Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 13


__ADS_3

"Ayahnya Farel sudah ditakdirkan untuk menikah dengan wanita lain," jawab Diska.


Diska tidak ingin membahas lebih banyak lagi kehidupan pahit yang sudah dijalaninya selama ini.


"Aku senang bisa berada dekat dengan Farel, sepertinya dia anak yang baik dan pintar," ujar Rama.


"Mhm, benar. Farel anak yang baik dan sangat penurut, setiap kali aku bekerja, dia tidak pernah rewel. Dia akan ditemani oleh Mbak Yuyun selama aku melaksanakan tugasku sebagai seorang dokter" ujar Diska.


"Berarti, baru kali ini dia rewel?" tanya Rama pada Diska.


"Mhm, ya begitulah." Diska mengangguk.


"Aku tidak tahu, entah mengapa aku merasa sangat dekat dengannya. Aku merasa sangat menyayanginya, hatiku sedih saat melihat air mata jatuh di pipinya," tutur Rama jujur.


Dia mengungkapkan rasa yang dirasakannya saat berada di dekat Farel.


"Benarkah?" lirih Diska memendam rasa sesak di hatinya.


"Wajar kamu merasa dekat dengan anak kandungnya sendiri, maafkan aku, Bang. Saat ini aku belum bisa memberitahukanmu kenyataan bahwa Farel adalah putra kandungmu," gumam Diska di dalam hati.


"Mhm, iya." Rama mengangguk.


Tak banyak yang bisa mereka ungkapkan, Rama masih enggan menceritakan kisah hidupnya setelah berpisah dari Diska.


Tak berapa lama mereka bercerita, Rudi pun datang.


"Assalamu'alaikum," ucap Rudi sembari dia langsung masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikummussalam," jawab Diska dan Rama serentak.


"Lho, kok sepi. Uci Desmi dan mbak Yuyun ke mana?" tanya Rudi.


Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok Uci Desmi dan mbak Yuyun.


"Mereka lagi ke warung beli bahan masakan untuk nanti sore," jawab Diska.


"Mhm, begitu. Lalu Farel mana?" tanya Rudi.


"Farel lagi tidur," jawab Rudi.


"Mhm, berarti kamu sudah bisa pulang dong, Ram," ujar Rudi berniat untuk membawa Rama pulang.


"Eh, iya. Tapi, bagaimana kalau Farel nangis nanti?" tanya Rama.


Dia khawatir kalau Farel nangis saat tidak mendapati dirinya berada di sampingnya.

__ADS_1


"Tenang saja, nanti biar aku sama Mbak Yuyun yang bujuk dia." Diska tidak ingin merepotkan Rama lebih banyak lagi.


Diska takut, seseorang memberitahukan keberadaan Rama di rumah Uci Desmi bersama dirinya kepada Annisa.


Sejak dia bertemu Rama hanya itu yang ditakutkannya.


"Mhm, kamu yakin?" tanya Rama.


"Iya." Diska mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, aku balik dulu, ya," ujar Rama berpamitan dengan wanita yang dicintainya.


"Ya udah, Dis. Kita balik dulu, ya. Oh iya, kamu di sini sampai kapan?" tanya Rudi.


Rudi ingin tahu berapa lama Diska berkunjung ke rumah Uci Desmi.


"Belum tahu, Rud. Ya, mungkin sekitar satu minggu ini," jawab Diska.


"Oh, Kalau begitu bagaimana kalau besok kita pergi ke kebun Rama. sekarang lagi musim durian loh, kamu suka kan, durian?" ajak Rudi.


Rama tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Rama sudah sangat mengenal sang sahabat, dia yakin Rudi memiliki rencana untuk dirinya dan wanita yang dicintainya itu.


Rudi ingin memberi waktu untuk Diska dan Rama bersama meskipun hanya satu Minggu ini. Alasan menunggui durian jatuh dari batangnya di kebun Rama merupakan hal yang tepat, karena selama ini Diska belum pernah melakukan hal itu.


"Ya udah, kalau memang iya, kamu hubungi aku aja," ujar Rudi.


"Mhm," gumam Diska sambil mengangguk.


"Mana ponselmu?" tanya Rudi menengadahkan tangannya.


