
Daniel mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Widya.Dia merasa heran sebab Widya dengan entengnya menyebut Bening sebagai penolongnya padahal dari tadi ia telah menunjukkan ketidaksukaannya pada gadis tersebut.
"Kok malah diam? Kamu nggak suka ya,aku ikut?Aku pasti akan jadi pengganggu kan nanti..?."Widya asal bertanya.
"Kamu kenapa?Kenapa selalu beranggapan sesuai pikiran kamu saja?"walau dalam hatinya Daniel merasa kecewa dengan perkataan Widya tetapi ia tetap berbicara dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
"Aku senang kalau kamu ikut.Pasti adek juga sama.Dia akan senang kalau kamu ikut.Mommy,daddy,om Cahyo dan tante Livia juga"Daniel meyakinkan Widya.
"Terus gimana nanti kalau mami nggak ngizinin?"Gadis itu malah terlihat ragu padahal baru beberapa menit yang lalu ia begitu yakin akan mengantongi izin ibunya jika yang memintanya adalah Bening.
"Nanti kita sama sama bilang ke adek ya..."ucap Daniel pada akhirnya berhasil menenangkan pacarnya.
"Jadi, sekarang kita akan ke mana?"tanya Widya.
"Kamu ada pilihan?aku ikut kamu saja.."Daniel memilih untuk mengikuti kemauan pacarnya ke mana ia mau pergi.
"Gimana kalau kita cari kado saja untuk besok?"usul Widya.Karena Daniel juga berpikiran sama maka ia pun menyetujuinya.
you
Setibanya di sebuah Mall Daniel dan Widya langsung mencari kado yang mereka mau.
"Gimana kalau kita nyarinya di tempat yang berbeda?"ujar Daniel.
"Kenapa?"Widya sedikit keberatan.
"Yah kalo kita saling tahu sekarang apa yang menjadi kado kita jadinya nggak surprise dong nanti?"Jelas Daniel.
Keduanya pun berpencar.Daniel langsung mencari sesuatu yang sudah ada di benaknya.
Saat ia sibuk untuk memilih barang yang ia mau, matanya menangkap sosok adiknya yang sedang berjalan bersama Bastian.Ia begitu kesal saat keduanya berbincang sambil tertawa.Tanpa pikir panjang ia pun terus mengikuti keduanya.
"Kalau yang ini beb?"Bastian mengangkat sebuah kemeja untuk meminta pendapat Bening agar menilainya.
__ADS_1
"Hmmm.... kayaknya warnanya terlalu ngejreng kak... tapi kalau kakak suka nggak apa-apa,biar ambil saja..."kata Bening.
"Nggak kok...aku juga mikirnya sama... gimana kalau kamu aja yang milihin?biar cepat kelar"pinta Bastian.
Bening mengindahkan permintaannya kemudian segera memilihkan pemuda itu baju agar bisa segera pulang.
Bastian memiliki jadwal menyanyi di dua tempat selain di cafe&resto milik ayahnya belum lagi pada hari tahun baru.Karena Itu ia pun menyiapkan semuanya dengan baik termasuk busana yang akan ia pakai.Jika Bening yang memilih baginya sama seperti gadis itu yang memberinya.Hal itu akan menambah rasa percaya dirinya.
Saat Bastian masuk ke kamar ganti Daniel mengagetkan Bening dari belakang.
"Astaga kakak... ngagetin aja..."Bening mengelus dadanya.
"Katanya ke rumah sakit,kok malah di sini?"tanya pemuda itu.
"Udah pulang kok tadi..."jawab Bening.Bastian hanya benar benar memenuhi anjuran dokter untuk melakukan kontrol ulang setelah beberapa hari ia diberi pengobatan karena diare.Tetapi karena sudah tidak ada keluhan lagi maka tak butuh waktu yang lama untuknya berada di rumah sakit.
"Kalau gitu,langsung pulang, yuk..."Daniel menarik tangannya.
"Nggak bisa dong,kak...aku ke sini bareng kak Bastian jadi pulang juga harus bareng dia..."tolak Bening.
Sementara itu,Widya yang tengah mencari sosok Daniel dikejutkan oleh sebuah pemandangan.Ia yang kini berdiri di depan sebuah toko perhiasan melihat ibunya bersama pria yang tadi dilihatnya di hotel.
Diam diam ia memantau apa yang mereka lakukan.
Sepertinya mereka tengah memilih perhiasan.Widya melihat ibunya mencoba sebuah cincin kemudian menunjukkannya kepada pria yang tangannya terus bergelayut di pundaknya.
