Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 30


__ADS_3

Diska menarik tangan Rama menuju taman belakang yang ada di rumahnya.


Dia meminta Rama untuk duduk di kursi panjang yang ada di sana.


"Kamu kenapa sih, Dek?" tanya Rama heran.


"Bang, kamu dapat uang dari mana? Jangan bilang kamu habis nyuri," ujar Diska menuduh Rama sudah melakukan hal-hal yang tidak-tidak.


"Astagfirullah, kamu kok ngomong seperti itu?" tanya Rama kesal.


"Terus kamu dapat uang sebanyak itu dari mana, Bang? Kalau cuma berkebun aja, enggak mungkin kamu punya uang sebanyak itu," ujar Diska lagi.


Rama menghela napas panjang, dia berusaha mengontrol emosinya. Dia tidak boleh marah pada calon istrinya itu.


"Dek, kamu yakin 'kan sama Abang? Kamu percaya aku tidak akan berbuat yang dilarang Allah," ujar Rama berusaha menenangkan Diska yang saat ini sangat menggebu-gebu ingin mengetahui asal muasal uang yang dimiliki oleh calon suaminya.


"Mhm," gumam Diska.


"Aku tidak akan memberikan kalian hasil dari uang haram, karena kalian adalah harta yang paling berharga buat aku, aku akan menafkahi kalian dengan hasil usahaku," ujar Rama lagi.


Rama terus berusaha meyakinkan Diska agar dia tidak perlu mengkhawatirkan asal usul uang tersebut.


"Lalu kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya Rama lagi.


"Oke, kamu tenang dulu, yakinlah padaku. Aku akan menceritakan semuanya setelah kita menikah, aku tidak akan menceritakan semuanya di sini. Setelah kita menikah, kita akan kembali ke desa dan mengadakan resepsi di sana. Aku akan memberitahumu semuanya," ujar Rama berusaha meyakinkan wanita yang dicintainya itu.


"Benarkah? Kamu tidak akan menipuku, Bang?" tanya Diska.


Rama menatap dalam wanita yang sebentar lagi akan dijadikan istri dan pendamping hidupnya.


"Apakah kamu tidak percaya dengan cintaku? Saat ini, kalian adalah hidupku," ujar Rama dengan sepenuh hati.


Diska menatap dalam wanita yang sudah sejak lama ada di dalam hatinya itu, selama ini hanya Rama lah yang ada di hatinya, kali ini Rama benar-benar menunjukkan keseriusannya.


"Maafkan aku ya, Bang. Aku sudah mencurigai dirimu, aku takut kamu melakukan hal-hal yang aneh-aneh," tutur Diska.


"Tidak, Sayang. Ini semua adalah hasil keringatku, aku akan menceritakan semuanya padamu setelah kita mengadakan resepsi pernikahan di desa Tanjung," ujar Rama.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Aku percaya padamu," lirih Diska.


Diska ingin sekali meluk tubuh kekar Rama saat itu juga, tapi dia takut tiba-tiba kedua orang tuanya datang.


Mereka sama-sama ingin saling mengungkap rasa yang ada di hati mereka saat ini, tapi pesan papa Diska membuat mereka hanya bisa saling menatap.


Pada malam harinya, setelah makan malam Pak Bayu mengajak Rama dan Diska untuk mengobrol di ruang keluarga.


"Rama," lirih Pak Bayu.


Rama menoleh pada Pak Bayu lalu menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut pria paruh baya itu.


"Mhm, kapan kamu akan menikahi Diska?" tanya Pak Bayu memulai pembicaraan.


Rama menoleh ke arah Diska saat mendapat pertanyaan seperti itu dari papa Diska.


"Mhm, bagaimana setelah urusan surat menyurat rumah selesai, Pa?" jawab Rama.


"Mengapa harus menunggu surat menyurat rumah selesai?" tanya Pak Bayu heran.


