
"Kamu harus sembuh dad..."ujar Bu Melia setelah menenangkan hatinya.
"Apa itu artinya kamu akan membuka hati kamu untuk menerima aku kembali,mom?"tanya pak Darwin dengan penuh harap.
Wanita itu memandangnya lekat.
"Iya... tapi kamu harus sembuh..."Bu Melia akhirnya mengiyakan permintaan mantan suaminya.Butuh keberanian yang besar untuk bisa menjawab pertanyaan itu.
Ia hanya ingin pria itu mempunyai motivasi untuk sembuh.Jika itu dirinya maka tak apa selagi masih dalam hubungan yang positif.Tak ada yang pernah tahu dan bisa memastikan apa yang akan terjadi di hari esok.Oleh karena itu semua niat yang tulus tetap harus didoakan.Balik lagi Tuhan yang sudah tahu apa yang akan terjadi dan biarlah semuanya seturut kehendakNya.Begitulah yang ada di pikiran Bu Melia sekarang.
Ia tak menyesali perpisahan mereka karena bukan dalam waktu yang singkat ia memikirkannya.
Bukan plin plan,tapi sekarang ia bertekad untuk lebih berserah diri seutuhnya dengan semua rencana Tuhan dalam hidupnya setelah semua kepahitan yang ia alami.
"Thank you mom... terima kasih banyak...Saya berjanji tidak akan mengkhianati harapan yang sudah kamu beri...So,thank you so much..."Diciumnya tangan wanita itu dengan lembut.
Bu Melia semakin terharu saat merasakan tangannya yang basah terkena tetesan air mata.Dibelainya lembut pria itu saat masih tertunduk sambil menggenggam tangannya.
"Sekarang daddy istirahat ya, sudah waktunya tidur.Ini saja sudah terlambat.Harusnya di jam segini daddy sudah terlelap dalam mimpi..."
"Terima kasih mom.. tetapi nggak apa-apa,selama ini juga biasanya saya belum tidur di jam segini.Susah tidur..."jawab pak Darwin yang bermaksud untuk membuat Bu Melia tidak merasa bersalah atau khawatir.
"Kalau begitu daddy harus melenyapkan semua kebiasaan itu.Mulai malam ini, harus tidur dengan nyenyak.Oke?"ujar Bu Melia seolah-olah semua kebiasaan itu akan dengan mudah berubah seperti yang dikatakannya.
"Okay mom...I promise."Pak Darwin mengangkat dua jarinya tepat di depan wajah bu Melia membuat wanita itu tertawa dibuatnya.
"Tapi gimana dengan kadonya?yang dari Cahyo dan yang lainnya?"tanya pak Darwin menunjuk dengan matanya tumpukan kado yang ada di atas meja.
Kado kado itu berasal dari teman temannya,karyawannya dan mungkin kolega bisnisnya.
"Emm... besok saja ya,dad...Itu adalah tugas aku besok..."bu Melia memberikan kepastian.Padahal biasanya ia sangat bersemangat melakukannya dan merupakan kewajibannya melakukan hal tersebut.
"Oke.. terserah mommy...tuh masih banyak lagi di lemari..."Bu Melia mengernyitkan dahinya.Tapi ia tak mau membebani isi pikirannya lagi.
"Well...let's go sleep..."kata bu Melia dengan senyumnya.
__ADS_1
Seperti seorang anak kecil yang sedang dikelonin tidur oleh ibunya, persis seperti itulah yang kini dilakukan Bu Melia kepada ayah dari anak semata wayangnya.
Senyum sukacita terus menghiasi bibir pak Darwin dengan semua perlakuan bu Melia kepadanya.
"Jangan lupa untuk berdoa.."ujarnya saat pak Darwin sudah ia bentangkan selimut.
"Siap dilaksanakan..."jawab pria itu penuh semangat.
"Kalau begitu,aku balik ke kamar ya..."pamit Bu Melia.
"Thank you mom...have a nice dream"ucap pak Darwin dengan senyum terbaiknya.
Bu Melia melangkah keluar dari kamar tersebut dengan suasana hati yang tak karuan.Sulit dijelaskan apa yang kini ia rasa.Ke mana perasaan benci itu? Habiskah semua amarahnya? Kenapa setelah bercerai baru bisa memaafkan? Entahlah...yang pastinya ia benar-benar tidak tahu apakah yang ia lakukan sekarang benar atau salah.
Ia hanya ingin agar mantan suaminya itu sembuh.Putra semata wayangnya sangat membutuhkan ayahnya.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel masih memegang handphonenya.Menghubungi nomor Bening adalah hal yang ia lakukan sekarang.Tampak sekali raut sedih dan kecewa tergambar jelas kini di wajah tampannya.
