
"Siapa pria itu? Sepertinya penduduk baru di sini deh," gumam Diska melihat ke arah pria yang rambutnya terlihat gondrong, kulitnya hitam karena panasnya matahari dan bulu-bulu halus di wajahnya membuat Diska tidak mengenali pria itu.
Diska terus menatap pria yang asing baginya itu, dan ternyata sang pria juga menatap Diska.
Diska menghentikan langkahnya saat sang pria juga menghentikan langkahnya tepat di depannya.
Sang pria menatap tak percaya ke arah Diska. Matanya berbinar saat melihat wanita yang dicintainya kini berada di hadapannya.
"Diska," lirih sang pria.
Diska membalas tatapan sang pria, tatapan mata dari pria yang tadi asing baginya kini membuat jantungnya berdegup kencang, sorotan mata dan senyuman yang tak asing baginya membuat dia yakin bahwa pria lusuh di hadapannya kini adalah pria yang selama ini dicintainya.
"Ba-bang Ra-Rama," lirih Diska tak percaya melihat penampilan Bang Rama saat ini.
Mereka berdiri saling berhadapan, diam seribu bahasa.
Rama baru saja balik dari warung Bu Soimah, dia baru mengantarkan hasil kebunnya ke warung Bu Soimah, saat ini dia hendak kembali ke hutan.
Mereka bingung harus berbuat apa, hati mereka ingin memeluk orang yang selama ini menguasai hati mereka. Namun, mereka tidak bisa melakukan hal itu karena saat ini mereka tidak tahu bagaimana kehidupan mereka masing-masing.
"Kapan kamu datang?" Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Rama.
Rama takut untuk memeluk wanita yang disayanginya itu karena dia takut Diska sudah memiliki kehidupan yang baru.
"Aku baru saja sampai di sini tadi pagi," jawab Diska.
Diska ingin sekali memeluk pria yang dicintainya itu, tapi Diska takut jika yang dilakukannya akan merusak rumah tangga Rama dengan Annisa.
"Kamu mau ke mana, Bang?" tanya Diska merasa prihatin melihat penampilan Rama saat ini.
Seandainya dia yang menjadi istri Rama, dia tidak akan membiarkan pria yang dicintainya itu berpenampilan lusuh tak terawat.
Dia akan menjaga penampilan pria tampan serta pria idola desa itu, dia tidak akan membiarkan pria yang dicintainya berpenampilan kotor seperti yang dilihat Diska saat ini.
Buliran bening jatuh di pipi Rama, 3 tahun sudah berlalu. Dia menjalani hari dengan kerinduan terhadap wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"A-aku mau ke kebun," jawab Rama.
"Mhm, kalau Abang sempat mampirlah untuk makan siang ke rumah Uci Desmi nanti," ujar Diska.
Meskipun Diska hanya berbasa-basi, tapi dia sangat berharap Rama akan datang karena dia masih ingin melepas rindu dengan Rama.
__ADS_1
"Mhm, kalau sempat aku mampir," ujar Rama.
Hati Rama sangat senang mendapat tawaran dari wanita yang dicintainya.
"Ya sudah, aku harus ke warung Bu Soimah dulu membeli cabe untuk masak," ujar Diska.
Akhirnya mereka pun berpisah, setelah sekian lama berpisah, mereka pun bertemu dalam keadaan yang tidak disengaja.
Mereka sangat bahagia dengan pertemuan singkat yang baru saja mereka lewati.
Rama yang awalnya ingin kembali ke kebun berbalik arah menuju rumahnya.
Dia memutuskan untuk datang menerima tawaran dari wanita yang dicintainya.
Dia yakin, Diska berani mengajak dirinya untuk makan siang karena dia datang tidak bersama suaminya.
Meskipun Rama tidak pernah tahu Diska sudah menikah atau belum, tapi dia tetap berpikiran bahwa Diska sudah menikah.
Rama melangkah dengan semangat, dia sudah sampai di rumah peninggalan kedua orang tua Rama.
