
"Apa katamu?" bentak si wanita.
Wanita itu tidak terima diremehkan oleh Rezi.
Rezi menautkan kedua alisnya, dia mulai penasaran dengan nasib yang menimpa gadis itu.
"Apakah kamu ditinggal oleh pria yang kau taksir?" tanya Rezi lagi.
Di dalam hati Rezi tertawa, dia menertawakan nasibnya yang sama dengan wanita yang kini ada di hadapannya.
"Jangan asal tebak, sok tahu kamu, hiks." Si wanita mulai menangis.
"Ternyata patah hati itu benar-benar menyakitkan, begini ternyata perihnya luka karena cinta," isak si wanita.
Si wanita yang awalnya berlagak hendak memaki Rezi, dia malah menangis di samping Rezi.
Sebagai seorang pria yang baik hati, Rezi pun meminjamkan dada bidangnya untuk si wanita meluapkan rasa sesak yang ada di hatinya.
Rezi meraih tangan si wanita lalu menyodorkan pundaknya untuk si wanita.
Wanita itu merebahkan kepalanya di pundak pria yang baru saja ditemuinya.
Bahkan dia belum mengenali pria itu sama sekali.
Beberapa menit wanita itu menangis, kini dia tersadar sudah melakukan perbuatan yang bodoh.
Dia mengangkat wajahnya, seketika wajah cantiknya kini berubah warna merah karena malu.
"Astagfirullah, apa yang sudah aku lakukan?" Gadis itu merutuki kebodohannya di dalam hati.
"Apakah kamu sudah mulai tenang?" tanya Rezi pada sang wanita.
Wanita itu masih terdiam, hati dan akal sehatnya tengah berperang.
Hatinya merasa lega sudah mendapatkan tempat meluapkan luka hatinya, sementara itu akal sehatnya menolak hal konyol yang baru saja dilakukannya.
Rezi membiarkan wanita itu diam, memberi waktu pada sang wanita untuk berpikir.
Wanita itu kini menghadap ke arah lautan lepas, Iya menikmati angin laut yang menerpa wajahnya mengabaikan pertanyaan dari pria yang kini masih diam menatap wajah sang gadis.
Wajah sembab sang gadis mulai sirna setelah angin menghapus luka yang ada di hatinya.
Melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu, Rezi ikut menatap lautan lepas yang ada di hadapan mereka.
Kini Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Satu jam telah berlalu, dia yang tengah duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sang wanita dapat melihat kesedihan yang juga terpancar dari wajah pria itu.
"Kenalkan nama aku Zharin," ujar sang wanita pada Rezi sambil mengeluarkan tangan.
Zharin melupakan apa yang sudah dilakukannya saat dia baru saja datang ke tempat itu. Hal itu dilakukannya untuk menutupi rasa malu pada Rezi.
Rezi mengangkat alisnya, tapi dia menjabat tangan wanita itu.
"Rezi," lirih Rezi juga memperkenalkan dirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zharin pada Rezi.
"Aku? He." Rezi tersenyum dan terkekeh.
lagi-lagi Dia teringat dengan alasan keberadaannya di tempat itu, alasan keberadaannya sama dengan alasan Zharin datang ke tempat itu.
"Mengapa kamu malah tertawa?" tanya Zharin heran.
"Aku ke sini karena ingin menenangkan diri," tutur Rezi menjawab jujur.
"Mhm, di saat kita bersedih. Tempat seperti inilah yang kita butuhkan untuk menenangkan diri,--"
"Eh, apa kau juga sedang bersedih? Sama sepertiku?" tanya Zharin mulai penasaran.
"Mhm, tidak. Aku hanya ingin menyendiri, dan menenangkan pikiran." Rezi tidak ingin mengungkap apa yang dirasakannya saat ini.
Zharin adalah seorang gadis asli pesisir pantai itu. Sehari-hari dia bekerja membantu kedua orang tuanya menjemur ikan asin di pinggir pantai.
Dia baru saja mendapat kabar dari pria yang disukainya, bahwa dia akan menikahi seorang gadis.
Seketika hati Zharin hancur, selama ini dia mengira si pria telah menganggap dirinya sebagai seorang kekasih karena Zharin telah melakukan apa saja untuk sang pria.
