Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.67


__ADS_3

Mungkin karena kedekatan yang terjalin antara dirinya,istri serta putri semata wayangnya membuat pak Cahyo tiba-tiba merasa tidak nyaman.Konsentrasinya tak sefokus sebelumnya saat melakukan tindakan medis kepada pasiennya.Firasat buruk menghantui dirinya.


Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan mengganggu ketenangannya dalam bekerja.


Handphonenya berdering.Bu Melia memberi tahu bahwa ayahnya atau mertua dari pak Cahyo kembali dilarikan ke rumah sakit akibat serangan jantung.Dari suaranya ia terdengar sangat takut sebab sang ayah belum juga sadarkan diri dan kondisinya kritis.


Bu Melia meminta pak Cahyo bersama Bening untuk datang ke Jakarta, menyusulnya apalagi sebelum ia tak sadarkan diri, kakeknya terus menanyai cucunya tersebut.Ia sangat merindukan Bening dan ingin segera bertemu dengan gadis tersebut.Ia sangat menyayangkan Bening tak ikut ke Jakarta bersama ibunya.


Pak Cahyo pun berjanji akan mengatur waktunya agar bisa menyusul sang istri ke Jakarta.Tapi berhubung dirinya baru meninggalkan para pasiennya 2 bulan yang lalu, rasanya tidak tega untuk pergi lagi walau alasannya pun sangat urgent.Tapi karena firasatnya ia pun memutuskan untuk membawa putrinya ke Jakarta.


Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka,pak Cahyo langsung menghubungi putrinya.Ia melihat beberapa panggilan masuk sejak 15 menit yang lalu.Ia pun segera menghubungi sang putri.


"Hallo pa...."sapa Bening dengan menahan diri untuk tidak menangis.Tetapi nyeri sangat terasa saat dirinya berbicara.Gadis itu tengah berada di UGD dengan diantar oleh mobil ambulance.


"Iya,hallo nak... maaf papa nggak sempat angkat tadi, soalnya ada operasi terus tadi pas selesai langsung ngangkat telponnya mama.Pas dimatiin baru bisa lihat ternyata tadi kamu nelpon,nak..."jelas pak Cahyo.


"Iya pa, nggak apa-apa"Bening meringis kesakitan.Ia ingin segera memberi tahu ayahnya apa yang sudah terjadi padanya saat di lokasi kejadian tapi ia tak mau ayahnya panik dan syok.Polisi dan perawat menanyai keluhannya dan juga keluarganya tapi ia tak memberi tahu ayahnya bekerja di rumah sakit tersebut.Mereka sudah memberikan tindakan medis kepadanya dengan memasangi infus.


Sementara ibunya Widya sudah berada di rumah sakit, Daniel juga.Ia sempat melihat Bening sebentar tapi karena kondisinya yang terlihat baik baik saja sehingga ia fokus pada Widya.


"Kamu di mana? Sebentar lagi papa pulang,ya? Udah makan belum?"tak menjawab,Bening malah menangis.Meski ia berusaha untuk menahan air matanya,tapi rasa sedih yang bergerumuh membuatnya kalah.


"Pa....aku sekarang di rumah sakitnya papa.Aku di IGD.."cerita Bening.


"Hallo,nak....Kamu kenapa,kok malah nangis?Siapa yang sakit?Widya sesak lagi?atau Daniel"tanya pak Cahyo khawatir.Yah, sebelumnya jika gadis itu pergi mengantar temannya yang sakit ke rumah sakit ia selalu memberi tahu sang ayah tapi tidak sambil menangis.Tangis Bening semakin menjadi dengan suara yang tertahan agar tak menjadi perhatian orang lain.


"Papa ke IGD ya? Bening yang sakit.."ujarnya lalu memutuskan panggilan.


Tak berselang lama ayahnya muncul, jantungnya berdegup kencang saat melihat ada polisi di sana dan sebagai seorang dokter ia pasti tahu kasus apa yang terjadi jika petugas tersebut ada.

__ADS_1


"Siang dok.."sapa seorang perawat yang ada di situ.


"Siang.. Saya mau lihat putri saya,sus.."balasnya tapi matanya fokus mencari putrinya.Ia melihat Daniel berdiri di dekat tempat tidur


Saat pandangan mereka bertemu Bening kembali menangis.Dengan langkah terburu sang ayah mendekatinya.


"Kamu kenapa?"tanyanya panik dengan suara bergetar.Bening tak menjawab tapi terus menangis sambil menahan nyeri.Pria itu memeluk putrinya dengan penuh kasih.


"Auw.... sakit banget pa..."Bening yang sempat bergerak saat dipeluk sang ayah merasakan nyeri di rusuk kirinya semakin hebat.


Seorang polisi menghampiri mereka dan menjelaskan kepada pak Cahyo apa yang sudah menimpa putrinya tersebut.


"Pa... please jangan marah...."Bening berurai air mata.


"Papa nggak marah,tapi papa kecewa banget.."pria itu menghela nafas dalam tak menyangka firasat buruk yang melandanya di setengah hari ini kini terbukti.


