
Pria yang kini duduk di kursi kebesarannya tampak tersenyum saat melihat Gina datang dengan Diska.
"Selamat pagi, Dok," sapa Gina.
"Silakan duduk," ujar pria tersebut.
Gina duduk tepat di depan pria tampan dengan jas putih yang dikenakan pria itu.
"Silakan, Dokter Diska," sapa Si pria itu.
Diska geleng-geleng kepala tak percaya bahwa pria yang memiliki jabatan sebagai kepala klinik adalah seniornya yang sempat tergila-gila pada dirinya di masa kuliah dulu.
"Ayo, Dis. Sini!" seru Gina.
Diska pun perlahan melangkah dan duduk di depan si kepala kilnik di samping Gina.
"Bagaimana kabar anda dokter Diska?" tanya Miko, sang kepala klinik.
"Ba-baik," lirih Diska.
Miko mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Diska yang mengenang cerita di masa lalu.
"Aaaa," pekik Diska.
Namun, suaranya tertahan karena seorang pria membekap mulutnya dengan tangannya.
"Si-siapa kamu?" tanya Diska gugup.
"Aku ini penggemar setiamu, aku hanya ingin berkenalan denganmu," ujar Miko.
"Ingin berkenalan tidak seperti ini caranya," bentak Kanaya.
Diska berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkraman pria itu, tapi usahanya gagal karena kekuatan Miko lebih besar darinya.
Miko pun membawa Diska ke lorong kampus yang semakin sepi, saat itu Diska berusaha untuk berteriak, tapi keadaan di tempatnya sangat sepi, sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa mendengar teriakan Diska.
"Ayo kita berkenalan," ujar Miko.
Miko pun mulai membelai lembut wajah cantik Diska, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Diska.
Dia hendak menciumi bibir Diska, dengan takut Diska menutup matanya.
Bugh.
Terdengar suara pukulan yang begitu keras tepat di wajah Miko.
__ADS_1
Miko yang mendapat pukulan secara tiba-tiba tersungkur ke lantai.
Setelah itu Rezi kembali memukul wajah Miko secara bertubi-tubi.
"Sekali lagi kamu berani menyentuh dia, maka kamu akan berurusan denganku, aku tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu!" ancam Rezi meluapkan amarahnya.
Rezi menghampiri Diska, wanita itu langsung menghampiri Rezi. Dia memeluk erat tubuh pria yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
"Hei," sapa Miko lagi.
Diska tersadar dari lamunannya, perlahan dia pun membalas jabatan tangan pria yang ada di hadapannya.
Diska terpaksa melebarkan senyumannya pada pria yang sempat ingin menyakiti dirinya beberapa tahun yang lalu.
"Selamat bergabung di klinik Desa ini, semoga dokter Diska betah bekerja di rumah sakit ini," ujar Miko kepada Diska dengan sebuah senyuman yang sulit diartikan.
"Suster Gina, tolong antarkan Dokter Gina ke ruangan yang sudah kita sediakan untuknya," perintah Miko kepada Gina yang kini duduk di samping Diska.
"Baiklah, Dok. kalau begitu kami izin keluar dulu," ujar Gina.
Setelah itu Gina berdiri dan mengajak Diska ke ruangan dokter spesialis kandungan.
"Ya Allah, Mengapa aku dipertemukan lagi dengan pria brengsek itu? seandainya aku tahu bahwa dia juga bekerja di sini mungkin aku akan menolak tawaran pekerjaan ini, tapi sayang nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak mungkin kembali ke Bandung," gumam desuka di sepanjang perjalanan menuju ruangannya yang sudah disediakan oleh pihak klinik untuknya.
"Hei, ada apa sama kamu?" tanya Gina penasaran dengan perubahan sikap Diska yang secara mendadak.
Diska menarik tangan Gina, lalu dia mengajak Gina untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di lorong itu.
"Ada apa sama kamu? kelihatannya kamu pernah bertemu dengan Pak Miko?" tanya Gina.