Rumah itu terlihat tidak terawat, karena sering ditinggal oleh Rama.
Pemuda desa itu telah memilih jalan hidupnya sendiri yaitu menyendiri di hutan. Hari-harinya diisi dengan kesibukan agar dia dapat melupakan kesedihannya berpisah dengan Diska.
Dia melihat baju-bajunya di lemari itu.
"Ternyata aku sudah lama tidak membeli baju baru," lirih Rama.
Akhirnya dia memilih sebuah kemeja berwarna putih, serta celana jeans. Entah mengapa kali ini dia ingin berpenampilan bagus di hadapan Diska.
Dia menyisir rambutnya yang sudah gondrong lalu mengikat rambut gondrong itu dengan sebuah karet gelang.
"Ya Allah, ternyata saat ini penampilanku benar-benar tidak terurus," gumam Rama saat melihat pantulan wajahnya di cermin lemari.
"Untung saja aku sudah mencukur jenggot dan bulu-bulu halus di wajahku saat mandi tadi, kalau tidak mungkin aku sudah seperti serigala di mata Diska," gumam Rama tersenyum.
Hati Rama seketika berbunga-bunga, dia seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
"Meskipun dia sudah memiliki suami, hari ini akan aku jadikan hari yang paling berarti dalam hidupku. Aku tidak akan membuang kesempatan ini," gumam Rama.
Rama pun keluar dari rumahnya dengan penampilan yang sudah rapi, meskipun wajahnya sudah kusam karena cahaya matahari yang menyengat di saat dia bekerja di kebun, dia tidak peduli. Baginya hal yang penting kali ini bertemu dengan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
"Rama," panggil Rudi yang baru saja keluar dari rumahnya.
Rudi hendak pergi ke kantor kepala desa, setelah Rama berhenti bekerja Rudi lah yang menggantikan pekerjaan sahabatnya karena di desa itu hanya Rudi dan Rama yang paling mudah mengerti dengan hal-hal yang baru.
Rama yang hendak mengeluarkan sepeda motor bututnya dari rumah menghentikan kegiatannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rudi.
Rudi langsung menghampiri sang sahabat yang sudah berpenampilan sangat rapi.
"Mhm, aku mau ke rumah Uci Desmi," jawab Rama jujur.
"Ngapain?" tanya Rudi penasaran.
Setelah sekian lama mereka jarang mengunjungi rumah wanita paruh baya itu, tiba-tiba Rama hendak ke sana, hal itu membuat Rudi penasaran.
"Mhm, Uci Desmi ngajakin makan siang, kamu mau ikut?" tanya Rama pada sahabatnya.
Rama sengaja tidak memberitahukan kedatangan Diska pada Rudi, dia takut nanti berita kedatangan Diska malah menyebar di sekeliling desa.
"Wah, tumben. Uci Desmi ada acara apa, ya?" tanya Rudi semakin penasaran.
"Kalau kamu mau tahu, ayo ikut," ajak Rama.
Rama sengaja mengajak Rudi agar suasana di antara mereka nanti tidak kaku.
"Aduh, aku masih ada kerjaan di kantor," jawab Rudi.
Tapi jelas terlihat di wajah Rudi, dia tengah bimbang.
"Ya udah, ayo ikut denganku!" ajak Rama.
Rama pun kembali memasukkan sepeda motor bututnya ke dalam rumah.
"Pakai sepeda motor kamu aja," ujar Rama.
Begitulah persahabatan mereka, dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Rama dan Rudi selalu saling mengerti keadaan sahabatnya.
meskipun Rudi mulai sibuk dengan pekerjaannya di kantor pemerintahan desa, dia masih sering berkunjung ke kebun Rama atau mereka saling bertemu di saat Rama kembali ke desa.
Mereka pun berangkat menuju rumah Uci Desmi, Rudi menghentikan motornya lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Uci Desmi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Rudi santai sementara itu Rama merasa gugup untuk bertemu dengan Diska lagi.
Bersambung...