
Inhaler adalah obat hirup yang mengantarkan obat ke paru paru untuk meredakan gejala asma.Dengan bentukannya yang kecil alat tersebut praktis untuk dibawa ke mana mana.
Beruntungnya Widya tak lupa membawanya.Benda tersebut sudah menjadi senjata andalannya saat ia bepergian.Gadis itu juga sudah terbiasa menggunakan alat tersebut sehingga tak perlu diberikan komando ataupun petunjuk lagi saat menggunakannya.
"Ayo,kak...kita bawa dia ke rumah sakit.."setelah menggunakan inhaler Bening dan Bastian memapah Widya ke dalam mobil.
Dengan penuh kasih Bening terus berdoa dalam hatinya untuk kesehatan Widya yang masih bersandar di dadanya.
"Yang kuat ya,Wid...."ujarnya.
"Jadi, gimana beb?kita ke rumah sakit kan?"tanya Bastian memintanya petunjuk pada gadis itu yang menjadi tujuan mereka.
"Jangan Ben, nggak usah..aku nggak mau ke rumah sakit....aku sudah merasa lebih baik..."Widya yang dari tadi tak berbicara sepatah katapun kini akhirnya berucap.
"Tapi Wid...."Bening merasa khawatir dan ingin tetap membawa sahabatnya itu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
"Nggak mau... please..."pinta Widya dengan beruarai air mata.
"Ya udah...kita nggak ke sana.. Jangan menangis dong,Wid...yah? jangan menangis lagi...nanti sesak lagi..."dengan lembutnya Bening mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
"Beneran, udah merasa lebih baik? udah nggak sesak lagi kan?"setelah beberapa menit berlalu tak ada lagi suara napas kucing yang terdengar.
Tetapi tetap saja ada Bening resah.Ia tidak tega melihatnya menderita kesulitan bernapas.
"Kalau gitu kita akan ke mana sekarang?"tanya Bastian melihat ke belakang dari kaca yang ada di depannya.
"Mau langsung diantar ke rumah atau gimana?"tanya Bening.
"Aku nggak mau pulang ke rumah..."Widya menggeleng gelengkan kepalanya beberapa kali dan mengatakan tidak mau pulang ke rumah berulang ulang menunjukkan ketakutannya.
"Ya udah kalau gitu ke rumah aku aja ya...kamu harus bedrest...tapi beneran udah lebih baik kan?"sekali lagi Bening ingin memastikan keadaan sahabatnya.
"Kak,langsung ke rumah aja.."pinta Bening pada Bastian yang terus mengamati mereka dari kaca.
__ADS_1
Pemuda itu mengangguk.Dalam hatinya ia sangat mengagumi kebaikan hati dari gadis yang dikaguminya.Ia semakin jatuh hati padanya, bukan hanya kecantikan wajahnya tetapi karena kebaikan yang ia bagikan selama ia mengenalnya.
Handphone Widya berbunyi.
"Ben,itu pasti kak Daniel.Tolong diangkat.Dia pasti kelimpungan nyari aku sekarang"Bening mengernyitkan dahinya.
Tadi ia bertemu Daniel di mall.Pemuda itu sendirian bahkan ia mengajaknya untuk pulang bersamanya.Kemudian ia bertemu Widya dalam kondisi yang hampir pingsan di parkiran.Apakah sebenarnya tadi mereka ke sana bersama?Terus kenapa Widya sampai seperti itu? Apa mereka bertengkar?Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Bening diam menatap pada layar handphone sahabatnya yang kini sudah ada di tangannya.
My baby.. begitulah nama Daniel ditulis di handphone Widya.Tak heran juga karena Widya bebas menyebut,menulis atau memanggil apa saja untuk pacarnya.Itu haknya.
"Diangkat Ben..."Widya mengingatkannya saat sahabatnya tak kunjung mengangkat panggilan tersebut.
"Iya,hallo kak..."jawab Bening.
"Loh,kok kamu dek?"Daniel yang sangat menghafal suara adiknya merasa heran.Suara napasnya ngos ngosan.
"Iya,kak... Widya sesak lagi.Asmanya kambuh..."cerita Bening langsung pada intinya.
