Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 53


__ADS_3

Hari ini acara resepsi pernikahan Rama dan Diska akan dilangsungkan di rumah Uci Desmi.


Rumah Uci Desmi sudah ramai di datangi para tamu undangan, penduduk desa Tanjung beberapa orang mereka berada di dapur untuk memasak gulai ayam dan nangka. Mereka bergotong royong dalam menyiapkan makanan yang akan dihidangkan untuk tamu yang akan datang dari desa luar.


Di pagi hari pada pukul 09.00 Rama dan Diska sudah mengenakan pakaian adat khas Minang yaitu pakaian anak daro, pakaian adat yang dipasangkan dengan sunting di kepala mempelai wanita.


Di pagi hari itu, Diska terlihat sangat cantik. Seorang waria memoles make up di wajah Diska.


Di desa Tanjung hanya seorang Waria yang mengerti tentang masalah permake-upan karena jarang seorang wanita yang melakukan hal ini.


Awalnya Diska enggan dirias oleh seorang waria, tapi karena keadaan dia terpaksa membiarkan seorang waria menghias wajahnya.


Saat Rama dan Diska sudah selesai dengan pakaian adat khas Sumatra barat yang berwarna kuning dengan sunting sederhana di kepalanya. Pakaian untuk pagi hari tidak terlalu ribet dan mewah, mereka diarak sekeliling kampung dengan iringan gendangan rebana ibu-ibu desa Tanjung yang ditugaskan dalam memainkan rebana.


Begitulah di setiap desa yang ada di kecamatan Ranah Batahan, mereka akan berbagi tugas setiap pesta yang ada di desa mereka.


Biasanya petugas rebana merupakan ibu-ibu yang sudah terbiasa berperan sebagai pemukul gendang rebana. Begitu juga dengan penyanyinya, mereka sudah memiliki penyanyi yang biasa membawakan lagu-lagu kasidah.


Beberapa orang yang tidak terikat pekerjaan di dapur dan para tamu biasanya mengikuti arak-arakan pengantin itu. Begitu juga dengan Bu Naina dan Pak Bayu mereka juga ikut melakukan arak-arakan tersebut.


Diska menikmati adat istiadat yang sedang dijalaninya saat ini. Setelah arak-arakan selesai, kedua mempelai duduk sebentar di pelaminan yang sudah tersedia.


Para tamu yang datang menyalami mereka sebagai ucapan selamat untuk kedua belah pihak.


Sebelum waktu dzuhur masuk, kedua mempelai turun dari pelaminan, mereka masuk ke dalam kamar lalu mereka pun berganti pakaian sambil beristirahat.


Saat waktu dzuhur masuk Rama dan Diska shalat Dzuhur terlebih dahulu, setelah itu mereka pun memakai pakaian yang baru.


Kali ini Diska dipakaikan pakaian gamis yang mewah berwarna putih, polesan make up diperbaiki oleh waria yang selalu stand by di sana.


Setelah selesai, mereka pun kembali melakukan arak-arakan menuju rumah guru mengaji yang ada di kampung itu. Penduduk desa biasanya menyebut kegiatan itu 'Mangalap Guru' (menjemput guru), setelah arak-arakan itu, kedua mempelai dan beberapa orang tamu akan masuk ke dalam rumah untuk khatam Qur'an.

__ADS_1


Kedua mempelai disuruh mengaji, lalu semua orang yang ada di rumah itu juga ikut membaca Alquran secara tadarus hingga khatam Qur'an.


Setelah acara 'tamat kaji' kedua mempelai akan dibawa ke hadapan para tetua yang ada di desa itu.


Mereka berdua akan dinasehati oleh para tetua di hadapan orang-orang yang ada di sana. Nasehat yang disampaikan adalah nasehat pernikahan, nasehat agar kedua mempelai bijak dalam menghadapi masalah rumah tangga nantinya.


Di saat itu Diska meneteskan air matanya, nasehat-nasehat itu tidak pernah didapatkannya dari kedua orang tuanya.


