Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.23


__ADS_3

Dengan lembutnya Bastian membagikan makanan yang menjadi jatah Bening lalu meletakkannya di depan gadis tersebut.


"Selamat makan..."ucapnya lembut.


"Makasih kak... selamat makan buat kita berempat..."jawab Bening yang kikuk dengan cara Bastian memperlakukannya.


Merekapun pun menikmati makanan yang ada.


"Setelah dari sini rencananya mau ke mana kak?"tanya Widya pada Bastian di sela makan.


"Nggak tau... kalian? Setelah ini rencananya mau ke mana?"ia malah bertanya balik kepada Widya.


"Ada deh...mau tau aja..."timpal Daniel dengan wajah tak sukanya.


Bastian tersenyum mendengarnya.Ia berusaha untuk lebih sabar di depan Bening dan tidak terpancing dengan kata kata Daniel untuk menghargai perasaan gadis itu.


"Kita rencananya mau shopping dulu.Mau ikut?"tanya Widya kemudian.


"Emangnya kamu ikut,beb?"Bastian bertanya pada Bening.Gadis itu tengah serius mengunyah makanannya.Karena terburu buru ia menjadi kesulitan menelannya.


Melihat hal itu Daniel dan Bastian secara bersamaan mengambil segelas air putih dan memberikannya.Ketiganya terdiam.Untung menghargai Widya, Bening memilih untuk menerima gelas dari Bastian walaupun ia tahu Daniel pasti tersinggung dan kecewa.


Karena itu gadis itu pun tak mau menatapnya.Biar saja Daniel marah daripada Widya karena ia akan kesulitan menghadapinya nanti.


Bastian kini tersenyum dengan kemenangannya.Saking gembiranya ia dengan semangat melahap makanannya termasuk semua lauknya dan sambalnya.Padahal dia mengenal dirinya sendiri yang tak terlalu suka dengan sambal.Ia tak tahan dengan pedisnya.


Tak ada sebab, air mata kini mengalir di pipinya.Wajahnya memerah.


Widya yang sedari tadi melihat carannya makan tertawa terbahak bahak.Ia sampai memegang perutnya.


Daniel yang geli melihat ekspresi Bastian ikut tertawa.


"Kok nangis,bro? Enak ya sambelnya?"Daniel makin niat menggodanya.


Sebenarnya Bening juga ingin tertawa tetapi ia menjadi kasihan melihat Bastian sekuat tenaga menahan pedas.


"Astaga kak Bastian...stop... berhenti kak...kenapa maksain diri kalau nggak mampu...mau nunjukin ke siapa? untuk apa?"marah Bening membuat Widya dan Daniel terdiam seketika.


Bening meraih segelas air putih dan memberikannya.Bastian tersedak hingga batuk.Mungkin saja ia malu sampai makanannya masuk ke saluran pernapasan.


Bening menepuk nepuk punggung belakangnya.


"Makasih beb..." ujarnya sembari melap air matanya menggunakan tissue.


"Perih banget ya, sampai keluar air mata gitu..."tanya Bening dengan mimik khawatir.

__ADS_1


"Nggak kok, beb..ini aku menangis karena terharu..."Bening mengernyitkan keningnya.


"Beneran... Nggak pedas pedas amat.Ya, seperti kata Daniel tadi...Standar...aku nangis karena terharu dengan perhatian kamu.Thank you yah...." ucapnya antara bercanda atau sungguh-sungguh.Tetapi tingkahnya tak bisa berbohong.Berkali kali ia meneguk air putih dan menghembuskan udara dari dalam mulutnya seperti hendak meniup balon.Mungkin untuk membuat efek dingin di lidah dan bibirnya.


"Apaan sih? masih sempet sempetnya bercanda.Heran deh...ngaku aja kalau kepedasan.."Bening mengomelinya dan menggeleng gelengkan kepalanya mendengar kalimat sejuta bualnya Bastian.


"Aku serius beb..."tambahnya lagi.


"Udah ya...Wid, kalau udah selesai kita lanjut yuk?"kata Bening tak mau mendengar lagi kata apapun dari pria tersebut.Ia mendadak kesal.


"Ya,udah yuk..."ajak Daniel.Setelah membayar tagihan makan, mereka berdiri.Sedangkan Bastian tetap diam di tempat duduknya sambil memegangi perutnya ia meringis kesakitan.Buliran keringat halus terlihat jelas di keningnya.


Entah mengapa, rasanya tak tega untuk tak berpamitan padanya.Karena itu Bening menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Bastian.


"Astaga...kak...kak Bastian...."Bening berlari ke arahnya dan melihat dari dekat wajah Bastian yang sudah pucat dan lemah.


"Wid... ayo bantuin...kak Daniel..."teriaknya dengan suara gemetar.


"Kak Bastian kenapa,kak?kak...."Bening mengguncang guncang bahu Bastian.


"Dek,maag aku kambuh...ini beneran... tolong cariin aku obat..."ujar Bastian dengan suara parau.


Untuk pertama kalinya laki laki itu memanggil Bening dengan sebutan lain dan itu tandanya ia sedang serius.


"Kamu nggak lagi akting kan, bro? Nggak ngerjain kita kan?"ujar Daniel yang masih belum percaya meski sudah melihat Wajah Bastian yang berubah pucat.


Sedangkan Widya sibuk meminta bantuan para pekerja di situ.


"Cepat bu... teman saya tiba-tiba lemas setelah makan nasi campur.Perutnya sakit, katanya..."lapor Widia panik.


