
"Dek, aku tahu kamu pasti kesal sama aku," ujar Rama memulai pembicaraan.
"Kamu sadar, kalau kamu salah?" gerutu Diska sambil cemberut.
"Hehehe." Rama terkekeh melihat wajah wanita yang dicintainya sedang merajuk.
"Ish, kamu menyebalkan," lirih Diska mencubit pinggang Rama.
"Kamu kalau ngambek makin ngegemesin," ujar Rama.
"Kamu semakin nyebelin ya sekarang?" gerutu Diska.
"Nyebelin tapi suka, 'kan?" goda Rama.
"Ih, apaan sih?" lirih Diska dengan wajahnya yang mulai berubah warna.
Paras cantik ibu satu anak itu memerah bersemu saat mendapat tatapan penuh cinta dari pria yang sangat dirindukannya saat ini.
"Dek, aku sudah tahu semuanya," ujar Rama.
Diska menautkan kedua alisnya heran.
"Tahu? Apa yang kamu ketahui, Bang?" tanya Diska pada Rama.
"Aku tahu bahwa Farel adalah anak kita," lirih Rama dengan serius.
Diska menatap dalam pada pria yang kini menatapnya dengan cinta yang sama beberapa tahun yang lalu.
Jantung Diska kini berdegup dengan kencang, dia merasakan cinta Rama masih ada untuk dirinya.
"Dari mana kamu tahu kalau Farel itu,--"
Diska belum melanjutkan perkataannya, Rama menggenggam tangan Diska.
"Dek, sebagai ayahnya aku tahu kalau dia adalah putraku. Saat aku berada di dekatnya aku merasa sangat dekat dengannya," ujar Rama.
Diska terdiam mendengar ucapan Rama, buliran bening kini mulai membasahi pipinya.
Diska terharu dengan perasaan yang dirasakan Rama terhadap buah cinta mereka.
"Dek, kenapa kamu sembunyikan semua ini dariku? Seharusnya kita jalani masa sulit yang kamu hadapi bersama," lirih Rama sambil mengusap air mata yang membasahi pipi wanita yang dicintainya.
"Aku hanya tidak mau, hubungan rumah tangga Bang Rama dan Annisa berantakan gara-gara aku. Aku tidak ingin menyakiti wanita lain demi kebahagiaan diriku," jawab Diska menunduk.
“Dek, aku yang salah. Seharusnya waktu itu aku memintamu tetap tinggal di sini. Kita bisa jalani hidup kita di sini bersama keluarga kecil kita,” ujar Rama menangkup wajah wanita yang dicintainya itu.
Diska terdiam, ini semua memang salah dirinya. Saat itu dia bersikeras untuk pergi karena dia meraih impiannya menjadi dokter seperti sekarang ini.
Dia juga rela membiarkan Rama menikah dengan Annisa.
__ADS_1
“Bang,” lirih Diska.
Dia teringat akan pertanyaan yang akan ditanyakannya pada Rama.
“Mhm,” gumam Rama.
Rama menatap dalam pada Diska, dia menunggu ucapan yang akan dilontarkan oleh Diska.
“Apa yang sebenarnya terjadi di antara kamu dan Annisa? Kenapa kalian berpisah?” tanya Diska pada Rama.
Diska benar-benar penasaran dengan apa yang menjadi penyebab perpisahan mereka.
“Mhm, aku berpisah pada malam setelah aku menikahinya,--“ Rama pun mulai menceritakan apa yang sudah terjadi malam itu.
“Astaghfirullahal’azhim,” ucap Diska sambil menutup mulutnya tak percaya dnegan apa yang dikatakan oleh Rama.
“Jadi, Pak Didin yang sudah memisahkan Abang dengan kedua oran tua kamu, Bang?” tanya Diska memastikan.
“Iya, Dek. Andai saja malam itu aku tidak melewati kamar Pak Didin, mungkin aku sudah terperangkap dalam pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan.” Rama mengungkapkan apa yang saat itu dia rasakan.
“Kejadian malam itu bagaikan pertolongan bagiku untuk bisa menceraikan Annisa di saat itu juga, tanpa aku harus melibatkan dirimu.” Rama mengambil hikmah dari terbongkarnya pembunuh kedua orang tuanya.
“Lalu apa yang kamu lakukan terhadap Pak Didin?” tanya Diska penasaran.
“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menjauhkan diri dari keluarganya,” jawab Rama.