Pak Bayu dan Bu Naina kaget dengan keseriusan Rama. Mereka tidak menyangka Rama akan menjadikan rumah syarat yang diberikan oleh Pak Bayu sebagai mahar, itu artinya rumah itu akan menjadi hak Diska seumur hidupnya karena mahar merupakan milik paten bagi sang istri.


"Apakah kamu yakin?" tanya Pak Bayu.


"Iya, Pa. Bagiku saat ini Diska dan Farel adalah kebahagiaan saya, hidupku saat ini hanyalah untuk mereka," tutur Rama.


"Baiklah, kalau begitu surat menyuratnya akan selesai dua hari lagi," ujar Pak Bayu.


"Iya, Pa." Rama mengangguk.


"Besok papa akan mendaftarkan pernikahan kalian di KUA, agar pernikahan kalian dapat dilakukan secepatnya," ujar Pak Bayu.


Rama dan Diska sangat senang mendapat respon baik dari kedua orang tua Diska.


****


Rumah adik Pak Lukman sudah sah menjadi milik Diska, Rama sengaja membeli rumah tersebut atas nama Diska, Rama akan menjadikan rumah itu sebagai mahar untuk menghalalkan wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Kenapa atas nama aku, Bang?" tanya Diska pada Rama saat menerima surat menyurat rumah tersebut.


Mereka baru saja pulang dari rumah Pak Lukman, dan kini sedang berhenti di sebuah cafe untuk makan siang.


"Iya, Dek. Rumah itua kan menjadi. mahar untukmu saat kita menikah nanti," jawab Rama.


Diska terdiam mendengar jawaban Rama. Dia merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Rama.


"Iya, apa lagi yang kamu inginkan untuk mahar nanti?" tanya Rama pada Diska.


Rama ingin menebus kesalahannya pada Diska, baginya rumah dan harta apa pun yang diberikan kepada wanita yang dicintainya itu tidak akan cukup untuk menebus dosa dan kesalahannya yang telah membiarkan Diska menjalani hari-hari berat seorang diri.


Perasaan bersalah Rama yang telah membiarkan Diska menjalani masa-masa kehamilan seorang diri, lalu melahirkan putranya tanpa keberadaannya di sisi Diska serta membesarkan Farel seorang diri hingga putranya itu kini sudah berumur 2 tahun.


"Semua itu sudah cukup untuk aku, Bang. Bahkan ini sudah lebih dari cukup," ujar Diska terharu.


Dia tak menyangka Rama akan memperlakukan dirinya seperti ratu. Rama menunjukkan bahwa Diska dan Farel adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya.


"Apa kamu tidak mau mengganti mobilmu dengan yang baru?" tanya Rama menawarkan Diska untuk membeli mobil yang baru.


Diska kaget mendengar tawaran dari Rama, dia semakin penasaran dengan sosok pemuda desa yang dikenalnya hanyalah seorang yatim piatu yang 3 tahun lalu bekerja serabutan untuk hidup.


Waktu 3 tahun sudah mengubah sosok pemuda desa itu menjadi seorang yang kaya raya, tapi penampilannya masih sama seperti dulu. Sederhananya dan bersahaja.


"Tidak, Bang. Jika Abang masih ada simpanan, lebih baik Abang simpan dulu. Mana tahu ada masanya kita membutuhkan uang itu," ujar Diska.


Meskipun Diska merupakan seorang yang selalu hidup berkecukupan, tapi kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan hidup foya-foya.


Kedua orang tua Diska selalu mengajarkan Diska untuk hidup hemat.


"Ya udah, kalau gitu. Aku mau beli seperangkat alat shalat untuk tambahan mahar akad nikah kita, kita belinya di mana?" ujar Rama.


"Kita lanjut ke mall aja, Bang. Mumpung Farel lagi tinggal, sekalian kita beli perlengkapan untuk akad nikah besok," ujar Diska bersemangat.


"Ya sudah kalau begitu, kita langsung ke mal aja, ya. Kasihan Farel ditinggal. Ayah dan bundanya malah asyik jalan-jalan," ujar Rama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2