
Rama hanya diam sambil menggali tanah yang ada di dekat tungku perapian.
Diska semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rama.
Melihat Rama yang hanya diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, akhirnya Diska pun diam dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh sang suami.
Tak berapa lama, Rama berdiri, dia mendekati sang istri dengan sebuah kotak kayu yang lusuh di tangannya.
"Apa itu, Bang?" tanya Diska penasaran.
Rama masih belum menjawab pertanyaan dari istrinya.
Dia membuka kotak kayu itu, lalu memperlihatkan isi kotak tersebut pada Diska.
Di dalam kotak tersebut 3 bongkah benda berwarna kuning keemasan, sebesar 3 ayam.
"Apa ini, Bang?" tanya Diska semakin penasaran.
Dia mencoba menebak benda apa yang tengah dilihatnya.
"Peganglah, kamu akan tahu apa itu," lirih Rama.
Diska mengambil satu bongkah benda itu, dia membulatkan matanya tak percaya.
"Apakah ini emas?" tanya Diska penasaran.
"Menurut kamu?" tanya Rama pada istrinya.
Diska menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Di-di-mana kamu dapatkan ini, Bang?" tanya Diska penasaran.
Dimas berdiri, dia kembali meletakkan kotak tersebut pada tempatnya semula, lalu dia mengajak Diska duduk di bangku panjang yang ada di luar pondok sederhana miliknya.
Diska menunggu Rama menceritakan semua yang sudah terjadi.
Rama terdiam sejenak, ingatannya kembali pada 3 tahun yang lalu, pada malam hari dia meninggalkan rumah Pak Didin, ayah Annisa.
"Uci, aku boleh menginap di sini?" tanya Rama meminta izin pada Uci Desmi setelah keluarga Pak Didin meninggalkan rumah Uci Desmi.
"Boleh." Uci Desmi mengangguk, memberi izin Rama yang masih shock mengetahui bahwa Pak Didin adalah pelaku pembunuh kedua orang tuanya beberapa tahun yang silam.
Rama duduk di kursi panjang yang ada di ruang tamu, Uci Desmi pun ikut di kursi yang ada di hadapan Rama.
"Sekarang kamu sudah mengetahui siapa orang yang telah membunuh kedua orang tuamu. Uci rasa sudah waktunya kamu tahu," ujar Uci Desmi tiba-tiba.
Rama menautkan kedua alisnya mencoba memahami apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa maksud, Uci?" tanya Rama penasaran.
"Pak Didin memiliki alasan yang kuat untuk menjadikan kamu sebagai menantu, selain Annisa yang jatuh cinta padamu. Dia mengincar sesuatu darimu," ujar Uci Desmi.
"Apa maksudnya, Uci? Aku tidak mengerti," ujar Rama mendesak Uci Desmi untuk menceritakan semuanya.
"Dulu, 10 hari menjelang kedua orang tuamu meninggal,--" Uci Desmi mulai menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Flash back on.
Uci Desmi dan ibu Rama sedang beristirahat di pondok reot milik kedua orang tua Rama, mereka baru saja selesai menanam bibit jagung di kebun miliki ayah Rama.
Mereka bekerja sama bersilih hari (Bergantian bekerja, hari ini Uci Desmi bekerja di kebun Ibu Rama maka besoknya Ibu Rama bekerja di kebun Uci Desmi) setiap kali menanam jagung atau padi di kebun.
Bersilih hari ini biasa dilakukan oleh penduduk desa Tanjung bagi yang tidak memiliki uang untuk membayar buruh yang bekerja di kebunnya.
"Apa itu, Pak?" tanya Ibu Rama saat melihat suaminya tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam pondok kecil miliknya.
Uci Desmi dan Ibu Rama melihat Ayah Rama membawa batu berwarna kuning yang di bungkus dalam sebuah kain berwarna putih.
Dua wanita yang bersahabat itu menautkan kedua alisnya saat melihat sikap ayah Rama.
Tak berapa lama, ayah Rama keluar dari pondok tersebut.
"Apa yang kamu bawa, Pak?" tanya Ibu Rama penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Ayah Rama.
Ayah Rama baru saja pulang dari kebunnya yang ada di dekat anak sungai, Ayah Rama baru saja menanam beberapa batang durian di kebunnya, di saat dia menggali tanah untuk menanam batang duriannya, cangkulnya terbentur dengan sebuah batu yang keras.
