Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.81


__ADS_3

"Beng-beng!"sebuah suara berhasil mengagetkan Bening yang tengah duduk di kantin rumah sakit dengan ditemani segelas kopi.


"Meva......... kamu itu ya,suka banget ngagetin.Kalau tersedak gimana?"omel Bening yang kesal dengan kebiasaan temannya itu.


"Maaf... nggak akan gitu lagi deh..."Ameva mengangangkat dua jarinya untuk berjanji.


"Hmmmm...janji palsu.Kemarin kemarin juga gitu, tapi nyatanya?"Bening memanyunkan bibirnya.


"Iya...iya, sorry deh...by the way,kamu kok minum kopi lagi sih beng, katanya udah nggak mau ngopi lagi.Berarti kita sama dong,janji di atas ingkar.Tandanya kamu belum move on ya...?"ledek Ameva yang berprofesi sebagai dokter spesialis anestesi.


"Move on dari siapa?"Bening pura pura mengelak.


"Dari siapa lagi kalau bukan dari Mr.Scoot emulsion itu..."Meva mengingatkannya padahal ia tak pernah bercerita sedetail mungkin tentang Daniel.


Tetapi karena dirinya yang menolak untuk pacaran meski banyak sekali yang menyukainya dan menjodohkannya.Hal itu membuat Ameva terus mencari tahu dengan caranya sendiri agar Bening tak merasa dirinya terlalu mencampuri urusan pribadinya.


"Namanya Daniel...."


"Tuh kan masih ingat banget lagi namanya.. Daniel Warren Scott, saya benar kan?"kata Meva.


"Iya, tapi nggak ada emulsionnya..."ralat Bening


"Au ah...."Meva pun memesan minuman untuk dirinya sendiri.


"Jadi gimana,Beng?"tanya Meva kali ini lebih serius.


"Gimana apanya?"Bening tak paham.


"Itu,tentang kakak aku.Kak Malvin?"ujar Meva.


Bening terdiam.Ia dan Ameva berteman sejak hari pertama kuliah di salah satu universitas ternama di kota tersebut.Gadis itu periang dan easy going.Meski demikian, Bening tak mau terlalu dekat dengannya, mengingat pengalamannya terdahulu dalam hal pertemanan.

__ADS_1


Tetapi karena dari tahun ke tahun Meva bisa membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang sahabat yang baik untuknya,Bening pun menjadi sedikit terbuka.Mereka saling mengenal keluarga masing-masing.


Dan dari situlah,Meva sering mengirim foto foto dirinya bersama Bening kepada kakaknya yang sekarang bekerja di luar negeri, yaitu Amerika.Nama kakaknya adalah Malvin.Pertama kali melihat potret Bening pemuda itu langsung jatuh hati apalagi ketika mendengar cerita adiknya tentang gadis itu.


Beberapa kali ia ingin menemui Bening saat berlibur ke Jakarta tetapi selalu saja menghindar dengan alasan pulang ke Bali dan alasan lainnya yang membuat mereka tak bisa bertemu.Tetapi, walau demikian Malvin tidak berputus asa.Ia pernah menyusul Bening ke Bali tetapi sesampainya di sana gadis itu tak bisa dihubungi.Mencoba ke rumahnya, tetapi ia malah bersembunyi di rumah pak Darwin.


Berbagai macam cara selalu Bening lakukan untuk menghindar.Tak hanya berlaku bagi kakak dari sahabatnya setiap orang yang berusaha dekat dengannya pun ia akan melakukan hal yang sama, menghindar.


"Hey...Beng..kok diam?Jadi gimana?Ini kakak aku nanyain terus? Gimana dong?Mau ya, kasihan kak Malvin,dia cuman pengen ketemu sama kamu.Kakakku orangnya baik banget Beng.Dia bukan orang yang sembarangan yang gampang jatuh cinta sama cewek.Percaya deh cuma sama kamu doang dia kayak gini.Maksud aku sebesar itu niatnya pengen ketemu kamu.So please mau ya, please..."Meva mengatupkan tangannya untuk memohon.


"Nanti aku nanya kak Bastian dulu ya?"jawab Bening


"Kok nanya sama Bang Bastian?Apa hubungannya? Ngapain?Pacar juga bukan..."Meva merasa heran dengan jawaban sahabatnya.


"Soalnya kami rencananya mau pulang ke Bali dalam waktu dekat.Dia ada konser di sana, jadi ngajak aku untuk ikut.Memangnya kak Malvin pulangnya kapan?"tanya Bening.


"Tergantung jawaban kamu.Tapi dalam waktu dekat ia rencananya pulang.Kebetulan temannya lagi bangun hotel di Jakarta dan sudah hampir finish.Nah dia diundang untuk hadir di peresmiannya nanti..."jelas Meva.


