
Keesokan harinya, kedua orang tua Diska mengajak Diska dan Rama melihat rumah yang akan ditunjukkan oleh Pak Bayu.
Mereka berangkat 1 mobil, Rama yang melajukan mobilnya, sementara itu Diska dan Farel duduk di samping Rama.
Pak Bayu dan Bu Naina di bangku belakang.
Kali ini Mbak Yuyun tidak dibawa karena Diska merasa bisa mengurus Farel secara bergantian dengan Rama.
Sepanjang perjalanan tak ada seorang pun yang berbicara, kecuali Farel sesekali berbicara dengan Rama.
Kedua orang tua Diska mencermati keakraban dua pria beda usia itu.
Mereka terkesan melihat cara Rama berinteraksi dengan putranya, cara Rama berbicara dengan Farel seperti seseorang yang berpendidikan dan berilmu pengetahuan.
Tak berapa lama mereka pun sampai di sebuah kawasan elite, di sana terdapat beberapa rumah megah yang berjejer rapi.
Mata Diska mencermati rumah-rumah yang berada di sana.
Diska tidak yakin, Rama akan sanggup membeli rumah yang ada di kawasan tersebut.
"Ma, Pa, apa kita tidak salah masuk komplek?" tanya Diska.
Pikiran Diska melayang-layang mencemaskan pria yang sangat dicintainya itu, menurut Diska tidak mungkin Rama akan mampu membeli rumah sebesar itu.
"Enggak, kok. Itu rumah temannya papa," jawab Pak Bayu.
"Berhenti di sini, Rama," perintah Pak Bayu.
Rama pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah megah dengan design minimalis.
"Ini rumah teman papa, ayo kita masuk," ajak Pak Bayu.
Pak Bayu dan Bu Naina terlebih dahulu, Rama dan Diska berjalan di belakang mereka dengan Farel selalu berada di gendongan ayahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Bayu saat mereka sudah berada tepat di depan pintu rumah.
"Wa'alaikummussalam," jawab seseorang dari dalam rumah.
Tak berapa lama pintu rumah terbuka, terlihat di sana seorang pria yang berumur hampir sama dengan pak Bayu.
"Oh, Pak Bayu. Silakan, masuk," ujar Pria baruh baya itu.
"Iya, pak Lukman. Ayo masuk." Pak Bayu mengajak semua keluarganya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Silakan duduk," ujar Pak Lukman mengajak tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu, begitu juga dengan Pak Lukman.
Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya yang kira-kira seumuran dengan Bu Naina datang menghampiri mereka dengan membawakan minuman serta cemilan.
"Bu Zoya, pake repot-repot segala," ujar Bu Naina sekadar basa-basi.
"Enggak repot, kok." Bu Zoya pun langsung duduk di samping suaminya.
"Jadi ini putri Pak Bayu yang sedang mencari rumah?" tanya Pak Lukman pada papa Diska.
"Iya, Pak. Ini Diska," ujar Pak Bayu.
"Mhm, kalau Diska memang serius bisa kita lihat sekarang," ujar Pak Lukman.
"Memangnya rumahnya di mana, Om?" tanya Diska penasaran.
"Di kawasan sini juga, bisa jalan kaki, kok. Yuk, kita lihat," ajak Pak Lukman.
"Mhm, begitu. Ya udah kalau gitu, ayo!" Pak Bayu juga tidak sabar ingin melihat rumah yang kemarin ditawarkan teman lamanya ini.
Mereka pun melangkah keluar dari rumah Pak Lukman.
Tak berapa jauh dari rumah pak Lukman terlihat beberapa rumah sederhana yang terkesan mewah.
Pria paruh baya itu menunjukkan rumah sederhana dengan design minimalis.
"Rumah ini terdapat 3 kamar tidur dan 3 kamar mandi. Di luar kamar ada 2 dan satu kamar mandi di kamar utama," jelas Pak Lukman saat mereka sudah masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
"Ayo, masuk! Kita lihat-lihat dulu, mana tahu cocok," ajak Bu Zoya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dari penampilan rumah dan design rumah itu, Diska sangat tertarik dengan rumah itu.