Beruntungnya pemilik rumah makan tersebut mengenal Bastian saat melihatnya.


"Astaga Bas...Kamu?Jadi kamu sudah di sini dari tadi?"ucapnya lalu meminta bantuan para pekerjanya untuk membawa Bastian ke ruangan belakang.


"Maag kamu pasti kambuh...makan sambel ya tadi?Bas...bas..."omelnya lalu mengambil kotak P3k yang ada di ruangan tersebut.Setelah membukanya ia memilih sebotol obat yang terdapat gambar organ lambung di luarnya.Dituangnya ke sendok dan memberinya kepada Bastian.


"Ayo diminum..."perintahnya.


Bastian menerima obat tersebut lalu segera meminumnya.


"Tadi pagi kamu makan nggak?"tanya ibu itu.


Bastian menggeleng lemas.Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa.Sedangkan ketiga temannya masih tak menyangka akan kejadian yang baru saja mereka alami.Bastian yang dikenal kocak dan periang tiba tiba berubah menjadi sosok tak berdaya.


"Bas....Bas...kamu tuh ya, udah tau nggak sarapan, makan sambel lagi..sok jagoan kamu...mau lomba sama siapa sih? "ibu pemilik rumah makan tersebut terus saja mengomel.

__ADS_1


"Gimana kak, udah mendingan belum?Kita ke rumah sakit aja ya..Ayo Bu....kita ke rumah sakit aja.."kata Bening khawatir.


Bastian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.Ia ngeri mendengar Bening menyebut rumah sakit tempat yang tak ingin ia datangi.


"Udah mendingan kok..makasih ya...Dan..Wid. .Kalian boleh pergi kok...aku udah nggak apa-apa..."ujarnya.


"Gimana kak?"tanya Widya meminta persetujuan dari pacarnya.Daniel malah memandang kepada Bening.


"Wid.... sorry..aku nggak bisa ikut.Kasian kak Bastian kalau langsung ditinggal... kamu sama kak Daniel saja ya, shoppingnya..."kata Bening memohon pengertian dari sepasang kekasih itu.


"Tapi Bastian udah mendingan tuh, katanya.Terus nanti siapa yang antarin kamu pulang?"Daniel yang belum bisa menerima adiknya memberikan perhatian kepada laki laki lain, mencari cari alasan yang bisa membuat Bening ikut dengannya.


"Nggak apa apa kak.. nanti aku naik ojek aja.."Bening tetap kekeh pada pendiriannya.Toh, sejak awal ia sebenarnya enggan untuk pergi bertiga.


Sekarang rasanya ia sudah menemukan alasan yang tepat.Tentang Widya,ia pasti bisa menghadapi ibunya sendirian jika ia terlambat pulang ke rumah ataupun jika ibunya tahu ia pergi bersama Daniel.Tak ada salahnya juga jika Bening tetap berada di situ,tak meninggalkan Bastian begitu saja walaupun pria itu berkata dirinya sudah lebih baik.Bukan karena ia ingin membalas kebaikannya selama ini untuknya tetapi sebagai teman haruslah ia bersikap demikian.


"Ya, udah... Kalau gitu kami duluan ya,kak...Ben kalau ada apa-apa kabari kami...get well soon..."ucap Widya tanpa menunggu persetujuan Daniel.


"Oke... have fun ya...salam buat tante Vitha...Oh iya, jangan lupa diminum vitaminnya dan kamu masih ngutang traktir ngemall ke aku"pesan Bening yang disambut senyum sumringah sahabatnya.


"Kamu kenapa nggak ikut aja?aku nggak apa-apa ditinggal..ada tante Elisa juga.."ujar Bastian.


"Nggak apa-apa... kesehatan kakak lebih penting .."ungkap Bening sontak membuat telinga Daniel memanas mendengarnya.Dadanya bergerumuh.Ingin sekali berbalik dan membawa adiknya pergi dari situ.


Widya merasa tangan Daniel yang digenggamnya berkeringat.Tapi ia berpikir mungkin pria itu nervous.


Setibanya di parkiran Widya menunggu kekasihnya membuka pintu untuknya.Ia terus saja berdiri di samping mobil.Daniel yang pikirannya masih kacau malah diam saja menunggu.


"Ih... nggak peka banget sih..."omelnya.


"Ayo,Wid... tunggu apalagi..."ujarnya dari dalam mobil.


Gadis itu pun mengalah.Ia juga tak mungkin memberi tahu sang pacar apa keinginannya.Dibukannya pintu kemudian duduk dengan wajah kesal.


"Mau ngemall di mana?"tanya Daniel.


Widya pun memberi tahu mall yang ingin ia datangi.Lalu keduanya diam.Widya merasa Daniel tak sesemangat saat ada Bening menemani mereka.


Sedangkan Daniel kini tak bisa fokus.Kata kata Bening terus terngiang ngiang di telinganya.Ia menyesal kenapa tadi tidak berdebat dengan adiknya itu dan memaksanya untuk ikut bersama mereka.


Ada apa dengannya? Harusnya sekarang ia senang memiliki waktu berduaan dengan sang pacar apalagi mereka baru saja semingguan jadian.


Cemburukah iya?Masa cemburu sama wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya?


Tetapi bukankah cemburu merupakan respon yang alami dan sangat wajar ketika seseorang merasa terancam akan kehilangan sesuatu yang berharga, misalnya perhatian, orang yang disayang atau hubungan.

__ADS_1


Berkali-kali ia menghela nafas panjang.Ia benar benar bingung.


__ADS_2