
"Dari mana Bang Rama mendapatkan uang sebanyak itu? Jika dia menabung selama 3 tahun ini, aku tidak yakin dia bisa memiliki uang sebanyak itu," gumam Diska di dalam hati.
Mereka kini sudah di perjalanan pulang, Rama masih fokus mengendarai mobilnya.
"Rama, antarkan Papa dan Mama ke rumah sakit, ada pasien operasi yang baru masuk," perintah Pak Bayu pada Rama.
Seketika Rama menghentikan mobilnya, bersyukur mereka masih melintasi jalanan komplek yang sepi.
Rama menoleh ke belakang, begitu juga dengan Diska.
"A-apa?" lirih Rama.
Rama tak percaya Bayu menyebut 'Papa dan mama' pada Rama.
Diska juga heran mendengar ucapan Pak Bayu.
"Ada apa, Rama?" tanya Pak Bayu heran.
"Pa-pa dan Ma-ma," lirih Rama lagi.
"Iya, Papa sama mama. Apa kamu akan terus-menerus memanggil kami Om dan Tante?" tanya Pak Bayu.
Rama menoleh ke arah Diska, mereka saling berpandangan.
Mereka bahagia karena kedua orang tua Diska sudah merestui hubungan mereka.
"Ayo, tunggu apa lagi. Hari ini ada pasien yang harus dioperasi, jadi papa harus pergi ke rumah sakit," ujar Pak Bayu lagi.
"Ba-baik, Pa." Rama pun kembali melajukan mobilnya dengan hati bahagia.
Dia benar-benar bersyukur atas nikmat yang didapatkannya.
Allah sudah menjawab do'a-do'a yang dilantunkannya selama 3 tahun terakhir.
Rama mengantarkan kedua orang tua Diska ke rumah sakit, dia menghentikan mobil tepat di depan rumah sakit tempat Pak Bayu dan Bu Naina bekerja.
Bu Naina memilih ikut bersama suaminya karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
"Nanti malam kita akan membahas acara pernikahan kalian, paling tidak kalian nikah saja dulu, supaya bisa halal dalam mengurus resepsinya nanti," ujar Pak Bayu sebelum turun dari mobil.
Rama dan Diska saling melempar pandang, mereka senang mendapat angin segar dari kedua orang tua Diska.
"Ya sudah, kalian langsung pulang jangan ke mana-mana lagi, ingat kalian belum halal," ujar Pak Bayu lagi mengingatkan putrinya dan Rama agar tetap menjaga diri dari dosa.
"I-iya, Pa," lirih Rama dan Diska senang.
Setelah memastikan Mama dan Papa Diska turun dari mobil, Rama kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
"Alhamdulillah, Bang. Papa sama Mama sudah merestui hubungan kita," ujar Diska senang.
Dia pun menciumi pipi putranya sebagai ungkapan bahagianya.
__ADS_1
"Lho, kok Farel sih yang dicium?" ujar Rama protes.
"Ish, kamu ini, ya. Sejak kapan kamu genit seperti ini?" ujar Diska melirik malu pada pria yang dicintainya.
"Sejak aku yakin kalau kamu adalah milikku," ujar Rama tersenyum manis pada Diska.
Tak berapa lama mereka melajukan mobil, Rama berhenti di sebuah bank.
Diska mengernyitkan dahinya heran.
"Kenapa berhenti, Bang?" tanya Diska pada Rama.
"Aku mau mengirimkan uang ke rekening kamu," jawab Rama.
"Uang?" Diska masih bingung.
"Iya, Dek. Abang mau kirim sisa uang pembayaran rumah ke rekening kamu, jadi nanti kalau sudah selesai surat-suratnya, kamu tinggal transfer lewat ponsel kamu," ujar Rama.
"Kamu mau ikut ke dalam atau tunggu di sini?" tanya Rama sebelum turun dari mobil.
"Kami ke supermarket di samping aja, mau beli cemilan," jawab Diska.
"Ya udah, kalau gitu. Kamu ada uang cash?" tanya Rama.
