Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.60


__ADS_3

Widya semakin yakin bahwa pria yang menjadi kekasih ibunya bukanlah orang yang baik.Karena itu ia menyimpan bukti rekamannya yang pertama sambil menunggu hingga ibunya benar benar sehat maka ia akan bercerita kepadanya.


Ia akan terus menyelidikinya dan mengumpulkan bukti lebih banyak lagi.Sebab sang bunda bukanlah orang yang mudah untuk dipengaruhi jika sudah mengambil keputusan.


Karena itu ia tak mau gegabah.Semua bukti harus dipersiapkan.Widya langsung menemui ibunya di rumah sakit.


"Mami...."ujarnya langsung memeluk ibunya.


"Eh...eh...ini anak..."bu Vitha merasa kesulitan untuk bergerak mengingat tangannya masih terpasang infus.Ia hampir kehilangan keseimbangan karena putrinya memeluknya dengan sekuat tenaga bak orang yang terpisah beberapa hari.


Tak hanya memeluk,Widya juga mencium kening dan kedua pipi sang bunda.


"Kamu kenapa sih?"ujar bu Vitha heran.


"Aku senang aja mi...mami udah dibolehin pulang hari ini..."ungkap Widya dengan senyum sumringah.


"O...o..h...anak cantiknya mami..."bu Vitha mencubit hidungnya.Sebuah potret yang lama hilang.Ibunya bisa senatural itu tertawa mendengar putrinya merintih kesakitan.


"Tapi beneran mami udah nggak pusing lagi? nggak lemah lagi? udah beneran sehat kan mi?"Bu Vitha mengangguk berkali kali mendengar pertanyaan sang putri.


"Kata dokter tekanan darah mami udah terkontrol kok dan boleh pulang.Kalau seperti ini terus mami akan aman.Amit amit kalau sampai mami harus masuk rumah sakit lagi.Untung saja mami nggak sampai stroke... Nggak kebayang gimana menderitanya mami.Semua rencana bisa saja batal..."Bu Vitha merasa ngeri jika membayangkannya.

__ADS_1


"Ih...amit amit mi... jangan ngomong yang serem lagi dong mi.. takut..."ujar Widya.


"Iya...kamu bantuin mami ya,biar tekanan darah mami tetap terkontrol..."Widya mengangguk mendengar permintaan ibunya tetapi dalam hati ia merasa was-was.


Mungkinkah dirinya penyebab ibunya sampai pingsan dan tekanan darahnya naik? Apakah karena dia menentang rencana sang bunda untuk menikah lagi?


Widya resah.Bagaimana jika ibunya tetap ingin menikah? Apakah dia akan stress jika keinginannya tersebut ditentang? Lalu tekanan darahnya kembali naik dan hal buruk bisa saja terjadi.Widya menggeleng gelengkan kepalanya memikirkan semuanya.


"Kamu kenapa?"bu Vitha mengagetkannya.


"Oh... nggak kok mi.. cuma lagi mikirin sesuatu aja..."jawab Widya seadanya.


"Mikirin anak bule itu?"bu Vitha menebak.


"Mami tahu, setiap hari selama mami dirawat dia datang.Hanya nggak berani masuk nemuin mami.Kamu dengar ya,nak..Mami ngelarang kamu pacaran karena ada alasannya.Mami dulu menikah karena MBA.. Married by accident.Kamu tahu kan artinya?"Widya mengangguk.


"Mami dulu menikah karena duluan nabung di perut.Mami kelas tiga SMA waktu pacaran sama papi kamu.Gelora masa remaja, bawaannya senang terus.Bandelnya minta ampun.Dinasihati orang tua, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.Masa remaja,masa pubertas,masa ingin coba-coba.Jadi selalu pengen bereksperimen dengan semuanya, termasuk ***.Sampai pada akhirnya mami pun making *** sama papi kamu.Mami hamil kemudian nenek kamu kaget sampai terkena serangan jantung yang membuatnya meninggal.Tapi mungkin karena saat bersamaan juga kakek diketahui selingkuh.Kedua hal buruk itu terjadi di waktu yang sama membuat nenek kamu syok apalagi mami adalah anaknya satu satunya,harta berharganya.Mami sangat sangat menyesal bahkan hingga sekarang.Tapi penyesalan yang selalu datang dari belakang tidak bisa mengembalikan semua ke sedia kala.Yah walaupun papi kamu orangnya dewasa dan bertanggung jawab tetapi masalah selalu saja ada.Baik itu dengan diri mami sendiri maupun dengan papi kamu, karena mami menikah terlalu dini,tanpa persiapan apa apa.Mami menjalani kehidupan berumah tangga di usia mami 18 tahun.Benar benar kabut karena nggak tahu gimana harus ngejalaninnya dan nggak ada pilihan lain selain harus menikah karena mami sudah keburu hamil.Walaupun mami tetap lanjut kuliah tapi semua berat banget ngelakoninnya antara mahasiswa,istri dan seorang ibu yang dituntut untuk seimbang menjalani beberapa peran tersebut.So, berangkat dari pengalamannya mami,mami pengen supaya kamu belajar dari apa yang sudah mami alami.Jangan sampai kamu jatuh pada hal yang sama..."ungkap Bu Vitha.