"Aku kira, dia menganggapmu sebagai seorang yang spesial dalam hidupnya, tapi ternyata dia hanya menganggapku sahabat," cerita Zharin secara terbuka pada Rezi.
"Mhm, seharusnya kamu pastikan duku hatinya untukmu sebelum kamu kecewa," lirih Rezi menanggapi.
Nasehat yang diucapkannya berlaku untuk dirinya sendiri.
"Iya juga, sih. Sudahlah, semua sudah berlalu. Mulai hari ini aku akan menatap ke depan dan akan melupakan dia," ujar Zharin mulai riang.
Dengan mudah gadis itu melupakan kesedihannya, berbeda dengan Rezi yang masih merasakan lukanya sebuah kekecewaan.
****
Hari yang mereka tunggu pun datang, Rama akan mengucapkan janji suci dihadapan kedua orang tua Diska.
Dia akan menghalalkan wanita yang dicintainya itu menjadi pendamping dalam hidupnya.
__ADS_1
Acara akad nikah yang akan dilaksanakan dengan sederhana di kediaman kedua orang tua Diska, Pak Bayu dan Bu Naina hanya ingin hubungan mereka tidak menimbulkan dosa bagi kedua belah pihak.
Untuk resepsi pernikahan, mereka akan rencanakan setelah itu.
Acara akad nikah akan diadakan pada pukul 10.00, masih ada waktu sekitar 3 jam lagi.
Jantung Rama berdegup kencang, dia mencoba menenangkan dirinya dengan cara mengajak Farel bermain, entah mengapa anak kecil itu bangun lebih awal tak seperti biasanya.
Rama bermain di taman dengan Farel ditemani oleh Mbak Yuyun, sedangkan Diska masih berada di dalam kamarnya.
"Mbak," lirih Rama menoleh ke arah wanita yang diperkirakan seumuran dengan dirinya yang kini duduk di sampingnya.
"Mhm," gumam Mbak Yuyun.
"Aku merasa bersyukur bisa diberi kesempatan sama Allah untuk bersatu dengan Diska. Ini adalah nikmat terbesar yang aku rasakan," tutur Rama pada wanita yang kini duduk di sampingnya sambil mengawasi pangeran kecil Farel bermain mobil-mobilan.
"Mbak Yuyun sangat bahagia dengan apa yang kini kalian rasakan, selama ini Mbak selalu menjadi tempat Nona Diska berkeluh kesah. Meskipun Rezi selalu ada menemani Nona Diska, tapi Nona Diska tidak pernah menganggap Tuan Rezi sebagai seorang yang berharga untuk dirinya." Mbak Yuyun juga bersyukur dengan pernikahan Rama dan Diska yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
"Apakah Rezi itu mencintai Diska?" tanya Rama penasaran.
Rama teringat dengan masalah yang pernah dihadapi Diska dan Rama waktu itu. Salah paham yang terjadi di antara mereka karena sosok Rezi yang mengantarkan Diska ke desa.
"Setahu Mbak Yuyun, Tuan Rezi sangat mencintai Nona Diska, tapi Nona Diska selalu meminta Tuan Rezi untuk tidak mencintainya," jawab Mbak Yuyun.
"Mhm, begitu rupanya." Rama mengangguk.
"Di hati Nona Diska itu hanya ada kamu Rama," ujar Mbak Yuyun.
Rama tersenyum.
"Semoga pernikahan ini diridhoi oleh Allah SWT, aamiin," lirih Rama.
"Aamiin," lirih Mbak Yuyun.
Sementara itu, Diska di dalam kamar tengah sibuk dengan ponselnya. Dia mencoba menghubungi Rezi yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi.
Diska ingin memberitahu pernikahannya dengan Rama. Diska ingin Rezi hadir di acara akad nikahnya sebagai seorang kakak dalam hidupnya.
Berkali-kali Diska menghubungi Rezi, tapi pria itu sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya.
Akhirnya, Diska memutuskannya untuk mengirimi Rezi sebuah pesan.
"Assalamu'alaikum, Kak. Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan dariku? Apakah kamu marah padaku? Sebentar lagi aku akan menikah, aku ingin kamu hadir dalam pernikahanku. Aku mohon datanglah sebagai seorang kakak bagiku."
Diska berharap Rezi membaca pesan yang dikirimnya, dan dia datang menghadiri pernikahannya.
Bersambung...
__ADS_1