
Daniel seperti tercekik mendengar omongan Widya.
Sedangkan gadis itu cuek cuek saja dan malah tersenyum.
"Oh, gitu?Dia kan calon dokter.Nggak kebayang nanti kalau dia jadi dokter.Mungkin dia yang akan jemput pasien ke rumah sakit.Terus,si adek punya pacar juga?Padahal saya berniat mau ngenalin si adek pada ponakan saya lho ..Tapi nggak apalah... Nanti aja kalau dia putus sama pacarnya.Baru deh dikenalin.."Dengan kocaknya pak Richard bercanda ketika melihat raut wajah Daniel yang berubah.
"Om ada ada aja..."kata Daniel.
Ia ingin meralat ucapan Widya dan mengklarifikasi sendiri bahwa adiknya itu tidak sedang berpacaran, tetapi ia mengurungkan niatnya tak mau berdebat di depan pak Richard.
"Daddy ada om?"Daniel ingin bertemu sang ayah.
"Ada di ruangannya.Tapi katanya dia nggak lama.Ada janji sama mommy kamu."pak Richard mengatakannya dengan mimik yang berbeda, karena baginya itu adalah sesuatu yang dirasa penting setelah mengetahui apa yang telah terjadi pada pernikahan atasannya.
"Oh...gitu..."sahut Daniel.
"Jadi gimana konsepnya besok?ini aku ada list acaranya yang mau dibuat... konsepnya family time kan?"pak Richard memberi sebuah notes hasil orat oretnya.
"Iya,om...."Daniel menerima dan membacanya.
Secara umum ada pesta kembang api,pesta barbeque atau acara bakar bakar, bermain truth or dare,tukar kado dan karaoke.
Daniel merasa semua yang ditulis sudahlah sesuai keinginannya.Ia ingin malam pergantian tahun yang akan mereka rayakan keesokan harinya dapat memberikan makna yang berarti dan tak akan terlupakan.
Malam tahun baru adalah waktu untuk merayakan 365 hari yang telah berlalu dan untuk menyambut tahun depan yang akan datang.
Tahun ini adalah tahun ketiga ia lalui di tengah pergumulan bersama kedua orang tuanya.Banyak hal telah terjadi.Kesedihan terus menyiksa batin.Ia mulai kehilangan harapan.Rasanya semua doa yang ia panjatkan tidak terjawab.
Beruntungnya ia terus dirangkul oleh kasih sayang yang diberikan oleh Bening dan orangtuanya.Mereka tak henti hentinya memberikan kekuatan melalui perhatian dan cinta yang tulus.
__ADS_1
Di saat ia merasa tak sanggup lagi,Tuhan akhirnya memberikan bulan Desember yang baginya adalah bulan penuh berkah.Melihat orang tuanya bisa berkomunikasi dengan baik saja adalah suatu keajaiban.Bahkan yang ia lihat adalah lebih dari itu.Mereka saling memberikan perhatian satu sama lain.Semuanya terasa bagai mimpi.
Oleh karena itu, Daniel tidak mau terlena.Ia ingin merayakan akhir tahun sebagai bentuk ucapan syukur dan ungkapan kebahagiaan atas anugerah yang Tuhan beri.Meskipun kembali diberikan cobaan dengan sakitnya sang ayah tetapi ia tetap berpenghasilan, ayahnya akan diberikan mujizat.
"Gimana,ada yang mau ditambahin nggak,kak?"tanya pak Ricard.
"Kira kira yang ikut ngerayain, siapa siapa saja om?"Daniel mungkin akan memberikan ide yang lain jika yang hadir lebih banyak.
"Cuma dua keluarga kan?Keluarga kamu dan keluarganya si adek... kalian berenam..."Daniel merasa lega karena dengan demikian konsep family time yang diusung benar benar pas.
"Iya,om..."jawab Daniel sumringah.Widya mulai bosan.Ekspresinya tak seantusias sang pacar.Mungkin karena merasa dirinya tidak terlibat atau menjadi bagian dari acara tersebut.
"Terus untuk menu barbequenya,ada tambahan lagi nggak? kalau daddy sama dokter kan nggak mungkin makan yang bakar bakar, jadi tinggal kalian berempat..."Daniel melihat kuliner yang dipakai untuk menu barbequenya ada jagung,daging sapi,aneka seafood juga kuliner olahan sejenis chikuwa dan dumpling keju yang tengah digandrungi oleh banyak orang sebagai tambahan menu bakar bakar sudah tercatat rapi di list acaranya.