Bibir keduanya selalu mengukir senyum.Tak lama berselang,pria itu memakaikan sebuah kalung pada sang bunda.Dengan lincahnya. ia menyibakkan rambut ibunya yang dibiarkan terurai agar tak menghalanginya mengaitkan kalungnya.
Setelah kalung tersebut terpakai,pria itu mencium punggung Bu Vitha yang terbuka karena rambutnya sudah diatur ke depan.Widya merasa geli dan geram melihatnya.Ia ingin mendekat, berteriak dan memarahi pria tersebut karena sudah berani melakukan hal tak beretika tersebut terhadap ibunya.
Ia heran melihat reaksi ibunya.Bukannya marah,ia justru tersenyum bahagia.
Siapakah pria itu?Kenapa ia berani menyentuh ibunya? Tidakkah mereka malu dengan para pegawai toko dan juga orang orang yang sedang berada di situ? Mungkinkah ibunya sedang dimabuk asmara kehilangan harga diri?
__ADS_1
Widya menjadi tidak tenang.Ia ingin segera mengetahui secepatnya siapa pria itu.Setelah selesai membeli perhiasan keduanya berjalan ke luar dari situ.Keduanya berjalan bergandengan tangan bahkan terkadang tangan pria itu merangkul pinggang Bu Vitha.
Widya merasa sangat risih.Saat keduanya masuk ke dalam lift ia ingin masuk juga biar dengan adanya ia di antara keduanya bisa mencegah sesuatu yang aneh terjadi.Pikiran Widya benar benar sudah dipenuhi hal hal negatif tentang keduanya.
Meskipun ia berlari untuk bisa masuk ke dalam tetapi ia terlambat.
Ia tak ingin menunggu giliran berikutnya.Ia tak ingin terlambat.Dengan menggunakan eskalator ia ingin ke lantai yang dilihatnya menjadi tujuan ibunya.Keringat mulai mengalir dari dalam tubuhnya.
Widya terus mengejar langkah sang bunda yang tengah menuju mobil yang terparkir masih dengan rangkulan tangan.
Ia kembali memilih bersembunyi saat ibunya masuk ke dalam mobil.Gadis itu menutup mulutnya dan memejamkan matanya saat kembali melihat apa yang dilakukan oleh ibunya dan pria itu ketika sudah di dalam.
Mereka berciuman bibir seperti yang Widya kerap kali nonton di drama Korea.Terapi karena pelakunya adalah ibunya sendiri ia menjadi jijik untuk melihatnya.Ia meringkuk seperti seorang anak kecil yang ketakutan.
Jantungnya berdegup kencang, berdetak tak karuan.Keringat dingin keluar dari pori-porinya.Ia benar benar syok.Kepalanya tiba tiba menjadi pusing.
Widya sungguh tak percaya ibunya yang selama ini tegas, berwibawa telah menjadi seorang wanita yang tak bermoral dan kehilangan harga diri.
Bagi anak seusianya,apa yang sudah dilakukan sang bunda tidaklah pantas.Ia tak bisa menerimanya.Ibunya benar benar tidak tahu malu mempertontonkan hal tersebut di tempat umum.
Setelah mobil itu berlalu,Widya terduduk lemas.Nafasnya memburu.Untung saja Bening yang baru tiba di parkiran, pandangannya langsung tertuju padanya.
"Astaga, Wid....Wid... kamu kenapa?"panggil Bening lalu memeluk tubuhnya yang lemah.Bunyi nafas mengi khas seorang penderita asma kembali terdengar dari nafasnya.Penyakit Itu pun kambuh dan menyerangnya.
"Kak Bastian, tolong bantu kak..."teriak Bening.Ia menjadi panik.Melihat itu, Bastian langsung turun dari mobil dan mendekati keduanya.
"Wid....kuat ya.... jangan pingsan ya, please..."Bening memohon mohon dengan beruarai air mata.Ia benar benar tak tega melihat sahabatnya itu kesulitan bernapas.Entah apa yang membuat Widya sampai seperti itu tapi Bening merasa ia sangat terluka.
"Kak tolong pegangin..."pinta Bening.
"Iya...iya..."jawab Bastian dengan gugup, takut,panik, bercampur menjadi satu.Sedangkan ia langsung membuka tas yang dibawa Widya mencari sesuatu yang selalu dibawa gadis itu ke mana mana.
"Kamu bawa inhaler kan?"Widya hanya bisa mengangguk lemah.
__ADS_1
Bening tersenyum lega saat berhasil menemukan benda itu.Tanpa membuang waktu lagi ia langsung memakaikannya pada sahabatnya.