Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 84


__ADS_3

"Pak, saya sudah memaafkan apa yang sudah Bapak lakukan terhadap saya," ujar Rama.


"Meskipun, Nak Rama sudah memaafkan apa yang sudah saya lakukan tapi saya tidak bisa memaafkan diri saya, saya terlalu bodoh dan gelap mata karena harta," ujar Pak Didin kini menangis semakin tersedu-sedu.


Dia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.


Sejak putri kesayangannya meninggal dunia, istrinya sering murung dan marah-marah, hal itu membuat hidup Pak Didin semakin hancur dan berantakan.


Bertahun-tahun Dia membuat Rama hidup luntang lantung tanpa kasih sayang ayah dan ibu, hal itu kini menghantui dirinya sehingga dia tidak berani menampakkan wajahnya di hadapan Rama.


Terlebih saat ini Rama sudah menjadi orang yang kaya raya, Rama ini juga sudah bahagia dengan wanita yang dicintainya.


"Bapak tidak boleh berbicara seperti itu, kita tidak berhak akan diri kita sendiri. yang akan menentukan kita salah atau tidak salahnya adalah Allah, Bapak tidak bisa menghakimi diri bapak sendiri, serahkanlah apa yang sudah terjadi pada Allah semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kita semua," ujar Rama menasehati Pak Didin.


"Apa yang dikatakan Rama itu benar, Pak. saat ini sebagai seorang hamba kita serahkan apa yang terjadi pada diri kita kepada Allah." Rudi ikut menasehati Pak Didin yang terlihat sangat terpuruk dengan kehidupannya saat ini.


"Ya sudah, Pak, kalau gitu. Ayo, ikut kami, aku akan senang sekali kalau bapak mau hadir dalam acara berdo'a bersama di rumah kami," ujar Rama dengan penuh harap.


"Maafkan Bapak, Nak Rama. Bapak tidak sanggup untuk hadir dalam acara ini, meskipun Bapak tidak hadir dalam acara ini bapak akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu," ujar Pak Didin menolak ajakan Rama.


Dia tidak hanya saja malu pada Rama, dia juga malu dengan seluruh warga yang nanti akan hadir dalam acara berdo'a bersama tersebut.


Pak Didin tidak ingin menjadi topik pembicaraan warga saat dia datang dalam acara tersebut.


Dia sangat mengenal betul bagaimana sifat dari warga Desa Tanjung, terkadang apa yang kita lakukan baik belum tentu baik di mata mereka.


Pak Didin memilih untuk tidak menjadi pembahasan mereka nantinya, untuk itu dia memilih pulang ke rumahnya.


"Baiklah kalau memang begitu," ujar Rama.

__ADS_1


Rama tidak lagi memaksa Pak Didin untuk ikut ke rumahnya, mungkin keputusan Pak Didin adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya.


"Sekali lagi bapak mohon maaf atas kesalahan yang sudah Bapak lakukan kepadamu, kalau begitu Bapak pamit dulu," ujar Pak Didin.


Setelah itu pria paruh baya itu melangkah meninggalkan masjid berlawanan arah dengan warga lainnya yang kini melangkah menuju rumah baru Rama.


"Sepertinya kehidupan Pak Didin semakin hari semakin buruk, kelihatannya dia enggan untuk bergaul dengan masyarakat kita karena perbuatannya di masa lalu." Rudi menyampaikan pendapatnya tentang pria paruh baya tersebut.


Saat Rama sudah sampai di rumahnya, dia ikut bergabung dengan para warga laki-laki yang duduk di dalam rumahnya.


Rumah itu memang sudah selesai, tapi Rama belum mengisi rumah tersebut dengan perabotan, karena dia ingin istrinya sendiri yang memilih perabotan yang mengisi rumahnya karena bagi ramah Diska lebih memahami dan mengerti apa yang dibutuhkan untuk rumah mereka nantinya.


Saat para pria warga Desa Tanjung sudah berkumpul di rumah Rama, para wanita pun menghidangkan makanan untuk para pria yang ada di dalam rumah tersebut.


