
Pak Bayu masuk ke dalam rumah setelah memastikan Rezi dan Zharin menaiki taksi online dan meninggalkan kawasan perumahan yang mereka tempati.
Pak Bayu sadar suasana rumahnya saat ini sedang tidak kondusif, hati istrinya saat ini pasti tengah terluka begitu juga dengan putrinya Diska.
Dia melangkah menuju kamar yang mana di sana istrinya telah berbaring di atas tempat tidur.
Pak Bayu menghampiri wanita yang selama ini sudah menemaninya, walau bagaimanapun kini arti gunanya dalam hidupnya sangatlah penting karena tanpa kehadiran Bu Naina di dalam hidupnya dia tidak mungkin dapat menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Sarah dan Zharin.
Pria itu kini dapat berdiri menjalani kehidupannya karena dorongan dan semangat dari istri keduanya.
"Ma," lirih Pak Bayu.
Pak Bayu duduk di pinggir tempat tidur tepat di samping istrinya yang kini berbaring.
Dia mengusap lembut lengan istrinya, berharap sang istri mau memperhatikan apa yang akan dikatakannya.
Bu Naina masih diam dia menatap nanar ke arah depan, saat ini hatinya benar-benar hancur dan kecewa. Bukan karena hubungan antara dirinya dan wanita yang baru saja datang, tapi dia hancur dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak sanggup sabar menerima kehadiran masa lalu sang suami.
Selama ini Bu Naina merasa bahwa masa lalu sang suami tidak akan pernah datang lagi ke dalam kehidupannya sehingga dia tidak menyiapkan diri dan hatinya untuk menghadapi situasi yang kini terjadi.
Pak Bayu menangkup wajah sang istri yang kini masih terlihat cantik meskipun usianya sudah melebihi 50 tahun.
"Sayang, Apakah kamu marah padaku?" tanya Pak Bayu kepada sang istri.
"Maaf, jika kamu merasa aku sudah berbuat salah menerima kehadiran Zharin dalam hidup kita saat ini, walau bagaimanapun gadis itu tetap putri kandungku. Aku tidak bisa memungkiri kehadirannya sedikitpun, bertahun-tahun dia menjalani hidup tanpa kehadiran seorang ayah. Apakah aku pantas menolak kehadirannya di saat dia datang menghampiriku?" ujar Pak Bayu mulai menitikkan air matanya.
Bertahun-tahun pria tegar itu tidak mengeluarkan air mata kini dia mulai menangis mengenang masa lalunya.
Seandainya waktu itu dia bisa menahan kepergian sang istri maka mereka akan hidup bersama, sebagai seorang suami dia akan berusaha bersikap adil kepada kedua istrinya.
Pak Bayu merupakan tipe seorang pria yang tidak ingin menyakiti wanita.
"Saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa? Jika kamu bersikap seperti ini, Apakah kamu tega membiarkan aku terpuruk seorang diri?" tanya Pak Bayu.
__ADS_1
Bu Naina masih diam mendengarkan perkataan sang suami, batinnya tengah berkecamuk.
Pak Bayu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya dia memilih untuk berdiri dan meninggalkan istrinya. Pak Bayu membiarkan istrinya menenangkan diri terlebih dahulu, dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk melaksanakan shalat isya, setelah itu dia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Mungkin lebih baik membiarkan istrinya tenang dulu baru mengajaknya berbicara.
Sementara itu, di dalam kamar lainnya, Diska masih saja menangis di dalam pelukan sang suami hingga akhirnya dia pun tertidur karena lelah.
Rama membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur di samping putranya.
Setelah itu dia pun ikut tidur bersama sang istri dan anaknya.
Meskipun dia bertanya-tanya hal apa yang menyebabkan istrinya menangis, tapi dia berusaha untuk memejamkan matanya, berharap esok hari dia akan mengetahui apa yang menyebabkan istrinya menangis malam ini.