"Ini harganya berapa, Pak?" tanya Diska pada pak Lukman.
Diska berharap harga rumah tersebut cukup dengan uang yang dititipkan Rama padanya serta tabungan Diska selama bekerja beberapa tahun ini.
Pak Lukman tersenyum melihat Diska yang langsung menanyakan harga rumah tersebut.
"Apakah kamu suka dengan rumah ini?" tanya Pak Bayu pada Diska.
"Mhm, untuk aku rumah ini sudah lebih dari cukup untuk kami, Pa," jawab Diska.
__ADS_1
Bagi Diska rumah itu sudah cukup besar untuk dirinya dan keluarga kecilnya nanti.
"Menurutmu bagaimana, Rama?" tanya Pak Bayu pada calon menantunya itu.
"Buat aku, tergantung pada Diska. Jika Diska merasa cocok, aku ikut saja, Om," jawab Rama.
"Mhm, baiklah kalau begitu," ujar Pak Bayu.
"Ya sudah, kalau begitu kita lanjutkan bicara di rumah saja," ujar Pak Lukman.
Setelah melihat-lihat rumah serta isinya, mereka pun keluar dari rumah tersebut dan kembali ke rumah Pak Lukman.
"Rumah ini baru satu bulan ini mereka tinggalkan karena adik saya pindah tugas ke Yogyakarta," ujar Pak Bayu memulai pembicaraan.
"Iya, Pak. Rumahnya masih baru itu," tambah Bu Zoya.
"Mhm, kalau kami terserah mereka saja, Pak," ujar Pak Bayu saat mata pak Lukman tertuju pada dirinya.
"Berapa harganya, Pak?" tanya Diska lagi.
Diska saat ini masih cemas, takut uang yang dimilikinya serta tambahan uang Rama itu tidak cukup untuk membayar harga rumah tersebut.
"Harga rumah tersebut beserta furniture yang ada di dalam rumah itu dijual adik saya seharga 450 juta," ujar Pak Lukman terus terang.
Untuk zaman sekarang harga yang diberikan Pak Lukman sudah termasuk harga standar bahkan sudah murah karena ditambah dengan furniture yang ada di dalamnya.
"Apa 450 juta, tabunganku dan uang yang bang Rama tidak cukup, masih kurang 100 juta lebih lagi, ke mana aku akan mencari uang sebanyak itu?" gumam Diska di dalam hati.
Diska mulai berpikir untuk mencari tepat peminjaman uang, dia tidak mau Rama susah mencari uang untuk pembayaran rumah tersebut.
"Baiklah, Pak. Saya akan transfer uang DP rumah tersebut hari ini pertanda kami membeli rumah itu, sisa pembayarannya akan saya berikan sesudah surat-surat rumah tersebut selesai," ujar Rama tanpa ragu-ragu.
Pak Bayu kaget mendengar ucapan Rama yang penuh keyakinan.
"Dis, transferkan uang yang ada di tangan kamu 50 juta pada Pak Lukman, nanti aku akan transferkan sisanya ke rekening kamu," ujar Rama pada Diska.
Uang Rama saat ini masih tersimpan di dalam buku tabungannya, dia yang sama sekali tidak memiliki ponsel android sengaja mengirimkan 100 juta untuk Diska sebelum mereka berangkat agar di saat dibutuhkan Diska bisa langsung menggunakan uang tersebut melalui ponsel android miliknya.
Diska terdiam dengan apa yang diucapkan oleh Rama, tapi tak berapa lama setelah itu dia pun mentransferkan uang tersebut ke rekening Pak Lukman setelah mereka menuliskan beberapa surat perjanjian.
Mereka pun pulang setelah menyelesaikan urusan dengan Pak Lukman.
Pria paruh baya itu akan menyelesaikan urusan surat menyurat rumah tersebut dalam satu minggu ke depan.
Sepanjang perjalanan, Diska hanya diam. Dia terus memikirkan dari mana Rama akan mendapatkan uang tersebut.
__ADS_1
Bersambung...