
Mendapat pesan dari Daniel, membuat Bening tak bisa tidur.Tak bisa dipungkiri ia masih merasa senang ketika mendapat kata seberkesan itu.Tapi ia sudah mengambil keputusan dan baru saja mulai menjalani keputusan yang baru dalam hidupnya tersebut.Dirinya hanya ingin fokus menjalani peran barunya sebagai kekasih seorang Bastian.
Bening menggelengkan kepalanya agar tak larut dalam banyaknya kenangan masa kecil mereka dulu di Bali.
"Selamat pagi,pa.."sapa Bening kala sang ayah menelponnya pagi pagi.
"Pagi,nak... udah sarapan belum?"tanya pak Cahyo.
"Udah,pa...ini lagi siap siap mau ke rumah sakit..."cerita Bening.
"Oh,gitu?Papa mau beritahu kamu,nak...papa mau ke Singapura,ada pelatihan di sana selama sebulan.Kamu bisa nggak nanti sesekali pulang buat nengokin mama kamu?"Bening langsung diserang rasa bersalah kala ayahnya memintanya demikian.
Ia anak satu-satunya.Selama ini orang tuanya tidak pernah memaksa agar ia pulang walau mereka menginginkannya pulang.
"Iya...bisa pa... nanti aku usahain ya,pa..."katanya.Mereka pun bercerita sambil Bening mempersiapkan segala keperluannya untuk ke rumah sakit.
"Selamat pagi,by.."Bastian datang menjemputnya seperti janjinya semalam.
"Selamat pagi,kak...ayo..."Bening tak ingin berlama lama lagi untuk segera tiba di tempatnya bekerja.
"Gimana tidurnya, semalam? Nyenyak nggak?"tanya Bening saat keduanya dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Nyenyak..."jawab Bening meskipun dirinya baru bisa tidur lelap setelah beberapa jam berusaha dengan berbagai cara.
"Mimpiin aku nggak?"tanya Bastian.
"Aku nggak suka mimpi.. sukanya yang nyata aja seperti sekarang.."Bastian tersenyum sambil manggut-manggut mendengar penuturan Bening.
"Udah bisa gombal ya, sekarang..?"ujarnya.
"Aku belajar dari seorang penyanyi..."Bening tersenyum ke arahnya.
Bastian ikut turun saat keduanya tiba di rumah sakit.
"Ayo..."ajaknya dengan meraih tangan kekasihnya.
"Ke mana?"tanya Bening.
"Mau nganterin kamulah by.."jawabnya enteng.
__ADS_1
"Ngapain,kak? Nggak usah... kakak pulang aja.. ada latihan kan?"Bening mengingatkannya.
"Nggak apa-apa by... masih ada waktu kok... baru juga jam berapa ini...Ayo..aku mau antar sampe ke ruangan kamu by..."katanya tanpa melepaskan genggamannya.
"Astaga, nggak usah kak, nanti kesannya kayak anak TK aja harus dianter sampai kelas..."Bening tetap menolaknya.
Ia tak ingin membuat kehebohan pagi pagi.Bastian seorang penyanyi terkenal yang banyak digemari masyarakat.Entah bagaimana nanti jika fansnya yang sedang melintas di rumah sakit melihatnya.
"Please..."Bastian memohon sambil memejamkan matanya sampai gadis itu luluh.
"Tapi, gimana nanti kalau ada yang ngenalin..."kata Bening.
"Ya, nggak apa-apa.."Bastian begitu keras kepala.
"Aku pake masker.."tambahnya lalu mengambil masker di dalam mobilnya.
"Harus banget ya,kayak gini?"protes Bening sambil keduanya berjalan.
"Aku mau belajar romantis..."ujar Bastian.
Bening hanya menggeleng gelengkan kepalanya.Benar seperti dugaannya,ada yang terus mengamati mereka mungkin karena mereka berusaha mengenali Bastian meskipun ia mengenakan masker.Alhasil pemuda itu mengantarnya hingga ke ruangan anak.
"Amin..."jawab Bening lalu melambaikan tangannya.Ia pun senyum senyum sendiri dengan apa yang mereka lakukan.Meskipun keduanya kerap menghabiskan waktu bersama tapi apa yang baru saja keduanya lakukan sungguh menggelitik perut.Terasa lucu dan unik.
"Selamat pagi dokter Bening .."sapa seorang suster.