Adat menasehati ini selalu dilakukan agar kedua mempelai tidak mudah berpisah dalam menjalani bahtera rumah tangga nantinya.


Di sini para tetua juga mengajarkan pada kedua mempelai, rumah tangga itu bukanlah masalah hidup bahagia saja, sepasang suami istri akan dihadapkan dengan berbagai masalah ke depannya, jadi kedua mempelai harus sabar dan pandai-pandai dalam mengambil sikap.


Dalam acara pernikahan di daerah Tanjung, acara menasehati inilah menjadi inti sebuah pesta pernikahan.


Usai acara menasehati, kedua mempelai kembali diminta untuk berganti pakaian adat, kali ini mereka mengenakan pakaian adat Minang jenis lainnya, pakaiannya hampir sama dengan baju adat tadi pagi, tapi warnanya merah terang.


Pakaian adat kali ini, Diska mengenakan sunting berat dan mewah, penampilannya lebih mencerminkan sosok anak Daro gadis Minangkabau.


Penduduk desa Tanjung merupakan masyarakat Mandailing Natal daerah Sumatera Utara yang merantau di kawasan Sumatera Barat, sehingga mereka sering disebut dengan keturunan Batak Mandailing.


Berhubung Rama merupakan turunan Namora (Keturunan raja terdahulu) sehingga setelah ashar mereka akan mengadakan tari tor-tor khas adat Batak.


Jenis tari tor-tor ini banyak macamnya, di desa Tanjung mereka menggunakan tari tor-tor hanya khusus bagi para keturunan Namora.


Tarian tor-tor bukanlah tarian yang sulit dilakukan, satu kali diajarkan banyak orang yang langsung bisa.


Sebelum penampilan tarian tor-tor biasanya kedua mempelai kembali diarak sekeliling kampung. Arak-arakan petang ini rutenya lebih jauh dari pada arak-arakan pagi.


Arak-arakan petang dilakukan dengan tujuan memperkenalkan mempelai pendatang pada seluruh masyarakat desa.


Setelah itu akan ada aksi pencak silat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pesilat dari desa tersebut.

__ADS_1


Pada acara ini, semua warga akan menyaksikan dengan riuh, tak ada yang mau ketinggalan menyaksikan hal ini.


Setelah acara pencak silat, maka tarian tor-tor akan dilakukan oleh kakak atau orang tua mempelai.


Pak Bayu dan Bu Naina juga ikut melakukan tarian tor-tor tersebut, dan acara terakhirnya ada tarian tor-tor yang dilakukan oleh kedua mempelai wanita.


Adat istiadat yang mereka lakukan merupakan adat turun temurun dari leluhur mereka, setiap adat yang dilakukan memiliki makna tersendiri.


Sebagai suku pendatang di desa Tanjung, Diska merasa takjub dengan deretan adat yang sudah dilakukannya seharian itu.


Dia memang merasa lelah, tapi rasa lelah itu hilang seketika.


Sebelum maghrib rentetan acara dihentikan, semua orang beristirahat sejenak.


Pesta belum.berakhir, setelah shalat isya, mereka akan mengadakan orkes musik hingga tengah malam.


Diska menikmati acara tersebut karena dia merasa menyatu dengan seluruh penduduk yang ada di desa Tanjung.


Sama halnya dengan Pak Bayu dan Bu Naina, mereka mengikuti acara pesta pernikahan itu dengan khidmat.


Mereka merasa adat yang dijalani putrinya terlihat unik dan memiliki makna tersendiri.


"Bagaimana, kamu suka dengan acara yang sudah kita lewati satu hari ini?" tanya Rama pada istrinya.


"Acaranya melelahkan, tapi aku senang," jawab Diska.


Resepsi pernikahan di desa Tanjung jauh berbeda dengan di Bandung.


"Aku sengaja mengadakan resepsi ini agar kamu tahu bagaimana adatku di sini," lirih Rama.


Hal ini dilakukanya agar Diska juga tahu adat dan tradisi desanya, sehingga di kemudian hari Diska dapat menyatu dengan masyarakat Mandailing buang ada di desa Tanjung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2