Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.100


__ADS_3

"Selamat siang..."sapa Bastian dan Meva yang datang bersamaan.Bening merasa heran melihat keduanya.


"Kenapa liatinnya kayak gitu? Kamu pasti bingung ya,kami datang bersamaan?"cerca Meva dengan wajah jahilnya.


"Tadi ketemu di supermarket.Karena kami punya tujuan yang sama, jadi barengan deh..."jelas Bastian.


"Tujuan yang sama itu, maksudnya tadi kan kamu minta aku buat belanjain bahan makanan yang kamu tulis tadi, ternyata kak Bast juga gitu.Ya udah kita belanja bareng deh,aku yang milih bahannya, kak Bast yang dorong trolinya,eh ternyata ada juga yang ngeliat dan fotoin.Setelah semuanya kebeli,kak Bast bisikin ke saya untuk segera pulang.Eh, wartawan itu ngikutin kami sampai di parkiran.Belum ada lima menit kami jalan beritanya dah keluar.Mereka itu ternyata kayak hantu ya,ada di mana mana..."cerita Meva kesal.


Bastian tersenyum mendengar celotehannya.


"Tapi kamu senang kan?"tanya Bening dengan senyum yang menggoda sahabatnya itu.


"Senang apanya?"Meva berpura-pura tak mengerti.Ia merasa malu jika ketahuan Bastian kalau ia menikmati momen itu.


"Ya,seneng.. senanglah kalau digosipin sama kak Bastian.. Apalagi udah berapa kali selama sepuluh tahun kita sering ngumpul bareng, baru kali ini digosipin..Bagi aku itu suatu apresiasi sih...eh sorry kak,kakak nggak marah kan?"tanya Meva menyadari kata katanya.


"Nggak apa apa,Mev... santai aja... Udah biasa kali..."timpal Bastian lalu merebahkan diri di sofa.


Melihat hal itu keduanya pun diam diam menuju dapur.


"Dia pasti capek banget, kasihan.."celetuk Meva.


Bening memperhatikan ekspresinya.


"Cieh...ada yang khawatir.. Tapi ia sih, mungkin kalau soal kerjaan nggak terlalu nguras energi banget.Pasti dinikmatiin tapi yang jadi persoalan itu seringkali karena yang ngejalanin profesi itu kayak ruang privasinya jadi sedikit berkurang..tapi yah... begitulah resikonya jadi publik figur.."kata Bening lalu mulai mengeluarkan bahan bahan yang akan dia masak.


Bening akan memasakkan Bastian soup ayam kampung bumbu jahe kesukaannya seperti yang sudah ia janjikan bahwa ia akan meluangkan waktu memasak untuk pemuda tersebut.


"By the way,kamu mau masak soup ayam jahe lagi?"tanya Meva.


"He eh...., kesukaannya kak Bastian,dia kan nggak suka yang tumis tumis gitu,Mev..."jawab Bening.


"Iya, sih...aku tau..tapi dia nggak bosan apa makan soup yang itu mulu,jahe lagi...jahe lagi... ganti menu yang lain kali..."ujar Meva.


"Kan nggak tiap hari,Mev... kalau dia ke sini aja..Makanan sama minuman berjahe itu kan menambah imunitas.Dia juga requestnya gitu, jadi ya aku ngikut aja.Gimana dong?"jelas Bening.


"Nanti aku coba bilangin deh,aku nawarin dia menu yang lain..."ide Meva.

__ADS_1


"Boleh...boleh ganti menu...ide yang bagus.. nanti kamu yang masak ya..."kata Bening.


"Yah, jangan dong...aku,mana bisa?Tapi ajarin dong Ben..., siapa tahu suatu hari nanti kamu diboyong abangku ke Amerika,kak Bastian nggak bakal kehilangan banget..ada aku yang bakal masakin dia, buatin dia minuman andelannya..."ujar Meva membuat Bening tertawa.


"Kamu itu ya,emang kamu pikir cuma soal masak makanan sama buatin minuman doang? Segitu dangkalnya ya hubungan kami selama bertahun-tahun kalau cuma soal itu.."Bening seperti tak terima kata kata sahabatnya.


"Terus apa dong?"cerca Meva.


"Hmmmm, gimana kalau kita fokus masak aja? Udah jam berapa nih?ayo buruan bantu..."Bening memilih tak menjawab.


"Ini juga udah bantu..."Ucap Meva sambil memotong wortel.


"Aku bantuin ya, non..."kata mbak Yuyu yang masuk ke dapur setelah mengerjakan pekerjaan yang lainnya.


"Nggak usah mbak... istirahat gih,di kamar.Nanti kalau sudah selesai aku panggilin..."ujar Bening.


Keduanya pun sibuk memasak dengan kolaborasi yang baik dari keduanya.


Saat makanan telah dihidangkan di atas meja, Bening pergi membangunkan Bastian.Pemuda itu tampak tidur dengan lelapnya membuat Bening tak tega untuk membangunkannya.Tetapi sudah waktunya makan siang.


"Selamat siang..."sungguh kaget Bening saat mendengar suara itu.Ia yang tengah berjongkok di samping kepala Bastian hendak membangunkannya, langsung mundur ke belakang.