"Kenapa tadi keluar?Papa sudah bilang kan,sama kamu,jangan ke mana mana sambil nunggu kabar dari mama.."Ucap pak Cahyo kecewa.


"Terus sekarang apa yang kamu rasakan?ada yang luka nggak?"pak Cahyo memeriksa putrinya.Tampak luka gores di dahi dan lengannya yang mulai membengkak.


"Auw ... nyeri banget pa...di sini..."Bening menunjuk pada rusuk kirinya.Dengan cekatan pak Cahyo memeriksanya.Ia pun berbicara dengan dokter dan perawat di situ agar putrinya segera dilakukan pemeriksaan radiologi.


Mereka menjadi terharu saat pak Cahyo dengan telatennya mengurus putrinya, mencari posisi yang terbaik yang bisa membuatnya nyaman.


"Kamu tenang ya,adek akan segera diradiologi dulu,biar tahu apa penyebab nyerinya dan cederanya di bagian mana"pak Cahyo membelai puncak kepalanya.Bening tak lepas menggenggam tangan mencari kekuatan.


"Pa,Widya masih pingsan nggak? gimana keadaannya?"tanya Bening.


"Jangan mikirin orang lain.Fokus sama diri sendiri.Dia pasti sudah ditangani juga..Papa pengen kamu tak usah dulu peduli dengan yang lain.Mungkin saja kondisinya jauh lebih baik dari yang kamu alami..Yah,nak ya..?"ucap sang ayah saat Bening tengah didorong menuju ruang radiologi untuk dilakukan beberapa metode pemeriksaan.

__ADS_1


Bening hanya mengangguk.Meskipun tak bisa dilenyapkan pikirannya tentang Widya.Ia takut terjadi hal yang fatal pada sahabatnya itu.Setelah dilakukan pemeriksaan Bening akan segera dibawa ke ruang rawatnya sedangkan sang ayah masih menunggu hasilnya.


"Sus tolong hati hati.Nanti kalau dipindahkan ke tempat tidur tolong pelan pelan,ya..."pesan pak Cahyo.Dia yang dikenal sangat baik dan peduli dengan para pasiennya kini terlihat gundah.


Mungkin karena yang menjadi pasien adalah putri semata wayangnya, hartanya yang sangat berharga.Tampak sekali raut kesedihan terpampang di wajahnya saat memandang sang putri.


Pak Cahyo tampak berkaca-kaca saat membaca hasilnya.Putrinya mengalami dekompresi tulang belakang yang menyebabkan nyeri yang teramat hebat bahkan saat ia berbicara atau batuk nyerinya semakin menjadi jadi.


Ia pun segera berdiskusi dengan teman sejawatnya yaitu dokter ahli tulang yang menangani putrinya.Mereka pun sepakat untuk segera melakukan pembedahan pada tulang belakang Bening.


Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam ruang tempat putrinya dirawat.


"Pa..."ucap Bening menyambut kedatangan ayahnya.


"Masih nyeri...?"tanya pak Cahyo lalu mengambil tempat duduk di samping tempat tidur Bening.Gadis itu hanya mengangguk.Meskipun sudah diberikan obat pereda nyeri tetap saja nyerinya tak kunjung hilang.


"Sabar ya nak..."ucap pak Cahyo sambil terus memegang tangan Bening untuk menunjukkan padanya bahwa ia tahu rasanya.


"Mama tahu nggak,pa?Mama pasti akan marah sama Bening..."ujarnya sedih.Ia ingat ibunya.Meskipun sang ayah selalu di sampingnya tapi ia juga membutuhkan sosok ibunya.Tak terbayang bagaimana reaksi ibunya jika melihat kondisinya.


"Iya,sebentar kita telpon mama,ya..Oh iya,hasil pemeriksaannya sudah keluar.Kamu mengalami penekanan serta penjepitan tulang belakang,di sini..."dengan lembut dan perlahan sekali pak Cahyo menunjuk daerah lumbal.Ia memilih untuk tidak menceritakan keadaan kakeknya dan kerinduannya pada Bening.Ia tak ingin putrinya tersebut menjadi sedih.


Pak Cahyo juga belum bisa mengabarkan istrinya tentang kecelakaan putri mereka.Dirinya tak mau menambah beban pikiran istrinya.


"Parah nggak,pa?"tanya Bening saat sang ayah terus memandangnya dengan tatapan nanar.


"Kalau nggak ditangani secepatnya,bisa parah... Karena itu papa sama teman papa akan segera melakukan operasi untuk kamu,nak..."Bening yang mendengar penjelasan ayahnya diam terpaku.Ia tak menyangka sampai harus dilakukan pembedahan sebagai jalan keluarnya.


"Tapi aku takut pa..."kata Bening.

__ADS_1


"Kenapa takut,kan ada papa?Papa sama teman teman papa akan melakukan yang terbaik agar kamu cepat pulih.Jadi, jangan takut ya.Masa calon dokter, takut?"gurau Pak Cahyo sambil mengelus punggung tangannya.


Dalam hatinya sendiri ia pun gugup harus memberi tindakan pada putrinya sendiri tapi dirinya harus lebih kuat dan bisa meyakinkan putrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2