Diska penasaran dengan kehidupan Rama setelah itu.
“Aku menyendiri di kebun, aku menutup pergaulan dengan siapa pun kecuali Rudi,” jawab Rama.
Setelah itu Rama menceritakan apa saja yang dilakukannya selama berada di kebun, dia selalu meratapi kisah cinta mereka yang kandas sebelum berlayar.
Diska termenung mendnegar apa yang diceritakan Rama padanya, dari apa yang sudah diceritakan Rama padanya, Diska dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka sama-sama diselimuti sepi selama tiga tahun ini.
Bedanya Rama benar-benar sendiri, sementara itu Diska masih ditemani oleh si pangeran kecil Farel.
“Begitu pahit kisah cinta yang sudah kita jalani,” lirih Diska.
“Dek, aku ingin kita bahagia. Aku ingin kita bersama membesarkan putra kita,” ujar Rama.
Rama menatap dalam pada wanita yang sangat dicintainya itu, dia terlihat benar-benar memohon pada Diska untuk menerima tawarannya kali ini.
Diska membalas tatapan pria yang dicintainya itu, dia melihat dengan jelas keseriusan Rama untuk membangun rumah tangga dengan dirinya.
“Apakah kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan, Bang?” tanya Diska pada Rama.
Diska ingin memastikan Rama benar-benar menunjukkan keseriusannya.
“Iya, Dek. Aku tidak akan membiarkan Farel tumbuh tanpa sosok seorang ayah,” ujar Rama dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Kamu yakin, Bang?” tanya Diska lagi.
“Apakah kamu tidak percaya dengan cintaku pada kalian?” tanya Rama balik.
“Kalau begitu, kamu akan melakukan apa saja agar kita bisa bersama?” tamya Diska lagi.
“Iya, apa pun. AKu akan lakukan apa saja,” jawab Rama penuh keyakinan.
“Apakah kamu mau ikut denganku? Menemui kedua orang tuaku?” tanya Diska lagi pada pria yang sangat dicintainya.
“Aku akan ikut ke mana, pun kamu pergi. Aku akan bahagiakan kalian, dengan segenap kemampuanku,” ujar Rama dengan penuh penekanan.
Diska menatap dalam pria yang selalu mengisi hatinya, taka da keraguan sedikitpun di mata pria yang kini dihadapannya.
Rama benar-benar sudah siap untuk melakukan apa yang diinginkan oleh Diska.
Diska pun langsung memeluk tubuh kekar Rama, dia mendekap erat tubuh yang sudah memberi kehangatan dalam jiwanya.
“Aku mencintaimu, Bang,” ucap Diska.
“Aku mencintaimu melebihi cintamu padaku,” ucap Rama.
Semalaman Rama sudah memikirkan matang-matang tentang perjalanan hidupnya setelah ini. Rama sudah bertekad akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Diska dan buah hatinya Farel.
Mereka pun saling melepaskan rasa bahagia yang ada di hati mereka saat ini hingga senja mulai menyembunyikan sang surya.
“Udah sore, kasihan Farel ditinggal,” ujar Diska pada Rama.
“Ya udah, yuk kita pulang,” ajak Rama.
Mereka pun melangkah menuju parkiran sepeda motor, lalu menaiki sepeda motor tersebut. Rama melajukan sepeda motor dengan hati yang sangat bahagia. Begitu juga, Diska berboncengan dengan Rama dengan hati yang berbunga-bunga.
Sebelum azan maghrib berkumandang, mereka pun sampai di rumah uci Desmi. Terlihat Farel sedang bermain dengan Mbak Yuyun, dan Uci Desmi duduk di bangku panjang yang ada di teras rumahnya.
“Bun-nda, bun-nda,” teriak Farel mengejar Bundanya yang baru saja pulang.
Diska langsung menghampiri putra kesayangannya, lalu menggendong malaikat kecilnya.
“Bun-nda mana aja?” tanya Farel.
“Mhm, maafkan bunda ya, Sayang. Tadi bunda ada urusan sama om Rama,” ujar Diska.
“Ayah,” bisik Rama pelan sambil tersenyum menggoda Diska.
“Ih, nanti kedengaran Uci Desmi,” lirih Diska malu.
“Ya, seharusnya dia belajar memanggil ayah kandungnya dengan kata ayah,” bisik Rama lagi.
Bersambung...
__ADS_1