Setelah mendapatkan Restu dari kedua orang tua Diska, Rama merasa sudah wajib menanggung semua kebutuhan Diska dan Farel.
"Ada kok," jawab Diska.
Rama mentransferkan uang ke rekening Diska sebesar 500 juta. Saat Diska sedang duduk di depan supermarket sambil menikmati es krim dengan Farel ponselnya berbunyi, ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Diska membuka ponselnya lalu membaca notifikasi di layar ponselnya.
"What? Bang Rama mengirimkan uang sebesar 500 juta? Dari mana dia dapat uang sebanyak ini?" gumam Diska di dalam hati.
Diska menghitung-hitung gajinya selama ini, dengan gaji yang dia hanya dapat menyimpan uang sekitar 200 juta. Sementara itu Rama sudah memiliki simpanan berkali-kali lipat dari tabungannya.
"Apa saja yang dikerjakan Bang Rama selama 3 tahun ini, tidak mungkin dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu jika hanya berkebun saja," gumam Diska.
Diska terus bertanya-tanya tentang uang yang di dapat oleh Rama. Diska takut Rama sudah melakukan hal yang tidak-tidak untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
"Astagfirullah," pekik Rama.
Rama menangkap Farel yang hampir saja jatuh dari kursi tempat dia duduk.
Diska mendudukkan putranya di kursi tepat di sampingnya.
Dia lengah karena sibuk dengan pikiran yang kini membuat dia pusing dan cemas.
Diska kaget saat mendengar suara Rama yang kini sudah berdiri di depannya.
"Kamu kenapa, Dek? Ini Farel mau jatuh." Rama heran melihat Diska yang lalai menjaga putranya.
__ADS_1
"Astagfirullah," lirih Diska.
"Apa ada masalah? Wajah kamu kok seperti orang bingung?" tanya Rama heran dengan wanita yang dicintainya itu.
"Mhm," gumam Diska harus menjawab apa.
"Dek, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Dimas khawatir dengan keadaan Diska.
"Mhm, enggak apa-apa, ayo kita pulang," ajak Diska.
Diska pun mengambil barang belanjaannya lalu menarik lengan Rama melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan Bank.
Rama heran melihat sikap Diska yang tiba-tiba aneh seperti itu, dia mengkhawatirkan keadaan Diska saat ini.
Diska membukakan pintu mobil lalu membiarkan Diska masuk ke dalam mobil, setelah dia duduk di mobil, Rama pun mendudukkan Farel di atas pangkuan ibunya.
Setelah itu, Rama pun masuk ke dala mobil melalui pintu kemudi.
"Are you oke?" tanya Rama pada Diska.
Diska menoleh pada Rama, dia semakin heran saat mendengar Rama yang berbicara dengan bahasa Inggris.
"Ya Allah, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang dirinya, apakah aku harus menikah dengannya," gumam Diska di dalam hati.
Dia menjadi bingung dan ragu dengan langkah yang akan diambilnya setelah ini, meskipun hubungan mereka saat ini sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Diska.
"Dek, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Rama lagi sebelum dia melajukan mobil.
Rama takut saat ini Diska sedang tidak stabil dan akan berbahaya bagi Farel yang kini berada di dalam pangkuannya.
"I-iya, Bang. Aku baik-baik saja," jawab Diska.
Akhirnya Rama mulai melajukan mobilnya, Rama langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah kedua orang tua Diska.
Di sepanjang jalan Rama terus memperhatikan keadaan Diska hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
Mereka turun dari dalam mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mbak Yuyun!" Diska memanggil Mbak Yuyun.
"Iya, Nona," sahut Mbak Yuyun.
Tak berapa lama Mbak Yuyun pun berada di depan Diska.
"Mbak, tolong bawa Farel tidur dulu, ya," ujar Diska.
"Oh, iya, Nona." Mbak Yuyun membawa Farel masuk ke dalam kamarnya.
"Bang, ayo ikut aku!" Diska menarik tangan Rama.
Rama mengernyitkan dahinya heran dengan sikap Diska.
__ADS_1
Bersambung...