tak pernah menjahili adiknya tersebut.Tiba tiba saja kerinduan itu muncul.Rindu melihat ekspresi kaget dan kesalnya Bening,rindu bagaimana ia mengomel setelah berhasil dijahili.
Bening berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan.Daniel pun segera melompat keluar untuk mengagetkannya.
"Booo..."katanya dengan keras.
Bening kaget.Ia memegang dadanya dengan mata tertutup.Daniel tertawa kegirangan karena usahanya berhasil.
"Kak Daniel,ih...."Bening ingin menggelitik laki laki tersebut tetapi keburu Daniel menghindarinya.
"We....."Daniel mencebikkan bibirnya mengusilinya seperti sedang mengganggu bayi dengan bermain ciluk ba.
"Awas ya, kalau aku dapat ya...."Bening berlari mengejarnya.Ia sangat bersyukur dengan apa yang ia alami sekarang, sungguh moment yang telah lama hilang kini kembali lagi.Dengan bersemangat ia berusaha mendapati kakaknya tersebut sehingga tak fokus lagi dengan apa yang ada di depannya.
"Brukk..."kakinya terantuk ujung sebuah meja kaca.
Daniel menoleh dan kaget melihatnya.
"Astaga adek..."teriaknya saat melihat Bening terduduk memegang lututnya yang sakit.
Bening sekuat tenaga menahan sakitnya agar Daniel tidak panik.
"Mom... mommy.."teriaknya.Mendengar ia berteriak pak Darwin yang sedang beristirahat di dalam kamar pun keluar.
"Pa... gimana nih..."ujarnya tak bisa menyembunyikan kepanikannya apalagi saat darah menembus celananya.
"Kamu apain anak gadisnya orang?"pak Darwin malah menggodanya.
"Nggak ngapa-ngapain.Dia terbentur pa...kakinya nabrak ujung meja .."Bening sangat bahagia melihat ekspresi wajah Daniel yang khawatir.
"Sakit banget,nak?"tanya pak Darwin yang menangkap arti lain dari ekspresi Bening.
"Nyeri dikit om... seperti digigit semut"Jawab Bening.
"Boong... kamu pasti nahan sakitnya,kan?"cerca Daniel.
"Ada apa boy? Kenapa teriak?Eh....Udah dari tadi nak?"tanya Bu Melia yang muncul dari dapur.
"Astaga,ini kenapa lututnya?"Bu Melia juga menjadi panik.
Daniel pun menceritakan kejadiannya.
"Nggak apa-apa kok tan... mungkin robek sedikit.Makanya berdarah..."Bening menenangkan mereka padahal sesungguhnya ia hanya menahan sakitnya.
"Diobatin aja mom..."ujar pak Darwin pada Bu Melia.
__ADS_1
Bu Melia pun membawa Bening ke kamarnya.Daniel mengikuti langkah mereka.
"Kamu nunggu di luar aja boy..."kata bu Melia saat Daniel juga hendak masuk ke dalam kamar.
"Ada yang bisa aku bantuin nggak ma?Dek, sorry ya"ujarnya untuk ke sekian kalinya.
"Nanti kalau ada, mommy pasti akan bilang ke kamu.. Tapi kamu harus siap bertanggung jawab ke orangtuanya"Bu Melia menutupi pintu kamar membiarkan anaknya tanpa ekspresi mendengar penuturannya.Ia segera memeriksa luka pada lutut Bening.
Karena gadis itu mengenakan celana panjang,maka ia harus membukanya agar lebih mudah bagi Bu Melia mengobatinya.
Alhasil,ia pun menggunakan sarung.
"Ini lukanya lumayan juga nak.. tante obatin ya..."Bu Melia dengan telaten membersihkan dan mengobatinya.
"Maaf tante.."ucapnya.Ia hanya meringis saat lukanya semakin perih karena diberi obat merah.
"Perih ya, nak?"Bu Melia dengan lembut meniup area luka.
"Lumayan tan..."jawabnya.
"Boy...boy...ada ada aja.. kayaknya setiap kamu ke sini pasti ada saja insiden yang membahayakan kamu, kalau nggak terpeleset, terbentur.."omelnya.
"Aku yang ceroboh tante..kak Daniel nggak salah.."Bening membela putranya.
"Kamu itu ya, selalu aja belain dia.."setelah memberi perban pada lukanya Bu Melia membuka lemari pakaiannya untuk melihat celana yang pas dengan ukuran tubuh Bening karena tidak memungkinkan baginya untuk mengenakan celana panjang lagi.
Beberapa potong celana dikeluarkannya untuk mencocokkan dengan ukuran pinggang gadis itu.Sepertinya tak ada yang pas.Bu Melia berpikir sejenak.
Ia pun mengambil sebuah gaun yang telah lama sekali ia simpan.Gaun yang ia dapatkan dari mertuanya sebelum ia menikah dengan pak Darwin.
Sudah belasan tahun lamanya tetapi tetap terawat.Sesekali ia mencucinya agar tidak berbau apek akibat terlalu lama disimpan.
Pasti pas untuk ukuran tubuh Bening karena dulunya saat ia menerima gaun tersebut ukuran tubuhnya persis seperti ukuran tubuh gadis tersebut.
"Coba pakai gaun ini ya?"katanya lembut.
Saat melihat model, ukuran, corak juga warnanya Bening langsung jatuh cinta.Terlihat sungguh istimewa di matanya.
Dengan senang hati Bening mencobanya.Benar saja, ukurannya sangat pas.Bu Melia sampai terpaku melihatnya.
"Gimana,tan?"tanya Bening yang mengharapkan penilaian dari Bu Melia.
"Wow..you look so beautiful..."puji bu Melia karena memang benar adanya.
Bening memandangi dirinya di depan cermin.Wajahnya mengukir senyum.
"Kamu suka?"Bu Melia memegang bahunya.
"Suka banget,tan..."Bening memeluk Bu Melia.
"Kalau kamu suka,gaun ini buat kamu aja.."Bu Melia membelai rambutnya yang dibiarkan terurai.
"Beneran,tan?"tanya Bening tak percaya.
__ADS_1
"Iya,bener..Kamu tahu nggak,gaun ini tante rawat hampir 20 tahun.Ini pemberian mertua tante sebelum tante menikah dengan papanya Daniel."cerita Bu Melia.Matanya berkaca kaca mengenang semuanya itu.