Berdasarkan sharing dari teman temannya dan beberapa buku yang ia baca tentang cara mendidik anak-anak di usia remaja maka ia pun mencoba cara yang berbeda dalam menyikapi putrinya.


Selama ini,ia akui terlalu keras dan mengekang sang putri tetapi pada akhirnya Widya malah membangkang dan mulai membohonginya.Hal itu membuatnya marah dan malah makin menekan Widya.Banyak peraturan dibuatnya, bahkan ia menjadwalkan les tambahan yang padat agar Widya tak punya waktu untuk berpacaran atau keluyuran di luar rumah.Tetapi bukannya mendatangkan hal yang positif malah sebaliknya dan bahkan seringkali apa yang dilakukan Widya menjadi pemicu tekanan darahnya naik.Karena itu,ia ingin merubah polanya agar sang putri merasa nyaman.Bu Vitha berharap semua yang ia lakukan dan usahakan tidaklah terlambat.

__ADS_1


Widya hanya menatapnya tak tahu harus berkomentar apa.


"Kalau kamu tetap kekeh pacaran sama anak bule itu, mami nggak bisa apa apa.Yang terpenting mami sudah memberitahu tahu kamu apa kemungkinan terburuknya dari hubungan kalian.Kunci utamanya ada di kamu.Jadi kalau sekarang mami memberi kamu kelonggaran,mami harap kamu bisa bertanggung jawab.Jadi, sekali lagi mami mau ingatkan kamu bahwa menikah muda itu bukan perkara gampang.Sangat sangat berat.Supaya nggak menikah muda, jangan sampai hamil duluan.Supaya nggak hamil duluan ya jangan mencoba untuk making ***.Dari sekarang kamu harus tahu batasannya.Akan ada waktunya di saat kamu sudah matang secara fisik dan umur.Bukan berarti kemudian nanti kamu malah mencari cara gimana agar nggak hamil meskipun melakukan hubungan terlarang tersebut.Kamu cantik,kamu pintar,kamu bisa memiliki masa depan yang cemerlang..."Bu Vitha merasa bukanlah suatu hal yang tabu jika menasihati putrinya demikian.


"Amin.Terima kasih mi.. saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti yang mami harapkan.."Widya memeluk ibunya erat.


Seorang perawat masuk untuk melepas infus yang terpasang pada tangan kiri bu Vitha dan menjelaskan perencanaan pulang untuknya.Wanita itu sangat lega karena semua peralatan medis tidak lagi terhubung dengannya.


"Kita siap siap ya,mi..."kata Widya sangat bersemangat.


"Iya...tapi mami nggak langsung ke rumah ya.Mami mau pergi bentar sama temen mami.Nggak lama kok.Kamu, nggak apa apa kan?"ujar bu Vitha.


Widya menghentikan aktivitasnya beberes semua barang barang mereka untuk dibawa pulang.


"Mami mau ke mana? Aku ikut ya?"Widya menawarkan diri.


"Nggak apa-apa,nak...mami pergi sendiri aja ya.."kata bu Vitha.


"Mami mau bertemu om itu lagi?"tebak Widya.


Bu Vitha mengangguk perlahan.Karena tak ingin merusak kebahagiaan putrinya,ia ingin berbicara lebih lembut agar meyakinkan sang putri bahwa dirinya akan baik baik saja.

__ADS_1


"Ada yang harus kami bicarakan berdua sebelum dia pulang ke Jakarta.Mami janji nggak akan lama."ungkap bu Vitha


Meskipun rasa cemas mulai menyerangnya kalau sang bunda ingin bertemu pria itu lagi tapi Widya mencoba untuk berpikir positif.Mungkin saja ibunya menemui om Andre untuk mengakhiri hubungan mereka.


__ADS_2