"Apakah dia asli penduduk sini?" tanya di setiap penasaran pada Gina.
"Mhm, kalau dibilang aslinya, asli sini sih tapi kedua orang tuanya sudah lama merantau dan dia tinggal di sini di rumah peninggalan neneknya," jawab Gina menjelaskan sosok sang kepala klinik.
"Apakah dia sudah menikah?" tanya Diska lagi dia semakin penasaran tentang kehidupan pria yang sudah pernah ingin menyakitinya.
"Sudah, dia memiliki dua orang putri," jawab Gina
"Apakah kamu mengenalinya?" tanya Gina penasaran.
"Iya, Kak. Dia adalah senior di kampus tempat aku kuliah dulu," jawab Diska.
"Oh, itu artinya kamu tidak akan menemukan kesulitan bekerja di sini," ujar Gina.
"Entahlah, Kak. jika dia sudah berubah maka aku akan aman bekerja di sini, tapi kalau seandainya dia belum berubah hal ini menjadi masalah besar bagiku," ungkap Diska kepada Gina.
__ADS_1
Gina menautkan kedua alisnya dia mulai penasaran apa yang sudah terjadi di antara Diska dan kepala klinik tersebut.
Akhirnya Diska pun menceritakan apa yang telah terjadi di antara dirinya dengan Miko, sang kepala klinik beberapa tahun yang lalu.
"Oh, begitu. kamu jangan khawatir aku akan selalu menemanimu, karena aku akan mendampingi dokter spesialis kandungan di setiap dia praktek," ujar Gina pada Diska.
Sebelum Diska mulai bekerja di klinik, Gina sudah ditetapkan sebagai perawat yang akan mendampingi dokter spesialis kandungan yang ada di klinik tersebut.
"Apa? Benarkah?" tanya Diska tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Itu artinya Diska tidak perlu beradaptasi lagi dengan perawat yang akan mendampinginya bekerja.
Gina mengganggu sebagai jawaban dari pertanyaan Diska.
Setelah itu mereka pun mulai melaksanakan pekerjaan mereka.
****
hari ini saat Rudi baru saja pulang bekerja, Iya langsung menuju rumah Uci Desmi.
dia berencana ingin membawa Mbak Yuyun pergi. dia ingin membahas apa yang sudah dikatakannya kepada Mbak Yuyun tempo hari.
Entah mengapa saat ini jantungnya berdetak dengan kencang, hatinya berdebar-debar saat ingin bertemu dengan wanita yang baru saja dilamarnya secara mendadak.
Dia melajukan sepeda motornya yang baru saja dikembalikan oleh Rama.
Rama sudah membeli sebuah sepeda motor untuk dirinya menjemput sang istri bekerja di klinik desa Silaping.
Rudi memarkirkan sepeda motornya tepat di depan rumah Uci Desmi. Dia turun dari sepeda motor lalu melangkah masuk ke dalam.
Tok tok tok.
Rudi mengetuk pintu rumah, tak berapa lama Mbak Yuyun datang membukakan pintu untuknya.
"Ka-kamu," lirih Mbak Yuyun kaget melihat sosok Rudi sudah berada di hadapannya.
Tiba-tiba jantungnya berdebar dengan cepat, entah rasa apa yang kini tengah mereka rasakan, keduanya terlihat gugup.
Mereka saling menatap lama, mereka saling mencari sesuatu dalam sorotan mata itu.
"Ya Allah apakah ini jalan jodohku? jika memang pria yang ada di hadapanku saat ini adalah jodoh yang engkau tunjukkan untukku permudahkanlah jalannya," gumam Mbak Yuyun di dalam hati.
"Ya Allah mengapa saat aku menatap paras wanita yang kini ada di hadapanku, hatiku merasa berdebar-debar. aku merasa nyaman saat berada di dekatnya, jika semua ini adalah petunjuk dariMu, maka mudahkan jalan kami untuk bersatu," gumam Rudi di dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1