Ayah Rama hendak mengambil batu tersebut, dan hendak membuangnya. Di saat itu dia melihat batu tersebut berkilau terkena matahari.
Ayah Rama mencermati batu tersebut, dia terperanjat saat menyadari batu sebesar telur ayam itu adalah sebongkah emas.
Ayah Rama kembali menggali tanah tersebut, lagi-lagi dia menemukan benda yang sama dari dalam tanah tersebut. Dia mendapatkan 3 bongkah benda seperti batu yang berwarna keemasan
Akhirnya ayah Rama menghentikan pekerjaannya lalu dia membawa 4 bongkahan emas tersebut kembali ke pondoknya.
Tanpa disadari ayah Rama, ada seseorang yang melihat kejadian itu, yaitu Pak Didin.
"Kamu sudah selesai menanam duriannya?" tanya Ibu Rama khawatir ayah Rama masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
"Masih sisa satu batang lagi yang belum ditanam," jawab Ayah Rama.
"Mhm, masih bisa besok dilanjut," ujar Ibu Rama.
"Iya," lirih ayah Rama.
__ADS_1
"Sudah sore, ayo kita pulang," ajak Ibu Rama.
"Iya, ayo," sahut Uci Desmi.
"Kalian duluan saja, masih ada yang aku kerjakan." Ayah Rama menyuruh istrinya dan Uci Desmi untuk pulang terlebih dahulu.
Uci Desmi dan Ibu Rama langsung pulang ke desa, mereka meninggalkan ayah Rama di kebun.
Setelah dua wanita itu pergi, Ayah Rama langsung menggali tanah di dalam pondok buruknya, di menggali tanah di samping tungku perapian. Ayah Rama pun memasukkan 4 bongkah emas itu kedalam tanah dengan balutan kain putih.
Setelah itu dia menumpukkan kayu bakar di atas tanah tempat dia menyembunyikan barang temuannya tersebut.
Setelah itu, Ayah Rama pun pulang ke rumah. Dia yakin tidak ada orang yang tahu masalah emas yang disimpannya itu.
Ayah Rama bersyukur d Ngan barang temuan yang dia dapat, dia berencana akan menjual emas itu satu per satu di saat dia membutuhkan uang nantinya.
Dia akan menjaga rahasia itu seorang diri, karena jika dia memberitahu hal ini kepada orang lain, maka akan banyak orang yang juga mencari bongkahan emas tersebut.
Dia yakin hidupnya juga akan terancam. Tidak hanya nyawanya saja akan terancam, nyawa istri dan anaknya juga akan terancam.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Ayah Rama pun pulang ke rumahnya.
Tiga hari setelah itu, Uci Desmi melihat Ayah Rama dan Pak Didin sedang berdebat di kebun, saat itu Ibu Rama tidak ikut ke kebun.
"Di mana kamu simpan barang itu?" tanya Pak Didin pada Ayah Rama.
"Barang apa?" tanya Ayah Rama pada pak Didin.
Ayah Rama berpura-pura tidak tahu, benda yang sudah ditemukannya itu sepenuhnya adalah hak dirinya karena dia mendapatkan benda itu di tanah miliknya dan dia yang menemukannya bukan orang lain.
Sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memiliki benda tersebut hingga saat ini.
Terlebih tanah perkebunan itu merupakan tanah milik keluarganya turun temurun.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu, aku melihat kamu membawa bongkahan emas kemarin," ujar Pak Didin.
Pak Didin berharap dengan mengetahui hal itu dia dapat memeras ayah Rama agar mau membagi dua barang temuan Ayah Rama dengan dirinya.
"Hah? Apa jangan-jangan, benda yang disembunyikan Ayah Rama kemarin adalah emas?" gumam Uci Desmi di dalam hati.
Setelah itu, Uci Desmi pun pergi dari tempat itu. Keesokan harinya, ayah dan Ibu Rama terbunuh di kebun, hanya saja tidak ada saksi mata yang mengetahui pak Didin membunuh kedua orang tua Rama.
Hukum yang tumpul ke bawah membuat kasus pembunuhan itu tidak diusut sama sekali.
Flash back Off.
Bersambung...
__ADS_1