"Hmmmm.. katanya nggak suka sama bule..."Bening mencibir.


"Tapi dia bukan 100 persen bule.Dia blasteran.Campuran Jakarta -Amerika,iya kalau nggak salah sih kata kakakku gitu..."jelas Meva.


"Oooh...."sahut Bening.


"Datar banget sih responnya.Tapi seganteng apapun dia, tetap nggak seganteng abang Bastian.Suaranya bagus, bodynya sixpack,santun, lucu,baik banget lagi.Senangnya jadi kamu Beng..."Meva kembali menunjukkan senyum sumringahnya.


"Kamu beneran suka sama dia?Atau cuma ngefans doang karena dia public figur,artis,penyanyi?"Bening ingin melihat kesungguhan dari sahabatnya.


"Aku tuh sama bang Bastian 100 persen love at the first sight.. Saking jatuh cintanya sampai nggak bisa mandang pria yang lain lagi..."jelas Meva dengan segala kelucuannya.


"Uuuh... gombal.Tapi kalau kamu emang suka sama dia,aku dukung kok.Dan kalau bisa mulai sekarang kamu harus berdoa buat pasangan hidup kamu.."saran Bening.

__ADS_1


"Iya,ya...ide bagus tuh...kok gak kepikiran ya,dari dulu? Mungkin kalau aku doanya dari lama, sekarang aku sama bang Bas udah pacaran kali,ya? atau menikah?"Meva malah melucu.


"Apaan sih?Lebai banget.Jangan dipatok orangnya kali untuk jodoh,mah..Biar Tuhan kasih dengan caraNya,pada waktuNya,dan sesuai dengan rancanganNya.."ungkap Bening membuat sahabatnya hanya memandangnya takjub.


"Woi...kok malah bengong Mev?"tanya Bening.


"Speechless"sahut Meva.


"Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya kalian memang cocok sih?Banyak kesamaannya?"Bening tampak berpikir.


"Masa sih?"gadis itu kembali bersemangat.


"Iya,bener.Persamaan kalian itu sama sama suka gombal,enjoy, suka pelesetin nama orang..Nama aku kamu panggil beng beng,kak Bastian juga gitu.."Bening memaparkan beberapa persamaan menurutnya.


"Tapi kamu senang kan, dipanggil baby?iya,kan?senang kan? Dipanggil baby sama seorang Bastian, penyanyi bersuara emas yang banyak digandrungi cewek cewek"goda Meva.


"Apaan sih?Ya, iyalah.Penyanyi pasti bersuara emas kali"Bening tersipu malu.


"Tuh, muka kamu langsung merah..."sahabatnya semakin niat menggoda.


"Sebentar Mev,ini tante Melia Wa,katanya Daniah demam.."Wajah Bening langsung terlihat khawatir.


"Putrinya mr.Scott itu?Dia lagi,dia lagiNggak usah terlalu panik gitu kali,Beng.Cuma demam doang.Udah diukur belum suhunya berapa? Jangan sampai kayak waktu itu.Kamu bela belain pulang ternyata sampai di sana anaknya baik baik aja.Lagian kenapa sih mereka selalu ngasih tau kamu jika anak itu sakit?Kayak di sana nggak ada dokter aja.Itu lagi orang tuanya.Nggak tanggung jawab banget jadi orang tua.Mereka tinggalnya di negara sono,anak yang masih balita di negara sini.Heran...."gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya jika Bening selalu memberi perhatian pada putri dari orang yang membuat ia selalu bersedih dan sering kali menangis sendiri.


"Emang salah ya, kalau aku ngasih perhatian ke anak mereka?Tante Melia kan, niatnya untuk konsultasi doang,Mev.. Nggak boleh ya, dijawab?"tanya Bening dengan raut wajah sedih.


"Salah Ben.Kalau menurut aku,jika kamu terus dekat dengan anak itu kamu makin susah ngelupain mereka? Kamu susah untuk move on..."


"Astaga Mev, memangnya aku senaif itu ya?Udah 10 tahun Mev... Bodoh nggak sih kalau masih menyukainya yang jelas-jelas udah punya anak?Iya, emang sampai hari ini aku masih menunggunya pulang.Aku mau ketemu dia.Just to say thank you.Karena mengenalnya membuat aku bisa menjadi seperti sekarang.Menjadi seorang dokter..."Bening pun berdiri dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Sorry Ben..."ucap Meva.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, aku ke ruangan dulu.Kamu juga bentar lagi mau operasi kan..."Bening membayar minumannya lalu pergi.


__ADS_2