
Sesampai di Bandung Rezi langsung mengantarkan Zharin ke rumahnya.
Begitu juga dengan Pak Bayu, dia juga langsung ikut ke rumah Zharin.
Hati Zharin sangat bahagia, sedangkan Pak Bayu kini jantung berdetak kencang. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri pertamanya.
Setelah mereka turun dari mobil, mereka melangkah menuju rumah kecil yang selama ini ditempati oleh istri pertamanya dan putri sulungnya.
Setelah melangkah beberapa meter mereka sampai di sebuah gubuk kecil yang dibangun dengan papan buruk.
Pak Bayu terpaku saat Zharin masuk ke dalam rumah kecil itu, dia merasa bersalah pada istri pertamanya itu dan putrinya.
Di saat dia hidup dengan kemewahan, dia membiarkan Sarah dan Zharin tinggal di gubuk kecil dengan hidup penuh kekurangan.
Zharin telah masuk ke dalam rumah, dia mengira ayahnya mengikuti langkahnya masuk ke dalam, tapi saat dia membalikkan badannya ternyata sang ayah masih berdiri diam di depan rumah mereka.
"Ayah," panggil Zharin.
Zharin menghampiri ayahnya, dia menggandeng lengan kekar pria yang sudah berumur itu.
"Eh," lirih Pak Bayu.
Dia tersadar dari lamunannya yang sempat mengenang masa lalu yang indah bersama wanita yang bernama Sarah.
Terlihat dan dengan jelas air yang mulai menggenang di pelupuk matanya, hatinya merasa sedih saat melihat penderitaan yang harus dijalani wanita yang dulu pernah dicintainya dan putrinya.
"Kenapa, Yah?" tanya Zharin.
"Tidak apa-apa," jawab Pak Bayu berusaha menutupi kesedihan yang ada di hatinya saat ini.
"Yah, beginilah rumah yang kami miliki. Ayo, kita masuk!" ajak Zharin.
"Assalamu'alaikum," ucap Zharin.
"Bu." Zharin memanggil ibunya sambil melangkah masuk ke dalam sebuah bilik kecil yang biasa mereka gunakan untuk tidur berdua.
Saat Zharin masuk ke dalam bilik dia melihat ibunya tengah terbaring di atas tempat tidur yang sudah lapuk.
Gadis itu masuk melangkah menghampiri ibunya.
"Bu," lirih Zharin.
Ibu Zharin membalikkan tubuhnya saat mendengar suara putrinya memanggil dirinya.
Saat Ibu Zharin melihat putrinya, dia tersenyum dan menutupi apa yang tengah terjadi padanya.
__ADS_1
Ibu Zharin menutupi mulutnya yang kini batuk menahan rasa sakit di dadanya.
""Ibu kenapa?" tanya Zharin heran.
"Ti-tidak ada apa-apa, huk uhuk," jawab Ibu Zharin bercampur dengan batuk.
"Ibu kurang sehat, ya?" tanya Zharin mengkhawatirkan keadaan wanita yang sudah melahirkannya.
"Ti-tidak, Ibu sehat-sehat saja, kok," jawab ibu Zharin.
Wanita paruh baya itu tidak ingin putrinya maka khawatirkan keadaannya yang kini tengah menahan rasa sakit di dadanya.
"Uhuk huk uhuk." Ibu zarin terus saja batuk tak dapat ditahannya lagi.
Dia menutup mulutnya dengan tangan yang mana terdapat sapu tangan di sana.
Tanpa disadarinya di sapu tangan tersebut sudah terdapat bercak darah yang keluar dari mulut ibu Zharin.
"Bu, apa yang sudah terjadi sama ibu?" tanya Zharin khawatir.
"Ayah, Bang Rezi," teriak Zharin cemas.
Zharin memanggil kedua pria yang datang bersamanya.
Rezi dan Pak Bayu langsung berlari masuk ke dalam kamar tempat Zharin kini berada.
"Bang, Lihat ini," ujar Zharin menunjukkan tangan ibunya yang berisi sapu tangan yang sudah terkena bercak darah.
"Astaghfirullah," lirih Rezi.
Pak Bayu malah terdiam melihat wanita yang dulu memiliki tubuh yang berisi kini terlihat kurus dan sangat menderita.