"Pagi sus..."jawabnya ramah.
"Yang tadi itu,mas Bastian yang penyanyi itu kan"perawat itu mencari tahu.
Bening hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa membenarkannya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi,dok...?"perawat itu tampak menyesal.Bening menatapnya heran.
"Saya ngefans banget sama dia dok..bantuin saya dok biar bisa foto bareng mas Bastian..please...besok saya ulang tahun.. Kalau saya bisa foto bareng beliau,itu adalah kado terindah yang pernah saya terima"tambahnya.
"Mas Bastian??"gumam Bening.Aneh saja kedengarannya saat seseorang menyebutnya seakrab itu dan baru sehari jadi pacarnya saja sudah membuatnya menghadapi hal seperti itu.
"Aku nggak janji ya sus.."jawabnya.Ia tak bisa membayangkan bisa semua fansnya berlaku demikian.Karena perawat itu adalah mitranya selama ini,maka ia pun tak menolak juga tak memberi kepastian.
__ADS_1
"Saya berharap penuh sama dokter..."Bening hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku mau minta status pasienku sus..."pinta Bening.
"Baik,dok...Oh iya,aku hampir lupa..ini ada titipan dari kakaknya dokter.Ganteng banget kakaknya,dok .Kayak bule gitu, mukanya."kata perawat itu lalu memberikan sebuah tempat yang bisa ditebak berisi makanan.
Bening membaca sebuah kartu yang menempel di rantang tersebut.
"Maaf baru bisa melakukannya sekarang.Aku ingin melakukan hal yang dulu selalu kamu lakukan untuk aku,dek... Jangan lupa dimakan ya,soup rotinya..nanti dia menangis loh, kalau nggak dimakan..Have a great day,dek..."tulis Daniel.
Bening tersenyum membacanya.Ia tak menyangka Daniel melakukan hal demikian.Ia menoleh ke arah sekitar, mungkin saja Daniel masih berada , di sekitar tempat itu.
"Dia udah pulang dari setengah jam yang lalu dok..tapi dia sempat nunggu tadi, mungkin setengah jam.."cerita sang perawat membuat Bening.
"Sumpah tadi aku sampai tidak berkedip ngelihatnya,dok... ganteng banget, tegap berotot, wangi, murah senyum lagi, bahkan dia juga memberikan kami roti dengan berbagai rasa.. Enak banget.. katanya itu buatan calon mertuanya di Bali..."cerita perawat itu dengan semangatnya.
"Oh, ya?"Bening tak tahu harus memberikan tanggapan apa.
"Sampein salam buat dia dok.. kagum banget sama kebaikannya."Bening jadi sedikit terganggu.
"Suster sebenarnya ngefansnya sama Bastian atau kakak aku?"tanya Bening.
"Sama mas Bastian,tapi mas Daniel juga baik dok..."Bening memilih untuk mengakhiri obrolan mereka dan pergi ke ruangan pasien untuk melakukan kunjungan rutin.
Saat hendak pulang dari rumah sakit, Bening tak lupa membawa rantang pemberian Daniel.Ia mau mengembalikannya dan ingin meminta Daniel agar tidak melakukan hal itu lagi.Ia harus bisa menjaga perasaan kekasihnya.
"Ben... tunggu..."panggil Meva.
"Iya,kenapa,Mev?"tanyanya.
"Buru buru amat pulangnya.Mau ketemu kak Bastian,ya?By the way,selamat ya, kalian udah jadian..."Meva mengulurkan tangannya.
Kata kata sahabatnya itu terdengar berbeda di telinganya mungkin dikarenakan nadanya dalam menyampaikannya tak tulus.
"Kok, kamu tahu?Kak Malvin cerita,ya?"cerca Bening.
"Iya...kok bisa sih,Ben?"tanya Meva.Benar dugaan Bening, sahabatnya itu pasti akan menanyakannya.
"Maksudnya?"Bening balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, bagaimana bisa kalian malah jadian? padahal kamu selalu bilang kamu nggak punya perasaan apa apa sama dia.Kamu hanya menganggapnya kakak, bahkan saya selalu menanyakannya dan kamu selalu bilang hal yang sama.Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu sengaja ya.Kamu jadian sama dia untuk membalas Daniel atau gimana? Kamu mau buat Daniel jealous kan?"Bening tersinggung dengan kata kata Meva untuknya.