"Sudah pas sih,om... kayaknya kesukaan si adek, mommy dan tante Livia sudah ada semua.Tapi kalau daddy nggak bisa makan yang bakar bakar mungkin nggak usah diadain kali ya acara barbequenya?"Daniel merasa tak enak hati jika melakukan atau memakan sesuatu yang menjadi pantangan bagi ayahnya.Terkesan tak ada toleransi.
"Jangan...! jangan dicancel kak, kata daddy itu kesukaan mommy, jadi harus tetap dibuat..."Daniel bangga dalam hatinya ia kagum pada ayahnya yang sangat menyayangi ibunya dan mementingkan kebahagiaan ibunya.Benar benar seperti janjinya yang pernah ia ucapkan padanya, meletakkan kebahagiaan ibunya di ata kebahagiaannya.
"Oh kalau itu nantinya spontan.Tergantung siapa yang terkena panahan botolnya saat diputar"walaupun Daniel tahu bentuk permainannya tetapi karena ia belum pernah memainkannya jadi ia pun merasa perlu untuk menanyakannya.
"Kalau gitu boleh kirim draftnya nggak om,biar bisa ditunjukkin ke si adek..."pinta Daniel.
"Si adek tahu kok konsepnya.Kan yang idein semua jenis acaranya itu daddy dan adek.. Terus untuk dekorasinya juga pilihan di adek dan besok kalian nginap kan? Nanti tinggal milih aja kamarnya.."Daniel kaget mendengarnya.Bukan soal kamar tetapi ia merasa seperti dikerjai adiknya.
"Oh....gitu...kok dia nggak bilang?"protes Daniel.Pak Richard mengangkat bahunya menandakan ia tak tahu apa apa.
"By the way, jangan lupa kopi hitamnya om, kesukaan si adek tuh,terus biar bisa begadang juga menunggu jam dua belas"Widya sudah tak tahan lagi.Ia benar benar kesal dari tadi hanya membahas ide ide Bening dan kini pacarnya tersebut terang terangan mengingatkan minuman kesukaan sahabatnya tersebut.
Setelah selesai membahas semuanya Daniel dan Widya berpamitan pulang.
__ADS_1
"Mau makan dulu nggak, Wid?"tanyanya ketika mereka telah tiba di parkiran.
"Terserah..."Widya menjawab dengan wajah kesal.Awalnya Daniel merasa tak ada yang salah dengan jawabannya.
"Kalau begitu kita ke restonya Bastian,ya?"tawar Daniel.
"Ngapain? Bukannya kamu nggak suka ya sama kak Bastian? Kenapa malah mau ke restonya?Jangan jangan itu cuma akal akalan kamu doang karena kamu pengen tahu apa Bening di sana atau enggak? Mereka ngelakuin apa?Itu kan tujuan kamu? Atau karena kamu merasa gemes sama Ben, karena merasa dikerjain.Kamu pengen peluk dan cium dia karena sudah merencanakan semuanya?"Widya akhirnya meluapkan kekesalannya yang sejak tadi ia tahan.
"Astaga,Wid.... ngomong apa sih?Kan kamu malam itu bilang pengen ke situ lagi,kata kamu menunya enak... Kenapa malah bawa bawa dia?"Daniel mencoba untuk mengingatkan gadis itu tentang keinginannya yang pernah ia sampaikan meskipun ia kesal karena Widya lagi lagi cemburu.
"Iya tapi bukan sekarang.Bukan waktu yang tepat dan aku belum pengen makan di sana..."jawab Widya.
"Ya, udah kalau begitu kita ke mall aja, gimana? Mungkin ada yang pengen kamu beli.Biar sekalian nanti kita makan di sana aja"Daniel memberi pilihan yang lain.
"Kamu atau aku yang pengen shopping?Kamu pasti mau nyari kado buat besok kan?"lagi lagi Daniel merasa serba salah.Widya terus mencari cari kesalahannya..
Tapi ia tak mau terpengaruh oleh sindiran pacarnya tersebut.Ia tak ingin merusak moodnya di tengah antusiasme menyambut hari esok.
Handphone Widya berbunyi.Ibunya menelepon dan keduanya pun berbicara.
"Besok mami akan merayakan malam pergantian tahun dengan temannya.Aku nggak bisa ikut.Aku disuruh di rumah aja..."cerita Widya setelah mengakhiri panggilan tersebut.
Daniel tampak berpikir sejenak.
"Terus, gimana dong?"tanya Daniel.
"Boleh nggak aku ngerayainnya bareng kalian..."pinta gadis itu dengan wajah sendu.
"Boleh, kalau kamu diizinin..."Daniel tak mau pacarnya itu akan tersinggung jika ia keberatan.
__ADS_1
"Pasti dibolehin kalau si Ben yang meminta izin..."kata Widya enteng.