Sekilas Sarah melihat bayang-bayang Bayu yang berdiri di ambang pintu kamar sebelum dia memejamkan mata dan tak sadarkan diri di dalam pelukan Sang Putri.
"Ibu!" teriak Zharin saat melihat ibunya kini tak sudah tak sadarkan diri.
"Ayo, Rin, kita bawa ibu ke rumah sakit saat ini juga," ujar Rezi pada Zharin.
Saat Rezi ingin mengangkat tubuh ibu Zharin, Pak Bayu langsung menghampiri tubuh renta istri pertamanya itu.
Pria yang sudah berumur 50 tahunan itu pun mengangkat tubuh istri pertamanya lalu menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar tersebut.
"Kita harus bawa Sarah ke rumah sakit terdekat," ujar Pak Bayu pada Rezi.
Setelah itu mereka berlari menuju mobil, meskipun umur Pak Bayu sudah mencapai 50 tahun dia masih kuat menggendong wanita yang terlihat semakin lama semakin kurus.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil, setelah itu Rezi pun melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Pak Bayu memangku istri pertamanya itu, dia memeluk erat tubuh wanita yang selama ini sangat dirindukannya.
Sekian tahun dia berusaha mencari sosok sang istri, kini dia telah menemukan wanita yang selama ini dicarinya, tapi dia tidak menyangka akan berjumpa dalam keadaan seperti ini.
"Zi, cepat. Kita harus selamatkan Sarah sekarang juga," ujar Pak Bayu mengkhawatirkan wanita yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Zharin menoleh ke belakang, dia menatap pemandangan yang sangat mengharukan. dia melihat Pak Bayu tengah memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat sambil menatap dalam pada wajah wanita renta yang ada di dalam dekapannya.
Tanpa disadarinya Zharin mulai menjatuhkan buliran bening dari pipinya, dia tidak menyangka bisa melihat ayah dan ibunya kembali bertemu, tapi situasi yang saat ini mereka hadapi jauh dari apa yang diinginkannya.
Zharin juga tidak menyangka, dia dapat melihat dengan jelas cinta dan kasih sayang dari tatapan mata sang ayah pada ibunya.
Dari tatapan mata sang ayah dia dapat melihat dengan jelas bahwa sang ayah masih menyimpan rasa cinta terhadap ibunya.
"Kita coba bawa di sini saja," ujar Rezi pada Zharin.
Rezi keluar dari mobil, saat itu Zharin tersadar dari lamunannya. Dia mengusap air matanya yang kini sudah mulai membasahi pipinya.
Zharin keluar dari mobil, diyakini mengikuti langkah Rezi Dan Ayahnya yang kini masih menggendong ibunya masuk ke dalam sebuah klinik yang ada tak berapa jauh dari tempat tinggal Zharin.
"Suster, tolong!"teriak pak Bayu.
Pria itu terlihat begitu cemas dengan keadaan wanita yang kini masih berada di dalam gendongannya.
Tak berapa lama seorang suster datang menghampiri mereka.
Suster tersebut membawa mereka ke sebuah ruangan untuk memeriksa keadaan ibu Zharin.
Pak Bayu membaringkan tubuh ibu jari di atas sebuah brangkar.
"Maaf, Pak. Dokter kami sedang tidak ada, kebetulan sedang keluar," ujar sang suster bingung.
"Baiklah, Sus, tolong ambilkan peralatan untuk memeriksa keadaannya," ujar Pak Bayu pada Suster tersebut.
Sang suster mengernyitkan dahinya, dia lihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Pak Bayu.
"Cepatlah suster ambilkan peralatan untuk memeriksa keadaan Ibuku, ayahku merupakan seorang dokter," ujar Zharin kepada sang suster.
Zharin mendesak suster tersebut untuk mengambilkan peralatan medis yang dibutuhkan.
akhirnya sang suster pun mengambilkan peralatan yang dibutuhkan oleh Pak Bayu untuk memeriksa keadaan ibu Sarah.
Rezi dan zarin menunggu Pak Bayu yang tengah memeriksa keadaan ibu Sarah.
__ADS_1
Mereka semua mencemaskan keadaan ibu Sarah.
Bersambung...