"Kebiasaan..."Bening mengusap dadanya lalu berdiri dan memasang wajah kesalnya.


"Maaf dek... tadi yang bukain pintu mbak Yuyu. Sebenarnya aku nggak berniat mau ngagetin, cuma lihat kamu mau itu..."pikiran Daniel benar benar kacau.Ia mengira Bening hendak menciumi Bastian.Pemuda itu tidak akan mungkin membiarkan hal itu terjadi.


"Mau apa? Pasti mikirnya aneh aneh.."tebak Bening.


"Iya, emang aku mikirnya aneh.. Maaf ya..."lagi lagi Daniel meminta maaf.


"Hey...."Bastian pun bangun karena mendengar keduanya berdebat.


"Sorry kak.. jadi kebangun deh.."ucap Bening.


"Nggak apa-apa... Udah dari tadi,Dan?"tanya Bastian sambil mengelus tangan Bening yang berdiri di dekatnya.


"Enggak... barusan aja kok..."Daniel terlihat kesal melihat aksi mereka.

__ADS_1


Ia mencoba meredamnya.Mungkin dirinya harus lebih dewasa mengelola perasaannya.


"Makanannya udah siap..."Meva muncul dari balik ruang makan dengan semangatnya.Ia kaget melihat ketiganya apalagi saat melihat Daniel.Ia jadi ingat bagaimana ia bersikap dan juga kata katanya pada Daniel.


"Yuk,entar keburu dingin..."ujar Bening tetapi tatapannya fokus pada Bastian.


"Ayo Dan..."ajak Bastian.Ia tahu Bening sengaja bersikap seketus itu untuk membuat Daniel sakit hati.Tetapi selama beberapa hari Daniel pulang, Bastian bisa merasakan perbedaan dari sikap Bening.Terlihat lebih ceria dan bahagia walau yang ia tunjukkan di depan Daniel sangat berbeda.


Inilah yang ditakutkan Bastian selama ini tetapi momen tersebut penting baginya untuk memastikan langkah yang akan ia ambil.


"Ben,kok bisa mr.emulsion itu ke sini lagi? Terus kak Bastian kok kayaknya biasa aja ngomong sama dia, nggak terlihat seperti musuhan gitu, padahal kata kamu dulu mereka nggak pernah akur..?"tanya Meva dengan sedikit berbisik.


"Mereka kemarin ketemu di Bali,aku juga kaget awalnya lihat interaksi mereka.Tapi ya, mungkin mereka capek kali berantem mulu, udah dewasa juga.Mau sampai kapan jadi Tom and Jerry.."jelas Bening karena dirinya juga tak terlalu tahu detailnya bagaimana mereka bertemu dan apa yang mereka bahas karena Bastian hanya bilang keduanya sudah bertemu dan ngobrol dengan baik.


Mereka berlima pun duduk mengelilingi meja dengan sebuah piring terletak di depan mereka masing-masing.


Bening mengambilkan makanan dan meletakkannya di piring Bastian.Entah apa tujuannya tetapi Bastian tahu.Gadis itu pasti ingin membuat Daniel cemburu.


"Cukup by... Makasih ya..."Meva dan Daniel hanya melihat mereka dan hanyut dalam perasaan masing-masing.


"Gimana rasanya?Masih seperti biasanya kan? Atau ada yang kurang?"tanya Bening yang sengaja berkata demikian biar tamunya tahu kalau dirinya yang memasak menu makan siang mereka.


"Enak kok ..pas banget... makasih ya, udah masakin..."Bastian berpikir tak ada salahnya jika ia berterima kasih walau mungkin momentnya yang salah, karena ada Daniel di situ sedang untuk Meva toh gadis itu tahu bagaimana hubungan mereka.


Memang,pada kenyataannya,Meva merasa cemburu pada Bening sedangkan Daniel merasa cemburu pada Bastian.Mbak Yuyu merasa iba melihat Daniel.


"Sama sama..."ucap Bening dengan wajah sumringah.


"Ehmm..."Daniel pura pura batuk.


"Minum air dulu,Dan..."saran Bastian sedang Bening tak bereaksi apa-apa.


Meva pun merasa perlu membantunya.Dituangkanya air ke gelas kemudian memberinya pada Daniel hitung hitung sebagai permintaan maaf untuk kata katanya saat pertama kali bertemu dengan Daniel.


"Makasih.."ungkap Daniel.Ia lalu meneguknya.


"Sama sama.."sahut Meva.

__ADS_1


"Oh, iya aku ke sini mau ngundang kamu dek, sama mbak Yuyu untuk acara peresmian hotel minggu depan.Mommy sama daddy akan hadir.Aku udah ngundang om Cahyo sama tante Livia,tapi nggak tahu nanti mereka hadir atau enggak.Aku masih tunggu kabar dari om Cahyo.."Daniel menyampaikan tujuannya datang ke situ.


Bening bersikap biasa aja seolah tak mendengar apa apa.Ia fokus menghabiskan makanannya.Meva yang mulai kasihan dan kagum pada sikap Daniel kini malah merasa kesal dengan sikap sahabatnya.


__ADS_2