Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.83


__ADS_3

"Hey,Dan.... sibuk?"tanya Malvin pada temannya yang sedang serius di depan laptopnya.Ia menyambangi temannya itu di tempat kerjanya yang berada di sebuah gedung pencakar langit.


"Hey,bro... Nggak kok,ini udah mau pulang..."kata Daniel lalu menutup laptopnya.


"Gue jadi pulang,bro..."kata Malvin dengan wajah yang ceria.


"Oh,ya...?Baguslah..."Daniel juga merasa senang karena temannya itu akan ikut bersamanya pulang ke Jakarta.


"Tapi gue mungkin lebih cepat sih,pulangnya.Soalnya cewek yang gue ceritain itu mau ketemuan sama gue.Akhirnya,doa gue terkabul.."Malvin tampak sangat bersyukur.Berbalik dengan Daniel,pemuda itu malah tertawa seperti ada yang membuatnya merasa lucu.


"Kok,ketawa bro?"Malvin menjadi malu sendiri.


"Gue ngerasa lucu aja,belum ketemu pake bilang doa lu terkabul segala.Nggak takut kayak waktu itu lagi?"Daniel mengingatkannya.


"Ya, minimal dia mau dulu untuk ketemu sama gue.Kalau waktu itu kan emang dianya nggak mau ketemu.Cuma gue aja yang ngotot.."bantah Malvin.


"Ya....ya....ya... mudah mudahan sukses ya,nanti..."Daniel manggut-manggut.


"Sukses buat apanya?"tanya Malvin penasaran.Jarang jarang temannya itu mendoakannya.


"Buat rencananya lah..Masih tahap perencanaan kan?"tanya Daniel membuat Malvin harus bangun dari angan angan.


"Ya,emang gue berharap lebih sih, mudah mudahan,amin.Lu doain gue yang baik baik kek..."Malvin merasa nyalinya ciut.


"Loh, emang gue bilang apa tadi.Elo kok segitu banget sih pengen kenalan sama cewek itu?Elu nggak takut kecewa?"

__ADS_1


"Enggak.Gue nggak takut sama sekali kalau soal kriteria ya.Nggak tahu nanti kalau sudah ketemu,gue nyatain perasaan gue dan dianya nolak.Mungkin saat itu baru gue kecewa.Itu pasti.Cuma kan nggak mungkin nyerah gitu aja.."kata kata Malvin kembali membuatnya tertawa.


"Baru kali ini gue lihat elo senaif ini soal cewek.Bodoh apa pura pura bodoh sih? Bingung gue..."kata Daniel.


"Yah... nggak salah juga kalau elu mikirnya gitu.Gue aja nggak ngerti sama diri gue sendiri.Kenapa bisa sejatuh cinta ini.Jatuh cinta pada pandangan pertama"Malvin menghayati ucapannya sendiri.Entah kenapa bak magic,daya tarik itu semakin menjadi jadi.


"Love at the first sight.Ketemu aja belum.Terserah elu deh.Tapi gimana kalau dia udah nggak perawan?Kan kriteria elu yang utama itu kan?"Malvin mengangguk anggukkan kepalanya.


"Gue sih yakin.She's still a virgin...I am sure of that..


Elu kalau ketemu dia juga mungkin akan jatuh cinta juga.Mau lihat fotonya nggak? Tapi nanti lu jatuh cinta lagi.Bisa bisa kepala Widya meletus tuh karena marah..."Malvin yang hendak menunjukkan foto gadis yang disukainya pada handphonenya mengurungkan niatnya.


"Nggak usah bro..Elu kan tahu gue nggak bisa lihat cewek yang lain lagi.Di hati gue cuma..."Daniel tak melanjutkan perkataannya saat seorang wanita masuk ke ruangannya.


"Hai...."sapa Widya membuat mereka tak melanjutkan pembicaraan.


Ia tak ingin Widya mendengar ucapannya yang akan semakin membuatnya besar kepala.


"Pada ngomongin apa sih,pake bisik bisik segala.Jangan jangan ngomongin aku,ya?"tanya Widya begitu percaya dirinya.


"Enggak lah,apa yang mau diomongin tentang elu?"bantah Malvin sedangkan Daniel hanya diam saja.


"Oh, gitu?"Widya tampak cemberut.


"Kamu ngapain ke sini?"tanya Daniel seperti tak suka wanita itu mengunjunginya.

__ADS_1


"Daniah sakit.Kata mommy dia tadi pagi demam.."Widya langsung pada tujuannya datang menemui Daniel.


"Terus??"tanya pemuda itu datar.