Diingatnya kembali bagaimana dirinya memarahi adiknya itu bahkan mengancamnya.Ia menyesal sudah terpancing dengan kata-kata Widya.Biasanya Bening yang paling antusias jika diajak liburan ke luar negeri.Walaupun alasan yang diutarakan masuk akal tetapi tetap saja membuatnya kecewa.
Terakhir kali mereka pergi bersama saat di Sekolah Menengah Pertama.Mungkin saja akan berbeda rasanya jika pergi lagi sekarang di saat keduanya beranjak remaja.
Berkali kali Daniel membuang nafas penyesalannya.Ingin rasanya pagi hari segera menjelang agar ia cepat cepat menemui adiknya.Karena itu sebelum akhirnya beristirahat,ia terlebih dahulu membuat alarm sepagi mungkin agar tak terlambat bangun pada keesokan harinya.
Bu Melia bangun pagi pagi untuk menyiapkan sarapan bagi keluarganya.Diambilnya secangkir air hangat lalu membawanya ke kamar pak Darwin.
Setelah dua kali mengetuk pintu dan memanggil tapi tak ada sahutan dari dalam kamar.
"Morning dad...aku masuk ya..."ujar Bu Melia lalu berdiri sebentar di pintu menunggu jawaban.Suara gemericik air tidak terdengar.Jadi tidak mungkin pak Darwin berada di kamar mandi.
Wanita itu pun melangkah masuk.Ia langsung mengendap endap saat melihat pak Darwin masih tidur.Perlahan ia menghampiri tempat tidur.Tampak dari wajahnya, pria itu masih terlelap.
Wanita itu tersenyum menyaksikan pemandangan tersebut.Tetapi sesaat kemudian ia menjadi ragu apakah pria itu hanya tidur atau sudah ke dunia lain.Mendadak dirinya diserang kepanikan.
__ADS_1
Ia meletakkan jarinya tepat di depan hidung pak Darwin untuk merasakan hembusan nafasnya.Ia pun bersyukur masih merasakannya.Tetapi tak puas dengan hal itu, dirabanya nadi yang ada di leher pria tersebut.
Hal itu malah membuat pak Darwin membuka matanya dan tersenyum melihat apa yang dilakukan wanita itu padanya.
"Sorry... sorry dad...aku nggak berniat mengganggu.Aku hanya mau pastikan apakah daddy masih hidup atau sudah..."Bu Melia menghentikan kata katanya karena tak mau mengucapkannya.
"Nggaklah mom.."pak Darwin bangun dan duduk.
"Morning ..."tambahnya.
"Morning dad..."bu Melia jadi malu dengan apa yang sudah ia lakukan barusan.Menyadari hal itu,pak Darwin tersenyum.
"Saya nggak mungkin pergi secepat itu.Saya yakin Tuhan juga tak punya alasan untuk memanggil saya pulang.Pasti Tuhan mau lihat dulu saya sudah benar-benar bertobat atau belum.Aku yakin doa orang baik seperti mommy pasti Tuhan akan dengarkan.Mommy berdoa agar saya sembuh,kan?"sekali lagi Bu Melia tertegun mendengarnya.
"Makasih mom... semalam saya tidur nyenyak.... sekali.Rasanya saya sudah utuh kembali..Terima kasih banyak..."tambah pak Darwin begitu tulus mengucapkannya dan bisa dipastikan dirinya tidak sedang bergombal tapi memang hal itu benar-benar adanya.
"Jangan berterima kasih terus dad... Sudah sepantasnya aku melakukannya.."keduanya pun lagi lagi tersenyum.
"Aku tadi bawa air hangat untuk daddy..."diambilnya secangkir air yang tadi ia letakkan di atas meja lalu memberikannya kepada pria itu.
Bu Melia baru saja keluar dari kamar pak Darwin ketika melihat sang putra sudah sudah dalam keadaan yang rapih dan sepertinya akan pergi.
"Morning mom..."Ia mencium pipi sang bunda.
"Morning.. sudah rapih aja,boy?"tanya Bu Melia.
"Aku pergi bentar ya mom..."ucapnya.
"Mau ke mana? Sarapan dulu..."tahannya.
"Nanti aku sarapan di rumah adek..."jawab Daniel.
Ia pun langsung berpamitan dan ibunya pun mengizinkannya pergi.
"Bilang ke daddy ya mom..."kata Daniel lalu pergi meninggalkan ibunya yang hanya menatapnya.
__ADS_1