
"Iya, Dok. Itu suaminya, dia baru saja menikah dengan pemuda itu," jelas Gina.
Gina semakin heran saat melihat reaksi Miko yang kaget mengetahui bahwa wanita yang dikaguminya itu sudah memiliki seorang suami, hal itu akan membuat dirinya sulit untuk meraih sosok Diska.
Miko juga tidak percaya bahwa pria yang terlihat lusuh dan persis seperti tukang ojek menurutnya itu mampu meraih hati Diska.
"Memangnya kenapa, Dok? Apakah ada yang salah dilakukan teman saya itu, Dok?" tanya Gina kepo.
"Tidak, saya hanya ingin tahu saja," jawab Miko.
Setelah itu Miko pun pergi meninggalkan ruangan pemeriksaan tempat Diska bekerja.
Dia melangkah menuju ruangan kepala Klinik.
Setelah itu Gina kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih terbengkalai.
"Sayang, aku harap kamu bisa datang lebih awal dari kemarin. Aku takut dia menggangguku lagi," ujar Diska pada Rama.
"Iya, Sayang. Aku usahakan datang lebih awal," ujar Rama menanggapi permintaan istrinya.
Diska tersenyum lalu, dia pun menyalami dan menciumi punggung tangan sang suami.
Rama tersenyum, setelah itu dia membiarkan istrinya masuk ke dalam klinik tempat dia bekerja.
Tanpa mereka sadari di balik jendela lantai dua, sepasang mata memperhatikan gerak gerik sepasang suami istri itu.
"Kelihatannya pria itu bukanlah pria yang berpendidikan seperti aku, itu artinya aku bisa merebut hati Diska dari pria kumuh itu," gumam Miko di dalam hati.
Dia merasa sangat yakin dapat meraih hati Diska, apalagi saat ini Diska sudah menjadi bawahan baginya.
Dia bisa melakukan berbagai hal agar misinya mendapatkan Diska terwujud.
Rama melajukan sepeda motornya setelah memastikan sang istri masuk ke dalam klinik, di dalam klinik sudah terlihat beberapa petugas yang kini tengah membersihkan klinik.
Baru saja dia melajukan sepeda motornya sekitar 100 meter, Rama menemui seseorang yang sejak tadi sudah menunggunya di tempat yang tak berapa jauh dari klinik.
"Jangan lupa apa yang sudah aku katakan," ujar Rama pada seseorang itu.
Si pria itu pun mengangguk mengerti lalu Rama pun meninggalkan si pria tersebut.
"Assalamu'alaikum, pagi, Kak Gina," sapa Diska saat dia sudah masuk ke dalam ruang yang sudah ditetapkan untuknya.
__ADS_1
"Wa'alaikummussalam, pagi juga Dokter Diska," ucap Gina membalas sapaan Diska.
"Ih, Kak Gina enggak seru." Diska merasa asing saat dipanggil Gina dengan sebutan Dokter.
"Lho, betul lho aku panggil Dokter, enggak ada salahnya. Lagian nanti di depan pasien tidak mungkin aku cuma panggil nama kamu saja.
"Iya, sih. Kalau enggak ada pasien panggil nama aja, kesannya kita itu dekat, Kak." Diska mengungkapkan alasannya yang tidak mau dipanggil Dokter oleh Gina.
"Iya, Dek. Tenang saja, kamu tetap adikku," ujar Gina dengan senyuman yang melebar di wajahnya.
Mereka pun tersenyum, dan akhirnya mereka pun memulai pekerjaan mereka.
Di klinik desa Silaping, para dokter akan melakukan pemeriksaan rawat jalan pada pukul 8 hingga pukul 11.00, setelah itu mereka akan memeriksa pasien rawat inap bagi dokter yang memiliki pasien yang menjadi tanggung jawab mereka.
Setelah itu mereka akan beristirahat hingga pukul 14.00, setelah itu mereka akan membuat laporan harian, pada pukul 15.00 bagi dokter atau suster yang sudah menyelesaikan pekerjaannya diperbolehkan untuk pulang.