"Kami lagi on the way ke rumah.Widya nggak mau pulang ke rumahnya.Kakak nyusul aja... Udah ya kak..."Bening memutuskan panggilan.
πΎπΎππΎπΎ
Menjelang sore Bu Melia bersiap diri di dalam kamarnya.Ia diajak pak Darwin untuk dinner di salah satu tempat favorit mereka.
Hari itu dengan dibantu oleh Richard asistennya,ia pergi ke pengadilan.Ada sesuatu hal yang harus ia urus bersama pengacara dan asistennya pak Richard.
Dalam perjalanan pulang ia menghubungi Bu Melia dan mengajaknya pergi.Ia sangat bahagia karena wanita itu tidak menolak ajakannya.
Selain untuk mengenang memori lama juga pria itu ingin membuat kembali suatu kenangan yang bisa mereka maknai sebelum ia pulang ke negara asalnya untuk melakukan pengobatan.
Berapa kali ia menghapus lipstiknya saat dirasa terlalu mencolok.Ia tahu mantan suaminya tidak terlalu suka jika ia berdandan karena baginya wanita itu sudah cantik meski tanpa polesan apapun.
__ADS_1
Tetapi bu Melia tetap merias wajahnya dengan make up yang minimalis dan natural.Setelah dirasa pas,ia pun keluar dari kamarnya untuk menemui pak Darwin.
Saat turun dari tangga laki laki yang usianya tak lagi muda itu terpukau menatapnya.Ia sangat terpesona melihat aura kecantikan yang terpancar dari wajah bu Melia.
Sadar dirinya terus ditatap pak Darwin, membuat bu Melia merasa deg degan.Ia mendadak nervous.Rasanya aneh sekali, walau ia dulunya selalu ditatap penuh cinta, tetapi kali ini rasanya berbeda.
"Jangan melihat saya seperti itu dad.Nanti saya akan kesulitan untuk berjalan..."ujarnya malu.
"Maaf...saya terpesona..mommy nggak enak badan?"tanyanya dengan raut wajah yang langsung berubah.
Bu Melia menggelengkan kepalanya.
"Saya malu.. nervous.. kalau kamu terus melihatku seperti itu rasanya tubuh saya seperti tak bertulang..."kata bu Melia dalam hatinya.
"Mommy sakit?"tanya pak Darwin karena bu Melia hanya diam.
"Enggak... enggak kok,dad...saya baik baik saja...."jawabnya.
"Kamu sangat cantik mom.. sangat sangat cantik... makasih ya... sudah mau untuk memakai gaun itu..."puji pak Darwin dengan senyumnya yang tulus.
Bu Melia yang wajahnya sudah bak kepiting rebus, menatap kembali gaun yang ia pakai.Gaun pemberiannya kemarin.Sheath dress berwarna merah dengan keyhole yang sangat ia suka.Pria itu yang berulang tahun malah dirinya yang mendapat hadiah.
Dengan sigapnya pak Darwin membukakan pintu mobil membuat bu Melia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Benarkah perasaan ini?Kenapa harus merasakannya lagi?Bu Melia terus berusaha menenangkan diri agar tidak terhanyut dalam perasaannya.
"Daddy nggak capek?"tanya Bu Melia ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.Melihat pak Darwin yang menyetir sendiri membuatnya merasa tidak enak.
"Sama sekali, enggak.I,m fine okay.. don't Worry."jawabnya seperti tahu saja kalau wanita itu memang sedang mengkhawatirkannya.
"Tapi kata mas Cahyo harus banyak istirahat..."bu Melia mengingatkannya.
"Kata Cahyo juga, kalau saya mau sembuh, saya harus happy terus, bahagia terus...jadi apa yang saya lakukan sekarang adalah bagian dari anjurannya juga.."pak Darwin tersenyum bahagia demikian pun ibu dari putranya tersebut.
__ADS_1
"Tuhan..saya sungguh telah memaafkannya.Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.Tapi hari ini saya hanya mau berdoa,tolong sembuhkan dia..."doa bu Melia dalam hatinya.