Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 105


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Pak Bayu melakukan pertolongan pertama terhadap mantan istrinya itu, dia keluar dari ruang pemeriksaan untuk menemui putrinya dan Rezi.


"Bagaimana keadaan ibu, Yah?" tanya Zharin kepada ayahnya.


Dia langsung berlari menghampiri ayahnya saat melihat sosok pria tersebut keluar dari ruang pemeriksaan ibunya.


"Alhamdulillah, ibu kamu baik-baik saja. Saat ini ibu kamu butuh istirahat, kita biarkan ibumu istirahat terlebih dahulu agar dia bisa pulih seperti semula," jawab Pak Bayu.


"Alhamdulillah," lirih Zharin dan Rezi.


"Syukurlah kalau begitu, Aku sangat takut terjadi apa-apa pada ibu," ujar Zharin.


"Sebagai seorang anak kamu wajar mengkhawatirkan keadaan ibumu," ujar Pak Rezi.


Pria paruh baya itupun tersenyum lalu membeli lembut kepala Sang Putri.


Zharin mendekatkan tubuhnya kepada sang ayah, setelah itu dia pun memeluk erat ayahnya itu.


Pak Bayu pun membalas pelukan dari putrinya tersebut, gini Pak Bayu merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya dan Putri yang dirindukannya selama ini.


"Rezi, sepertinya kita harus membawa Ibu Syahrini ke rumah sakit yang lebih layak agar perawatannya bisa lebih baik dari pada di klinik ini," ujar Pak Bayu mengajak calon menantunya itu berunding.


"Kalau itu yang terbaik untuk ibu Zharin, aku setuju dengan pendapat,Om Bayu," ujar Rezi setuju dengan usulan yang diberikan oleh Pak Bayu.


Setelah itu Pak Bayu dan Rezi pun menemui suster yang tadi ada di klinik tersebut, Mereka pun diskusikan bagaimana cara membawa liburan ke rumah sakit yang lebih bagus dengan peralatan yang masih terpasang di tubuhnya.


"Bapak bisa menggunakan ambulance yang ada di klinik ini, kebetulan sopirnya adalah suami saya," ujar suster pada mereka.


"Oh, baguslah kalau begitu. Bagaimana cara prosedurnya?" tanya Rezi.


Setelah itu sang perawat pun menjelaskan bagaimana prosedur meminjam mobil untuk membawa Ibu Zharin ke rumah sakit.


Mereka mengikuti prosedur yang diarahkan oleh sang perawat.


"Baiklah, Suster. Terima kasih," ujar Rezi.


Setelah itu mereka pun membawa Ibu Zharin ke rumah sakit yang lebih bagus yang ada di kota Bandung.


Pak Bayu tidak membawa ibunya Zharin ke rumah sakit tempat dia bekerja sebelumnya karena dia sudah enggan untuk menginjakkan kaki di rumah sakit tersebut.


Ibu Zharin masih belum sadarkan diri saat dia sudah berada di rumah sakit terbaik yang ada di kota Bandung.


Lagi-lagi ibu Zharin dirawat di rumah sakit mewah dan di ruangan yang mewah karena seluruh biaya rumah sakit akan ditanggung oleh Pak Bayu.

__ADS_1


Di desa, Diska dan Rama kini telah berada di rumah Rama yang sudah direnovasi.


Di dalam rumah itu mereka hanya tinggal bertiga. Sedangkan Yuyun dan Rudi tinggal di rumah Rudi yang ada tepat di samping rumah Rama.


Setelah shalat maghrib, Diska dan Rama menikmati makan malam bersama buah hati kecilnya.


Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.


"Sayang," lirih Rama sambil tersenyum kepada sang istri.


"Mhm," gumam Diska sambil menoleh ke arah suaminya yang kini melebarkan senyumannya.


Diska ikut tersenyum melihat tingkah laku sang suami.


"Ayo, kita makan terlebih dahulu," ajak Diska.