"Dis, kita makan siang di mana?" tanya Gina pada Diska saat jam istirahat tiba.
"Mhm, ke mana, ya?" tanya Diska balik.
Diska mana tahu daerah Silaping, hanya Gina yang tahu tempat makan yang ada di dekat klinik tempat mereka bekerja.
"Mhm, aku juga bingung, nih. Lagian kita enggak ada kendaraan buat cari makan," ujar Gina.
Kemarin mereka juga melakukan hal yang sama, akhirnya mereka beristirahat shalat di ruangan tersebut tanpa ada gangguan.
"Oh, ya udah kalau begitu aku ke sebelah dulu, ya, mau cek siapa yang pergi beli makanan," ujar Gina.
Gina keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Diska seorang diri.
"Suster Gina," panggil seorang perawat lainnya datang menghampiri Gina yang hendak melangkah ke ruangan yang ada di sebelah ruangannya bertugas.
"Ada apa, Kak?" tanya Gina pada perawat senior yang manggilnya itu.
"Mhm, Pak Miko meminta kita untuk membeli makanan untuk makan siangnya di rumah makan puncak," ujar si perawat senior itu.
"Hah? Harus sama aku ya, Kak?" tanya Gina hendak menolak ajakan si perawat senior itu.
"Iya, ayo temani aku," ajak si perawat lagi dengan nada yang mulai memaksa.
"Baiklah," lirih Diska.
__ADS_1
Perawat senior itu menarik tangan Gina, lalu meminta Gina yang melajukan sepeda motor miliknya.
Mau tak mau Diska pun menuruti permintaan perawat senior itu.
Gina menyalakan sepeda motor tersebut lalu melakukannya meninggalkan kawasan klinik menuju sebuah rumah makan yang terletak di daerah puncak Silaping yang berjarak sekitar 2 km dari klinik.
"Pak Miko beli makanan apa, Kak?" tanya Gina.
Setahu karyawan yang ada di klinik itu Pak Miko tidak pernah membeli makanan keluar karena dia selalu membawa bekal makanan yang disiapkan oleh istrinya.
"Aku juga enggak tahu, katanya minta nasi Rames gitu," jawab si perawat senior.
"Oh, tumben Pak Miko malah beli nasi, bukankah biasanya dia selalu dibawakan bekal oleh istrinya. Kenapa sekarang malah jajan di luar?" tanya Gina penasaran.
"Aku juga tidak tahu," jawab si perawat senior itu.
Si perawat senior itu hanya disuruh oleh Miko, dia tidak tahu alasan Kepala Klinik mereka itu meminta membelikan nasi.
Sementara itu, Diska di dalam ruangannya mulai gelisah menunggu Gina yang sejak tadi tak kunjung datang
Diska pun memilih untuk berwudhu terlebih dahulu di sebuah toilet yang ada di ruangannya itu.
Diska mulai membuka hijabnya dan meletakkan hijab itu di sebuah tempat tidur yang tersedia di ruangan itu, dia pun masuk ke dalam toilet lalu melakukan thaharah dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Usai berwudhu ibu satu anak itu keluar dari toilet, lalu dia pun kembali memasang hijabnya sebelum sembahyang.
Saat dia baru saja selesai shalat, Diska melihat Miko sudah duduk di kursi tempat biasanya dia duduk.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" teriak Diska.
Pria itu pun melangkah mendekati Diska secara perlahan.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu," lirih Miko berbisik di telinga Diska.
Diska pun berusaha untuk melangkah menuju pintu, tapi Miko menghalanginya, sehingga Diska hanya bisa mundur ke belakang.
Perlahan dia melangkah, kini Diska sudah membentur dinding sehingga dia tidak dapat menjauh dari pria yang ingin menyakitinya.
"Tolong!" teriak Diska.
"Sssstt, percuma kamu berteriak, semua orang yang ada di klinik ini sedang berada di luar klinik," lirih Miko.
__ADS_1
Bersambung...