Rudi tahu saat ini Diska tidak lagi memiliki nomor ponselnya.


Diska pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, setelah itu memberikan ponsel miliknya pada Rudi.


Rudi menekan nomor ponselnya lalu dia pun men-dial nomor tersebut agar nomor ponsel Diska masuk ke dalam ponselnya.


"Itu nomorku, kalau kamu perlu apa-apa kamu bisa hubungi aku," ujar Rudi.


Rama hanya diam sambil tersenyum. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Rudi. Seorang sahabat yang selalu mengerti dan memahami perasaannya.


"Ya sudah, kalau gitu kami cabut dulu, ya." Rudi dan Rama melangkah meh keluar dari rumah Uci Desmi.


Mereka melambaikan tangan saat Rudi mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah Uci Desmi.


Diska tersenyum melepas kepergian dua orang bersahabat itu.

__ADS_1


Dia langsung masuk ke dalam kamar menemani Farel tidur di atas tempat tidur.


Sebelum dia memejamkan matanya, Diska mengelus sambil menatap wajah tampan pangeran kecilnya.


"Farel, maafkan Bunda yang masih menyembunyikan statusmu dari ayah kandungmu. Bunda janji akan memberitahukan siapa dirimu pada ayahmu di waktu yang tepat, maafkan bunda ya, Sayang." Diska mengusap air mata yang membasahi pipinya.


****


"Bagaimana, Zi? Apakah kamu sudah mendapatkan kabar tentang keberadaan Diska?" tanya Pak Bayu langsung menghampiri Rezi di rumah sakit tempat dia bertugas.


Kebetulan saat itu, Rezi baru saja memeriksa pasien rawat inap. Dia hendak kembali ke ruangan poli untuk mulai memeriksa pasien rawat jalan.


"Maaf, Om. Sampai saat ini aku belum mendapatkan kabar keberadaan Diska, sepertinya Diska sudah memblokir nomor ponselku dan keluarga lainnya makanya kita tidak bisa menghubunginya sama sekali," jawab Rezi.


Rezi merasa bingung dan bersalah karena dia tidak bisa mencari tahu keberadaan putri pria yang sangat mempercayai dirinya dalam menjaga dan melindungi wanita itu.


"Ke mana lagi om harus cari dia?" Bayu semakin risau.


"Maaf, Om. Aku akan coba terus mencari Diska aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan Diska." Rezi berusaha menenangkan ayah dari perempuan yang dicintainya.


"Om takut, Diska minggat dari rumah," ujar Bayu jujur.


"Maksud, Om?" tanya Rezi panik.


"Kemarin kami terlibat pertikaian, saat om dan tante berangkat ke rumah sakit, ternyata Dia pergi dari rumah setelah itu," jelas Bayu pada Rezi.


"Om, Diska tidak akan pergi begitu saja, mungkin saat ini dia tengah menenangkan dirinya." Rezi berusaha untuk berpikir positif.


"Om sendiri kan kenal bagaimana sifat Diska. Dia tidak akan menyakiti dirinya dan Farel," ujar Rezi lagi.


"Iya, sih. Tapi, sebagai orang tua, Om sangat mengkhawatirkannya," ujar Pak Bayu.


"Nanti kalau ada informasi dari orang yang aku percayakan untuk mencari Diska, aku akan kabari, Om," ujar Rezi.


"Baiklah, kalau begitu om pergi dulu." Pak Bayu keluar dari ruang praktek Rezi dengan rasa kecewa.


"Seharusnya saat ini, Rezi mencari Diska. Dia malah sibuk bekerja, apakah dia sudah tidak peduli lagi dengan Diska?" gumam Pak Bayu kesal dengan apa yang dilakukan oleh Rezi.


Pak Bayu mulai mempertanyakan kepedulian Rezi terhadap putri semata wayangnya itu.


"Apakah aku sudah salah mempercayakan putriku pada pria itu?" gumam Pak Bayu Lagi.


Pak Bayu pun keluar dari rumah sakit tempat Rezi bekerja, dia melangkah menuju parkiran. Dia pun memilih untuk langsung pulang, dia tidak bisa fokus bekerja di saat putrinya tidak ada kabar sejak kemarin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2