Sepulang bekerja jika sudah menyiapkan makan malam untuk sang suami dan putranya.


kini rutinitasnya selalu diisi dengan melayani keluarganya Setelah dia selesai bekerja, bagi Diska prioritas hidup adalah keluarga kecilnya.


Dia akan sangat bahagia jika keluarga kecilnya pun ikut bahagia.


Tok tok tok tok.


"siapa yang bertamu pada malam seperti ini?" tanya Rama pada sang istri.


Diska hanya bisa mengangkat bahunya karena dia sendiri juga tidak tahu siapa yang datang bertamu setelah maghrib ke rumah mereka.


"Ya udah kalau, gitu aku lihat dulu ya, Bang," ujar Diska.


Diska pun bersiap untuk berdiri dan melangkah.


"Sayang, biar aku saja yang melihat ke depan. Kamu di sini dulu bersama Farel," ujar Rama menghalangi langkah sang istri.


Rama tidak ingin menyusahkan istrinya, apalagi saat ini istrinya harus membereskan meja makan dan menjaga Farel.


"Ya, sudah kalau begitu aku akan membereskan meja makan ini terlebih dahulu, setelah itu aku akan menyusul," ujar Diska.


"Baiklah kalau begitu," sahut Rama.


Rama pun berdiri lalu dia melangkah keluar dari ruang makan menuju pintu rumah.


Rama kaget saat melihat orang suruhannya datang ke rumah tersebut.

__ADS_1


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rama pada orang suruhannya tersebut.


"Apakah aku tidak dibolehkan masuk?" tanya anak buah Rama.


"Tentu saja boleh, Mana mungkin membiarkanmu berdiri di luar saja, Ayo masuk ajak ramah pada pria yang datang kepadanya.


Pria itu merupakan salah satu anak buah Rama yang tinggal di Silaping.


"Katakan, apa gerangan yang membawa kamu datang ke sini?" tanya Rama pada anak buahnya.


"Begini, Ram. kami sudah melakukan tugas kami untuk menakut-nakuti wanita tersebut," ujar si pria yang datang ke rumah Rama.


"Bagus, kalau bisa teror wanita itu hingga dia melepaskan Pria b******n itu," ujar Rama senang.


"Jika kami tak salah berita, wanita itu kini tengah menjualkan rumah mereka yang ada di Silaping, katanya dia butuh uang untuk pergi jauh dari desa ini," ujar si pria itu lebih detail lagi.


"Apa? Benarkah?" tanya Rama tak percaya.


"Ya, benar. Beritanya wanita itu berencana akan meninggalkan suaminya begitu saja, dia tidak ingin kehidupannya hancur demi menolong sang suami yang sudah mengkhianati dirinya," ujar si pria tersebut.


"Bagus, ini yang kita inginkan. kita harus terus menghasut wanita tersebut sehingga pria brengsek itu merasakan betapa sakitnya dan menderitanya hidup di sel dingin tersebut," ujar Rama.


Rama terlihat senang dengan penderitaan yang Kini diterima oleh Miko.


Bukan karena dia membenci Miko, tapi dia ingin memberi pelajaran kepada pria b******n tersebut.


Rama ingin Miko merasakan sakitnya ditinggalkan oleh wanita yang selama ini mendampinginya, di sini dia akan merasakan betapa pentingnya bagi seorang pria untuk setia dengan wanita yang sudah dijadikannya sebagai seorang istri.


Rama juga ingin membalas dendamnya kepada pria b******n tersebut yang mana telah berani menyentuh istrinya.


"Beginilah yang akan kamu terima jika kamu telah berani menyakiti istriku," gumam Rama di dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu," ujar si pria tersenyum.


"Ya, terima kasih." Rama pun berdiri mengantarkan pria tersebut hingga pintu rumahnya.


"Bang," lirih Diska mengernyitkan dahinya.


Rama kaget saat melihat istrinya sudah berada di belakangnya.


"Sayang, apa yang sebenarnya sudah kami lakukan," tanya Diska pada sang suami.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2