Rezi dan Zharin masih dalam perjalanan menuju hotel.
"Mas, apakah kedatanganku menemui ayahku akan merusak hubungan Ayah dengan keluarganya yang sekarang?" tanya Zharin kepada Rezi.
Rezi menghela nafas panjang. Dia juga mengetahui hal yang terjadi pada saat itu.
"Rin, kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan ayahmu saat ini. Aku sangat mengenal Riska dan ibunya, beriring jalannya waktu mereka pasti bisa menerima kenyataan bahwa dalam kehidupan Bayu ada kalian yang telah terabaikan selama ini," ujar Rezi.
Rezi berusaha menenangkan hati Zharin yang saat ini tengah mengkhawatirkan keadaan ayahnya.
"Aku takut kehadiranku dalam kehidupan Ayah menghancurkan kehidupan yang saat ini," lirih Zharin.
".Kamu tenang saja semoga pak Bayu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan kepala dingin," ujar Rezi.
Akhirnya zarin pun diam dia hanya bisa berdoa bahwa ayahnya tidak mendapati masalah dengan kehadirannya.
Keesokan harinya semua orang mulai sibuk dengan kegiatan mereka karena hari ini Diska akan mengikuti pelatihan di sebuah hotel yang ada di kota Padang, sementara itu Pak Bayu dan Bu Naina juga bersiap-siap untuk berangkat ke Rumah sakit seperti biasanya.
Sementara itu, juga ikut bersiap-siap untuk mengantarkan istrinya. Yuyun juga sudah siap menjaga si kecil Farel di rumah.
__ADS_1
Diska meminta Yuyun untuk menjaga Farel di rumah karena dia tidak ingin putranya kelelahan berada di tempat dia mengikuti pelatihan.
Pagi ini orang sudah berkumpul di ruang makan, mereka menyantap sarapan pagi yang dibuat oleh Mbak Yuyun dengan suasana hati yang kacau.
Tak seorangpun yang berani berbicara, mereka justru memilih untuk diam.
"Ma, Pa. Aku berangkat dulu," ujar Diska setelah dia menyelesaikan kegiatan sarapannya.
Pak Bayu dan Bu Naina hanya menganggukkan kepala memberi respon dari ucapan Sang Putri.
Setelah Rama dan Diska pergi, tinggallah Pak Bayu dan Bu Naina yang masih menyantap sarapannya.
"Sayang," lirih Pak Bayu setelah menyelesaikan makannya.
Dia menoleh ke arah sang istri, berharap saat ini hati istrinya sudah tenang.
"Mhm," gumam Bu Naina menanggapi ucapan sang suami.
"Apakah kamu masih marah sama aku?" tanya Pak Bayu kepada istrinya.
Bu Naina menatap dalam wajah sang suami, dia mencari pancaran cinta yang biasa diberikan oleh sang suami terhadapnya melalui matanya.
Tatapan Pak Bayu terhadap istrinya masih sama seperti sebelumnya, dia tidak mungkin menghilangkan rasa cinta terhadap wanita yang sudah menemaninya puluhan tahun.
"Aku tidak marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri karena belum bisa menerima kehadiran Zharin serta ibunya dalam kehidupan kita," lirih Bu Naina menjawab pertanyaan sang suami.
Pak Bayu tersenyum mendengar ucapan dari istrinya, dia senang atas pengertian yang diberikan oleh istri keduanya.
Bu Naina merupakan wanita yang sangat pengertian sehingga dia dapat merebut hati Pak Bayu dari istri pertamanya, meskipun mungkin saat ini Pak Bayu masih mencintai istri pertamanya itu tapi di dalam hati Pak Bayu juga ada dirinya.
"Syukurlah, kamu tidak marah dengan situasi yang saat ini tengah aku hadapi," lirih Pak Bayu terharu dengan sikap yang diberikan oleh istrinya.
Bersambung...
__ADS_1