Sebelum melaksanakan do'a bersama mereka terlebih dahulu menghidangkan makanan dihadapan para warga.


Setelah hidangan dirasa cukup, Pak ustad pun mulai membacakan do'a bersama. do'a-do'a terbaik dilantunkan oleh sang ustad, mereka juga berharap di rumah yang kini akan ditempati oleh Rama dan Diska memberi keberkahan untuk mereka berdua dan keluarga kecil mereka.


Para warga menikmati makanan sambil bercerita dan bersambut kata menunjukkan kebahagiaan mereka atas kebahagiaan yang didapat oleh si anak sebatang kara yaitu Rama.


"Terima kasih atas kedatangan bapak-bapak semuanya, saya bersyukur kepada Allah atas nikmat yang tak terhingga yang kini diberi Allah pada saya," ucap Rama setelah acara do'a bersama selesai.


Setelah itu para tamu pun pulang ke rumah masing-masing, Rama tidak lupa memberikan beberapa bungkusan kepada warga yang kurang mampu dan memiliki anak yatim di rumah itu.


"Mama bersyukur kamu mendapatkan suami sebaik Rama, semoga pernikahan kalian langgeng hingga buat memisahkan kalian," ujar Bu Naina setelah para tamu tidak ada lagi di rumah itu.


"Alhamdulillah, Ma." Diska hanya tersenyum penuh rasa syukur.


Mama dan Papa Diska hadir dalam acara syukuran rumah baru mereka, mereka yang awalnya tidak berani mempercayakan Putri mereka menikah dengan pria desa yang tidak berpendidikan itu, kini mereka bahagia melihat pancaran wajah putrinya yang bersinar.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian akan membeli perabotan rumah," tanya Bu Naina kepada putrinya.


"Mhm, mungkin satu minggu lagi, Ma. soalnya hari Minggu Rudi akan menikah dengan Mbak Yuyun, Jadi kemungkinan besar rumah ini juga akan dipakai untuk acara tersebut," jawab Diska.


"Wah ,Alhamdulillah ya, Mbak Yuyun, Ibu ikut senang dengan kebahagiaan yang didapat Mbak Yuyun. Ternyata kepindahan kami ke tanah Ranah Minang ini memberikan jodoh untuk Pak Yuyun," ujar bu Naina ikut senang dengan kebahagiaan yang didapat oleh Mbak Yuyun.


Mbak Yuyun hanya tersenyum, dia tersipu malu mendengar ucapan selamat dari Bu Naina.


Dia juga tidak menyangka kedatangannya ke Ranah Minang ini akan mempertemukan dirinya dengan jodohnya.


****


Hari Minggu pun telah tiba, sebentar lagi akad nikah Rama dan Mbak Yuyun akan dilangsungkan.


Acara akad nikah mereka akan dilangsungkan di rumah Rama sebagai keluarga pihak perempuan.


Saat ini Mbak Yuyun sedang di rias oleh penata rias yang ada di desa tersebut, Riska dan Farel kini juga berada di kamar tersebut.


"Mbak Yuni ntik," seru Farel memuji Mbak Yuyun yang sedang di make up oleh penata rias tersebut.


Mbak Yuyun tersenyum mendengar pujian dari putra majikannya, anak kecil yang selalu bersamanya.


Diska juga ikut tersenyum mendengar ocehan putranya. mereka sudah tidak sabar menanti hari penting yang akan dilalui oleh Mbak Yuyun, wanita yang mengasuh putranya dan wanita yang sudah diangkatnya sebagai kakak kandungnya.


Sementara itu Rama juga berada di rumah sahabatnya yang kini sudah siap untuk melangkah menuju rumahnya untuk melangsungkan acara akad nikah.


Setelah penghulu datang, Rama membawa sahabatnya itu menuju rumahnya, mereka melangkah perlahan dan masuk ke dalam rumah tersebut.


Rama langsung mengarahkan sahabatnya itu ke tempat akad nikah akan dilangsungkan, yang mana di sana sudah terdapat sebuah meja kecil.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2