"Terus aku mau pulang duluan dari kita.Aku mau jemput Daniah di Bali dan akan bawa dia untuk berobat ke Jakarta"Widya memberi ide.


"Ngapain?Emang di Bali nggak ada dokter? Kenapa harus ke Jakarta? Kamu jangan aneh aneh ya? Kamu nggak lagi ngerencanain sesuatu,kan?"Daniel tiba tiba merasa curiga dengan niat Widya.


"Emang aku mau bawa dia untuk diperiksa sama dokter Bening adik kesayanganmu itu.Tapi bukan tanpa alasan.Daniah itu kalau diberi obat sama dia pasti langsung sembuh."ungkap Widya.


"Jangan macam-macam kamu,itu cuma sugesti aja.Nanti aku telpon mommy biar ke rumah sakit aja..."Malvin hanya melongo melihat perdebatan mereka.


"Mau macam macam, gimana? Kamu negatif thinking mulu tiap aku nyebut nama adikmu itu.Kamu ingat nggak ceritanya mommy?Waktu Daniah demam,mama bawa dia ke om Cahyo,ke rumah sakit juga,tapi nggak sembuh sembuh kan.Cuma dikasih obat penurun panas sesendok aja sama Ben,dia langsung sembuh dan itu fakta.Mommy kamu sendiri loh,yang cerita.."kata Widya yang meskipun kesal pada Daniel tetapi sebisa mungkin ia menjaga emosinya.


"Itu karena faktor psikologis aja.Anak itu nyaman sama dia, karena dia tulus.Jadi dengan didekap aja pun dia bakal sembuh.Beda sama kamu, padahal kamu ibunya.."Daniel yang sekarang sudah tak mengatur kata katanya lagi jika kesal terhadap Widya.Ia tak berpikir lagi dia akan tersinggung atau tidak mendengar ucapannya


"Udah... udah... stop dulu ya,ada aku di sini.Gini amat ya, kalau udah punya anak? Jangan bikin nyali aku ciut untuk berumah tangga.By the way, tadi kamu bilang dokter siapa?Dokter Bening?"Malvin menengahi perdebatan keduanya.


"Iya,betul?Kenapa emangnya?Kamu kenal?"Malvin berpikir sejenak.Pemuda itu pun merasa mungkin saja karena kebetulan nama mereka sama.Di belahan dunia ini begitu banyak manusia yang bernama sama.


"Mungkin sih.Mungkin namanya aja yang sama"Cerca Malvin.


"Tapi kamu mau nggak kenalan sama dia?Orangya cantik,baik,hanya gue nggak yakin sih dia masih perawan.Kamu kan nyarinya yang masih perawan buat dijadiin pacar.Soalnya dia punya pacar seorang penyanyi,bisa dibilang artis sih.Nah mereka itu pacarannya dari SMA sampai sekarang.Cowoknya itu tinggal di Jakarta juga.Kata cowoknya dia sering nginap sih,di apartemennya si dokter itu.Kamu bisa mikir sendiri lah mereka udah pacaran selama itu, sering nginap,kira kira mungkin nggak sih si cewek ini masih perawan?Kan kamu tahu, artis itu kehidupannya gimana? Padahal dulunya si artis itu lulus loh,di Harvard.Tapi dia batalin niatnya untuk kuliah di sini demi si dokter ini.Si dokter ini juga memilih untuk kerja di Jakarta padahal dia anak tunggal loh, ayahnya seorang dokter spesialis onkologi yang terkenal.Jadi gampang banget kalau dia mau bekerja di Bali.."jelas Widya sedetail mungkin membuat pria yang berdiri di depannya mempelototkan matanya.Tampak rahangnya mengeluarkan otot.Daniel benar benar dibuat meradang mendengar ucapan Widya.


"Lah, kalau kamu tahu dianya kayak gitu ngapain mau dikenalin ke aku?Masa mau dapat ampasnya doang?"amarah dalam diri Daniel kian membara.Ia tak terima mereka membicarakan adiknya seperti itu dengan kata kata yang sangat rendah.

__ADS_1


"Stop!!!Dia juga nggak mungkin mau sama elu,bro.. Jangan terlalu percaya diri"ucap Daniel dengan wajah yang serius membuat Malvin heran.Jika temannya tak berada di situ, entah apa yang ia lakukan kepada Widya.Serasa hendak ditelannya gadis itu hidup hidup.


Widya sendiri pun tak berani menatapnya karena ia tahu Daniel pasti sangat marah.Tetapi ia tak peduli.Dirinya merasa puas.


__ADS_2